Palu Masih Kekurangan Tenda Darurat Untuk Madrasah

Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai, distribusi tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar korban gempa di Sulawesi Tengah (Sulteng) belum mencukupi.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, pembagian tenda kelas darurat hanya difokuskan untuk sekolah di bawah kewenangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sedangkan untuk madrasah yang notabene di bawah kewanagan Kementerian Agama (Kemenag) masih sangat terbatas.

"Sementara banyak sekolah (madrasah) di bawah Kemenag yang juga membutuhkan tenda untuk sekolah darurat," kata dia dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (23/10).

Ia mengakui, prioritas tenda kelas darurat disesuaikan dengan kesepakatan Kemendikbud dengan UNICEF. Kebutuhan tenda sekolah darurat untuk sekolah-sekolah di bawah kewenangan Kemendikbud pun terbilang tak sedikit yakni mencapai 1.654 kelas.

Kendati demikian, pihak Kemenag sudah mengajukan permohonan bantuan tenda untuk madrasah-madrasah di Sulteng sebanyak 50 tenda kelas darurat dari total 450 tenda yang merupakan bantuan UNICEF.

Artinya, pihak Kemenag hanya meminta 50 tenda kelas darurat dari total kebutuhan sekitar 700 tenda kelas darurat yang dibutuhkan madrasah.

Sejatinya, kata dia, dalam memberikan bantuan kemanusian termasuk fasilitas tenda untuk sekolah darurat semestinya berprinsip non diskriminasi.

"Anak-anak yang bersekolah di sekolah umum di bawah kewenangan Kemendikbud maupun anak-anak yang bersekolah di madrasah-madrasah, semuanya adalah warga Negara Indonesia yang memiliki hak yang sama," ujar Retno.

Ia menegaskan, pemenuhan hak anak, termasuk hak atas pendidikan harus tetap dijamin meski dalam situasi darurat. Menurut dia, seluruh anak-anak usia sekolah yang selamat dari bencana tersebut harus segera bersekolah tanpa memandang suku, agama, ras, dan bersekolah di mana.

"Urusan seperti ini sebenarnya sangat mudah diselesaikan, tinggal komunikasi antara kedua kementerian. Menteri Agama perlu proaktif melobi dan menelepon Mendikbud agar 50 tenda kelas darurat yang diminta Kemenag dapat disetujui agar keberlangsungan pendidikan dan kepentingan terbaik bagi anak-anak Indonesia dapat diwujudkan," kata dia. (*)

Mantan Menteri Jokowi Lapor Korupsi Impor Pangan

Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyambangi gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. Kedatangan Rizal untuk melaporkan adanya dugaan korupsi terkait impor pangan.
Rizal yang tiba di gedung KPK sekitar pukul 09.10 WIB langsung berjalan menuju ruang pengaduan masyarakat. Ia datang ditemani sejumlah pengacara.
 
"Hari ini kami dan tim.lawyer datang ke KPK mengadukan adanya dugaan tindak pidana korupsi di dalam impor pangan," ujar Rizal Ramli di gedung KPK, Selasa (23/10).
 
Menurutnya, dugaan korupsi di sektor impor pangan perlu segera dilaporkan ke KPK. Sebab, dugaan korupsi ini memberikan dampak buruk bagi keuangan negara.
 
"Impor pangan ini sangat merugikan bangsa kita terutama peran konsumen dan ada dugaan tindak pidana korupsi karena itu kami akan laporkan kepada KPK," ujar anggota tim ekonomi Prabowo-Sandiaga Uno itu.
 
Rizal menjelaskan, kedatangannya ke KPK untuk menyampaikan sejumlah bahan terkait pelaporannya tersebut. Sehingga KPK dapat segera mengusut dugaan korupsi terkait impor pangan.
 
"Memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk KPK mengambil tindakan lebih lanjut karena sebetulnya kasus impor pangan sudah sering terjadi," ucap Rizal.
 
Ia percaya KPK dapat segera bertindak tegas atas pelaporannya tersebut. Menurut Rizal, ini bukan pertama kali KPK menangani kasus serupa, ia mencontohkan kasus impor yang dulu pernah melibatkan nama Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq terkait kepengurusan penambahan kuota impor daging sapi.
 
"KPK sangat berpengalaman, tahu persis permainannya dan harusnya bisa berbuat banyak dalam kasus ini, karena nilainya puluhan kalau dari permainan impor pangan waktu kasus Ketum (Presiden) PKS yang kena hukuman 16 tahun," pungkas Rizal. 
 
(**/IST)

Polisi Belum Tetapkan Tersangka Untuk Pembakar Bendera Tauhid

Jakarta - Pihak kepolisian terus mendalami kasus pembakaran bendera berlafadz Tauhid saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, pada Senin (22/10) kemarin. Saat ini, pihak kepolisian masih memeriksa tiga anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) terkait kasus tersebut.

"Saat ini, masih tiga orang ya sebagai saksi statusnya karena akan didalami lagi oleh penyelidik Polri," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudho Wisnu Andhiko, Selasa (23/10).

Ia mengungkapkan, penyelidik masih memeriksa secara intensif tiga orang tersebut. Trunoyudho menuturkan, tiga orang tersebut belum ditetapkan sebagai tersangka dan diperiksa kapasitasnya sebagai saksi.

Keterangan dari tiga orang tersebut akan digunakan kepolisian sebagai bentuk pengembangan kasus. Sehingga, langkah hukum lebih lanjut dapat ditentukan oleh kepolisian.

"Kita tunggu nanti hasil penyelidikan, sekarang penyelidik masih melakukan serangkaian pemeriksaan dan klarifikasi kepada semua saksi," ujarnya.

Sebelumnya video pembakaran bendera hitam berlafadz Tauhid viral di media sosial. Diketahui insiden pembakaran bendera tersebut terjadi saat peringatan Hari Santri Nasional di Lapang Alun-alun Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut pada Senin (22/10).

Terkait peristiwa itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudho Wisnu Andhiko juga meminta agar masyarakat tidak terprovokasi. Masyarakat diminta mempercayakan pengusutan insiden tersebut ke pihak kepolisian.

"Masyarakat khususnya umat Islam jangan terprovokasi adu domba pecah belah pada satu sisi yang belum jelas informasinya," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudho Wisnu Andhiko, saat dihubungi Selasa (23/10).

Trunoyudho menegaskan, kepolisian telah melakukan tindakan untuk mengusut kasus ini. Pihak kepolisian pun telah bersinergi dengan sejumlah ormas agar masyarakat tak terprovokasi dengan kasus ini. Masyarakat pun diminta agar tenang. "Polres Garut telah bersinergi dengan para tokoh ulama dan MUI," ujarnya. (*)

Dana Desa Tak Mengatasi Kemiskinan, Justru Uangnya Hanya Dinikmati Elit

Berita9.com - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai, meski sudah ada dana desa, namun angka kemiskinan di pedesaan masih tinggi. Tingkat kemiskinan di desa, kata dia, sedikitnya 61 persen.

Dengan kata lain, ujarnya, pembangunan sektor pertanian yang kini sedang digenjot pemerintah, belum berdampak pada kesejahteraan para petani.

“Indonesia telah menggantungkan ekonominya pada sektor jasa, sehingga  61 persen angka kemiskinan ada di pedesaan,” kata Faisal dalam acara diskusi publik bertajuk ‘Kedaulatan Pangan’ yang digelar Fraksi Partai Gerindra di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (22/10/2018).

Faisal mengaku heran dengan data tersebut. Sebab, desa saat ini telah mendapat anggaran langsung dari APBN yang jumlahnya tidak sedikit. Dia menduga, anggara dana desa itu hanya dinikmati oleh segelintir elite di desa.

“Ada apa di desa? Apa dana desa itu hanya dinikmati oleh elite desa,” tegasnya.

Hal lain yang menjadi sorotannya adalag soal kepemilikan tanah di desa. Menurutnya, saat ini tanah di desa masih banyak dikuasai oleh perusahaan.

“Gini rasio kepemilikan tanah hingga tahun 2013 juga masih tinggi. Ini karena masih dikuasai oleh korporasi sehingga petani hanya menjadi petani gurem,” imbuhnya. (*)

Ketua MPR Sosialisasikan Pemilu Untuk Memilih Pemimpin Terbaik

Berita9.com - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengadakan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada masyarakat di kampung halamannya, Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, hari ini, Senin, 22 Oktober 2018.

"Yang berdiri di sana mendekat ke sini biar kelihatan," ujarnya kepada sekitar dua ribu masyarakat yang hadir di GPR Mustafa Kamal, yaitu ibu-ibu, mahasiswa, Gerakan Rakyat Anti Narkoba, laskar, dan elemen masyarakat lainnya.

Di awal Sosialisasi Empat Pilar, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, Zulkifli Hasan mengatakan bahwa kegiatan seperti ini dilakukan di berbagai tempat di seluruh Indonesia termasuk di Lampung Selatan.

"Sosialisasi merupakan salah satu tugas MPR," ujarnya.

Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persatuan apalagi di tahun politik. Sebagai pria asli Kalianda, dirinya ingin kampung halamannya tetap rukun dan damai.

"Kalau Kalianda tak rukun dan damai, saya malu," ucapnya.

Dia memaparkan, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, bangsa ini memiliki pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kokoh. Disebut, Indonesia memiliki Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. 

Zulkifli menegaskan bahwa Pancasila adalah pegangan hidup bagsa Indonesia. Diharapkan, semua menjalankan sila-sila yang ada. Dalam Pancasila ada Sila I yang menyatakan Ketuhanan yang Maha Esa. Artinya, negara memberi kebebasan kepada penganut beragama untuk menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing.
 
"Dengan demikian, kita Pancasilais bila menjalankan kewajiban beragama, bukan radikal," ujarnya.

Dalam ber-Pancasila, kata Zulkifli, masyarakat diharapkan harus bersikap memanusiakan manusia, saling menghormati, tak membeda-bedakan satu dengan yang lain, dan menjaga persatuan.

Disampaikan kepada mereka, bahwa bangsa ini sebentar lagi akan melaksanakan berbagai pemilu, baip pilpres dan pileg. Dalam pemilu diakui, pilihan masyarakat ada yang beda, ada yang mendukung calon presiden A atau calon Presiden B, juga ada yang memilih partai C, partai D, dan lain sebagainya. Perbedaan memilih, menurut Zulkifli Hasan sah-sah saja dan boleh-boleh saja.

"Yang tak boleh adalah berantem karena beda pilihan," ujarnya.

Pemilu menurut Zulkifli Hasan adalah, cara untuk memilih pemimpin yang baik dengan tetap mengedepankan persatuan. Untuk itu, bila jadi presiden, anggota DPR, kepala desa, camat, bupati, wali kota, dan gubernur, harus bisa adil. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bila ada persoalan wajib diselesaikan dengan musyawarah. "Jangan saling serang," katanya.

Sebagai bangsa yang beragam dan tinggal tersebar dari Sabang sampai Merauke, menurut Zulkifli Hasan, semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Dalam kehidupan bermasyarakat, tak ditanya asal usul suku, agama, dan tinggal di mana.

"Siapa saja dan dari manapun semua mempunyai hak yang sama. Itulah NKRI,” ujarnya. Di mana saja selama tinggal di Indonesia, rakyat bebas berkreasi dan tak ada perbedaan. “Meski kita beragam, namun kita tetap bersatu dalam keragaman,” ucapnya.

Disampaikan, bahwa sistem demokrasi Indonesia adalah Pancasila. Dalam demokrasi ini ada hak dan kewajiban. Dalam demokrasi ada hak memilih dan dipilih. Saat pemilu rakyat mempunyai hak memilih. Dari sinilah diharapkan bahwa dalam pemilu, apakah pileg, pilpres, pilkada, maupun memilih anggota DPD, rakyat menggunakan hak untuk menentukan pemimpinnya.

"Rakyat bebas memilih untuk menentukan masa depan bangsa dan negara," ujarnya.

Dari pemilu inilah rakyat bisa memilih pemimpin yang terbaik. "Pilihlah pemimpin yang bisa menjalankan cita-cita bangsa yang mempersatukan, adil, setara, sehingga mampu meningkatkan kedaulatan Indonesia,” ucapnya.

Usai melakukan sosialisasi di Mustafa Kamal, Zulkifli Hasan bergegas menuju ke Desa Pisang, Kecamatan Penengahan. Di kantor desa ini, dia sudah ditunggu ribuan orang. Di desa yang banyak tumbuh pohon pisang ini, dirinya melakukan hal yang sama, yaitu sosialisasi. 

Sebelum Empat Pilar dipaparkan, Zulkifli Hasan mengetes hafalan sila-sila Pancasila kepada masyarakat yang hadir. Setelah beberapa orang dites, masyarakat di sana ternyata hafal sila-sila yang ada.

"Hafalan masyarakat di sini akan sila-sila Pancasila tak kalah dengan di tempat yang lain,” kata Zulkifli Hasan mengapresiasi. (*)

 

Selain Berdakwah Para Nabi Juga Bekerja Dengan Cara Halal

Berita9.com - Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia ke dunia ini, Dia juga memberikan ilham melalui fitrah dan akal mereka untuk mencari sebab-sebab memperoleh rezeki yang halal dan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan berbagai sarana guna mempertahankan kehidupan manusia di dunia ini, yaitu bekerja mencari beragam penghidupan yang dibolehkan syari’at.

Tuntutan fitrah ini, tidak hanya berlaku pada umumnya manusia, melainkan berlaku pula atas manusia-manusia pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kalangan para nabi dan rasul Allah, termasuk pula rasul yang paling mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula orang-orang yang mengikutinya dari para salafush shalih dari generasi sahabat maupun setelahnya.

Berikut ini kami nukilkan beberapa ayat, hadits maupun atsar (riwayat tentang sahabat atau tabi’in) yang mengisyaratkan tentang hal ini. Semoga bermanfaat.

PEKERJAAN PERTUKANGAN, INDUSTRI DAN KERAJINAN TANGAN

Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi Nuh Alaihissallam:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami ..”

[Hud : 37].

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nuh Alaihissallam untuk membuat bahtera (perahu besar) yang memberi isyarat tentang pekerjaan menukang dan industri. Artinya, pekerjaan tukang dan industri merupakan salah satu jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia untuk dijadikan sebagai mata pencahariannya. Allah telah memberikan kemampuan berindustri membuat baju-baju besi kepada Nabi Daud Alaihissallam :

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ.

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperangan; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”.

[Al Anbiya’ : 80].

… وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ. أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“… dan Kami telah melunakkan besi untuknya (yakni Daud); (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang shalih. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan”.

[Saba’ : 10-11].

Dengan kemampuan yang Allah karuniakan itulah, Nabi Daud Alaihissallam menjadikannya sebagai mata pencaharian. Beliau makan dari hasilnya, padahal ia seorang nabi dan raja [1]. Hal ini telah dijelaskan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

إِنَّ دَاوُدَ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Sesungguhnya Nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri”.

[HR Bukhari no. 1967 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang makan dari hasil jerih payahnya sendiri, lalu menghubungkan pujian ini dengan menceritakan tentang Nabi Daud Alaihissallam :

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً قَطْ خَيْراً مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ .

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan hasil jerih payahnya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil jerih payahnya sendiri”.

[HR Bukhari no. 1966 dari Al Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu ‘anhu].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan Nabi Daud Alaihissallam dalam hadits di atas, lantaran Daud Alaihissallam seorang nabi dan raja. Biasanya, para raja tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangannya sehari-hari, karena telah dipenuhi oleh para pekerja dan pelayannya.

Masih tentang pekerjaan pertukangan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang Nabi Zakariya Alaihissallam :

كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .

“Zakariya Alaihissallam dulu adalah seorang tukang kayu”.

[HR Muslim no. 2379 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu].

Imam An Nawawi menjelaskan: “Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya berindustri. Dan pekerjaan tukang tidak menjatuhkan kewibawaan (seseorang), bahkan termasuk pekerjaan mulia. Dalam hadits ini (juga) terdapat (petunjuk tentang) keutamaan Zakariya Alaihissallam, karena ia (bekerja) sebagai tukang dan makan dari hasil jerih payahnya” [2]. Oleh karena itu, Imam Muslim membawakan hadits ini dalam bab Min Fadhail Zakariya Alaihissallam [di antara keutamaan-keutamaan Zakariya Alaihissallam].

Ibnu Hajar menukil apa yang diriwayatkan Ats Tsauri dalam Tafsir-nya, dari Asy’ats dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Lukman (Al Hakim), dulu adalah seorang budak habsyi dan seorang tukang”. Lihat Fathul Bari (6/466).

Pekerjaan seperti di atas juga telah dikenal pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Bahkan di kalangan wanitanya sekalipun, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat berikut.

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ أَلاَ أَجْعَلُ لَكَ شَيْئاً تَقْعُدُ عَلَيْهِ فَإِنَّ لِي غُلاماً نَجَّاراً. قَالَ: إِنْ شِئْتِ فَعَمِلْتِ الْمِنْبَرَ

“Jabir Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, tidakkah saya buatkan sesuatu untuk tempat dudukmu? Sesungguhnya saya punya budak ahli pertukangan,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Jika engkau mau (melakukannya), maka engkau buatkan mimbar saja.”

[HR Al Bukhari no. 438].

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ  بِالصَّدَقَةِ، فَقَالَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ عَبْدِ اللهِ: أَيُجْزِيْنِي مِنَ الصَّدَقَةِ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَلَى زَوْجِي وَهُوَ فَقِيرٌ وَبَنِي أَخٍ لِي أَيْتَامٍ وَأَنَا أُنْفِقُ عَلَيْهِمْ هَكَذَا وَهَكَذَا وَعَلَى كُلِّ حَالٍ؟ ، قَالَ: نَعَمْ ، قَالَ: وَكَانَتْ صَنَّاعَ الْيَدَيْنِ .

“Ummu Salamah menceritakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami bershadaqah”. Maka Zainab –isteri Abdullah (bin Mas’ud)- berkata: “Apakah boleh aku bershadaqah suamiku yang fakir dan kemenakan-kemenakanku yang yatim, dan aku menghidupi mereka dengan ini dan itu?” Rasulullah n menjwab,”Ya, boleh.” (Perawi) berkata: “Dan ia (Zainab) adalah wanita pembuat kerajinan tangan”.

[HR Ibnu Majah no. 1835. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah. Asal hadits ini telah diriwayatkan oleh Bukhari no. 1397 dan Muslim no. 1000].

Aisyah Radhiyallahu ‘anha menuturkan tentang Zainab binti Jahsy (salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) – ketika wafatnya :

… وَكَانَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةً صَنَّاعَةَ الْيَدِ، فَكَانَتْ تَدْبَغُ وَتَخْرِزُ وَتَصَدَّقُ فِي سَبِيلِ اللهِ . أخرجه الحاكم (4/26) وقال: هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه.

“Dan Zainab adalah wanita pengrajin tangan, ia menyamak kulit dan melobangi (serta menjahit)nya untuk dibuat khuf atau lainnya. Lalu ia bershadaqah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

[HR Al Hakim 4/26 dan beliau berkata: “Ini hadits shahih sesuai syarat (standar) Muslim, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari maupun Muslim”]

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaid bin Al Abrash yang menuturkan, bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu (menetapkan) jaminan (atas) tukang.

Ia juga meriwayatkan dengan sanadnya, bahwa Umar bin Al Khaththab (menetapkan) jaminan atas setiap buruh (industri atau kerajinan) bila si pekerja merusakkan barang orang-orang yang menginginkannya membuat sesuatu untuk mereka dari barang tersebut. Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (4/360).

Demikian pula masa setelah sahabat Radhiyallahu ‘anhum, seperti disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad ketika menjelaskan salah seorang perawi tabi’in dalam sanad berikut.

Telah bercerita kepada kami Waqi’ (ia berkata), telah bercerita kepada kami Yazid bin Abu Shalih, dan ia adalah seorang penyamak kulit, memiliki postur yang bagus, dan ia memiliki empat hadits, ia berkata: “Aku mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Akan ada sekelompok manusia yang masuk neraka, hingga hangus menjadi arang…al hadits. Lihat Musnad Ahmad (3/183).

MENGGEMBALAKAN HEWAN TERNAK
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan tentang Musa Alaihissallam:

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى.

“Musa berkata, “Ini adalah tongkatku. Aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.”

[Thaahaa : 18].

Ayat ini memberikan petunjuk bahwa Musa Alaihissallam dahulu bekerja menggembalakan kambing-kambing. Dengan bantuan tongkat di tangannya, ia menjatuhkan dedaunan dari pohon untuk memberi makan hewan gembalaannya [3]. Pekerjaan inilah yang banyak digeluti para nabi, termasuk nabi dan rasul yang paling mulia Muhammad. Rasulullah menceritakan dalam sabdanya :

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيّاً إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ ، فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ . رواه البخاري.

“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya, ”Dan engkau sendiri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Ya, aku juga dulu menggembalakan (kambing-kambing) milik penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.”

[HR Al Bukhari no. 2143 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu . Lihat pula Shahihul Jami’ no. 5581]

Satu qirath = seperduapuluh dinar.

Demikian pula yang berlaku pada sebagian sahabatnya, seperti dalam riwayat berikut ini.

Abdullah bin Rafi’ menuturkan: Aku pernah bertanya kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ”Mengapa engkau dijuluki Abu Hurairah?” Ia balik bertanya, “Apakah engkau ingin merendahkan aku?” Aku jawab, “Tidak. Demi Allah, aku amat menghormatimu.” Ia pun berkata,“Aku dahulu menggembalakan kambing-kambing milik keluargaku. Waktu itu, aku mempunyai kucing kecil yang kuletakkan di sebuah pohon pada malam hari. Siang harinya aku bermain bersamanya, maka mereka pun menjulukiku Abu Hurairah (bapaknya kucing kecil).” [HR At Tirmidzi no. 3016 dengan sanad hasan. Lihat Shahih At Tirmidzi (3/235].

BERDAGANG ATAU BERNIAGA
Aktifitas dagang atau jual beli (dengan beragam bentuknya yang dibolehkan syari’at) banyak dikerjakan oleh manusia. Para nabi juga tidak lepas dari aktifitas ini, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ …

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”.

[Al Furqan : 20].

Dan tentang RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman :

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيراً

“Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?”

[Al Furqan : 7].

Imam Al Qurthubi berkata, “Masuk pasar dibolehkan untuk berniaga dan mencari penghidupan. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu masuk pasar untuk memenuhi hajatnya, disamping untuk mengingatkan manusia akan perintah Allah, berdakwah, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyodorkan diri kepada kabilah-kabilah yang datang. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.” Lihat Tafsir al Qurthubi (13/5).

Ibnu Katsir, ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”, beliau berkata: Yakni mereka (para rasul) adalah manusia. Mereka makan dan minum sebagaimana layaknya manusia yang lain, serta memasuki pasar untuk mencari penghasilan dan berniaga. Dan itu, tidaklah merugikan mereka lagi tidak mengurangi sedikitpun kedudukan mereka. (Tidak) sebagaimana yang disangka oleh kaum musyrikin ketika mereka mengatakan tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”. ” Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/175).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, ketika masa mudanya sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, Beliau pernah berdagang ke negeri Syam dengan ditemani budak lelaki Khadijah yang bernama Maisarah, membawa barang-barang perniagaan milik Khadijah Radhiyallahu ‘anha sebelum menikahinya. Lihat Sirah Ibnu Hisyam (2/5-6). Pekerjaan inilah yang banyak digeluti oleh para sahabat, baik ketika masa jahiliyah maupun setelah Islam, terutama dari kalangan Muhajirin. Diceritakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu : “Dan sesungghnya saudara-saudara kami kaum Muhajirin sibuk dengan urusan niaga di pasar. Sedangkan saudara-saudara kami kaum Anshar sibuk mengusahakan (memutar) harta mereka …” [HR Bukhari no. 118].

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah keluar berniaga ke Bushra (Syam) pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengkhususan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah mencegah Abu Bakar, yaitu untuk tidak memberikan bagiannya dari barang-barang perniagaan. Hal itu karena kekaguman dan kesukaan mereka dengan usaha niaga. Dan tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah Abu Bakar dari memperjualbelikan barang-barang niaganya karena kecintaan, kedekatan dan pengkhususannya terhadap Abu Bakar -dan sungguh bersahabat dengannya amat mengagumkan-, karena anjuran dan kekaguman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap usaha niaga.” [HR Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 23/30. Lihat Silsilah Ash Shahihah, no. 2929]

Shakhr bin Wada’ah Al Ghamidi menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا . وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْجَيْشاً بَعَثَهُمْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، وَكَانَ صَخْرٌ رَجُلاً تَاجِراً، وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ.

“Ya, Allah. Berkahilah untuk umatku di pagi harinya.” Dan apabila Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan, Beliau mengutusnya pada awal siang (pagi hari). Dan adalah Shakhr seorang pedagang; ia mengirimkan perniagaannya dari awal siang (pagi hari), maka ia pun menjadi kaya raya dan banyak harta”. [HR Abu Dawud no. 2606, At Tirmidzi no. 1212, An Nasa-i dalam As Sunan Al Kubra, no. 8833, Ibnu Majah no. 2236 dan Ibnu Hibban 11/62-63. At Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan derajatnya. Dan tidak diketahui Shakhr meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain hadits ini.” Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 1693]

Al Barra’ bin ‘Azib dan Zaid bin Arqam Radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang sharf (tukar menukar emas dengan perak), maka keduanya menjawab: “Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, kami pernah berdagang. Kami bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sharf (tukar menukar emas dengan perak). Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,’Jika dari tangan ke tangan (masing-masing langsung memperoleh barangnya), maka tidak mengapa. Tapi kalau dengan nasi’ah (dengan tempo dan masing-masing atau salah satu tidak memperoleh barangnya), maka tidak boleh’.”[4] [HR An Nasaa-i, no. 4576 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa-i].

Urwah bin Az Zubair Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhu pernah berdagang sesuatu. Lalu Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Sungguh saya akan mendatangi Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan akan memboikotmu,” maka Ibnu Ja’far memberitahukan hal itu kepada Az Zubair Radhiyallahu ‘anhu. Az Zubair Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu Ja’far Radhiyallahu ‘anhu: “Saya berserikat denganmu (pantner) dalam perniagaan.” Kemudian Ali Radhiyallahu ‘anhu mendatangi Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan berkata: “Sesungguhnya Ibnu Ja’far telah melakukan perniagaan begini …, maka boikotlah dia.” Tetapi Az Zubair berkata,“Saya adalah partnernya.” Maka Utsman berkata: “Bagaimana saya akan memboikot seseorang, sementara partnernya adalah Az Zubair.” [HR Al Baihaqi, 6/61 dan Asy Syafi’i dalam Al Musnad, 1/384. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil, no. 1449].

Utsman bin Affan bercerita: Aku pernah menjual kurma di pasar, lalu aku mengatakan, “Aku telah menakarnya dalam wasaq-ku ini sekian, lalu aku membayar beberapa wasaq kurma dengan takaran (wasaq)nya dan aku mengambil keuntungan. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku, maka aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau pun menjawab,‘Apabila engkau telah menyebut takaran, maka takarlah’.” [HR Ibnu Majah, no. 2230. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil, no. 1331). Satu Wasaq = 60 shaa’ (antara 150-180 kg].

Demikian beberapa macam pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia dalam mencari penghidupannya. Tentunya masih banyak lagi jenis pekerjaan yang lain, selama dibolehkan oleh syari’at. Misalnya, seperti bercocok tanam dan sebagainya.

KESIMPULAN DAN PELAJARAN.

1. Disyariatkan bekerja dan berusaha untuk menjadi sebab-sebab datangnya rezeki, demi menghindari perbuatan meminta-minta yang dilarang, kecuali dalam kondisi yang amat terpaksa [5].
2. Terdapat keutamaan bagi orang yang makan dari hasil jerih payahnya sendiri.
3. Melakukan pekerjaan apa pun yang dihalalkan, tidak menurunkan martabat dan harga diri seseorang, bahkan justeru merupakan kemuliaan dan keutamaan. Karena para nabi pun bekerja mencari penghidupan.
4. Dibolehkan bagi wanita bekerja dan berwirausaha selama tidak melanggar larangan-larangan syari’at, seperti bercampur baur dengan kaum lelaki yang bukan mahram dalam pekerjaannya.
5. Bila seseorang telah dibukakan rezeki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari suatu jalan pekerjaan atau tempat, janganlah beralih kepada pekerjaan atau tempat lain yang belum jelas hasilnya, sampai Allah menutup baginya jalan yang pertama yang mengharuskannya mencari jalan lain.
6. Anjuran mengadakan aktifitas usaha pada awal siang (pagi hari), karena itu merupakan waktu yang didapati keberkahan Allah.
7. Imam Al Qurthubi berkata: Telah berkata kepadaku sebagian masyayikh (gugu-guru kaum sufi) pada masa sekarang dalam suatu perbincangan, ”Sesungguhnya para nabi diutus untuk mengajarkan sebab-sebab bagi orang-orang yang lemah,” maka saya jawab,”Perkataan ini tidak ada sumbernya, melainkan dari orang-orang yang jahil, dungu dan bodoh, atau dari seorang yang mencela Al Kitab dan As Sunnah yang mulia, padahal Allah mengabarkan dalam kitabNya tentang orang-orang pilihan, para nabi dan rasulNya (bahwa mereka) mengambil sebab-sebab dan (bekerja dengan) keahlian mereka. Maka Allah berkata dan perkataanNya adalah haq (benar):

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ

“Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu..”

[Al Anbiya’: 80].

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ …

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”.

[Al Furqan : 20].

Para ulama mengatakan, maksudnya ialah, mereka berniaga dan memiliki keahlian (berwira usaha). Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan, ‘Telah dijadikan rezekiku di bawah naungan tombakku (dari rampasan perang).’ Allah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلالاً طَيِّباً

“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik …”

[Al Anfal : 69].

Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dahulu berniaga, memiliki keahliaan (berwira usaha), mengusahakan (memutar) harta mereka dan memerangi orang-orang kafir yang menyelisihi mereka. (Maka) apakah kamu memandang, bahwa mereka itu orang-orang yang lemah, bahkan –demi Allah- mereka itu orang-orang yang kuat, dan generasi yang shalih setelah mereka mengikuti teladan mereka. Dalam jalan mereka terdapat petunjuk dan pelajaran”. Lihat Tafsir Al Qurthubi (13/14).

Wallahu a’lam...

 

**Ustadz Abu Humaid ‘Arif Syarifuddin**

_______
Footnote
[1]. Lihat penjelasan ini dalam Tafsir Al Qurthubi (14/266-267).
[2]. Syarah Shahih Muslim (15/135).
[3]. Lihat Tafsir At Thabari (16/154-155).
[4]. Makna (dari tangan ke tangan), yakni masing-masing langsung memegang dan membawa barang hasil penukarannya. Dan (dengan nasi’ah), yakni dengan tempo dan masing-masing atau salah satu pihak tidak langsung memegang dan memperoleh barang hasil penukarannya. Contoh: seseorang mengatakan kepada yang lain “Saya tukar emas saya seberat sekian dengan perakmu seberat sekian, tapi bulan depan” atau “tapi saya ambil perakmu sekarang dan kamu ambil emas saya sebulan lagi”.
[5]. Lihat hadits Qabishah Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim 1044, Abu Dawud no. 1640, An Nasaa-i no. 2579 dan Ahmad 5/60; hadits Abdullah bin Amr z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no.1634, At Tirmidzi no. 652 dan Ahmad 2/164 dan192; hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 1040; hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Muslim no. 1041. Lihat Ushul Al Manhaj Al Islami, oleh Dr. Abdurrahman Al Ubayyid, hlm. 339.

 

 

Prabowo Sandi Napak Tilas Resolusi Jihad Melawan Penjajah

Berita9.com - Calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, bersafari di Jawa Timur pada Senin, 22 Oktober 2018.

Prabowo dan Sandiaga akan menjalani napak tilas resolusi jihad. Ketua DPP Partai Gerindra Chusni Mubarok mengatakan napak tilas akan dimulai dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dengan acara apel bersama 5 ribu santri.

"Pak Prabowo dan Pak Sandi akan melakukan napak tilas resolusi jihad yang diserukan oleh KH Hasyim Asy'ari untuk melawan penjajah dan mempertahankan kedaulatan NKRI," kata Chusni melalui keterangan tertulis pada Senin, 22 Oktober 2018.

Chusni menuturkan, Prabowo dan Sandiaga amat terinspirasi dari resolusi jihad itu. Kata dia, mereka menganggap resolusi jihad sebagai tonggak perjuangan dan bagian sejarah yang tak dapat dilepaskan dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Resolusi jihad, ujarnya, disambut dengan semangat orasi Bung Tomo.

"Itu membuat arek-arek Suroboyo beserta para laskar santri dari berbagai daerah di tanah Jawa gigih berani melawan penjajah pada pertempuran 10 November 1945," kata Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor itu.

Dalam rangkaian napak tilas hari ini, Prabowo dan Sandiaga juga akan bersilaturahmi dengan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Solah. Selanjutnya, mereka akan berziarah ke makam KH Hasyim Asy'ari. Tak lupa, kata Chusni, Prabowo-Sandiaga akan menyapa dan berdialog dengan para santri.

Dari Tebuireng, Prabowo-Sandiaga akan melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif di Denanyar, Jombang, untuk bersilaturahmi. Mereka juga akan mengunjungi makam KH Bisri Syansuri. Setelah itu, mereka akan bergeser ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Di Tambakberas, Prabowo-Sandiaga akan ziarah ke makam pahlawan nasional sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama, KH Wahab Hasbullah. Rencananya, kata Chusni, putra Wahab Hasbullah, KH Hasib Wahab Hasbullah akan mendamping Prabowo-Sandiaga. "Acara napak tilas akan dimeriahkan dengan pawai kendaraan Jeep dari Jombang menuju Tugu Pahlawan," ujarnya.

Dari jadwal yang dirilis tim media Prabowo-Sandiaga, Prabowo dijadwalkan mampir di Rumah Pemenangan Prabowo-Sandi di Jalan Gayungsari Timur, Surabaya. Adapun agenda yang tertulis ialah kampanye akbar. Sedangkan Sandiaga dijadwalkan menghadiri acara kampanye akbar yang lokasinya di Museum NU, Jalan Gayungsari Barat, Surabaya.

Malamnya, Prabowo akan menghadiri Perayaan Hari Santri Nasional dan Milad Front Santri Indonesia pertama di Lapangan Masjid Amaliyah, Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Adapun Sandiaga tetap berada di Jawa Timur menghadiri Deklarasi FORJAS untuk Prabowo Sandi, di Gedung Barunawati, Krembangan, Surabaya. (*)

Program Dana Kelurahan Dinilai Hanya Bagi-Bagi Uang

Berita9.com - Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai pencairan dana kelurahan oleh Presiden Joko Widodo pada 2019 mendatang sama dengan merendahkan martabat rakyat.

Jokowi menurut Dahnil seolah-olah peduli dengan keadaan masyarakat, padahal program tersebut hanya terkait dengan Pilpres 2019 agar terpilih kembali.

"Seolah peduli dan memperhatikan rakyat tapi sebaliknya justru dia sedang menghina rakyatnya dengan bagi-bagi uang kemudian berpikir dukungan politik akan balik mengalir padanya," kata Dahnil, (21/10).

Dahnil juga menyebut model kebijakan pencairan dana kelurahan yang oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani telah disiapkan sebanyak Rp 3 triliun itu tak berbeda jauh dengan model kebijakan "bagi-bagi uang".

Hal tersebut menurutnya mudah dilakukan mengingat posisi Jokowi adalah Presiden. Ia menyamakan pembagian dana kelurahan itu sama seperti membagi-bagi bingkisan dari dalam mobil yang selama ini kerap dilakukan Jokowi saat berkunjung ke daerah.

"Ya sebenarnya mudah kalau presiden, sama dengan lempar bingkisan dari dalam mobil, seolah peduli sejatinya merendahkan martabat rakyat," katanya. 

Dahnil menilai pembagian dana kelurahan ini juga tak ubahnya seperti pelegalan politik uang dengan menggunakan otoritas kekuasaan.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjat Wibowo lebih mengategorikan program dadakan Jokowi tersebut sebagai  politik pork barrel atau gentong babi.

"Kebijakan tersebut secara garis besar bisa dikategorikan sebagai politik atau kebijakan pork barrel, saya singkat KGB," kata Dradjat, (21/10). 

Mengenai definisi gentong babi atau pork barrel, kata dia, bisa dilihat dari berbagai literatur politik.

"Intinya, kebijakan ditukar dengan suara atau donasi politik," ujar Drajad yang juga ekonom senior ini.

Dia menjelaskan, kebijakan gentong babi sebagai salah satu bentuk tata kelola pemerintahan yang buruk.

"Bahkan dalam berbagai rujukan, KGB bisa bermuara pada korupsi," katanya.

Kendati demikian, dia mengakui demokrasi di Indonesia masih relatif baru sehingga petahana, baik di pusat maupun daerah leluasai membuat kebijakan semacam itu. 

"Itu sebabnya, petahana cenderung mempunyai elektabilitas yang lebih tinggi dari pesaingnya," ungkapnya.

Kendati demikian, Drajad menuturkan, kebijakan semacam itu umumnya tidak berkesinambungan. "Setelah terpilih kembali, KGB menjadi tidak terlalu penting buat petahana. Karena keterbatasan anggaran, dana KGB sering dialihkan sebagian atau semua ke program lain," tuturnya. (*)

Kampanye Anti Hoax di "Car Free Day" Solo

Berita9.com - Aksi happenning art yang dilakukan relawan anti hoaks yang tergabung dalam Yayasan Diwa Center menarik perhatian ratusan pengunjung Car Free Day (CFD) di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Ahad (21/10/2018).

Ratusan warga yang tersadar bagaimana hoax atau berita bohong bisa merusak bahkan membuat desintegrasi bangsa akhirnya ikut menanda tangani petisi anti hoak warga Solo Raya.

Direktur Yayasan Diwa Center, Diah Warih Anjari, kepada wartawan, Ahad (21/10/2018) mengatakan kegiatan untuk mensosialisasikan gerakan anti hoaks diselenggarakan oleh Yayasan Diwa Center berkolaborasi dengan para mahasiswa dari Incred Laboratory Solo.

Direktur Yayasan Diwa Center, Diah Warih Anjari, mengatakan, bangsa Indonesia jangan sampai dipecah-belah oleh berita-berita bohong (hoax) yang bermunculan di media sosial.

"Media arus utama (mainstream) wajib untuk menangkal penyebaran berita hoax di medsos itu dengan memberitakan berita sesungguhnya yang berimbang dari kedua belah pihak (cover both side),"ujar Diah Warih.

Untuk memberi pengertian masyarakat tentang bahaya berita hoax, Diah Warih, meminta masyarakat khususnya pengguna media sosial agar hati-hati saat menerima dan mengirim (up load) serta me ngirim ulang (re upload) berita-berita yang belum ter verifikasi kebenarannya.

"Prinsipnya saring sebelum sharing, kalau berita atau pesan itu belum tentu ada manfaatnya bagi masyarakat, lebih baik ditunda bahkan tidak usah di share. Karena risiko menyebarkan berita hoax juga bisa dipidanakan,"ujar Dian Warih.

Suasana Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi bertambah meriah, saat puluhan mahasiswa yang tergabung Incred Laboratory memperagakan tarian dan gerak performance art yang menggambarkan pengguna media sosial menjadi korban berita bohong (hoax).

"Korban" hoax itu bergulung-gulung di aspal jalan, sementara di kepalanya direkatkan telepon seluler menggunakan lakban. 

(**/IST)

Suap Meikarta Diduga Ada Kaitan ke Timses Jokowi

Jakarta - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferry Juliantono menduga korupsi perizinan permukiman Meikarta memiliki kaitan dengan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Ferry melontarkan dugaan tersebut lantaran Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin yang telah ditetapkan tersangka oleh KPK merupakan anggota tim kampanye Jokowi-Ma'ruf. 

Menurut Ferry, wajar jika ada yang menduga hasil korupsi yang dilakukan Neneng adalah bentuk penggalangan dana untuk kepentingan pemenangan pilpres 2019.

"Mohon maaf, Neneng ini timses. Nah itu kan aibnya kalau kepala daerah dijadikan timses, kalau ada kejadian seperti ini jadi muncul dugaan kemungkinan gratifikasi diberikan dalam konteks kampanye," kata Ferry. (21/10).

Sebelumnya, Juru Bicara TKN Jokowi-Maruf Tubagus Ace Hasan Syadzily mengatakan bahwa Neneng memang anggota Tim Kampanye Daerah (TKD) wilayah Jawa Barat.

Selain itu, Ace mengatakan Neneng juga merupakan Ketua DPD Partai Golkar Bekasi, Jawa Barat.

"Bagaimana pertanggungjawaban timses Jokowi-Ma'ruf terhadap ini," kata Ferry.

Menanggapi kondisi tersebut, Ferry menilai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga mesti meminta maaf kepada publik.

Ferry mengatakan Luhut pernah menjamin kepada masyarakat bahwa Meikarta tidak memiliiki masalah perizinan. Namun, ternyata KPK mengusut kasus dugaan gratifikasi terkait perizinan.

"Yang dibutuhkan sekarang sikap yang bersangkutan bagaimana. Kalau salah mengaku salah. Tapi kita enggak dengar dia mengaku salah padahal ini ada dampaknya pada konsumen," ucap Ferry.

Seperti diketahui KPK telah menetapkan sembilan tersangka dalam kasus suap perizinan Meikarta. Mereka adalah Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bekasi Sahat M Nohor.

Kemudian Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Bekasi Kabupaten Dewi Tisnawati serta Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Bekasi Neneng Rahmi. Sejumlah nama tersebut diduga sebagai penerima suap.

Sementara itu, pihak yang diduga pemberi suap antara lain Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, pegawai Lippo Group Henry Jasmen, serta dua konsultan Lippo Group‎, Taryudi dan Fitra Djaja Purnama.

Billy diduga memberikan uang Rp7 miliar kepada Neneng Hasanah dan anak buahnya terkait pengurusan izin proyek pembangunan Meikarta, unit usah Lippo Group. KPK menduga Rp7 miliar itu adalah bagian dari Rp13 miliar yang telah disepakati bersama.

Proyek Meikarta, megaproyek unggulan Lippo Group itu akan dibangun di atas lahan seluas 774 hektare dan dibagi dalam tiga tahapan. Secara keseluruhan, nilai investasi proyek Meikarta ditaksir mencapai Rp278 triliun. (*)

Page 1 of 583
Go to top