Ternyata Ilmu Agama Itu Lebih Berharga Daripada Harta Benda

Berita9.com - Kebanyakan kita tentu menghendaki agar kita bisa hidup mapan dan berkecukupan. Kita ingin dapat menghidupi diri sendiri beserta keluarga besok dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan lebih dari itu, mungkin kita menghendaki agar bisa hidup dengan harta yang melimpah ruah dan tidak sempit rizkinya.

Sebagian orang menjadikan harta dan kekayaan yang dimiliki sebagai standar kebahagiaan hidup. Kita baru merasa tenang dan bahagia ketika bisa hidup dengan serba berkecukupan dengan harta yang melimpah. Hidup terjamin dengan rizki berupa harta yang senantiasa mengalir tiada henti. Mendapatkan gaji yang mengalir setiap bulannya.

Pada hakikatnya, ilmu itulah kekayaan yang sesungguhnya, bahkan ilmu itu lebih baik, lebih berharga, dan lebih mahal daripada harta.

Tanpa ragu lagi, ilmu agama (ilmu syar’i) itu lebih mulia dan lebih mahal daripada harta jika ditinjau dari beberapa sisi berikut ini.

Pertama, ilmu agama adalah warisan para Nabi. Sedangkan harta adalah warisan orang-orang jahat, orang-orang yang melampaui batas, pelaku dosa besar dan kefasikan (misalnya, Qarun).

Ke dua, ilmu agama itu akan menjaga dan melindungi pemiliknya di dunia dan di akhirat. Sedangkan harta tidaklah bisa melindungi pemiliknya. Bahkan sebaliknya, pemiliknya-lah yang harus repot dan tersibukkan menjaga dan memelihara harta tersebut dalam bank atau gudang-gudang penyimpanan.

Ke tiga, ilmu agama yang bermanfaat (al-‘ilmu an-naafi’) tidaklah Allah berikan kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang shalih dan bertakwa. Adapun harta, maka Allah memberikannya baik kepada hamba-Nya yang muslim ataupun kafir, yang berbuat baik maupun buruk dan yang shalih ataupun yang jahat.

Ke empat, ilmu agama tidaklah berkurang ketika diinfakkan, diamalkan, atau diajarkan kepada orang lain. Adapun harta, dia akan berkurang dengan diberikan kepada orang lain. [1]

Ke lima, ilmu agama akan memberikan manfaat kepada pemiliknya meskipun sudah meninggal dunia. Adapun harta, maka hartanya tidak ikut masuk ke dalam kubur pemiliknya ketika meninggal dunia. [1]

Ke enam, pemilik ilmu agama tetap diingat-ingat dan disebut-sebut di antara manusia meskipun telah meninggal. Adapun pemilik harta, apabila telah meninggal, dia tidak lagi disebut-sebut namanya. Hal ini jika dia selamat dari cacian, celaan dan makian orang-orang karena kebakhilannya.

Ke tujuh, pemilik ilmu syar’i akan diberi pahala dan diberi balasan karena setiap masalah yang dia pelajari karena Allah, yang dia ajarkan kepada manusia, atau yang dia amalkan. Adapun pemilik harta, maka dia akan ditanya: (1) dari mana hartanya diperoleh? (2) Dan ke mana hartanya diinfakkan?

Ke delapan, ilmu itu sebagai hakim bagi harta, dan harta itu diadili oleh ilmu sebagaimana dalam zakat, warisan, dan nafkah. Namun tidak sebaliknya.

Ke sembilan, pemilik ilmu itu akan bertambah rasa takutnya kepada Allah dan akan diangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala setiap kali bertambah ilmu agama pada dirinya. Adapun pemilik harta, setiap kali bertambah hartanya, maka akan semakin bertambahlah pula kejahatan dan kesesatannya, serta semakin menjauh dari Allah, kecuali sedikit di antara mereka yang mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala. (Lihat Kaifa Tatahammasu li Tholabil ‘Ilmi Syar’i, hal. 229-230)

Nikmat harta bukanlah tanda bahwa Allah Ta’ala mencintai kita

Selain itu, perlu kita ketahui bahwa nikmat harta yang Allah Ta’ala berikan kepada kita bukanlah tanda bahwa Allah mencintai kita. Karena nikmat berupa harta tersebut juga Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang musyrik dan kafir. Bahkan bisa jadi, orang-orang kafir itu lebih banyak hartanya daripada kita.

Oleh karena itu, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebut nikmat harta ini sebagai suatu kenikmatan yang sifatnya nisbi (relatif) semata, tidak mutlak. Karena nikmat ini hanya terbatas di dunia, tidak di akhirat. Demikian pula nikmat-nikmat lain seperti badan yang sehat, kedudukan yang tinggi di dunia, banyaknya anak, dan istri yang cantik. (Lihat Ijtima’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 6)

Bahkan sebaliknya, bisa jadi kenikmatan berupa harta ini adalah bentuk istidroj (hukuman dari sisi yang tidak kita sadari) dari Allah Ta’ala sehingga manusia semakin tersesat dan semakin menjauh dari jalan-Nya yang lurus. Atau bisa jadi merupakan bentuk ujian dari Allah Ta’ala kepada manusia.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

“Ketika nikmat yang sifatnya nisbi merupakan suatu bentuk istidroj bagi orang kafir yang dapat menjerumuskannya ke dalam hukuman dan adzab, maka nikmat itu seolah-olah bukanlah suatu kenikmatan. Nikmat itu justru merupakan ujian sebagaimana istilah yang Allah Ta’ala berikan di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ ؛ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ ؛ كَلَّا

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya, lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr [89]: 15-17)

Maksudnya, tidaklah setiap orang yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia berarti Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang Allah sempitkan rizkinya, dengan memberinya rizki sekadar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinakannya. Akan tetapi, Allah menguji hamba-Nya dengan kenikmatan sebagaimana Allah juga menguji hamba-Nya dengan kesulitan (kesempitan).” (Lihat Ijtima’ Al-Juyuusy Al-Islamiyyah, hal. 6)

Oleh karena itu, para salaf dahulu, mereka tidak mau kalau ilmu agamanya itu ditukar dengan harta benda. Mereka tidak mau kalau ilmu yang dia miliki itu ditukar dengan sesuatu yang lebih rendah nilainya.

Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah berkata,

“Aku bersama Ahmad bin Abu Imran ketika ada seorang yang kaya raya lewat. Aku memandangnya dengan serius. Padahal aku sedang belajar bersamanya.

Dia bertanya kepadaku, “Seolah-olah Engkau berpikir tentang harta yang dimilki oleh orang itu?”

Aku menjawab, “Ya.”

Dia berkata, “Apakah Engkau mau kalau Allah mengganti ilmu yang Engkau miliki dengan harta yang dia punya? Sehingga Engkau hidup sebagai orang kaya yang bodoh dan dia hidup sebagai orang miskin yang berilmu?”

Maka aku menjawab, “Aku tidak mau mengganti ilmu yang aku miliki dengan harta yang dia punya. Karena ilmu itu kekayaan meski tanpa harta, kemuliaan meski tanpa pendukung, dan kekuasaan meski tanpa pasukan.” (Al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 225-226)

Itulah kekayaan dan harta yang seharusnya kita cari dalam kehidupan ini. Itu pula harta yang seharusnya kita inginkan. Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk bersemangat mencari kekayaan itu.

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:

[1] Kecuali jika harta tersebut diinfakkan dalam bentuk sedekah jariyah.

Gojek Akan Berinovasi Untuk Menginspirasi Mitra Driver Naik Kelas

Berita9.com - Gojek telah mengukuhkan identitasnya sebagai perusahaan karya anak bangsa asli Indonesia.

Dalam momen peringatan Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia, Gojek bersama ribuan mitranya menyelenggarakan Festival Merah Putih Mitra Gojek serempak di 256 Kota dan Kabupaten se-Indonesia.

Founder dan Global CEO Gojek, Nadiem Makarim, mengatakan, kemerdekaan Indonesia punya makna tersendiri bagi Gojek sebagai perusahaan karya anak bangsa.

"Semangat kemerdekaan untuk terus maju dan membuat Indonesia bangga tidak hanya diadopsi oleh kami, tetapi juga jutaan mitra yang selalu berusaha memberikan pelayanan prima. Karenanya, Gojek hari ini turut berpartisipasi dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia dengan mengadakan Festival Merah Putih Mitra Gojek," kata Nadiem dalam siaran persnya.

Nadiem melanjutkan, jutaan mitra yang memberikan pelayanan terbaik dan memanfaatkan teknologi untuk hidup lebih baik merupakan elemen penting penggerak perkembangan ekonomi digital. 

Menurutnya, keberanian mitra-mitra Gojek untuk memanfaatkan teknologi patut diacungi jempol. Dari yang tidak bisa menggunakan smartphone, kini bisa melayani jutaan pengguna Gojek. Dari yang tidak punya rekening bank, sekarang bisa punya perencanaan keuangan bahkan mencicil rumah lewat KPR. 

"Mitra kami telah berevolusi menjadi SDM unggul yang siap bersaing dan membawa Indonesia menjadi pemain utama ekonomi digital di Asia Tenggara," lanjut Nadiem.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan Hari Kemerdekaan tahun ini dirayakan dengan cara spesial melibatkan ribuan mitra driver dari Sabang sampai Merauke. Pada Festival bertajuk Merah Putih Mitra Gojek, para mitra memperingati hari kemerdekaan dengan upacara dan mengenakan atribut baru yang memiliki merah putih tersemat di dada. 

Upacara dilaksanakan di Lapangan Buperta Cibubur, diikuti oleh belasan ribu peserta, (17/8).

Chief Operations Officer Gojek, Hans Patuwo, yang pada upacara ini bertindak sebagai inspektur, dalam amanatnya menyampaikan bahwa Gojek dan mitra Gojek menjadi teladan sekaligus pelopor layanan berbasis digital di Indonesia yang telah membantu jutaan masyarakat Indonesia menyelesaikan permasalahan sehari-hari. 

"Gojek akan terus berinovasi untuk mendorong dan menginspirasi mitra driver naik kelas. Harapan kami, semakin banyak mitra Gojek yang membawa dampak positif bagi keluarga dan lingkungannya masing-masing," ucap Hans.

Dalam semangat untuk terus mendorong mitra driver naik kelas, dalam Festival Merah Putih Mitra, Gojek turut menghadirkan bazaar Gojek Swadaya. Lewat bazaar tersebut, mitra memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh ragam program yang dihadirkan Gojek untuk mendukung kesejahteraan mitra dan keluarga. 

Gojek Swadaya sendiri merupakan program unggulan Gojek yang bekerja sama dengan ragam institusi yang memiliki kesamaan visi untuk memberikan mitra driver akses khusus terhadap ragam layanan finansial, keringanan biaya operasional, dan produk asuransi terjangkau.

Festival Merah Putih Mitra ini juga merupakan acara puncak dari Kirab Nasional Merajut Nusantara sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-74 Republik Indonesia. Kegiatan yang melibatkan ribuan mitra driver ini telah diselenggarakan sejak awal Agustus lalu dengan atribut baru untuk menandai dimulainya babak baru sejarah Gojek.

Selama kurang dari satu bulan sejak pertama kali diperkenalkan, sebanyak lebih dari 100.000 atribut baru Gojek telah didistribusikan dan dikenakan mitra Gojek se-Nusantara. 

Semangat baru dan semangat merah putih turut dikobarkan melalui rangkaian ekspedisi penyelaman dan pendakian di lokasi-lokasi yang menjadi aset berharga milik bangsa Indonesia. 

Ekspedisi penyelaman dilakukan di Gili Trawangan, Pahawang Lampung, Derawan Kalimantan, Bunaken Manado, Kepulauan Seribu, Sabang Aceh, Raja Ampat. 

Sedangkan untuk pendakian, mitra driver Gojek melakukan ekspedisi di Gunung Sindoro, Jawa Tengah; Gunung Mahameru, Jawa Timur; Gunung Kerinci, Jambi, dan Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan. (*)

Komunitas Tuna Netra Merdekakan Fungsi Guiding Block

Berita9.com - Puluhan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Tuna Netra Nasional menggelar sosialisasi fungsi Guiding Block di sepanjang trotoar Jalan Malioboro Yogyakarta.

Ketua Komunitas Tuna Netra Nasional Budi Arfan (36) mengatakan para tuna selama ini belum bisa menikmati fasilitas Guiding Block karena minimnya kesadaran masyarakat.

"Tanggal 17 ini bangsa Indonesia memperingati hari merdeka. Maka kami dari komunitas tuna netra juga ingin merdeka untuk berjalan di atas Guiding Block yang ada di trotoar," ujar Budi.

Budi menceritakan, selama ini kesadaran masyarakat terhadap fungsi Guiding Block masih sangat minim. Sehingga tidak jarang ketika para tuna netra berjalan sering menabrak pengguna jalan hingga barang-barang milik masyarakat.

"Kurang nyaman aja, kita lagi jalan tau-tau nabraK orang, tahu-tahu nabrak barang, kardus, tas yang diletakkan di Guiding Block," ujarnya.

"Padahal jalur (Guiding Block) ini diperuntukkan untuk kami tuna netra agar bisa berjalan dengan tepat, cepat, dan aman," tambah Budi

Budi Berharap masyarakat mempunyai kesadaran dan mengetahui fungsi Guiding Block agar penerapan UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas dapat terpenuhi secara maksimal.

"Harapannya ke depan masyarakat tau fungsi Guiding Block dan memberi kesempatan untuk kami merdeka," kata dia

Sementara itu Anggota Mentaok Volks Wagen Team Panggih Cahyo Arianto, saat mendampingi Budi mengatakan keprihatinannya terhadap penyandang disabilitas yang hak-hak nya kurang terpenuhi.

"Sebenarnya kalau Guiding Block ini difungsikan dengan benar, mereka dapat berjalan dengan nyaman bahkan tanpa harus menggunkan tongkat," kata Panggih.

(**/IST)

Fahri Puji Enzo Pilih Jadi Indonesia Dan Dukung Cita-Citanya Terwujud

Berita9.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah menyatakan responsnya untuk masalah terkait taruna Akademi Militer (Akmil) keturunan Prancis, Enzo Zenz Allie.

Dia berharap, Enzo diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya untuk masuk TNI. Komentar tersebut ia sertakan dalam caption panjang di Instagram untuk foto yang ia unggah.

Fahri Hamzah mengaku, selama perjalanan pulang ke Indonesia dari Jeddah, Arab Saudi, dirinya teringat akan Enzo.

Meski tak mengenal Enzo, Fahri Hamzah mengutarakan pendapat berdasarkan pengalamannya saat tergabung dalam panitia kerja (Panja) UU Imigrasi, yang ia sebut, "senapas dengan UU Kewarganegaraan."

Politikus 47 tahun itu membandingkan Enzo dengan seorang WNI berdarah Prancis yang ia kenal kala itu.

"Saya tidak kenal Enzo Zenz Allie, tapi saya kenal Clovis. Mereka sama-sama berdarah campuran Indonesia (Ibu) dan Prancis (Bapak). Saya mengenal baik ibu dan bapak Clovis, Pak Rene dan Ibu Julie, yang saya kenal saat saya sebagai ketua Panja UU Imigrasi UU No.6/2011," tulis Fahri Hamzah.

Menurut keterangan Fahri Hamzah, karena Indonesia tidak menerapkan kebijakan kewarganegaraan ganda, maka penduduk berusia 18 tahun yang salah satu orang tuanya WNA diberi pilihan antara menjadi WNI atau WNA, sesuai dengan UU yang telah disahkan.

"Enzo Zenz Allie dan Clovis telah memilih menjadi WNI. Sesuatu yang hebat," ungkap Fahri Hamzah.

Pasalnya, kata Fahri Hamzah, menjadi warga negara Prancis lebih menggiurkan dengan banyaknya kemudahan dan jaminan.

"Satu yang pasti, passport Anda akan menjadi passport yang mendapat kemudahan visa ke seluruh dunia. Juga mendapat "baik sangka" sebagai warga dunia kelas satu," jelasnya.

Namun, Enza, sama seperti Clovis, justru menentukan pilihan pada WNI.

"Taqdir mengantarkan mereka menjadi anak dari pernikahan campuran warga negara. Bahkan juga berbeda agama, Clovis beragama Katolik dan Enzo Zenz Allie nampaknya beragama Islam. Enzo berpendidikan dasar di Prancis dan Clovis berpendidikan lanjutan di sana. Keduanya WNA," lanjutnya.

Meski begitu, berbeda nasib dari Clovis, yang dipersiapkan sebagai penerus usaha keluarga, pemilik pabrik di Jogja, Enzo menjadi anak yatim setelah sang ayah, Francois Allie, meninggal.

Ia lantas hanya tinggal bersama ibunya, Siti Hajar, asal Sumatra Utara, dan dititipkan ke pesantren.

"Jadilah Enzo Zenz Allie anak pesantren alias santri yang belajar agama Islam. Dan suatu hari, mungkin ia pergi dengan para sahabatnya membawa bendera bertulis kalimat Tauhid, padahal ia bercita-cita menjadi tentara #INDONESIA," tutup Fahri hamzah.

Enzo diisukan terpapar radikalisme setelah beredar fotonya membawa bendera tauhid, yang identik dengan organisasi terlarang di Indonesia, Hizbut Thahrir Indonesia (HTI).

Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi dengan tegas membantah isu yang mencatut taruna Akmil keturunan Prancis itu.

Musababnya, setiap taruna Akmil yang hendak mendaftar harus melaui serangkaian seleksi. Salah satunya seleksi mental ideologi.

"Tidak. Kami kan ada sistem seleksi yang berbeda dengan seleksi orang mau kerja shift siang shift malam. Ini untuk megang senjata dia. Jadi sudah selektif," ujar Sisriadi, (7/8).

TNI AD menyatakan tetap mempertahankan Enzo sebagai taruna Akmil, setelah yang bersangkutan menjalani tes lanjutan dan memperoleh hasil indeks moderasi bernegara sebesar 84 persen. (*)

 

Rakyat Heran, Sudah 74 Tahun Merdeka Harga Came Masih Mahal

Berita9.com - Hari ini (Sabtu, 17/8/2019), seluruh warga negara Indonesia memperingati 74 tahun Republik Indonesia. Namun ada ironi, lantaran banyak warga mengeluh mahalnya harga cabai. Bahkan lebih mahal ketimbang daging ayam.

Ibu Sumartini, 60 tahun adal Tegal, Jawa Tengah, mengaku heran dengan kenaikan harga cabai hingga di atas Rp100 ribu saat menjelang Hari Raya Idul Adha hingga kini. Pemilik Warung Tegal 'Barokah" di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan ini, terpaksa harus bawel kepada pelanggan yang ingin minta sambal. "Cabe mahal mas, sambelnya sedikit saja ya," papar Budhe Sumar, sapaan akrabnya di Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Tanpa ditanya, dia bicara panjang lebar soal semakin mahalnya harga bahan pangan. Menjelang Lebaran Haji, harga cabai rawit pedas, menjulang hingga Rp120 ribu per kilogram. Saat ini, turun hingga 90 kilogram. "Mahalnya ngalahin daging ayam yang cuman Rp60 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram. Terus terang berat bagi saya dan pelanggan di sini," tuturnya.

Keluhan Sumartini tentang mahalnya harga cabai, ternyata dialami emak-emak di daerah lain. Harga cabai di Pasar Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, terus merangkak naik hingga Rp130 ribu per kilogram.

"Iya mas, kurang lebih sepekan ini harga cabai sangat mahal, saya terpaksa menjual dengan harga Rp130 ribu perkilo karena harga dari distributor juga sudah tinggi. Saat harga normal, saya menjual kisaran Rp35 hinga Rp40 ribu perkilo," ungkap Ani, salah satu pedagang cabai di pasar Nanga Bulik.

Pedagang cabai lainnya, Sari mengaku dirinya sempat kesulitan mendapatkan pasokan dari distributor. "Pasokan cabai tidak lancar seperti biasanya sejak semingguan ini, ada barangnya tapi sangat mahal, terpaksa saya juga menjual dengan harga tinggi," cetusnya.

Dirinya mengaku tidak mengetahui penyebab kenaikan harga cabai ini. "Saya sebagai pedagang merasa nggak enak sama pembeli, tapi gimana lagi karena dari sananya (distributor) sudah mahal," tukasnya.

Sedangkan warga Bondowoso, Jawa Timur yang dikenal sebagai sentra cabai, sedikit mujur. Lantaran harga bahan pangan berasa pedas ini, tidaklah semahal daerah lain. Namun, tetap saja menyedot kantong alias bikin berat konsumen.

Di pasar Kabupaten Bondowoso, harga cabai mencapai Rp70 ribu per kilogram. Sebelumnya, harganya sempat menclok di level Rp100 ribu-Rp110 ribu per kilogram. Dari berbagai informasi tersebut, naga-naganya, warga Indonesia masih belum merdeka untuk membeli cabai. (*)

KPK Diminta Tindaklanjuti Laporan Korupsi di Kawasan Berikat Nusantara

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta menindaklanjuti setiap laporan dari masyarakat terkait dugaan korupsi yang harus dikaji dan didalami lebih lanjut.

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman. "Apapun laporan masyarakat harus ditindaklanjuti," ujar Boyamin saar dikonfirmasi. (17/8).

Dia mengharapkan KPK membantu menyelamatkan keuangan negara dari tangan-tangan rakus, dan korupsi harus dijadikan musuh bersama untuk menyelamatkan aset negara.

"Kalau berhasil itu berarti KPK membantu negara untuk membayar utang," ucap dia.

Hal ini diungkapkan Boyamin terkait kasus dugaan korupsi di PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Persero yang telah dilaporkan oleh MAKI dan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Jakarta Utara, yang hingga saat ini belum ada tindak lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Ekskutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo juga menyayangkan sikap KPK yang belum menindaklanjuti laporan dugaan korupsi di KBN yang diduga merugikan negara Rp 7,7 miliar.

Padahal, lanjutnya, berdasarkan tracking issue, kasus ini sudah menjadi sorotan publik.

"Tidak biasanya KPK membiarkan kasus dugaan korupsi yang menjadi sorotan publik. Jika kasus ini dibiarkan berlarut-larut maka akan berdampak buruk bagi citra KPK. Bisa menimbulkan persepsi negatif dan menurunkan tingkat kepercayaan terhadap kinerja KPK", kata Karyono.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan pihaknya akan mempelajari laporan dugaan korupsi di PT KBN. Namun sampai saat ini, KPK belum menjadwalkan pemeriksaan saksi-saksi terkait dugaan korupsi di PT KBN tersebut.

MAKI melaporkan dugaan korupsi di KBN sekitar Rp 7,7 miliar. Sementara, KBNU mencatat dugaan korupsi di sana mencapai Rp 64,1 miliar dari total 20 kasus. (*)

Warga Gresik Ubah Sampah Plastik Jadi Hiasan Bunga Kemerdekaan

Berita9.com - Warga masyarakat di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, memanfaatkan sampah kantong plastik menjadi aneka bunga buatan. Meski hanya buatan, karya warga ini bagus serta memiliki nilai ekonomis.

Selain pemanfaatan barang bekas, hal ini merupakan cara masyarakat untuk mengkampanyekan gerakan diet kantong plastik.

Bunga hiasan yang dibuat warga itu untuk hiasan di depan rumah, pembuatan bunga buatan ini juga memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-74. 

"Ya ini juga memperingati Agustusan, semua di kampung ini membuat karya bunga buatan dari sampah plastik. Plastik ini bekas hajatan yang sudah jadi sampah," kata Iis Zaiyinah salah satu warga Desa Karangrejo, Kecamatan Ujungpangkah Gresik.

Iis membeberkan, pemanfaatan sampah plastik ini juga bentuk kampanye diet kantong plastik yang saat ini sedang tren di media sosial.

"Bagus untuk mengurangi sampah plastik, sekaligus menjaga lingkungan kita menjadi lebih bersih,” tambah Iis. (17/8).

Warga lain, Mahruriyah menambahkan pembuatan bunga buatan dari sampah plastik ini tidak rumit serta bahan mudah didapat. Berbekal sampah kantong plastik, gunting, lem, kawat serta kreativitas, sebuah bunga buatan menjadi sebuah karya yang indah.

"Daripada terbuang, lebih baik sampah kantong plastik dimanfaatkan jadi bunga buatan. Khusus untuk Agustusan, ini kami buat bunga yang berwarna merah dan putih," ungkapnya. (*)

Papuana Akui Patahkan Tiang Bendera Merah Putih Depan Asramanya

Berita9.com - Salah satu penghuni Asrama Mahasiswa Papua, Papuana, mengakui ada rekan asramanya yang mematahkan tiang bendera merah-putih, Jumat (16/8).

Namun, Papuana tidak menjelaskan tujuan perusakan tiang bendera yang tertancap di depan asrama mereka di Jalan Kalasan, Surabaya, itu.

"Benar," kata Papuana saat dihubungi melalui sambungan telepon, (16/8).
 
Papuana menuturkan, akibat insiden itu, sejumlah massa langsung merangsek ke asramanya. Mereka lalu disusul dengan aparat TNI dan kepolisian setempat.
 
"Pukul 14.20 WIB, aparat TNI datang ke depan asrama. Intel dan beberapa polisi, juga ada Satpol PP," jelasnya.
 
Papuana mengatakan akibat insiden perusakan tiang bendera itu, asrama mereka dilempari batu dan dicaci oleh sejumlah massa. Selain itu, massa tersebut juga mengambil beberapa spanduk yang terpasang di pagar asrama.
 
"Kami dilempari dengan batu. Sebelum dilempari, kami dikatai. Ada perusakan, beberapa spanduk di pagar asrama dirobek. Tapi kami di sini, di dalam, aman-aman saja," tutur Papuana.
 
Ia juga menyanggah tudingan jika para penghuni asrama hendak memanah massa yang mengamuk di depan jalan. Menurut Papuana, hal itu adalah fitnah.
 
"Tidak. Itu omong kosong. Kami tidak melakukan apa pun. Kami tidak balas apa pun," kata dia. (*)

Negara Terjebak Kapitalis Liberalisme Sebuah Kenyataan Anti Pancasila

Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengamini pernyataan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh perihal Indonesia saat ini tengah menganut sistem kapitalis liberal.
 
"Pak Surya Paloh dengan assesment kesimpulan bahwa kehidupan kebangsaan kita negara dan bangsa Indonesia telah terjebak ke dalam kapitalisme liberalisme dan itu adalah kenyataan dan itu adalah antipancasila," ungkap Din usai acara sarasehan "Muhasabah 74 Tahun Kemerdekaan RI" di Kantor CDCC, Jakarta, (16/8).
 
Dengan adanya pernyataan keras itu, lanjut Din, seharusnya Surya Paloh sendiri mampu mengoreksi dan mengembalikan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

LBH Pers Kecam Intimidasi Wartawan Peliput Demo Sidang Tahunan MPR

Jakarta - Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Pers menduga ada enam wartawan yang diintimidasi oleh polisi saat meliput unjuk rasa sidang tahunan MPR, Jumat, 16 Agustus 2019.

Sejauh ini, ada lima korban yang sudah terverifikasi. "Korban yang sudah diverifikasi AJI Jakarta, itu jurnalis Vivanews, Jawa Pos, Antara, Bisnis Indonesia, dan Inews," kata Direktur LBH Pers Ade Wahyudin, (16/8). Sementara, jurnalis dari SCTV belum terverifikasi.

Ade mengatakan para wartawan itu diduga mengalami intimidasi, kekerasan dan penyitaan terhadap alat kerja, penghapusan foto dan video. Ade mengatakan LBH Pers dan Aliansi Jurnalis Independen Jakarta masih mencari informasi lebih detail terkait kasus ini.

Dia mengatakan bila data telah lengkap dan ditemukan adanya pelanggaran hukum, maka LBH Pers akan mendesak media asalnya untuk segera membuat laporan polisi.

AJI Jakarta mengecam dugaan tindakan kekerasan oleh kepolisian ini. Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung mengatakan tindakan tersebut telah melanggar pidana dan Undang-Undsnh Pers. Erick mengatakan AJI bakal mendampingi para jurnalis untuk membuat laporan tersebut. "Kami akan dampingi" kata dia. (*)

 

Page 1 of 750
Go to top