Secara Etika Pejabat Publik Harus Mundur Saat Jadi Timses

Jakarta - Desakan mundur bagi pejabat publik yang masuk Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin terus mengalir. Secara etika politik, sepatutnya mundur dari pemerintahan.

Memang tidak ada aturan baku yang mewajibkan para pejabat publik yang masuk tim sukses (timses) calon untuk mundur dari jabatannya di pemerintahan. Namun secara etika politik sepatutnya mereka mundur.

"Etikanya memang lebih baik mundur. Tapi tidak ada aturan dalam UU yang mengharuskan mereka mundur," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, Selasa (21/8).

Menurut Ujang, jika pejabat publik itu tidak mundur, maka bisa saja menimbulkan conflict of interest.

"Pejabat harus mengedepankan pelayanan kepada masyarakat. Selain mereka juga harus menjaga netralitas lembaga yang dipimpinnya," tegas Ujang.
 
Selain itu, sambung Ujang, para pejabat yang terlibat di tim sukses, juga berupaya keras untuk tidak mengganggu kinerja kementerian dan lembaga yang menjadi lingkup kerjanya.

"Ini persoalan pelik yang harus dicarikan jalan keluarnya. Menjadi Timses untuk berkampanye memang hak mereka. Yang terpenting jangan gunakan fasilitas negara dan menekan anak buahnya di kementerian atau lembaga untuk mendukung dan memilih capres dan cawapresnya," tekan pengajar di Universitas Al Azhar ini.

Sejumlah nama yang beredar, di lingkungan pemerintahan Jokowi yang masuk dalam TKN Jokowi-Ma'ruf antara lain Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, dan Jurubicara Kepresidenan Johan Budi. (*)

Semangat Berkurban Wujudkan Kesejahteraan Bersama

Berita9.com - Ketua Baznas, Prof Dr Bambang Sudibyo MBA, CA mengatakan kurban merupakan sebuah ritual penghambaan muslim kepada Tuhannya yang beririsan langsung dengan sektor ekonomi umat sekaligus berdampak sosial. 

Kurban mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan memberikan keadilan bagi mustadháfin atau orang-orang lemah, rentan serta terpinggirkan.

"Di sisi lain, belum ada literatur yang secara langsung dan terpadu membahas kaitan antara kurban dengan kondisi sosial, pemberdayaan ekonomi serta manajemen," kata Bambang dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (21/8/2018).

Apa yang dikatannnya itu disampaikan saat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerjasama dengan Pusat Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEBS UI) meluncurkan “Buku Ekonomi Kurban” di Jakarta.

Buku ini menggambarkan potensi ekonomi ummat dalam momentum Hari Raya Idul Adha yang diperingati tiap tahun.

Menurut Bambang, kurban sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan nasional dengan aktivitas jual beli kurban maupun penambahan protein hewani bagi masyarakat tidak mampu.

Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan perhatian pada kurban, terutama dalam kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi.

Kepala PEBS UI, Rahmatina Awaliah Kasri, PhD mengatakan dari dimensi ekonomi, ibadah kurban diharapkan menjadi sebuah moment berbagi dan menunjukkan kepedulian kepada sesama.

Selain itu, ibadah kurban melibatkan perputaran dana hingga Rp69,9 triliun. 

"Dana ini diharapkan bisa menjadi pendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, peningkatan gizi dan pada akhirnya diharapkan bisa mewujudkan kesejahteraan sosial," katanya.

Peningkatan permintaan hewan ternak secara besar-besaran pada hari raya Idul Adha, menurutnya, secara sistemik akan berpengaruh pada peningkatan jumlah hewan ternak yang harus disediakan oleh peternak.

(**/IST)

Dana Khusus Bisa Cair Jika Status Lombok Bencana Nasional

Jakarta - Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Sodik Mudjahid meminta pemerintah tidak alergi dengan desakan sejumlah pihak agar gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditetapkan sebagai bencana nasional.

"Dengan status bencana nasional, sangat banyak potensi yang bisa digalang baik dana dan fasilitas APBN, juga bantuan internasional," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/08/2018).

Untuk diketahui, ungkap Sodik, ada alokasi dana khusus bencana yang tidak bisa dicairkan jika tidak dalam status tertentu. Di sisi lain, bencana Lombok memerlukan dana untuk berbagai keperluan, seperti pemulihan pascabencana yang tidak sedikit.

"Ada dana, fasilitas dan program yang hanya bisa dicairkan dengan status bencana nasional," terangnya.

Dalam kondisi seperti ini, menurutnya, pemerintah seharusnya memprioritaskan masyarakat yang terdampak bencana, bukan mengedepankan ego sektoral.

"Perlu dengan cerdas dan jernih dikaji. Yang rugi dengan status bencana nasional itu masa depan masyarakat dan Provinsi NTB atau Pemerintahan Presiden Jokowi yang terganggu atau takut dimainkan dengan isu bencana nasional pada masa menghadapi pilpres?" sindirnya. (*)

Keutamaan Ketika Ikhlas Berpuasa Karena ALLAH

Berita9.com - Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.’

Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’

Demi Allâh yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi.

Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.’ [Muttafaq ‘alaihi, dan ini lafazh al-Bukhâri]

Dalam suatu riwayat lain imam al-Bukhâri, “Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Setiap satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipatnya.”

Dalam riwayat Muslim, “Semua amalan anak Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Aku, dan Aku-lah yang membalasnya. Dia meningalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku. ’Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi.”

TAKHRI HADITS:
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 1894, 1904, 5927, 7492, 7538); Muslim (no. 1151); Ahmad (II/232, 266, 273); Ibnu Mâjah (no. 1638); an-Nasa-i (IV/163-164), dan Ibnu Khuzaimah (no. 1896, 1900).

KOSA KATA HADITS:
جُنَّةٌ : Benteng, pelindung dari api Neraka dan kemaksiatan.
اَلرَّفَثُ : Ucapan kotor dan keji.
الصَّخَبُ : Bertengkar dan berteriak.
خُلُوْفٌ : Perubahan bau mulut.

SYARH HADITS:
Betapa agungnya hadits ini karena didalamnya disebutkan amalan secara umum, kemudian disebutkan puasa secara khusus, keutamaannya, kekhususannya, pahala yang akan diperoleh dengan segera maupun yang akan datang, penjelasan hikmahnya, tujuannya, dan apa-apa yang harus diperhatikan seperti adab-adab yang mulia. Semua hal tersebut tercakup dalam hadits ini.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pokok yang menyeluruh, bahwa semua amal shalih, dilipatgandakan (amal shalih tersebut) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan hingga berkali-kali lipat lebih dari itu.

Ini menunjukkan keagungan dan luasnya rahmat Allâh dan kebaikan-Nya kepada para hamba-Nya yang beriman, karena Allâh Azza wa Jalla membalas satu perbuatan buruk dan menyelisihi syari’at dengan satu balasan.

Adapun balasan kebajikan, maka pelipatgandaan minimal sepuluh kali, dan bisa lebih dari itu dengan sebab-sebab lain. Di antaranya yaitu kuatnya iman seorang hamba dan kesempurnaan ikhlasnya. Jika iman dan ikhlas semakin bertambah kuat, maka pahala amal shalih pun akan berlipat ganda.

Di antaranya juga yaitu amalan yang memiliki porsi besar, seperti berinfak dalam rangka jihad di jalan Allâh dan menuntut ilmu syar’i, serta berinfak untuk proyek-proyek agama Islam secara umum.

Dan juga seperti amalan yang semakin kuat karena kebaikannya dan kekuatannya dalam menolak hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah orang yang tertahan dalam gua,

dan kisah pezina yang memberi minum seekor anjing lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.

Dan juga seperti suatu amalan yang dapat menumbuhkan amalan lain dan diikuti oleh orang lain.

Dan juga seperti menolak bahaya-bahaya yang besar atau menghasilkan kebaikan-kebaikan yang besar.

Dan juga seperti amalan-amalan yang berlipat ganda karena keutamaan waktu dan tempat, serta keutamaan seorang hamba di sisi Allâh Azza wa Jalla. Semua pelipatgandaan ini mencakup semua amalan.

Kemudian Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengecualikan puasa dan menyandarkannya kepada-Nya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang akan membalasnya dengan keutamaan dan kemuliaan-Nya, dengan tidak melipatgandakannya seperti amalan yang lain.

Ini adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan, bahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak terlintas dalam benak manusia.

Ulama berbeda pendapat tentang makna :

فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ

Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.

Padahal semua amal perbuatan adalah untuk Allâh Azza wa Jalla dan Dia-lah yang akan membalasnya, sebagai berikut:

Pertama: Di dalam puasa tidak terdapat unsur riya’ sebagaimana yang terjadi pada ibadah lainnya.

Kedua: Bahwa yang dimaksud dengan “dan Aku-lah yang akan membalasnya,” adalah “Hanya Aku-lah yang mengetahui besarnya balasan orang tersebut dan berapa banyak kebaikannya dilipatgandakan. Adapun ibadah lainnya, karena ia dapat dilihat orang.”

Ketiga: Yang dimaksud dengan “dan Aku-lah yang akan membalasnya,” yaitu bahwa puasa adalah ibadah yang paling Aku cintai dan yang akan didahulukan di sisi-Ku.

Keempat: Idhâfah (penyandaran) dalam redaksi ini merupakan idhâfah tasyrîf (kemuliaan) dan ta’zhîm (keagungan), sebagaimana dikatakan “Baitullah (rumah Allâh), meskipun seluruh masjid sebenarnya adalah milik Allâh.” az-Zain Ibnul Munayyir berkata, “Pengkhususan pada konteks redaksi umum seperti ini tidaklah dipahami selain dengan makna pengagungan dan pemuliaan.”

Kelima: Tidak membutuhkan makan dan syahwat-syahwat lainnya merupakan salah satu sifat Allâh Azza wa Jalla. Dan karena orang yang berpuasa mendekatkan dirinya dengan salah satu sifat-Nya, maka Dia pun menyandarkan ibadah tersebut kepada diri-Nya.

Keenam: Maksudnya sama seperti di atas; hanya saja hal tersebut sesuai dengan sifat malaikat. Karena tidak membutuhkan makan dan tidak memiliki syahwat merupakan salah satu sifat mereka.

Ketujuh: Maksudnya bahwa puasa tersebut murni hanya untuk Allâh Azza wa Jalla, dan tidak satu bagian pun dari ibadah tersebut yang ditujukan kepada sesama hamba. Demikian yang dikatakan oleh al-Khaththabi dan demikian pula pendapat yang dinukil oleh ‘Iyâdh dan yang lainnya.

al-Baidhawi rahimahullah berkata, “Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa ibadah puasa diistimewakan dengan kelebihan seperti ini.

Pertama, karena ibadah-ibadah lainnya dapat dilihat oleh manusia, berbeda dengan puasa karena ia merupakan rahasia antara hamba dan Allâh Azza wa Jalla.

Ia melakukannya dengan ikhlas dan mengerjakannya karena mengharap ridha-Nya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa salla, (hadits qudsi, yang artinya), ‘Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku.’

Kedua, karena seluruh perbuatan baik dilakukan dengan cara mengeluarkan harta atau mempergunakan fisik. Sementara puasa mencakup pengekangan hawa nafsu dan membuat fisik menjadi lemah.

Dalam ibadah puasa terdapat unsur kesabaran menahan rasa lapar, haus, dan meninggalkan syahwat. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla dalam sabda beliau (hadits qudsi, yang artinya), ‘Dia meninggalkan syahwatnya karena-Ku.’”

Para Ulama berkata, “Puasa dikecualikan karena ia mencakup tiga macam sabar, yaitu (1) sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allâh, (2) sabar (menjauh) dari maksiat kepada Allâh, dan (3) sabar terhadap takdir Allâh.”

Adapun sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh, yaitu seorang hamba membebani dirinya untuk berpuasa walaupun terkadang ia tidak menyukainya karena ada kesulitannya, bukan karena Allâh telah mewajibkannya.

Jika seseorang membenci puasa karena Allâh mewajibkannya, maka akan semua amalnya akan terhapus. Seseorang yang tidak menyukai puasa karena sulit, namun ia tetap memaksa dirinya untuk berpuasa, ia bersabar (menahan diri) dari makan, minum, dan jima’ karena Allâh Azza wa Jalla .Oleh karena itu disebutkan dalam hadits qudsi di atas, Allâh berfirman :

يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أجْلِيْ

Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku.”

Sedangkan sabar (menahan diri) dari maksiat kepada Allâh, ini didapat dari orang yang berpuasa, karena ia menyabarkan dirinya dan menjauhkan dirinya dari berbuat maksiat kepada Allâh. Ia menjauhi hal yang sia-sia, berkata kotor, bodoh, dusta, dan selainnya dari apa-apa yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

Adapun sabar terhadap takdir Allâh, yaitu seseorang diuji ketika ia berpuasa (apalagi jika pada musim panas yang panjang) dengan rasa malas, bosan, dan haus, tetapi ia tetap bersabar karena mengharapkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika puasa mencakup tiga macam sabar tersebut, maka ganjarannya tidak terbatas. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

مَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” [az-Zumar/39:10]

Hikmah dari pengkhususan tersebut yaitu bahwa orang yang berpuasa ketika dia meninggalkan hal-hal yang dicintai oleh hawa nafsunya karena Allâh, maka itu artinya ia telah mendahulukan kecintaannya kepada Allâh dari segala kecintaan jiwanya, ia lebih mengharap ridha-Nya dan ganjaran-Nya daripada meraih keinginan hawa nafsu. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dan menjadikan pahala orang yang berpuasa di sisi-Nya.

Coba Anda pikirkan, bagaimana dengan ganjaran dan balasan yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla, Yang Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahadermawan, Mahapemberi, yang pemberian-Nya menyeluruh kepada semua makhluk yang ada, lalu Allâh mengkhususkan untuk para wali-Nya bagian yang banyak dan sempurna, dan Allâh mentakdirkan buat mereka sarana yang dengannya mereka bisa meraih apa-apa yang ada di sisi Allâh berupa perkara-perkara yang tidak pernah terlintas dalam benak dan dalam khayalan? Bagaimana dengan apa yang akan Allâh Azza wa Jalla lakukan kepada mereka, orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas?

Itulah karunia yang Allâh berikan kepada siapa yang dikehendaki.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa puasa yang sempurna yaitu jika seorang hamba meninggalkan dua perkara:

Pertama, pembatal-pembatal puasa seperti makan, minum, jima’ (bersetubuh) dan lainnya.

Kedua, hal-hal yang mengurangi (kesempurnaan) amalan, seperti berkata kotor, jorok, cabul dan berteriak-teriak, mengerjakan perbuatan haram dan pembicaraan haram. Jauhkanlah semua maksiat, pertengkaran, dan perdebatan yang menyebabkan dendam. Karena inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Janganlah berkata kotor/keji (cabul).”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, yang artinya, “Janganlah berteriak-teriak!” Yaitu perkataan yang menyebabkan fitnah dan permusuhan. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang lain:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allâh tidak butuh kepada (puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minumnya.

Barangsiapa menerapkan dua perkara tersebut di atas maka sempurnalah pahala puasanya. Siapa yang tidak menerapkannya, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuki orang yang puasa bahwa apabila ada yang mengajak untuk bertengkar dan mencelanya, hendaklah ia mengatakan:

إِنِّي صَائِمٌ

Sesungguhnya aku sedang berpuasa

Faidahnya yaitu bahwa seakan-akan ia berkata, “Ketahuilah bahwa aku bukannya tidak bisa membalas apa yang engkau katakan, tapi sesungguhnya aku sedang berpuasa. Aku menghormati puasaku dan menjaga kesempurnaannya, serta perintah Allâh dan rasul-Nya. Dan ketahuilah bahwa puasa mengajakku untuk tidak membalas semua itu dan memerintahkanku untuk bersabar. Maka apa yang aku lakukan ini lebih baik dan lebih mulia dari apa yang engkau perbuat kepadaku, wahai orang yang mengajak bertengkar!”

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa adalah perisai

Yaitu penjaga yang menjaga seorang hamba dari dosa-dosa di dunia, membiasakannya untuk mengerjakan kebajikan, dan menjaga dari siksa neraka.

Ini adalah hikmah syari’at yang paling agung dari faidah puasa, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [al-Baqarah/2:183]

Jadi, puasa menjadi perisai dan sebab untuk mendapat ketakwaan. Karena puasa mencegah dari perbuatan haram dan apa-apa yang dilarang serta memerintahkan untuk memperbanyak amal ketaatan kepada Allâh dan Rasul-Nya.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya

Kedua ganjaran ini, ganjaran pertama, segera didapat dan ganjaran kedua, ganjaran yang didapatkan di akhirat. Yang langsung didapat yaitu ketika orang yang berpuasa itu berbuka, ia gembira karena nikmat Allâh yang diberikan kepadanya sehingga bisa menyempurnakan ibadah puasanya.

Sedangkan ganjaran yang akan datang yaitu kegembiraannya ketika bertemu Rabb-nya dengan keridhaan-Nya dan kemuliaan-Nya.

Kegembiraan yang didapat langsung di dunia ini adalah contoh dari kegembiraan yang akan datang, dan Allâh akan mengumpulkan keduanya bagi orang yang berpuasa.

Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpuasa jika sudah mendekati waktu berbuka, maka ia mendapat kegembiraan. Itu merupakan balasan dari apa yang telah ia lalui pada siang hari berupa kesulitan menahan nafsu.

Ini untuk menumbuhkan semangat dan berlomba dalam berbuat kebaikan.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ

Sungguh, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi.

al-Khulûf yaitu pengaruh bau dalam mulut ketika kosong dari makanan dan naiknya uap. Walaupun ini tidak disukai oleh orang, tapi janganlah engkau bersedih, wahai orang yang berpuasa! Karena sesungguhnya ia lebih wangi di sisi Allâh daripada minyak kesturi dan berpengaruh pada ibadah dan pendekatan diri kepada-Nya.

Dan semua yang meninggalkan pengaruh dalam ibadah berupa kesulitan dan ketidaksukaan, maka itu dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla. Dan kecintaan Allâh bagi orang Mukmin lebih didahulukan dari segala sesuatu.

FAWAA-ID

1. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjamin balasan puasa seseorang dengan balasan yang istimewa

2. Apapun yang berhubungan dengan ibadah puasa, baik kadar keikhlasan hamba, diterima atau tidak, maupun kadar jerih payah dalam melaksanakannya, hanya Allâh yang mengetahuinya.

3. Semua amalan memiliki pahala tertentu, yang kemudian dilipatgandakan sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Karena pahala puasa tidak terbatas hitungannya.

4. Puasa adalah benteng, sebagai pelindung dari api neraka dan dosa-dosa yang bisa menjerumuskan ke neraka, serta penghalang dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan syari’at. Oleh karena itu orang yang berpuasa wajib menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat serta menjauhkan hal-hal yang tidak bermanfaat.

5. Orang yang berpuasa tidak boleh berkata kotor, jorok, keji, cabul, perkataan yang membawa kepada persetubuhan, dan lainnya.

6. Orang yang berpuasa tidak boleh berteriak-teriak, tidak boleh bertengkar, dan tidak boleh mengganggu orang lain.

7. Orang yang berpuasa tidak boleh berkata bohong, dusta, membohongi dan menipu orang, dan lainnya.

8. Orang yang terus menerus berbohong dan berlaku bodoh, ghibah, fitnah dan mengadu domba, maka Allâh Azza wa Jalla tidak butuh kepada puasanya.

9. Orang yang berpuasa wajib menjaga lisannya dan anggota tubuh lainnya dari yang terlarang. Dia harus selalu taat, berdzikir, membaca al-Qur’ân, berdo’a, sedekah, dan ibadah lainnya.

10. Puasa melatih dan mendidik diri untuk taat, membiasakan diri bersabar terhadap penyakit dan gangguan karena mengharapkan ridha Allâh Azza wa Jalla .

11. Boleh memberitahukan amal ketaatan kepada orang lain apabila dapat membuahkan maslahat dan menolak keburukan. Misalnya ucapan orang yang berpuasa, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Ucapan ini digunakan untuk menghindari kata-kata makian seseorang atau ajakan untuk bertengkar.

12. Bau mulut orang yang berpuasa kelak di hari kiamat lebih harum aromanya dari aroma minyak kesturi.

13. Orang yang berpuasa pasti bergembira dengan puasanya. Apalagi menjelang buka puasa, maka semua orang yang berpuasa bergembira karena makan, minum, jima’ yang halal yang tadinya tidak boleh dilakukan selama siang hari, menjadi boleh dengan terbenamnya matahari.

14. Kegembiraan orang yang berpuasa di saat berbuka jangan sampai berlebihan sehingga melanggar syari’at.

15. Orang yang berpuasa atau orang yang beribadah dengan ikhlas, jika ia gembira karena ibadahnya, maka kegembiraannya itu tidak mengurangi pahalanya sedikit pun di akhirat kelak.

16. Kegembiraan yang sempurna didapatkan ketika bertemu Allâh Azza wa Jalla, yakni ketika orang-orang yang sabar dan yang berpuasa diberikan pahalanya secara utuh tanpa dibatasi oleh hitungan.

Maraaji’:
1. Kutubus sittah, Musnad Ahmad, dan Shahih Ibni Khuzaimah.
2. Fat-hul Bâri Syarh Shahîh al-Bukhâri, al-hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni.
3. Syarh Shahîh Muslim, Imam an-Nawawi.
4. Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
5. Bahjatu Qulûbil Abrâr bi Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di.
6. Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.
7. Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli.

 

Khatib Idul Adha di Yogya Kritik Larangan Khilafah

Berita9.com - Tak hanya pemasangan Ar-Rayah, khatib pada salat Idul Adha di halaman parkir Stadion Mandala Krida Yogyakarta juga menyoal tentang demokrasi yang dinilai salah kaprah. Dia juga menyinggung larangan perjuangan penegakan khilafah.

"Syariah Islam seolah haram diterapkan hanya karena satu tuduhan tak beralasan, bisa mengancam kebhinekaan," kata Sigit Purnawan Jati selaku khatib salat Idul Adha, Selasa (21/8/2018).

"Demikian pula institusi penerap syariah yakni khilafah Islam juga terlarang diperjuangkan. Bahkan tak boleh (diperjuangkan) meski sekedar diwacanakan," lanjutnya.

Kemudian Sigit juga mengritisi banyaknya aktivis pembela khilafah Islam yang kriminalisasi. Tak hanya itu, organisasi pejuang khilafah Islam secara paksa dibubarkan pemerintah. Sigit tidak menjelaskan organisasi dari pejuang khilafah Islam tersebut.

"Organisasi mereka bubarkan dengan tuduhan yang diada-adakan. Padahal jelas, khilafah adalah bagian penting dari ajaran Islam yang wajib ditegakkan," ujarnya.

Selanjutnya, pengajar salah satu perguruan tinggi di Yogya tersebut juga menyinggung penerapan demokrasi yang dianggap salah kaprah. Dia juga menyinggung LGBT dalam khotbahnya.

"Banyak keharaman dihalalkan, banyak pula perkara halal diharamkan. Tak jarang semua itu dilegalkan oleh undang-undang lewat mekanisme demokrasi yang dibangga-banggakan," ucapnya.

"Lihatlah, bagaimana riba telah dihalalkan. Miras pun dilegalkan meski dibatasi peredarannya. Pelacuran dilokalisasi dengan alasan yang diada-adakan. Zina tak dipandang sebagai kejahatan, LGBT pun tak boleh dikriminalkan karena itu melanggar HAM," tutupnya. (*)

Tak Hanya Al-Azhar Jakarta di Sukabumi & Medan Juga Shalat Id Hari Selasa

Berita9.com - Selain di Masjid Al-Azhar di Jakarta, umat Islam di Sukabumi dan Medan juga menggelar Shalat Id hari ini, Selasa (21/8/2018).

"Yang mengadakan shalat Idul Adha adalah DKM Masjid Daarut Takwa di Toserba Selamat," kata Ketua DKM Masjid Daarut Takwa Yan Maulana Hidayat.

Dia menambahkan, pelaksanaan Shalat Id ini tidak mewakili kelompok manapun. Meski ada sejumlah warga yang melakukan shalat Id hari ini, namun ada juga warga yang menggelar Shalat pada Rabu (22/8) besok.

"Bukan berarti kami ingin beda dengan yang lain akan tetapi ini pilihan,'' ujarnya.

Sementara itu di Kota Medan, juga digelar Shalat Id di Masjid Kampus ITM, Jl. Gedung Arca Medan.

"Jadikan wukuf di Arafah itu jatuh hari ini. Jadi dalilnya itu mengikuti wukuf di Arafah. Itu yang menjadi dasarnya. Dulu kan Rasullullah, untuk ketetapan Idul Adha itu kan diserahkan kepada wali Makkah. Kita mengikuti dalil syar'i gitu," tuturnya.

Seperti diketahui, pemerintah sendiri melalui Kementrian Agama menetapkan Hari Raya Idul Adha pada Rabu 22 Agustus 2018. (*)

Penderita Darah Tinggi Ternyata Boleh Makan Daging Kambing

Berita9.com - SAAT Hari Raya Idul Adha, Anda pasti akan menemukan banyak rumah yang mengolah daging kurban yang mereka dapatkan. Baik itu daging kambing maupun sapi. Biasanya diolah menjadi berbagai makanan yang memiliki cita rasa nikmat, mulai dari satai, gulai, tengkleng, hingga nasi kebuli.

Namun, tidak sedikit masyarakat yang khawatir jika mengonsumsi daging, terutama daging kambing dapat menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi atau hipertensi. Hal tersebut rupanya dibantah oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Tunggul D. Situmorang.

“Itu harus diluruskan. Tidak ada di buku manapun yang mengatakan makan daging kambing menyebabkan hipertensi,” tegasnya.

Meski demikian dia mengingatkan agar para penggemar daging membatasi konsumsi agar tidak berlebihan. Pasalnya, daging merah memiliki jumlah kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan dikenal dapat meningkatkan kolesterol serta memicu penyakit jantung.

“Biasanya penyakit itu suka datang secara bersamaan. Hipertensi, kolesterol, diabeter mellitus, dan asam urat. Jadi tetap harus dibatasi,” tuturnya.

Lantas, mitos yang mengatakan bahwa konsumsi daging menyebabkan darah tinggi muncul dari mana? Ternyata hal ini dipicu oleh proses pengolahan dan penggunaan beragam bumbu penyedap selama memasak daging kambing.

Bumbu penyedap makanan seperti garam dan mecin memiliki jumlah sodium dan natrium yang sangat tinggi. Apalagi dengan semakin banyak proses pengolahan maka akan semakin tinggi juga kandungan sodiumnya.

Dokter yang juga menjabat Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia ini mengatakan kandungan yang ada di dalam garam inilah menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan.

“Faktor penyebab hipertensi jelas garam. Ketika ada orang yang terkena hipertensi dan tidak diketahui penyebabnya apa, itu pasti karena konsumsi garam berlebih.

Apalagi jika ada riwayat keluarga terkena hipertensi, ini dikatakan hipertensi primer. 90% penderita hipertensi karena hipertensi primer.”

Meski demikian, bukan berarti masyarakat tidak boleh mengonsumsi garam sama sekali. Boleh saja, asalkan takarannya lebih dibatasi. Sebab, bagaimanapun kandungan sodium dan natrium pada garam masih dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Badan kesehatan dunia, WHO (World Health Organization) menganjurkan untuk membatasi konsumsi sodium 2.400mg atau sekitar 1 sendok teh garam per hari.

Adapun pasien hipertensi berat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam I dengan hanya mengonsumsi 200-400 miligram Natrium atau garam setiap harinya.

Sementara pasien hipertensi tidak berat dianjurkan melakukan diet rendah garam II dengan mengonsumsi hanya 600-800 miligram atau sekitar setengah sendok teh garam setiap harinya. (*)

BNPB: Banyak Pihak Tidak Paham Manajemen Bencana

Jakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan masih banyak pihak yang tidak paham mengenai penetapan status dan tingkatan bencana.

Hal itu disampaikan terkait banyaknya pihak yang mengusulkan agar bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dinyatakan sebagai bencana nasional.

"Banyak pihak yang tidak paham mengenai manajemen bencana secara utuh, termasuk penetapan status dan tingkatan bencana. Banyak pihak beranggapan dengan status bencana nasional akan ada kemudahan akses terhadap sumber daya nasional," tuturnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/8/2018).

Menurut Sutopo, tanpa ada status itu pun saat ini pemerintah sudah mengerahkan sumber daya nasional baik dari personel pelbagai unsur pusat seperti TNI, Polri, Basarnas, kementerian/lembaga terkait dan lainnya, bantuan logistik dari BNPB, TNI, Polri serta lainnya.

Selain itu, juga ada rumah sakit lapangan dari Kementerian Kesehatan dan TNI, santunan dan bantuan dari Kementerian Sosial, serta sekolah darurat dari Kementerian PUPR dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Semua sudah mengerahkan sumber daya ke daerah. Jadi relevansi untuk status bencana nasional tidak relevan," ucapnya.

Sutopo mengungkapkan ada kecenderungan setiap terjadi bencana dengan korban cukup banyak selalu ada wacana agar pemerintah pusat menetapkannya sebagai bencana nasional. Hal itu dinilai disampaikan banyak pihak tanpa memahami aturan main dan konsekuensinya.

Dalam penanganan bencana apalagi urusan bencana, terangnya, sudah menjadi urusan wajib bagi Pemerintah Daerah (Pemda). Maka kepala daerah adalah penanggung jawab utama penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerahnya dan pemerintah pusat hadir memberikan pendampingan atau penguatan secara penuh.

"Dalam praktiknya, di dalam penanganan bencana-bencana besar di Indonesia, hampir semuanya berasal dari bantuan pemerintah pusat. Namun. kendali dan tanggung jawab tetap ada di Pemda tanpa harus menetapkan status bencana nasional," tambah Sutopo.

Dia menegaskan masyarakat tidak perlu berpolemik dengan status bencana nasional, yang penting adalah penanganan dapat dilakukan secara cepat kepada msyarakat yang terdampak.

Pemerintah pun disebut masih mampu menangani gempa Lombok hingga pascabencana nantinya. Skala penanganan sekarang pun sudah skala nasional.

"Mari kita bersatu. Bencana adalah urusan kemanusiaan. Singkirkan perbedaan ideologi, politik, agama, dan lainnya untuk membantu korban bencana. Masyarakat Lombok memerlukan bantuan kita bersama. Energi kita satukan untuk membantu masyarakat Lombok," ucap Sutopo.

Gempa Lombok dan sekitarnya terjadi sejak Ahad (29/7) dengan kekuatan 6,4 SR. Disusul oleh gempa berkekuatan 7 SR pada Ahad (5/8), serta gempa 6,5 SR dan 6,9 SR pada Ahad (19/8).

Bencana tersebut menyebabkan 506 orang meninggal dunia, 431.416 orang mengungsi, 74.361 unit rumah rusak dan kerusakan lainnya. BNPB memperkirakan kerusakan dan kerugian mencapai Rp 7,7 triliun. (*)

 

Zulhas Sebut Pernyataan Sri Mulyani Soal Utang Menyesatkan

Jakarta - Selisih pendapat antara Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhas) dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berlanjut. Kali ini, Zulhas menjawab tudingan Sri Mulyani soal pendapatnya terkait utang pemerintah yang bernada politis.

"Ini MPR/DPR lembaga politik bukan lembaga sosial, jadi ngomong politik ya (memang) tempatnya," ujar pria yang akrab disapa Zulhas di kompleks parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/8).

Zulhas lalu mengatakan bahwa Sri Mulyani sendiri yang menyatakan utang jatuh tempo pemerintah pada 2019 sebesar Rp409 triliun bakal lebih berat. Sri Mulyani juga menyebut utang tersebut bakal lebih besar jika nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ia juga menyampaikan kritik beberapa pihak, seperti Rizal Ramli terhadap performa Sri Mulyani. Pemerintah dinilai kurang inovatif dalam mengelola utang sehingga terkesan kelimpungan saat mendekati jatuh tempo.

"Loh kok baru sekarang mengatakan berat membayar utang, kemarin-kemarin kemana?" imbuh Zulhas mengutip ucapan Rizal Ramli.

Zulhas juga mengkritik pernyataan Sri Mulyani yang terkesan menyalahkan pemerintah sebelumnya soal utang yang jatuh tempo pada tahun depan. Menurutnya, sudah jadi kewajiban pemerintah yang sekarang untuk menyelesaikannya.

"Jadi Menteri Keuangan yang menyesatkan," tukas Zulhas.

Ucapan Zulhas ini merupakan pembelaan dirinya terhadap kritik yang dilempar oleh Sri Mulyani. Dalam pidato Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2018, Zulhas menyatakan besar pembayaran pokok utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2019 sebesar Rp400 triliun, tujuh kali lebih besar dari dana desa dan enam kali lebih besar dari anggaran kesehatan. Ia juga menilai jumlah tersebut tidak wajar.

Sri Mulyani mengatakan pernyataan Ketua Umum PAN tersebut bermuatan politis dan menyesatkan. Ia mengungkapkan 44 persen pembayaran pokok utang pada 2018 yang totalnya sebesar Rp396 triliun merupakan utang yang dibuat pada periode sebelum 2015.

"Pokok utang 2018 itu dihitung dari akhir Desember 2017, 44 persen dari total itu berasal dari utang periode sebelum 2015 (sebelum Presiden Jokowi). Ketua MPR (Majelis Permusyawarahan Rakyat) saat ini adalah bagian dari kabinet saat itu," ucap Sri Mulyani dalam pernyataan resmi di laman Facebook miliknya. (*)

Wukuf Arafah Miniatur Padang Mahsyar

Berita9.com - Sekitar tiga juta jamaah haji dari berbagai negara melaksanakan wukuf di Arafah pada Senin (20/8). Mereka memadati tenda-tenda yang disediakan pihak maktab yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Mereka berdiam di tengah padang Arafah mulai dari pagi hari hingga Maghrib tiba. Pada saat shalat wajib tiba mereka memadati kawasan sekita masjid Namirah yang tidak mampu menampung seluruh jamaah salat wajib.

Selesai melaksanakan wukuf, jamaah digerakkan ke Muzdalifah untuk mabit. Di sana mereka mendapatkan paket makanan seperti roti, kurma, dan minuman manis. Mabit dilaksanakan hingga hari berganti. Kemudian secara perlahan jamaah digerakkan ke Mina. Di sana mereka bermalam untuk melaksanakan lempar jumrah.

Sebanyak 203 ribu jamaah Indonesia tersebar di 71 maktab. Pada malam hari sebagian mereka tidur di luar tenda karena panas dan pengap di dalam tenda meski sudah dilengkapi kipas angin yang mengeluarkan uap air.

(**/IST)

Page 1 of 553
Go to top