Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun

Berita9.com - Mohammad Hatta tidak akan pernah hilang dari sejarah Indonesia. Sebagai seorang Proklamator, buah pemikiran ekonominya terus didengungkan hingga hari ini untuk pemerataan ekonomi. Ia tetap dibutuhkan sampai bangsa mandiri secara ekonomi. Apalagi jumlah penduduk miskin dan pengangguran semakin meningkat.

Buku "Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun" menjabarkan langkah-langkah yang telah digariskan Bung Hatta mengenai pemerataan ekonomi. Buku juga membicarakan taktik serta strategi kemandirian ekonomi “khas Indonesia.”

Bagi Hatta, jawaban ketimpangan ekonomi adalah gotong-royong. Setiap orang bisa bekerja secara wajar serta mampu memenuhi kebutuhannya. Berbeda dengan sistem kapitalisme, ekonomi gotong-royong adalah sistem yang tidak menumpuk kekayaan kepada perseorangan. Tetapi, yang lebih penting, pembagian kekayaan secara merata.

Koperasi merupakan bentuk konkret sistem ekonomi gotong-royong tersebut. Yang dituntut dalam koperasi pemerataan kerja dan pembagian hasil, sehinga tak ada lagi ketimpangan (hal 191). Namun, Bung Hatta menyadari, koperasi merupakan langkah jangka panjang ekonomi. Hasilnya tidak bisa serta-merta dirasakan.

Bangsa membutuhkan politik ekonomi yang realistis dalam jangka pendek, sekalipun berbeda dengan prinsip koperasi. Menurut Hatta, tidak soal jika masyarakat miskin bekerja pada pemodal-pemodal perseorangan baik dalam negeri maupun asing. Namun itu sebatas menghindarkan masyarakat dari kekurangan kebutuhan pokok sekarang (hal 79).

Di sisi lain, koperasi harus terus diusahakan. Sebab, jika masyarakat terbuai dengan hasil-hasil pemodal perseorangan, ditakutkan ketimpangan ekonomi semakin bertambah. Maka, koperasi yang berasaskan kekeluargaan haruslah digalakkan, jangan kalah dengan pemodal perseorangan.

Hambatan utama koperasi yang harus dibenahi adalah inferioritas masyarakat akibat penjajahan. Misalnya masalah utang asing. Karena inferioritas tersebut, sebagian kalangan tidak menghendaki peminjaman dari pihak asing karena takut kembali terjajah. Padahal negara tidak memiliki dana. Sehingga, peminjaman asing sangat diperlukan. Yang harus bangsa lakukan bekerja lebih giat dan secepatnya membayar utang tersebut (hal 154).

Hatta ingin menekankan, sistem ekonomi dan koperasi harus pintar menimbang, bukan hanya idealitas, tetapi juga realistis. Hal itu akan memungkinkan untuk menciptakan langkah taktis dan strategis. Ekonomi imbang dan berdaulat, tidak bertumpu pada orang lain atau negara asing. Koperasi yang hendak dibangun haruslah memiliki prioritas. Di antaranya, memperbanyak produksi, terutama usaha-usaha kecil, menengah, dan rumah tangga. Kemudian memperbaiki kualitas barang, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk negara lain.

Distribusi juga harus dibenahi agar setiap hasil produksi bisa sampai kepada konsumen secara tepat. Masyarakat harus diajari menabung untuk membentuk modal. Koperasi seharusnya memelihara lumbung padi guna menyimpan bahan-bahan kebutuhan pokok untuk menghindari kekurangan makanan (hal 187).

Selain pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga mewariskan konsep ekonomi. Namun, hingga berpuluh tahun setelah Bung Hatta meninggal, ekonomi tetap tidak membaik. Bahkan pengangguran dan kemiskinan semakin tinggi. Seandainya konsep Hatta tersebut bisa dilaksanakan, mungkin bisa dikurangi kemiskinan suatu hari nanti.

(**/KOP)

Rate this item
(0 votes)

Drive with Uber

Go to top