Berita9.com - Kapolrestabes Semarang, Kombes Auliasyah lubis, memimpin langsung pengawasan penumpang kereta api yang berasal dari Jakarta. 

Semua penumpang langsung menjalani Standar Operasional Prosedur (SOP) mulai dari penyemprotan desinfektan, pengukuran suhu tubuh dan pengisian formulir untuk meminimalisasi penularan Covid-19.

"Mulai hari ini seluruh penumpang yang turun di Semarang selain menjalani SOP ada pengkhususan lagi yaitu pengisian formulir yang berisi identitas diri serta tujuan penumpang," kata Kombes Auliansyah Lubis saat pemantauan di Stasiun Tawang, (28/3).

Kombes Auliansyah menambahkan, formulir yang diisi oleh penumpang yang datang ke Semarang ini  juga berisi pernyataan tentang kondisi jasmani dan sanggup mengisolasi diri agar tidak menukarkan kepada masyarakat di tempat tujuan.

"Formulir ini sudah saya sampaikan ke Dirjen Perhubungan Darat dan saya mengusulkan agar formulir ini dibagikan saat di stasiun keberangkata atau di atas kereta," jelasnya.

Saat pelaksanaan kegiatan, ada tiga kereta api yang penumpangnya menjalani Standar Operasional Prosedur, yaitu KA Argo Muria, Tawang Jaya Premium dan Argo Bromo Anggrek dengan total penumpang 76 orang. Kapolrestabes juga akan menyampaikan kepada kepala Terminal, Bandara maupun pelabuhan untuk melakukan hal yang sama kepada penumpang. (*)



Berita9.com - Mark Zuckerberg bersama sang istri, Priscilla Chan, membantu upaya Bill Gates untuk mencari vaksin Covid-19, yang sampai saat ini belum ditemukan.

Pendiri sekaligus CEO Facebook ini, telah menyumbangkan dana yang besar agar obat virus corona bisa secepatnya ditemukan agar banyak orang bisa tertolong.

"Saya dan Priscilla berkomitmen mendonasikan 25 juta dolar AS untuk mengakselerasi pengembangan vaksin dan perawatan COVID-19. Kami bermitra dengan Gates Foundation dan lainnya, agar bisa cepat mengevaluasi obat existing yang paling menjanjikan, untuk melihat mana yang paling efektif mencegah dan merawat penderita corona," tulis Zuck di akun Facebook miliknya, Ahad (29/3/2020).

Menurut Zuckerberg, menggunakan obat yang sudah ada untuk sementara ini, dinilai cara paling efektif untuk melawan Covid-19, tentunya sambil terus melakukan eksperimen pembuatan vaksin virus corona.

"Karena obat-obatan itu sudah melewati percobaan keamanan klinis, jika mereka efektif, akan jauh lebih cepat membuatnya tersedia dibanding mengembangkan dan menguji vaksin baru," imbuhnya.

Soal proses pengembangan vaksin, Zuckerberg satu suara dengan Gates yang memperkirakan menelan waktu selama 12 hingga 18 bulan, itu pun jika semua prosesnya berjalan lancar.

Di sisi lain, Gates terlebih dahulu sudah menyumbang ratusan juta dollar untuk memerangi corona sejak Maret lalu. Di bawah yayasan miliknya, ia juga membentuk Covid-19 Therapeutics Accelerator yang bertujuan memberikan perawatan yang terjangkau untuk para pasien virus corona.

Di sisi lain, yayasan Bill & Melinda Gates Foundation merupakan salah satu pendukung Coalition for Epidemic Preparedness Innovations, lembaga yang mendanai ilmuwan untuk menemukan vaksin COVID-19.

"Kita harus membuat banyak manufaktur untuk pendekatan berbeda-beda karena tahu sebagian tidak akan berhasil. Vaksin membutuhkan uji coba untuk memastikannya efektif dan aman," tutup Gates belum lama ini. (*)

Berita9.com - Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) dr Eka Ginanjar SpPD-KKV mengatakan bahwa setiap orang dari berbagai rentang usia memiliki risiko tertular virus corona. Ia pun mengingatkan agar pemerintah harus tegas dalam memutuskan langkah penanganan.

Eka mengatakan, pemerintah dapat mengambil pelajaran dari kesalahan negara lain dalam merespons pandemi Covid-19. Italia, contohnya, kini telah menjadi episentrum  penyebaran penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona tipe baru itu di Eropa dengan 86.498 total kasus dan 9.134 kematian per Sabtu (28/3) siang.

Dibandingkan dengan seluruh negara, angka kasus kematian di Italia tertinggi. Bahkan melebihi China, tempat awal di mana wabah ini menyebar. Per hari yang sama, China mencatatkan 81.394 total kasus dan 3.295 kematian.

"Perhatikan juga angka kematian Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah daripada Italia dan Jerman jauh lebih rendah lagi," kata Eka, Sabtu (28/3).

Sebagai catatan, Italia melaporkan 50.971 total kasus dengan 351 kematian pada Sabtu siang. Eka menjelaskan, sistem pelayanan kesehatan AS lebih baik dari Cina dan Italia.

Menurut Eka, ada dua variabel independen dalam masalah ini, yakni pengendalian penyebaran penyakit dan kemampuan kapasitas fasilitas kesehatan dalam menghadapi bencana ini. Ia menjelaskan, harus ada intervensi terhadap keduanya.

"Tindakan cepat, intervensinya harus di kedua premis, tidak bisa hanya salah satu," jelasnya.

Untuk menontrol sebaran penyakit, beberapa negara menerapkan model yang sederhana, yakni detect, cluster, contain. Itu berarti ada pendeteksian, pengelompokan (klaster), dan karantina.

Eka menjelaskan, lockdown Jabodetabek seharusnya dijalankan di fase awal. Ia mencermati, penyebaran ke daerah telat dicegah.

"Kalau memungkinkan, laksanakan UU No 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yaitu karantina wilayah," ungkap Eka,

Bila penyakit sudah masuk, menurut Eka, strategi detect, cluster, contain yang harus dilakukan ialah pendeteksian dengan memakai skrining aktif lalu membuat klaster-klasternya. Dari klaster-klaster ini dilakukan pelacakan kontak yang intensif.

"Lalu masing-masing cabang dari kluster ini kita karantina sampai selesai masa inkubasi atau masa yang lebih lama untuk memastikan rantai penularan putus," katanya.

Sejalan dengan itu, pemerintah harus melakukan penambahan dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan. Antara lain fasilitas fisik, sarana dan prasarana, perekrutan SDM tambahan, dan penyediaan alat pelindung diri (APD) yang lengkap.

"Juga harus ada penyusunan sistem kerja, misalnya tim A dan tim B bekerja bergantian. Sediakan juga dukungan SDM, seperti penginapan karena harus dikarantina dari keluarga dan pemberian insentif," jelasnya. (*)

Go to top