Jakarta - Ustaz Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym mengingatkan agar para politisi sampai calon presiden, berjuang dan berlomba dengan cara yang sehat.

"Pilpres penting, politik penting, tapi bukan segala-galanya. Jangan sampai karena urusan pilpres dan politik, kita jadi kehilangan kejernihan berpikir, akal sehat kita. Kita jadi kehilangan ahlak," kata Aa Gym di ILC, Semalam.

"Mau apa kita punya presiden tapi kehilangan ahlak. Jangan sampai juga karena pilpres kita kehilangan ukhuwah kebersamaan kita," sambungnya menekankan.

Aa Gym mengajak agar pilpres ini dijadikan ajang berlomba untuk berniat baik dan memberikan yang terbaik.

"Pemenang pilpres ini adalah yang paling lurus niatnya, dan yang paling baik perjuangannya. Mau jadi presiden atau tidak itumah takdir Allah. Mau diakali gimana pun tetap yang memutuskan Allah SWT," tandasnya. (*)

Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan sudah membuat video klip lagu yang berjudul Sontoloyo. Ia menceritakan pembuatan video tersebut hanya berlangsung dua jam.

"Ya sudah, kita buat video klip. Itu video klip baru dibuat minggu lalu karena masing-masing kan sibuk ke luar kota ada kegiatan-kegiatan," kata Fadli di gedung DPR, Jakarta, Senin 3 Desember 2018.

Ia menceritakan sambil mengobrol, mereka lalu membuat video. Selama dua jam video tersebut dirampungkan.
 
"Enggak ada persiapan khusus, enggak pake make-up, hanya nge-print baju saja. Ini kan bagian dari Pemilu yang bergembira," kata Fadli.
 
Ia menjelaskan ide membuat lagu berasal dari Sang Alang. Lalu kemudian Ahmad Dhani memberikan masukan-masukan soal instrumen lain dan menyanggupi menyutradarai video klip "Sontoloyo".
 
"Lagu itu dari sajak saya kan 'Sontoloyo'. Itu spontan. Jadi saya kira kata itu kan jadi menarik karena itu kata mutiara pilihan Presiden Jokowi. Jadi waktu itu saya buatlah puisi. Kemudian Sang Alang membuat lagunya dan kita duduk bersama-sama sambil ngopi," kata Fadli. (*)

Jakarta - Ketua Panitia Reuni 212 Ustaz Bernard Abdul Jabbar memperkirakan jumlah massa aksi reuni kali ini dihadiri sekitar 8 juta orang.

”Hari ini jumlah umat yang datang lebih besar dari dua tahun lalu. Ada sekitar 8 juta orang," ujar Ustaz Bernard saat memberikan kata sambutan di panggung utama, Lapangan Silang Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018).

Ustaz Bernard mengaku tak asal klaim. Menurutnya, kepadatan peserta kali ini luar biasa. Sudah sampai Gunung Sahari, Jakarta Pusat dan wilayah lain sekitar Monas.

Pantauan di lapangan, suasana kali ini memang berbeda dengan 212 pada 2016 silam. Jalan Kramat Raya dan Kwitang pada dua tahun lalu masih bisa dijadikan parkir mobil. Tapi hari ini, kendaraan sudah tidak bisa masuk karena massa sudah lebih dulu memadati lokasi tersebut.

Reuni 212 dimulai dengan salat tahajud bersama yang dimulai pukul 03.0p WIB dini hari, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah, dan terus melantunkan zikir hingga ke acara-acara berikutnya. 

Kegiatan Reuni 212 diisi tausiyah dari sejumlah ulama, termasuk Gubernur DKI Anies Baswedan.

Reuni dari aksi yang bermula untuk membela Al-Maidah ayat 51 itu juga menggelar selebrasi bendera tauhid warna-warni dan bendera merah putih, serta ajang penghargaan bertajuk ‘Tauhid Milenia Award 212’ untuk generasi muda yang berprestasi. (*)

Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak turut hadir dalam reuni 212 di Monas, Jakarta. Tak sekadar hadir, Dahnil datang menjadi bagian relawan yang memunguti sampah.
Koordinator Jubir Prabowo-Sandi itu sudah berada di Monas sejak semalam berbaur dengan peserta yang datang untuk Salat Tahajud lalu Salat Subuh, Minggu (2/12). Mengenakan kemeja putih dan topi 'Palestine Will Be Free', Dahnil berkeliling di area aksi reuni 212.
 
Peserta yang mengenali Dahnil, tak sedikit yang minta berfoto.
 
Nah, saat berada di sekitar Sarinah, Dahnil berinisiatif ikut mengambil sampah menggunakan kantong plastikan besar, hingga arah Patung Kuda. Sepanjang jalan itu pula dia menyapa warga.
"Saya ikut menjadi petugas kebersihan, pada kegiatan reuni 212. Senang bisa bergembira dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air dari penjuru negeri. Bergembira dalam persatuan," ucap Dahnil dalam Instagramnya.
 
Dahnil tak ikut naik ke atas panggung reuni 212 yang diisi banyak tokoh. Meski, dia sebetulnya dihubungi panitia untuk naik panggung.
 
Selesai aksi, Dahnil sempat berisitirahat sejenak di salah satu tempat di Sabang sebelum akhirnya kembali melanjutkan kesibukannya. (*)

Jakarta - Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, tidak ada yang salah dengan ucapan Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais yang akan menjewer Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir bila tidak bersikap menghadapi Pilpres 2019.

"Tidak ada yang salah dalam ucapan Pak Amien Rais tersebut karena memang beliau adalah sesepuh kami. Jadi kalau beliau berkata demikian maka umumnya warga Muhammadiyah tidak akan ada yang merasa tersinggung, termasuk saya yakin Pak Haedar sendiri," kata Anwar, di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Tentang ketegasan bersikap dalam pilpres, Abbas mengatakan,warga Muhammadiyah sudah punya pilihan masing-masing dan tak bisa diinterversi.

"Saya rasa setiap pribadi dan warga Muhammadiyah sudah punya sikap.  Dan untuk memengaruhi sikapnya saya rasa tidak mudah karena umumnya warga Muhammadiyah adalah orang-orang yang terdidik. Sehingga mereka sudah punya pandangan dimana pandangan mereka itu tidak mustahil adalah sama dengan pandangan Pak Amien Rais," papar dia.

Sebelumnya, Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Amien Rais menegaskan akan menjewer Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir jika organisasinya tidak bersikap pada Pemilihan Presiden 2019.

"Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nasir memilih menyerahkan ke kader untuk menentukan sikapnya di pilres. Kalau sampai seperti itu, akan saya jewer," ujar Amien Rais di sela Tabligh Akbar dan Resepsi Milad ke-106 Masehi Muhammadiyah di Islamic Center Surabaya, Selasa.

Menurut dia, bukan merupakan fatwa jika pimpinan menyerahkan sendiri-sendiri ke kader kepada siapa suaranya akan diberikan, sehingga dibutuhkan ketegasan demi terwujudnya pemimpin yang sesuai harapan.

PP Muhammadiyah, kata dia, tidak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya untuk menentukan pemimpin bangsa ini pada periode 2019-2024.

"Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan, maka akan saya jewer. Pemilihan presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah," kata Ketua MPR periode 1999-2004 itu. (*)

Berita9.com - Sebuah video berdurasi 59 detik yang memperlihatkan seorang pria membakar ijazah UGM viral di media sosial dan aplikasi pesan Selasa (13/11/2018). 

Pria yang kemudian diketahui alumni UGM bernama Afriantriono Hartoadi mengaku kecewa dengan penanganan pihak kampus atas kekerasan seksual yang dialami mahasiswi FISIPOL saat KKN tahun 2017 lalu. 

Di video tersebut Afriantriono sempat memperkenalkan diri sebagai alumni UGM dan kemudian mengatakan bahwa ia malu.

Setelah itu pria tersebut lantas menyalakan korek dan membakar ijazah UGM. Beberapa saat ijazah yang terbakar dipegangnya hingga kemudian diletakkan bersandar di tembok hingga habis terbakar. 

Sontak kejadian tersebut mengagetkan banyak pihak karena dinilai sebagai sebuah tindakan yang mungkin tak terpikirkan. Ijazah yang didapat dengan susah payah akhirnya dibakar begitu saja karena perasaan kecewa mendalam. 

Pihak UGM sendiri membenarkan pria dalam video tersebut adalah salah satu alumninnya. Namun demikian pihak kampus tak bisa berbuat banyak mengingat keputusan telah diambil alumni tersebut. 

“Di video itu benar adalah alumni kami, kami sudah cek data nama. Kami menyesalkan, menyayangkan dan prihatin namun kembali keputusan ada di orang yang memegang ijazah,” ungkap Kepala Bagian Humas UGM Dr Iva Ariani, (14/11).  (*)

Berita9.com - Ketua DPP PSI Tsamara Amany diizinkan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadi pembicara di kampus tersebut, pada Rabu (14/11/2018) kemarin. Tsamara tampil sebagai pembicara dalam acara Feminist Talkshow bertajuk ‘Perempuan dalam Kebijakan Publik’.

Padahal, sebelumnya politisi Gerindra Sudirman Said beberapa bulan lalu dilarang untuk menggelar diskusi serupa di UGM. 

"Kita hormati sikap pimpinan UGM, beliau-beliau pasti memiliki pertimbangan dan wisdom dalam memutuskan apapun," kata Sudirman di Jakarta, Kamis (15/11/2018).

"Soal saya kan sudah selesai lama. Kita harus terus berfikir ke depan dan memikirkan kepentingan banyak orang," tambahnya.

Namun, Sudirman meminta agar UGM dan seluruh universitas di Indonesia mampu menjaga marwahnya. Selain itu, Sudirman ingin agar kampus bisa memberi ruang untuk menyampaikan pendapat secara bebas.

"Saya dan masyarakat pasti berharap agar seluruh kampus mampu menjaga marwahnya sebagai pusat pemikiran dan peradaban yang dapat diandalkan. Sebagai pusat pemikiran kampus harus terbuka menjadi sarana diskursus, memberi ruang kebebasan berpikir dan berpendapat," paparnya.

Menurutnya, dari diskursus pemikiran yang bebas itu diharapkan akan lahir ide-ide terbaik untuk bangsa. Yang bisa menyelesaikan persoalan di negeri ini.

"Bila kampus mulai partisan, risikonya kehilangan kesempatan menyerap keragaman gagasan dan perspektif," ujarnya.

Bagaimanapun, Sudirman menganggap lembaga pendidikan pada setiap level adalah instrumen negara untuk mencerdaskan anak bangsa. 

"Negara akan hidup selamanya, sedangkan pemerintahan akan mengikuti siklus demokrasi, silih berganti," ucap mantan Menteri ESDM ini.

Apabila universitas berpihak pada satu atau dua periode pemerintahan saja, maka kampus tersebut akan mengalami kerugian. Karena kampus mengabaikan fungsi yang luhur dan lestari. 

"Yaitu menjaga kepentingan negara dan bangsa. Ada banyak lembaga yang harus dijaga netralitasnya dalam situasi apapun," tegas Sudirman.

Misalnya saja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kepolisian Negara Republik Indonesia, Aparat Sipil Negara (ASN), dan Badan Intelejen Negara (BIN), karena kata negara yang disematkan pada lembaga-lembaga itu menunjukkan lembaga itu memiliki fungsi luhur menjaga kepentingan negara keseluruhan.  

"Karenanya tidak boleh berpihak pada satu warna politik tertentu," imbuhnya. (*)

Berita9.com - Aktivis Uighur di Amerika Serikat (AS) memperingati 'hari kemerdekaan' komunitas mereka dengan protes dan pawai di ibu kota AS pada Selasa (13/11).

Dilansir Aljazirah, Rabu (14/11), 12 November adalah peringatan ke-74 dan ke-85 dari dua Republik Uighur atau dikenal sebagai Turkestan Timur yang didirikan di wilayah yang kini menjadi bagian dari Cina.

Mereka yang hadir di acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Kebangkitan Nasional Turkistan Timur termasuk Rebiya Kadeer.

Ia adalah salah satu muslim Uighur paling terkenal di dunia dan mantan presiden Kongres Uighur Dunia.

Dengan membawa bendera kemerdekaan AS dan Turkestan Timur , para aktivis di luar Gedung Putih meminta AS untuk menekan Cina agar menghentikan penganiayaan terhadap minoritas Muslim.

Meskipun laporan tentang pelecehan terhadap warga Uighur sudah ada sejak lebih dari satu dekade, namun tahun lalu telah terjadi intensifikasi penganiayaan.  

PBB telah mengkritik Cina karena menahan sekitar satu juta Muslim di kamp-kamp penahanan. Cina juga dituduh memaksa orang Uighur untuk meninggalkan keyakinan mereka.

Pihak berwenang Cina telah melarang puasa Ramadhan, serta pembelajaran Alquran untuk anak-anak muda.

Warga Amerika-Uighur Aydin Anwar mengatakan kepada Aljazirah bahwa Cina berusaha untuk menghapus identitas Uighur.

"Cina telah menempatkan setidaknya tiga juta orang di kamp-kamp. Di kamp-kamp ini mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, mengadopsi ateisme, dan berjanji setia kepada negara Cina," katanya.

Anwar mengatakan semua komunitas Uighur yang hadir dalam aksi itu memiliki setidaknya satu kerabat yang ditahan di kamp.

"Suami bibiku punya lebih dari 70 kerabat di kamp dan penjara, dan salah satu dari mereka benar-benar terbunuh dengan suntikan mematikan di kamp-kamp. Bahkan di luar kehidupan kamp-kamp ini tidak lebih baik. Mempraktikkan Islam benar-benar dilarang; berdoa, berpuasa, memakai janggut, memakai jilbab bahkan menamai bayi Anda dengan nama Islam," katanya.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengecam Cina atas pelanggarannya terhadap Muslim dan minoritas lainnya. Senator Republik Marco Rubio juga melobi Departemen Luar Negeri AS untuk mengambil tindakan terhadap Cina atas pelanggarannya terhadap orang-orang Uighur.

Cinta membantah segala tuduhan yang menyebut pelanggaran terhadap Muslim Uighur. Beijing menilai kabar itu hanya gosip dan sebaikknya diabaikan. (*)

Berita9.com - Artis Peggy Melati Sukma kini kian mantap dengan jalan hijrahnya. Bahkan, Peggy sudah benar-benar menutup aurat. Ia tidak hanya mengenakan busana syar'i, tapi juga menggunakan niqab atau cadar.

Menurut Peggy, keputusannya menggunakan cadar merupakan salah satu proses mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan menjadi salah satu media pembelajaran baginya.

“Semoga bisa untuk memperbaiki diri menjalankan syariat Allah, mendekatkan diri pada Allah. Ya, memakai cadar ini kan bagian dari memelihara keimanan kita,” kata Peggy ketika ditemui di kawasan Bekasi, Jawa Barat, (13/11).
 
Peggy Melati Sukma mulai yakin menggunakan cadar sejak 9 bulan lalu. Setelah menutup aurat dengan batasan wajah dan telapak tangan, Peggy mengatakan masih ada hal lainnya yang ingin ia lakukan.
“Tahap selanjutnya yaitu lebih tawadu kepada Allah. Bahkan, tak menjadikan wajah ini sebagai suatu keutamaan lagi. Ya, ini pelajaran iman, insyaallah kita berproses dalam pembelajaran meningkatkan iman pada Allah ta’ala,” ungkapnya.
 
Peggy juga tak terlalu memusingkan berbagai perbedaan persepsi di antara masyarakat terkait penggunaan cadar. Perempuan berusia 42 tahun itu menuturkan dirinya tidak mau memaksakan pemahaman mengenai cadar kepada siapa pun.
 
Kendati demikian, Peggy tak segan mengajak publik, khususnya yang beragama muslim, untuk sama-sama belajar serta menggali mengenai hukum menjaga aurat dan terkait penggunaan cadar.
 
Hal tersebut tentunya mampu membuka kebenaran dan keutaman dari penggunaan cadar tersebut. Apalagi, mati dengan keadaan keimanan yang baik menjadi impian bagi setiap umat.
 
“Kalau makin baik di hadapan Allah, maka kita cari tahu terus. Nah, ini adalah bagian dari prosesnya dan saya insyaallah tidak mau memaksakan pendapat apa pun, pada siapa saja, apalagi tentang penutup wajah ini,” tuturnya.
 
Kini Peggy juga kerap berbagi ilmu yang selama ini telah ia peroleh. Pemain sinetron 'Gerhana' itu berharap hal yang ia bagikan dapat berguna bagi banyak orang.
 
“Utamanya adalah berhijrah hidup ini 'kan prinsipnya selalu menuju kepada keadaan yang lebih baik, selalu pada keadaan yang lebih dekat pada ketentuan Allah,” tutupnya. (*)

 

Berita9.com - Presiden sekaligus calon presiden petahana, Joko Widodo (Jokowi) akhir-akhir ini menyelipkan istilah-istilah tertentu dalam pidatonya seperti 'politikus sontoloyo' atau 'politik genderuwo'. Jokowi dinilai gerah dengan kubu oposisi yang terus-terusan mengritiknya.

Narasi 'politikus sontoloyo' disampaikan Jokowi untuk pihak yang mengadu domba, menyebar fitnah, dan memecah belah demi merebut kekuasaan. Sedangkan istilah 'politik genderuwo' ditujukan kepada politikus yang kerap menyebarkan propaganda yang menakut-nakuti masyarakat.

Dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai, Jokowi jengkel karena kinerjanya seolah tidak diakui oposisi--dalam hal ini kubu Prabowo-Sandiaga--selama empat tahun memimpin. Padahal, kata Adi, tidak semua pencapaian Jokowi mendapat rapor merah.

"Intinya Pak Jokowi klimaks karena terus-terusan dianggap tidak melakukan apa pun, dan kerjaannya dianggap tidak ada artinya, dan kemudian Pak Jokowi ini melakukan suatu spontanitas politik seperti menyebut istilah genderuwo, sontoloyo, dan menakut-nakuti," ujar Adi, Senin (12/11/2018).

Adi menyebut, penggunaan istilah yang disampaikan Jokowi bisa bermasalah karena dapat menjadi bahan kritikan dari kubu Prabowo. Jokowi diminta tetap menyampaikan narasi-narasi yang substansial atau tidak menyindir.

"Memang pemilihan diksi ini bermasalah. Bukan hanya Pak Jokowi dan Pak Prabowo, masalahnya adalah penggunaan diksi ini cenderung nyinyir dan bernada merendahkan. Sekalipun ada pertarungan klaim bahwa Jokowi sukses, terus Prabowo anggap tidak sukses, mestinya diksi-diksi yang disampaikan harus lebih subtantif," kata Adi.

Selain itu, Jokowi diminta tidak terpancing dengan serangan oposisi. Secara komunikasi politik, Jokowi hanya perlu memaparkan capaian-capaian pemerintah untuk menangkal serangan.

"Ketika ada orang yang meragukan apa yang dilakukan Pak Jokowi, biarlah data itu yang menjawab. Tinggal ditunjukkan data itu. Artinya orang akan sulit membantah kalau pencapaian atau prestasi Pak Jokowi dibukukan dan diserahkan pada masyarakat untuk menghindari hoax dan fitnah. Itu control opinion yang cukup nyata," terang Adi.  (*)

Page 1 of 28
Go to top