Jakarta - Anggota Komisi IV DPR, Agustina Wilujeng mengingatkan Perum Bulog tidak diarahkan untuk mengeruk laba semata. Bantu pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

"Kami sampaikan agar Bulog dikembalikan untuk menjaga stok beras semata, bukan lembaga bisnis yang harus berorientasi mendapatkan penghasilan untuk negara," kata Wilujeng dalam rilis yang diterima di Jakarta, (22/6).

Menurut Wilujeng, sudah seharusnya pemerintah memberikan peran yang jelas kepada Bulog, sehingga lembaga itu kembali menjadi nirlaba atau tidak mencari keuntungan.

Politisi PDIP ini berpendapat, apabila Perum Bulog dipaksa untuk menjaga ketahanan pangan, sekaligus meraup keuntungan besar, maka akan membingungkan. Dalam hal ini, Perum Bulog diharapkan bisa mengelola secara maksimal terkait dengan perannya dalam bantuan pangan nontunai (BPNT). "Beras memiliki masa kedaluwarsa. Pemerintah harus menggunakan beras Bulog secara maksimal untuk program BPNT," ujarnya.

Sebelumnya, Perum Bulog terus melakukan persiapan untuk meraih 70% pasar BPNT dengan menyediakan produk pangan berkualitas dan terjangkau khususnya beras, baik medium maupun premium sesuai kebutuhan konsumen.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi menyatakan, dengan pengalaman di industri perberasan, distribusi dan kemampuan infrastruktur yang dimiliki, BUMN tersebut memiliki kapasitas menyediakan beras untuk 15,6 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh wilayah Indonesia.

Bulog, tambahnya, memiliki 37 mesin pengolahan yang tersebar di wilayah penyerapan gabah/beras seluruh Indonesia, dan bersinergi dengan mitra Gapoktan maupun swasta dalam penyediaan kebutuhan beras untuk stok cadangan beras pemerintah (CBP), maupun komersial. (*)

Berita9.com - Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal Andika Perkasa, mengaku melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) soal pernyataan menteri pertahanan (menhan) Ryamizard Ryacudu bahwa 3 persen TNI tolak pancasila.    

"Kami belum pernah mendengarnya (3 persen TNI terpapar radikalisme) dan pengumuman itu baru kemarin. Kemudian kami langsung berkoordinasi dengan Kemenhan untuk mendapatkan detail temuan itu," katanya di kantornya, usai rakornis TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), di Mabes AD, Jakarta, Kamis (20/6).

Dia menegaskan, pihaknya akan membuka diri dan menindaklanjuti temuan ini demi perbaikan di tubuh TNI.

"Kami akan evaluasi, kami akan tindak lanjuti benar, supaya ada perbaikan," ujarnya.

Namun, menurutnya, pekerjaan itu tak mudah jika dilakukan sendiri. Pihaknya membutuhkan semua kementerian, lembaga, bahkan masyarakat pimpinan informal, termasuk tokoh agama, masyarakat hingga tokoh adat, punya kewajiban membantu supaya TNI lebih baik.

Sebelumnya dalam acara halal bihalal dengan anggota TNI Menhan Ryamizard Ryacudu mengingatkan pentingnya Pancasila. Menhan memaparkan data mahasiswa, PNS, dan pegawai BUMN menolak ideologi Pancasila dan terpapar radikalisme. Ada juga sebagian anggota TNI yang terpapar. 

"Ada tiga persen prajurit TNI yang menolak Pancasila," katanya.  (*)

Berita9.com - Komisi Pemberantasan Korupsi menegaskan, kasus dugaan korupsi atas penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau SKL BLBI yang menjerat obligor BDNI, Sjamsul Nursalim belum kedaluwarsa. 

Hal ini, setidaknya berdasarkan putusan Majelis Hakim terkait perkara SKL BLBI dengan terdakwa mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Temenggung.

"Sebenarnya, kasus BLBI ini cukup jelas ya, dari aspek konstruksi hukum putusan hakim, khususnya untuk terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung dan di persidangan itu sangat jelas bahwa kasus ini belum kedaluwarsa," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di kantor KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis, 20 Juni 2019.

Febri menjelaskan, kasus yang menjerat Sjamsul memiliki tempus delicti atau waktu terjadinya suatu tindak pidana pada 2004, atau saat SKL BLBI diterbitkan BPPN, walaupun terdapat rangkaian perbuatan sebelum dan setelah SKL BLBI diberikan. 

Sementara itu, mengacu Pasal 78 ayat 1 angka 4 KUHP, kejahatan yang diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup, masa kedaluwarsanya adalah 18 tahun.

"Kalau kita hitung kedaluwarsa 18 tahun, maka 18 tahun itu dihitung sejak tahun 2004 tersebut, di mana Syafruddin Arsyad Temenggung diduga bersama-sama dengan tersangka yang sudah kita tetapkan saat itu," kata Febri.
 
Untuk itu, KPK meyakini proses hukum kasus Sjamsul sah dan sesuai dengan hukum acara yang berlaku. Dia juga menegaskan, bukti-bukti yang telah dimiliki lembaganya.

"Termasuk juga, belum kedaluwarsa, karena aturannya sangat jelas kedaluwarsa adalah 18 tahun dan itu bisa dihitung dari tahun 2004 misalnya ketika SKL itu terbit," ujar Febri. 

Sebelumnya, advokat Otto Hasibuan mengklaim kasus SKL yang menjerat Sjamsul telah kedaluwarsa. Hal ini, lantaran KPK mengaitkan SKL yang diterbitkan tahun 2004, dengan misrepresentasi yang diduga dilakukan Sjamsul atas utang petambak pada 1998, saat Master Settlement Acquisition Agreement (MSAA).

"Jadi, sudah 21 tahun. Karena sudah kedaluwarsa, maka kasus ini tidak boleh dilanjutkan," kata Otto. 

Otto yang merupakan kuasa hukum Sjamsul Nursalim, terkait gugatan perdata di Pengadilan Negeri Tangerang, juga mempertanyakan misrepresentasi yang disangkakan KPK dilakukan Sjamsul. 

Otto menegaskan, MSAA merupakan perjanjian perdata, sehingga misrepresentasi itu harus dibuktikan terlebih dahulu di Pengadilan Perdata. Selain itu, katanya, dalam Letter of Statement tahun 1999, pemerintah berjanji dan menjamin tidak menuntut Sjamsul dalam bentuk apa pun, termasuk tidak melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan secara pidana sebagaimana ditegaskan dalam Inpres nomor 8 tahun 2002.

"Apabila KPK menganggap misrepresentasi merupakan tindak pidana, maka hal itu pun tidak boleh lagi disidik dan dituntut, karena sudah dijanjikan dan dijamin oleh pemerintah," ujarnya. (*)

Go to top