Khalid bin Walid "Pedang Allah yang Terhunus"

Berita9.com - Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan "Pedang Allah yang Terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.

Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi Khalid, adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Namun justru setelah perang itulah Khalid masuk Islam.

Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia orang yang kaya raya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, merekalah yang mengurus gudang senjata dan tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan atas segala upaya jihadnya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam sebanyak 46.000, menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Dia sama sekali tidak gentar menghadapinya, dia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Dalam Perang Yarmuk jumlah pasukan Islam tidak seimbang dengan pihak musuh yang berlipat-lipat. Ditambah lagi, pasukan Islam yang dipimpin Khalid tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak.

Bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang, dia membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam terkesan lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad). Perang Riddah ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah, dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat.

Oleb sebab itu, mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut, hasilnya kemenangan ada di pihak Khalid.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah pada 634 M. kemudian Khalid bin Walid diperintahkan oleh Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Diganti Untuk Kemaslahatan Tauhid

Ada kisah yang menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sempurna di bidangnya, ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.

Bayangkan saja, Khalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin. 

Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.

Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).

Perhatikan perkataan Umar bin Khattab,

ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ

“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]

Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,

ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ

“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]

Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,

ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ

“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]

Perhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,

ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً

“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]

Demikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,

ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ .
ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ

“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]

 

Cak Nun Tak Temukan Bibit Keributan Usai Pemilu

Berita9.com - Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun menerangkan, selama terjun ke masyarakat dirinya tidak menemukan adanya bibit potensi keributan usai pemungutan suara Pemilu 17 April 2019 lalu.

Pengamatan itu ia lakukan sesaat dan sesudah pemungutan suara. Setidaknya, ada 15 kota di Indonesia yang ia kunjungi saat dan sebelum pemilu bersama Kiai Kanjeng.

“Selama keliling bersama Kiai Kanjeng ke 15 kota selama dua minggu non-stop, saat tanggal 17 (waktu pemilu serentak) juga tak libur (mengisi acara). Saya tidak menemukan potensi ada kerusuhan,” kata Cak Nun di kediamannya di Yogyakarta, Kamis (25/4/2019).

Dari lawatan itu, lanjut Cak Nun, mau tak mau ia jadi ikut mengetahui kondisi di wilayah yang dikunjungi. Sebab, secara sengaja atau tidak sengaja, setiap panitia yang mengundang dirinya meminta temanya tentang persatuan, atau memastikan situasi aman pasca pemilu.

Cak Nun menerangkan, daerah yang dikunjungi tidak pernah ada indisikasi bentrok, kontroversi, maupun konflik fisik. Kalaupun ada polarisasi pilihan politik, Cak Nun memastikan tak sampai mengarah konflik fisik apalagi perpecahan horizontal.

Daerah yang dikunjungi Cak Nun seperti Temanggung, Cilacap, Kebumen dan berbagai wilayah Jawa Tengah, dan Jawa Timur. “Kami juga ke Kota Solo, yang katanya rawan, ternyata juga tidak rawan, warganya kompak saja sebagai bangsa Indonesia,”  papar Cak Nun.

Dari kegiatannya berkeliling ke belasan kota itu, Cak Nun menyimpulkan sebenarnya potensi konflik politik, bentrok pendukung, dan kegaduhan akibat pemilu itu tak sampai merembet ke akar ramput. “(Konflik) itu terjadi hanya di kalangan menengah ke atas. Di tingkat masyarakat, sejauh yang kami alami tidak ada masalah, tidak ada potensi ribut,” terang Cak Nun.

Cak Nun memperkirakan konflik yang hanya terjadi di seputar elit saat dan pasca pemilu juga tak akan menular ke bawah. "Ya mungkin mercon sedikit-sedikit tapi rakyat tak akan terpengaruh lah," jelas  Cak Nun.

Di tengah riuh saling klaim kemenangan antar kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Cak Nun mengaku memilih dan mengajak masyarakat tetap memposisikan diri sebagai rakyat biasa.

“Rakyat menurut saya juga tidak bingung-bingung amat dengan itu (klaim kemenangan) karena masing-masing pakai datanya sendiri. Mau sujud syukur mau syukuran ya monggo saja, rakyat juga enggak apa-apa,” ujarnya.

“Tapi apapun yang terjadi kita tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia,” ungkap Cak Nun.

Cak Nun sendiri menolak untuk melihat konflik elit politik di atas antara kubu calon presiden wakil presiden nomor urut 01 atau 02 akibat saling klaim kemenangan usai pemungutan suara. (*)

Form C1 Bukan Rahasia Negara, Semua Pihak Boleh Mengetahuinya

Berita9.com - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ahmad Riza Patria mengatakan, form C1 merupakan milik publik dan bukan rahasia. Oleh karena itu, semua pihak bisa mengaksesnya.

"Form C1 pertama milik publik, bukan rahasia. Jadi semua peserta Pemilu selain menyiapkan saksi, bisa mengambil C1 dari Situng sebagai perbandingan," kata Riza Patria di Jalan Kertanegara IV, Jakarta, Kamis malam.

Riza membenarkan BPN Prabowo-Sandi menyampaikan surat kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) agar pihaknya diberikan kesempatan mengakses C1.

Menurut dia, C1 bukan rahasia sehingga semua partai boleh mengaksesnya dan relawannya kalau merasa perlu, bisa memfoto di tingkat kecamatan atau kabupaten sebagai perbandingan.

"Setiap partai punya C1 namun kita juga perlu perbandingan dari KPU dan Panwaslu. Karena mohon maaf, C1 yang sekarang beredar ini banyak macamnya, dari sana kami akan melihat siapa yang nakal," ujarnya.

Karena itu dia membantah kabar yang menyebutkan BPN Prabowo-Sandi melobi Bawaslu untuk memperoleh C1. Karena memang mengakses C1 bukan rahasia negara.

Dia menjelaskan berdasarkan fakta membuktikan, Pemilu 2019 masih terjadi kecurangan dan masih ada manipulasi C1, seperti dilakukan oknum petugas KPPS, kesalahan menulis, memasukkan data atau dilakukan oknum caleg partai politik atau timnya.

"Untuk itu saya berharap C1 harus dimiliki semua peserta pemilu. Apakah diperoleh melalui saksi, KPU, maupun Bawaslu," ujarnya.

Sebelumnya, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan partainya mendapat informasi bahwa Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno sedang melobi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk mendapatkan dokumen C1. (*)

KPU Tercatat Telah Melakukan 708 Kesalahan Rekapitulasi

Jakarta - Koalisi Masyarakat Sipil mencatat, hingga kini KPU sudah melakukan 708 kesalahan dalam proses rekapitulasi suara Pilpres 2019.

Pemantauan itu dilakukan oleh Mata Rakyat Indonesia, KoDe Inisiatif, Kornas JPPR, KIPP Indonesia, dan SPD dengan data yang dikumpulkan dari 262.802 TPS (32,3%) per 25 April 2019 pukul 07.30 WIB dan media lainnya.

Menurut data yang dipublikasikan oleh Koalisi Masyarakat Sipil 708 temuan itu berasal dari 680 temuan dari pemantauan langsung Mata Rakyat Indonesia dan 28 hasil pemantauan media selama proses rekapitulasi berlangsung.

Dari jumlah tersebut, Ketua KoDe Inisiatif, Very Junaidi mengatakan, terdapat ratusan temuan C1 tertukar dan temuan C1 salah input.

"Yang tertukar itu ada 218, ada juga C1 tidak jelas atau buram, terlipat. Terus ada juga tidak ada C1-nya," kata Very Junaidi dalam diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2019).

Kesalahan besar lain menurut data Koalisi Masyarakat Sipil adalah C1 salah input dengan jumlah temuan 196, tidak ada C1 151, dan C1 tidak jelas/buram/terlipat dengan 106 temuan.

Selain itu terdapat sejumlah kesalahan dengan temuan lebih kecil seperti hasil C1 dan C1 Plano berbeda, problem kotak suara, salah tulis, salah hitung, pengubahan C1, dan lain-lan.

Sekretaris Jendral Mata Rakyat Indonesia, Bayu Adi Permana menerangkan, lebih lanjut soal temuan kesalahan yang jumlahnya paling banyak itu.

Dalam kasus C1 tertukar, Bayu mengatakan, C1 yang tertukar itu memiliki banyak kekurangan pada bagian-bagiannya seperti hanya berita acaranya, tanda tangan saksinya atau hanya halaman pertama dari sertifikat berita acara.

"Bahkan yang lebih parah lagi kita menemukan C1 yang masuk ke dalam sistem situngnya KPU untuk C1 pilpres ternyata juga dimasuki oleh C1 pileg," ungkapnya.

Kemudian, ia juga menjelaskan terkait C1 salah input. Kesalahan tersebut, lanjut dia, terletak pada proses inputnya. Bukan pada C1-nya yang salah.

Bayu mengatakan, kesalahan tersebut menyebabkan kerugian pada kedua paslon baik Jokowi-Ma"ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ia memberi contoh yang terjadi pada TPS 9 di Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kendal, Jawa Tengah.

"Ditulis 01, 133. (Paslon) 02, 54. Tapi yang diinput 01, 133 dan 02, 854 jadi penambahannya kurang lebih sekitar 700 suara," terangnya.

Sementara untuk C1 yang tidak ada menurut Bayu adalah kesalahan dengan terdapat input C1 namun tidak ditemukan secara fisik. Untuk temuan ini contohnya terdapat 117 temuan di Bantul. (*)

Data C1 UKRI: Prabowo Unggul 60,2% Jokowi 35,9%

Berita9.com - Lembaga Pengetahuan dan Ilmu Teknologi (Lapitek) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia merilis hasil pilpres melalui penelitian penghitungan C1 plano di 8 ribu TPS yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Berdasarkan hasil penghitungan itu, pasangan capres 02 Prabowo-Sandi meraup 62,20 persen suara, sedangkan pasangan capres 01 Jokowi-Ma'ruf hanya memperoleh 35,90 persen suara. Adapun jumlah suara tidak sah mencapai 1,90 persen. 

Direktur Lapitek UKRI Rohmanizar Setiadi mengatakan institusinya berhasil mengumpulkan C1 plano di 8 ribu TPS yang ada di seluruh Indonesia. Jika dipersentasekan dari total TPS yang ada di seluruh Indonesia, maka baru sekitar 1 persen. Jumlah TPS yang tersebar di seluruh Indonesia ada sebanyak 813.350.

"C1 plano paling banyak diperoleh di wilayah Indonesia bagian barat," kata Rohmanizar kepada wartawan saat memaparkan hasil temuannya di Aula Prof. Soemitro Djojohadikusumo, UKRI, Kamis (25/4).

Rohmanizar mengatakan Prabowo-Sandi unggul di 23 provinsi. Di antaranya Jawa Barat, Banten, Sumatera Barat, dan Aceh. Sementara itu, pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul di 11 provinsi. Di antaranya Bali, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara.

Rohmanizar menyebut penelitiannya itu menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of errornya mencapai 2,46 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Rohmanizar mengatakan penelitiannya ini masih dilakukan di Indonesia bagian barat.

Untuk wilayah Indonesia bagian timur, Rohmanizar mengaku kesulitan memperoleh data C1 plano. "Kami menghadapi kesulitan teknis," sambung Rohmanizar.

Meski demikian, Rohmanizar menyatakan, penelitian yang melibatkan sebanyak 10 ribu relawan itu sudah bisa dianggap merepresentasikan hasil secara nasional.

"Kami lebih banyak mengambil C1 Plano dari wilayah barat, karena jumlah pemilih di pemilu ini kan paling banyak ada di wilayah barat. Jadi hasil ini bisa merepresentasikan hasil nasional," ujar Rohmanizar.

(**/IST)

PAN DIY Sebut 3 Anak Amien Rais Akan Jadi Anggota DPR

Berita9.com - Partai Amanat Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta mengklaim tiga anak Amien Rais yang menjadi calon anggota legislatif atau caleg melalui partai itu meraih suara cukup banyak dalam pemilu 2019. Karenanya, mereka dipastikan terpilih sebagai anggota DPR.

Menurut Ketua PAN DI Yogyakarta, Nazaruddin, putra pertama Amien Rais, yakni Hanafi Rais, meraih 120 ribu-150 ribu suara berdasarkan data yang dihimpun yang mencapai 75 persen. Dia memastikan Hanafi melenggang lagi ke kantor DPR RI di Senayan, Jakarta, untuk kali kedua.

Adik Hanafi Rais, Hanum Salsabiela Rais, juga diklaim terplih sebagai anggota DPRD DI Yogyakarta. Menurut data PAN, Hanum meraih lebih 20 ribu suara di daerah pemilihan Sleman Utara. "Hanum Rais pasti lolos. Suaranya sudah tembus 20 ribu,” ujar Nazaruddin saat dihubungi, Kamis, 25 April 2019.
 
Putra Amien Rais lainnya, Ahmad Baihaqy Rais, juga dikabarkan lolos ke DPRD DI Yogyakarta. Baihaqy yang maju lewat daerah pemilihan Kulon Progo ini disebut Nazaruddin menjadi caleg dengan peroleh suara tertinggi di Kulon Progo.

"Sekali lagi, saya katakan sementara data masuk yang saya tahu, suara Baihaqy di dapil Kulon Progo mengungguli calon lain. Itu dari perhitungan sementara," kata Nazaruddin. (*)

 

Kowad Berhasil Pecahkan 67 Balok Beton Depan Prabowo

Berita9.com - HUT ke-67 Kopassus tahun ini dihadiri salah satu mantan petingginya yang kini menjadi calon presiden Prabowo Subianto.

Seperti biasa setiap kali ada HUT satuan-satuan di lingkungan militer, selalu ada pertunjukkan keterampilan prajurit.

Tahun ini agak berbeda. Karena yang memperlihatkan kemampuan bela diri dan kemampuan tempur dilakukan olah Korps Wanita Angkatan darat (Kowad).

Tidak tanggung-tanggung anggota Kowad ini memecahkan 67 balok beton, di depan Prabowo Subianto yang duduk pada barisan paling depan bersama pejabat tinggi di TNI dan Polri.

Prabowo Subianto mengungkapkan rasa bangganya dengan kualitas para prajurit Kopassus saat ini. Menurut mantan Komandan Jenderal Kopassus itu, kualitas prajurit masih sangat tinggi.

Ia mengaku terpukau dengan keterampilan tempur hingga bela diri yang ditunjukkan saat acara peringatan HUT Kopassus.

Prabowo Subianto mengingat masa-masa dia menjadi prajurit Kopassus saat menghadiri perayaan HUT ke-67 Kopassus di Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Ia teringat saat masih muda dan menjadi prajurit. Yang paling lekat dalam ingatan Prabowo Subianto adalah badannya yang agak kurus. 

"Iya, ingat masa muda. Ingat masa masih agak kurus," ucapnya terharu.

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sempat bersenda gurau saat diwawancarai wartawan seusai menghadiri peringatan HUT ke 67 Kopassus di markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Dalam kesempatan itu Prabowo berpesan agar prajurit Kopassus tetap mempertahankan kemampuan. Selain itu, ia juga meminta Kopassus selalu setia kepada negara dan bangsa.

"Pertahankan kemampuan. Selalu setia kepada negara dan bangsa," pesan Prabowo.

(**/IST)

Aksi Lawan Pemilu Curang di Depan Kantor BAWASLU

Berita9.com - Massa mulai melakukan aksi lawan pemilu curang di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jakarta, Rabu, (24/4/2019).

Massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Mengemban Amanat Rakyat (Gempar), Gerakan Penyelamat Daulat Rakyat, dan Komando Barisan Rakyat Lawan Pemilu Curang (Korbankan Perang) membawa poster hingga keranda dalam aksinya.
 
Tampak poster yang dibawa oleh sejumlah emak-emak bertuliskan seperti, 'Aksi Lawan Pemilu Curang', 'Bawaslu Jangan Bisu', hingga 'Tolak Pemilu Curang'.
 
Koordinator aksi tuntutan, Jumhur Hidayat mengaku, aksi ini murni dari masyarakat. Mereka tidak mewakili Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi maupun Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin.
 
“Saya enggak ada urusan BPN, ini gabungan rakyat, kita undang men of honours, atau person of honours pendukung (paslon) 01-02 yang merasa terhormat dan berjuang untuk demokrasi, bersama-sama, kita melawan,” ucap Jumhur.
 
(**/IST)

PAN Setuju Adanya Tim Pencari Fakta Kecurangan Pemilu

Berita9.com - Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional, Eddy Soeparno menanggapi wacana pembentukan Tim Pencari Fakta atau TPF Kecurangan Pemilu.

Ia menilai, tim tersebut perlu, karena maraknya kecurangan dalam Pemilu tahun ini. "Kita rasakan perlu, melihat maraknya kasus kecurangan," kata Eddy, Rabu 24 April 2019.

Eddy mencontohkan, di antaranya ada kesalahan entry dan kejanggalan lainnya. Menurutnya, demokrasi menjadi taruhan bila tak dikelola dengan baik.
 
"Demokrasi Indonesia menjadi pertaruhan, jika Pemilu ini tidak dapat dikelola dengan baik oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) selaku penyelenggara," kata Eddy.

Sebelumnya, calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan elite Badan Pemenangan Nasional (BPN) dan sejumlah tokoh di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, Selasa malam, 23 April 2019.

Pertemuan tersebut dihadiri Dewan Pengarah BPN, Amien Rais, hingga tokoh Front Pembela Islam (FPI), Munarman.

Wakil Ketua BPN, Priyo Budi Santoso mengatakan, pertemuan tersebut membahas beberapa hal strategis terkait dinamika politik Pilpres.

"Masih bicara hal-hal strategis dan situasi politik terakhir Pilpres," kata Priyo rabu dini hari, 24 April 2019.

Priyo menjelaskan, dugaan banyak kecurangan yang terjadi di Pilpres kali ini menjadi perhatian. Apalagi, muncul wacana pembentukan Tim Pencari Fakta, untuk mengusut dugaan kecurangan ini.

Kemudian, BPN melihat rentetan dugaan kecurangan ini seperti dilakukan secara sistematis. "Bagaimana, termasuk data-data kecurangan yang dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif," tutur Priyo. (*)

Anies Ingin KLJ Layani Lansia Layaknya Customer Platinum

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan membuat imbauan untuk menghargai para lansia (lanjut usia). Terlebih bagi Bank DKI untuk melayani para lansia tersebut selayaknya customer platinum

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud RI) ini sampaikan imbauan tersebut dalam program Pemberian Bantuan Sosial Pemenuhan Kebutuhan Dasar Bagi Lansia Melalui Kartu Lansia Jakarta (KLJ) Tahun 2019. 

"Mereka adalah orang tua kita yang dulu mendidik, membesarkan kita. Dan Ibu Kota harus jadi tempat yang menghargai. Karena itu Bank DKI sebagai garis depan dari program ini harus menempatkan orang tua penerima kartu lansia sebagai customer platinum," ucap Gubernur Anies saat di Koja, Jakarta Utara, Rabu (24/4/2019).

Lebih lanjut, Gubernur Anies menuturkan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah membagikan 40.419 lansia dengan alokasi anggaran sebesar Rp 291 Miliar pada tahun 2019. 

 "Nilainya Rp 600 ribu per bulan dan ini akan diberikan secara tiga bulanan. Kemudian mereka mengambil di kantor-kantor bank DKI atau di ATM Bank DKI," jelas Gubernur Anies. 

Selain itu, Gubernur Anies mengatakan program KLJ yang berjalan diberikan kepada lansia yang ber KTP DKI Jakarta. Serta program ini dikelola penuh oleh Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta bekerjasama dengan PKK Dasawisma. (*)

Page 1 of 700
Go to top