bin Hatta

bin Hatta (7)

Berita9.com - Gubernur legendaris Jakarta Ali Sadikin mengaku terhenyak kaget mendengar kabar mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta (Bung Hatta) tak mampu membayar iuran air PAM.

Bukan apa-apa. Hal ini karena saking kecilnya uang pensiunnya. Bung Hatta juga kesulitan dalam membayar listrik dan uang pajak dan bangunan.

Ali Sadikin jujur terharu melihat kondisi Bung Hatta tersebut. Seorang pemimpin yang jujur hingga hidup susah di hari tua.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Hal itu dikisahkan Bang Ali dalam biografinya Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977 yang ditulis Ramadhan KH.

Bang Ali tak cuma terharu, dia langsung bergerak. Sang Letnan Jenderal Marinir itu melobi DPRD DKI untuk menjadikan Bung Hatta sebagai warga kota utama. Dengan begitu Bung Hatta terbebas dari iuran air dan PBB.

DPRD setuju. Pemerintah Pusat juga memberikan sejumlah bantuan, di antaranya bebas bayar listrik.

Ironi, seorang proklamator, mantan wakil presiden, mantan perdana menteri dan seorang Bapak Bangsa Indonesia tak punya uang untuk membayar listrik dan air. Tapi itulah kejujuran seorang Mohammad Hatta. Padahal jika mau main proyek, Hatta tentu bisa kaya tujuh turunan macam pejabat bermental bandit.

Banyak kisah kesederhanaan Hatta yang bisa membuat air mata meleleh. Saat Hatta tak bisa membelikan mesin jahit untuk istrinya karena kekurangan uang. Atau sepatu Bally yang tak terbeli hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan rapi di perpustakaannya. Namun sepatunya tak terbeli oleh sang proklamator.

Hatta tak meninggalkan banyak uang. Dia mewariskan keteladanan untuk Bangsa ini. Keteladanan yang kini makin jauh dengan perilaku para pejabat negara.

(**/Nus)

Berita9.com - Tak banyak diketahui orang, hari ini 12 Agustus atau lima hari sebelum peringatan hari ulang tahun kemerdekaan, merupakan hari ulang tahun salah satu bapak bangsa sekaligus proklamator, serta wakil presiden pertama Indonesa, Moh Hatta (Bung Hatta). Kalau beliau masih hidup kali ini adalah hari ulang tahunnya yang ke -115 (Bung Hatta lahir 12 Agustus 1902, wafat 14 Maret 1980).

Bila melintas kompleks makam beliau yang ada di bilangan Tanah Kusir, Jakarta, memang tetap seperti hari-hari biasa yang selalu tenang dan khidmad. Ingar-bingar jalan Tanah Kusir yang sepanjang waktu selalu ramai dan di siang hari hingga malam selalu macet, tak berpengaruh pada situasi area makam yang berada di tengah kompleks kuburan rakyat biasa itu.

"Bung Hatta berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Bila meninggal, beliau ingin dimakamkam di kuburan biasa. Alasannya agar selalu dekat dengan rakyat," begitu kalimat penyiar TVRI ketika menyiarkan secara langsung upacara pemakaman sang Proklamator. Kala itu, media massa baik radio maupun cetak pun ikut memberitakan wasiat Bung Hatta ini.

Dan kenangan ini melekat kuat, karena pada saat itu banyak orang tua dan dewasa yang menangis ketika menonton siaran televisi tersebut. Di layar televisi hitam putih yang pasokan daya listriknya masih memakai aki bekas truk, terlihat tayangan kerumunan masa yang berjajar di tepi jalanan, mengular dari pusat ibu kota hingga ke arah jalan pemakaman umum Tanah Kusir yang saat itu tempatnya bisa dikatakan berada di pinggiran Jakarta. Selama sepekan, pemerintah Indonesia menyatakan masa berduka dan bendera dikibarkan setengah tiang.

Nah, keharuan yang sama pun segera menyergap saat kemarin sore mendatangi permakaman itu. Dibandingkan dengan suasana pemakaman pasangan proklamatornya Bung Karno di Blitar, tak ada keriuhan yang terdengar di area makam cucu ulama besar Nagari Minangkabau, yakni Syekh Abdurrahman atau Syekh Batu Hampar, itu . Tak ada kerumunan peziarah, atau pasar suvenir yang ramai menjual aneka pernak-pernik barang kerajinan tangan yang mengesankan mengultuskannya.

Selain itu, tak ada penjagaan yang ketat. Situasi ini jangan dibandingkan dengan kompleks mausoleum Ho Chi Minh di Hanoi, Vietnam, atau makam filsuf sekaligus Bapak Bangsa Pakistan M Iqbal di Lahore. Di dua makam orang penting tersebut, penjagaan luar biasa ketat.

Di makam Iqbal yang lokasinya berada di dalam benteng kuno dan di samping Masjid Badhsahi peninggalan Kesultanan Mughal India, area makamnya dijaga selama 24 jam oleh tentara bersenjata dan berseragam lengkap. Yang akan masuk ke makam harus berbaris dan satu per satu berdoa di pinggir makam. Di atas pusara Iqbal selalu diletakkan seikat kembang. Dan di batu nisan tertulis: Makam pemikir besar maulana M Iqbal.

Namun, hal itu tak ditemui pada makam Bung Hatta yang bersisian dengan makam sang istri tercinta, Ibu Rachmi Hatta. Penjagaan terasa longgar dan pada siang hari kompleks makam selalu terbuka untuk dikunjungi.

Sedangkan, di atas nisan hanya tertulis kalimat pendek namanya, lengkap dengan gelar haji dan kesarjanaannya. Dan di bawah tulisan itu tertulis kata "proklamator dan wakil presiden Indonesia". Di jendela kaca yang ada di bagian belakang makam hanya tergores tulisan kaligrafi bergaya kufi.

Uniknya, meski tak ada kesan kemewahan dan mengagungkan diri, setiap kali berziarah selalu ada seikat kembang yang ditaruh di atas nisan. Taburan bunga berwarna merah dan putih juga ikut terlihat di sana. Dan bila melihat kondisi kelopak bunganya yang masih segar, maka dipastikan bunga itu belum terlalu lama ditaburkan.

Tampaknya, pemilihan lokasi makam di "tempat biasa" atau bukan taman makam pahlawan memang tepat. Bung Hatta paham kalau makamnya berada di tempat khusus maka rakyat biasa akan susah menziarahinya.

Kesederhanaan itulah yang membuat batin rakyat biasa terasa mantap dan khidmat ketika memanjatkan doa, membacakan surah al-Fatihah, atau sekadar menabur bunga di atas pusaranya.

(**/Rep)

Berita9.com - Selama masa perjuangan prakemerdekaan hingga pasca kemerdekaan, sejumlah tokoh nasional kerap ditangkap dan dibuang Belanda ke sejumlah tempat terpencil. Satu di antaranya adalah Mohammad Hatta.

Meutia Hatta, putri pertama Bung Hatta menyebut, ayahnya sering sekali diperlakukan tidak adil karena tidak banyak yang mempelajari Bung Hatta.

"Malah disalahkonotasikan, padahal ia menderita. Waktu dibuang ke Boven Digul, Papua. Kenapa sih hanya Bung Hatta dan Sjahrir yang dibuang ke Digul? Orang-orang lain dibuang di tempat yang agak lumayan. Tapi, Hatta bilang, 'Di mana saya ditempatkan, selama itu di Tanah Air tidak apa-apa. Selama ada buku, saya merdeka'," kata Meutia saat berbincang dengan wartawan media online.

Saat masa pembuangan, kata dia, Bung Hatta mengajarkan sesama tahanan politik untuk tetap mencintai negeri. Di Banda Neira misalnya, Meutia menyebut, bahkan hingga ada sekolah yang mengajarkan anak-anak sejarah, ilmu bumi, geografi, dan juga mengenai kemasyarakatan, Bahasa Inggris atau bahasa Eropa.

"Itu yang membuat orang maju, bahkan sampai boleh melakukan tulis-menulis surat selain politik, tapi tetap dilakukan sensor juga. Itu membuat temannya ayah saya di Sumatra Barat mengirim dua anaknya ke Banda Neira untuk diajar Bung Hatta. Karena mereka tahu, anak-anak itu bisa menjadi orang yang berhasil kalau belajar dengan Hatta," kata Meutia.

Saya, kata Meutia melanjutkan, sering sekali melihat menjelang 17 Agustus atau akhir tahun, selalu yang dimasalahkan Bung Hatta. Dulu, pada saat pusat pemerintahan berada di Yogyakarta ditawan Belanda, presiden dan wakil presiden ditawan Belanda.

Rupanya, sebelum penawanan terjadi, Hatta telah menduga hal itu akan terjadi, sehingga ia mengirim telegram ke Sjafrudin Prawiranegara untuk membuat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dengan begitu, ketika Bung Karno dan Bung Hatta dibawa Belanda, mereka bukan presiden-wapres RI.

"Jadi, karena Bung Hatta dengan strateginya menyuruh Sjafrudin pergi ke Sumbar beberapa hari sebelum terjadi penawanan untuk mempersiapkan PDRI. Kemudian, setelah itu ia (Sjafrudin) diangkat sebagai presiden darurat PDRI. Artinya, pemerintah pindah ke situ," ucap mantan menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia

Meutia merawikan, waktu Bung Karno dan Bung Hatta dibawa, ditawan dan katanya semua dibuang ke Bangka, sebetulnya tidak terjadi. Tujuh orang dibawa, termasuk Bung Karno dan Hatta, tapi mereka bukan lagi presiden dan wapres, melainkan tokoh nasional, sehingga tidak bisa bicara atas nama Republik.

"Dalam perjalannya di dalam pesawat, para tahanan mengira akan dibawa ke timur Indonesia, namun melihat kondisi tidak banyak pulau yang terlihat, mereka menyadari dibawa ke wilayah barat Indonesia. Sebanyak empat orang disuruh turun di Bangka, yaitu ayah saya, Ali Sastroamidjojo, Comodor Soerjadarma Abdul Gani, dan Mr Roem. Mereka disekap 17 hari di dalam kerangkeng," ucap dia.

"Sementara, yang lainnya, yaitu Bung Karno, Agus Salim, dan Pak Sjahrir dibawa ke Prapat. Mereka di situ dan ayah saya yang di Bangka, Mentok, atau dulu itu Muntok. Ayah saya tinggal di bukit peristirahatan Belanda, tapi itu merupakan tempat ilmuwan tinggal ketika meneliti tentang botani. Mereka tinggal di situ. Di tempat yang cukup besar, tapi mereka tidak boleh keluar dari kerangkeng berukuran empat kali enam meter. Dasar Bung Hatta orangnya nggakgampang putus asa, dipotret senyum aja," kata Meutia menceritakan sambil menunjukkan foto Bung Hatta yang tengah tersenyum di kamar pengasingan.

"Walaupun ditawan, masih tetap menjaga maratabat karena Hatta mempunyai ketokohan yang harus dijaga. Nah, ini yang harus dipelajari anak-anak muda, martabat bangsa dan martabat diri sendiri."

(**/Rep)

Berita9.com - Mohammad Hatta tidak akan pernah hilang dari sejarah Indonesia. Sebagai seorang Proklamator, buah pemikiran ekonominya terus didengungkan hingga hari ini untuk pemerataan ekonomi. Ia tetap dibutuhkan sampai bangsa mandiri secara ekonomi. Apalagi jumlah penduduk miskin dan pengangguran semakin meningkat.

Buku "Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun" menjabarkan langkah-langkah yang telah digariskan Bung Hatta mengenai pemerataan ekonomi. Buku juga membicarakan taktik serta strategi kemandirian ekonomi “khas Indonesia.”

Bagi Hatta, jawaban ketimpangan ekonomi adalah gotong-royong. Setiap orang bisa bekerja secara wajar serta mampu memenuhi kebutuhannya. Berbeda dengan sistem kapitalisme, ekonomi gotong-royong adalah sistem yang tidak menumpuk kekayaan kepada perseorangan. Tetapi, yang lebih penting, pembagian kekayaan secara merata.

Koperasi merupakan bentuk konkret sistem ekonomi gotong-royong tersebut. Yang dituntut dalam koperasi pemerataan kerja dan pembagian hasil, sehinga tak ada lagi ketimpangan (hal 191). Namun, Bung Hatta menyadari, koperasi merupakan langkah jangka panjang ekonomi. Hasilnya tidak bisa serta-merta dirasakan.

Bangsa membutuhkan politik ekonomi yang realistis dalam jangka pendek, sekalipun berbeda dengan prinsip koperasi. Menurut Hatta, tidak soal jika masyarakat miskin bekerja pada pemodal-pemodal perseorangan baik dalam negeri maupun asing. Namun itu sebatas menghindarkan masyarakat dari kekurangan kebutuhan pokok sekarang (hal 79).

Di sisi lain, koperasi harus terus diusahakan. Sebab, jika masyarakat terbuai dengan hasil-hasil pemodal perseorangan, ditakutkan ketimpangan ekonomi semakin bertambah. Maka, koperasi yang berasaskan kekeluargaan haruslah digalakkan, jangan kalah dengan pemodal perseorangan.

Hambatan utama koperasi yang harus dibenahi adalah inferioritas masyarakat akibat penjajahan. Misalnya masalah utang asing. Karena inferioritas tersebut, sebagian kalangan tidak menghendaki peminjaman dari pihak asing karena takut kembali terjajah. Padahal negara tidak memiliki dana. Sehingga, peminjaman asing sangat diperlukan. Yang harus bangsa lakukan bekerja lebih giat dan secepatnya membayar utang tersebut (hal 154).

Hatta ingin menekankan, sistem ekonomi dan koperasi harus pintar menimbang, bukan hanya idealitas, tetapi juga realistis. Hal itu akan memungkinkan untuk menciptakan langkah taktis dan strategis. Ekonomi imbang dan berdaulat, tidak bertumpu pada orang lain atau negara asing. Koperasi yang hendak dibangun haruslah memiliki prioritas. Di antaranya, memperbanyak produksi, terutama usaha-usaha kecil, menengah, dan rumah tangga. Kemudian memperbaiki kualitas barang, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk negara lain.

Distribusi juga harus dibenahi agar setiap hasil produksi bisa sampai kepada konsumen secara tepat. Masyarakat harus diajari menabung untuk membentuk modal. Koperasi seharusnya memelihara lumbung padi guna menyimpan bahan-bahan kebutuhan pokok untuk menghindari kekurangan makanan (hal 187).

Selain pejuang kemerdekaan, Bung Hatta juga mewariskan konsep ekonomi. Namun, hingga berpuluh tahun setelah Bung Hatta meninggal, ekonomi tetap tidak membaik. Bahkan pengangguran dan kemiskinan semakin tinggi. Seandainya konsep Hatta tersebut bisa dilaksanakan, mungkin bisa dikurangi kemiskinan suatu hari nanti.

(**/KOP)

Berita9.com - Pada 1970, Bung Hatta berkesempatan kembali menjejakkan kaki ke Bumi Cenderawasih. Tepatnya Tanah Merah, Irian Jaya, tempat dia pernah dibuang oleh Belanda. Rupanya, meski sudah menjadi mantan pejabat pemerintah, yang mensponsori perjalanan itu masih memperlakukan Hatta bak pejabat tinggi negara. Setiba Hatta di Irian, sekarang Papua, seseorang menyodorinya amplop tebal berisi uang saku.

Hatta sontak menolaknya. Bagi dia, sudah mendapatkan fasilitas untuk bisa kembali berkunjung ke daerah itu saja sudah lebih dari memadai dan patut disyukuri. "Maaf, Saudara, itu uang rakyat, saya tidak mau terima. Kembalikan!" kata Bung Hatta tegas.

Iding Wangsa Widjaja, yang selama puluhan tahun menjadi sekretaris pribadi Hatta, mengungkapkan peristiwa itu dalam bukunya, 'Mengenang Bung Hatta'. Pada bagian lain buku terbitan Toko Gunung Agung pada 2002 itu, Wangsa juga menulis bahwa dirinya pernah kena teguran Hatta karena menggunakan tiga helai kertas dari kantor Sekretariat Wakil Presiden. Ia dipersalahkan karena menggunakan aset negara untuk membalas surat yang bersifat pribadi. Hatta kemudian mengganti kertas tersebut dengan uang pribadinya.

Masih terkait soal kertas, Gemala Rabi'ah Hatta, putri keduanya, pun mengaku pernah kena tegur sang ayah. Alkisah, Gemala, yang menjadi pekerja paruh waktu di Konsulat RI di Sydney pada 1975, pernah mengirim surat menggunakan amplop berkop Konsulat Jenderal.

Teguran itu tertuang dalam surat balasan yang diterima Gemala dari sang ayah beberapa waktu kemudian. "Ada yang satu Ayah mau peringatkan kepada Gemala, kalau menulis surat kepada Ayah dan lain-lainnya, janganlah dipakai kertas Konsulat Jenderal RI. Surat-surat Gemala kan surat privat, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas Konsulat."

Dari situ Gemala mafhum betapa rigidnya Hatta dalam memisahkan mana milik negara dan milik pribadi. "Walaupun sepertinya sepele, hanya selembar amplop," kata Gemala.

Kesederhanaan, kejujuran, dan integritas semacam itulah yang membuat sejumlah aktivis menjadikan Bung Hatta sebagai sosok panutan dalam pemberantasan korupsi. Di tengah praktik korupsi yang bersifat masif seperti sekarang ini, menurut aktivis antikorupsi Luky Djani, pejabat seperti Bung Hatta bukannya tidak ada sama sekali. Cuma jumlahnya sangat sedikit dan menjadi anomali di antara kebanyakan penyelenggara negara.

"Orang-orang yang menyerupai Bung Hatta ini dianggap sesuatu yang aneh," ujarnya.

Sadar akan hal itu, para aktivis antikorupsi lalu memprakarsai pemberian Bung Hatta Award. Tujuannya tak lain adalah memunculkan tokoh-tokoh publik yang bisa menjadi teladan bagi pemimpin-pemimpin lain dan masyarakat umum. Sekaligus untuk membuktikan bahwa pejabat publik berbuat baik, tidak kotor, dan antikorupsi itu bisa. Jadi ini memang sekaligus untuk memperbanyak pejabat publik yang baik," kata Direktur Eksekutif Bung Hatta Anti-Corruption Award M Berkah Gamulya.

Tentu sulit mencari yang 100 persen mirip Bung Hatta. Tapi, kata Berkah, yang memegang teguh nilai-nilai transparansi, antikorupsi, dan kesederhanaan seperti Bung Hatta masih ada. Semua pihak harus optimistis tokoh-tokoh semacam itu masih ada di negeri ini.

"Kami mencari dan menginvestigasi beberapa tokoh yang memang tidak terkenal. Mereka memang mengabdi dan membuat terobosan-terobosan untuk wilayahnya agar bebas dari korupsi. Beberapa yang mendapat award kemudian berhasil membuktikan kinerjanya, dan karier politiknya naik ke pentas nasional," ujarnya.

(**/DTK)

Berita9.com - H. Mohammad Hatta adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia pertama. Bapak Koperasi ini lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 dan meninggal dunia pada 14 Maret 1980 di Jakarta.

Kiprahnya di bidang politik dimulai saat ia terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond wilayah Padang tahun 1916. Sampai pada tahun 1921 Bung Hatta menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging yang kemudian menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI).

Pada 18 November 1945, Bung Hatta menikahi seorang perempuan bernama Rahmi di sebuah villa di Megamendung, Bogor. Dari pernikahan tersebut pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.

Nah, bagaimana sih kisah cinta Bung Hatta hingga bisa menikah dengan Rachmi. Berikut brilio.net rangkum dari berbagai sumber tentang kisah cinta Bung Hatta.

Sepanjang hidupnya, Hatta memang hanya memiliki satu orang istri, Rahmi yang akrab disapa Yuke. Usia Hatta dan Yuke yang terpaut 24 tahun, kata Abah Alwi, tidak membuat hubungan keduanya kaku. Saat dinikahi Hatta, Yuke baru berusia 19 tahun.

1. Berjanji tak menikah sebelum Indonesia Merdeka.

Suasana keprihatinan terhadap bangsa ini, membuat Hatta tak tega meninggalkan perjuangan sejenak pun hanya untuk menikah. Sehingga ia berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia. Dan sumpah itu akhirnya diwujudkan, yakni menikah setelah Indonesia merdeka dan dia menjadi Wakil Presiden.


2. Bung Karno melamar Yuke untuk Bung Hatta.

Rachmi, istri Bung Hatta dikenal dengan nama Yuke. Sukarno, yang waktu itu menjabat Presiden sekaligus teman Bung Hatta mendatangi rumah orangtua Yuke. Ditemani R. Soeharto, Bung Karno datang untuk melamar Yuke untuk Bung Hatta. Abdul Rachim, ayah dari Yuke pun menyetujui lamaran itu setelah berbicara langsung dengan Yuke.

3. Usia mereka terpaut 24 tahun.

Bung Hatta menikah saat berusia 43 tahun pada 18 November 1945. Sementara Rachmi berusia 19 tahun. Sehingga usia mereka selisih 24 tahun. Namun demikian kisah cinta mereka tidak pernah menemui kendala hingga keduanya dipisahkan oleh maut.

4. Mas kawin berupa buku berjudul Alam Pikir Yunani.

Pernikahan Bung Hatta dan Rachmi adalah pernikahan yang sangat sederhana. Keduanya hanya difoto saat berdiri berdua seusai akad nikah. Pada momen spesial itu, Hatta memberikan Rachmi mas kawin yang luar biasa, yaitu buku hasil karyanya sendiri. Buku tersebut berjudul Alam Pikiran Yunani.

Buku tersebut ditulis dalam masa-masa terberat Hatta, dan Hatta ingin menghadiahkannya pada wanita yang kelak akan menjadi sahabat hidupnya hingga akhir hayatnya.


5. Dijodohkan dengan perempuan lain.

Hatta pernah dijodohkan dengan Nelly, putri dari Mak Eteb Ayub, pengusaha Minang yang sudah seperti ayah angkat bagi Hatta. Kedekatan Hatta dengan Mak Eteb Ayub memang istimewa. Ayub mendukung kehidupan Hatta saat bersekolah di Batavia hingga Rotterdam, Belanda. Namun perjodohan itu gagal karena Bung Hatta bersikukuh untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Integer nec odio. Praesent libero. Sed cursus ante

Go to top