Berita9.com - Pemerintah Kota Langsa, Aceh, mengintruksikan agar masyarakat di daerahnya tidak menggelar perlombaan panjat pinang dalam rangka menyambut HUT ke-74 RI. Dalam surat imbauannya, pagelaran tersebut dinilai merupakan tradisi peninggalan Belanda yang tidak memiliki nilai edukasi.

Surat intruksi Wali Kota Langsa nomor 450/2381/2019 tentang peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, berisi tiga poin imbauan dan intruksi ditujukan kepada seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kepala Desa, dan Pemimpin BUMN/BUMD.
 
Larangan tentang panjat pinang tertuang pada poin keempat, yaitu tidak melaksanakan kegiatan panjat pinang di setiap gampoeng (desa) dikarenakan secara historis merupakan peninggalan Kolonial Belanda dan tidak ada nilai edukasinya.
 
Sementara pada poin pertama, Wali Kota Langsa meminta untuk menghadirkan seluruh ASN, Pegawai, dan Karyawan BUMN pada saat upacara HUT RI ke-74 tahun 2019 di lingkungan Pemerintahan Kota Langsa.
 
Kedua, melakukan pengarahan pada tanggal 15 Agustus 2019 kepada masing-masing ASN, pegawai di bawah pimpinannya untuk hadir tepat waktu dan mengambil posisi barisan yang benar pada saat sampai di tempat sebagai contoh kepada anak yang hadir dalam upacara.
 
Selanjutnya, kepada para Geuchik (Kepala Desa) diminta untuk menggunakan pakaian seragam pada saat menghadiri upacara.
 
Humas Pemerintah Kota Langsa, M Husin, membenarkan imbauan tersebut. Surat itu dikeluarkan berdasar keputusan rapat bersama panitia 17 Agustus di lingkungan Pemerintah Langsa.  
 
“Iya benar itu surat Pak Wali berdasarkan keputusan rapat panitia 17 Agustus 2019,” katanya, (15/7).
 
Husen juga turut membenarkan terkait dengan poin terakhir tentang imbauan larangan kegiatan panjat pinang dilakukan oleh masyarakat. Kata dia, Wali Kota mengimbau sebaiknya acara tersebut tidak digelar. Panjat pinang dianggap bukan budaya Islam dan bagian dari warisan kolonial Belanda.
 
“Alasannya pertama tidak sesuai dengan budaya kita (Aceh) itu adalah budaya warisan pemerintahan Belanda. Sehingga panitia melarang agar perlombaan panjat pinang ditiadakan saja dan dialihkan ke kegiatan perlombaan lain,” ujarnya.
 
Meski demikian, pemerintah Langsa tidak mengeluarkan sanksi apabila terdapat masyarakat yang tetap melaksanakannya. Berkaca pada tahun sebelumnya meski pemerintah telah mengeluarkan imbauan, masyarakat di desa-desa masih tetap melaksanakan perlombaan hiburan rakyat tersebut.
 
Akan tetapi, kata Husen, pemerintah telah meminta kepada kepala desa untuk melarang warganya.
 
“Jika masyarakat tetap menggelar tidak menjadi permasalahan. Sebab belum ada sanksi, cuma di pemerintahan Kota Langsa tidak lagi melaksanakannya, kalau dulu perlombaan itu dilaksanakan oleh pemerintah salah satunya termasuk panjat pinang akan tetapi sekarang tidak lagi,” ungkapnya. (*)

Berita9.com - Musim kemarau menyebabkan ribuan sawah di Jawa Tengah mengalami puso. Para petani pun langsung mengajukan klaim asuransi untuk mengurangi beban kerugian.

Total ada 9.676 hektare sawah yang tersebar di 21 kabupaten. Terparah ada di Kabupaten Grobogan yakni ada 1.827 hektare. Kemudian di Kabupaten Pati ada 1791 hektare dan Wonogiri ada 1204 hektare. Dibandingkan luas panen per Juli 2019, yakni 1.246.424 hektare, rasio luas sawah puso adalah sebesar 0,7 persen.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Suryo Banendro mengatakan, sejumlah petani yang dilanda puso sudah mengajukan klaim asuransi. Mengenai daerah mana saja yang sudah mengajukan, pihaknya sedang melakukan verifikasi.

"Petani atau kelompok tani yang di awal musim telah terdaftar dalam program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bisa mengajukan klaim saat padinya puso atau gagal panen akibat bencana kekeringan. Saat ini baru untuk komoditas padi. Klaimnya sebesar 6 juta per hektare," jelas Suryo, (14/8).

Mengenai asuransi ini, lanjutnya, sebanyak 225.000 hektare sawah ditanggung pemerintah pusat melalui APBN. Untuk preminya, dari Rp180.000 sebanyak 20 persennya ditanggung petani. Atau sebesar Rp36.000. Sementara itu, dari APBD Jateng juga menanggung 45.000 hektare sawah lewat asuransi.

"Khusus bagi petani miskin dengan sawah di bawah 0,5 hektare, premi ditanggung oleh pemerintah. Tapi keduanya sama. Klaimnya Rp6 juta," ujarnya.

Tidak hanya melalui asuransi, upaya penanggulangan gagal panen akibat bencana kekeringan ini sebenarnya sudah dilakukan. Seperti menginformasikan kepada para petani terkait iklim berdasar pantauan BMKG. Kemudian memberikan rekomendasi budidaya tanaman seperti penggunaan varietas toleran kekeringan.

"Juga menerapkan sistem pengairan berselang sehingga penggunaan air lebih efisien, serta air dapat digunakan secara merata," terangnya.

Selain itu, ia menambahkan, dengan meminta petani mengikuti pola tanam yang telah ditetapkan. Termasuk meminta petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebab akan meningkatkan daya ikat air dalam tanah.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, guna mencegah semakin luasnya lahan pertanian yang terkena kekeringan dan puso, pemerintah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, dari mulai pemerintah daerah dan TNI untuk memetakan kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) dan pemanfaatan sumber air yang harus dibangun.

"Sekarang kita sudah banyak membangun sumber air. Baik itu sumur dangkal, embung, damparit, sehingga diharapkan kekeringan untuk tahun ini bisa teratasi," kata Sarwo.

Berdasarkan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, setiap yang daerah yang terdampak maupun perluasan areal tanam membentuk posko untuk mitigasi dan adaptasi yang diresmikan bupati, sehingga bupati menjadi leader-nya dalam mitigasi dan adaptasi kekeringan.

"Kami juga sudah menyiapkan mobilisasi alsintan seperti pompa, infrastruktur pertanian dukungan lainnya seperti pipanisasi. Sementara Ditjen Tanaman Pangan dan Litbang Pertanian menyiapkan benih tanaman pangan," tambah Sarwo Edhy. (*)

Berita9.com - Draf Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU Kamtansiber) dianggap memiliki arah yang tidak jelas dan bertentangan dengan kaidah-kaidah internasional.

Pendapat itu dikemukakan Ketua Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI) M Nuh. Menurutnya, ketidakjelasan terlihat karena rancangan beleid itu tak menjelaskan ranah keamanan dan ketahanan siber di sebelah mana yang akan diatur di UU Kamtansiber. 

“RUU Kamtansiber dia mau masuk ke pra incident kah, dia mau masuk during incident kah, atau dia mau masuk post incident kah? Ini yang saya sudah baca tidak ada statement ekspilisit dia mau masuk ke mana,” ujar Nuh, Selasa (13/8/2019).

Nuh menganggap penanganan berbagai masalah di bidang siber harusnya dilakukan dengan pembagian yang jelas. Penanganan bermacam problem terkait keamanan dan ketahanan siber selama ini menurutnya juga sudah berpedoman pada standar internasional.

Contohnya, untuk penanganan pasca-kejadian terdapat standar ISO 27035 tentang Security Incident Management. Standar itu mengatur penanganan persoalan siber pasca-insiden.

Ketidakjelasan RUU Kamtansiber, menurut Nuh, terlihat dari muatan Pasal 3. Dia juga memberi catatan terhadap isi Pasal 10 ayat (2) rancangan beleid yang sama.

"Pasal 10 ayat (2) tentang infrastruktur siber nasional, disebutkan ada empat hal tapi tidak ada yang mengenai infrastruktur jaringan sistem elektronik. Padahal kalau kita ngomong siber itu jaringan,” katanya.

Nuh juga melihat pasal mengenai mitigasi risiko terkait kamtansiber masih mengambang. Alasannya, RUU Kamtansiber membagi motivasi risiko menjadi dua yakni motivasi khusus dan assessment.

Terakhir, dia merasa heran dengan adanya frasa ‘Ketahanan’ di RUU ini. Menurut Nur tidak ada istilah atau rujukan yang menyatakan Keamanan dan Ketahanan Siber.

“Judul awal hanya keamanan siber, saya tidak tahu kenapa ada ketahanan. Kalu kita mengacu pada literatur internasional yang ada hanya satu kata, cyber security,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jamalul Izza berharap DPR tidak terburu-buru mengesahkan RUU Kamtansiber.

“Kita berharap RUU ini jangan terlalu tergesa-gesa untuk di ketok palu,” kata Jamalul. (*)

Berita9.com - Wakil Presiden keenam Try Sutrisno mendukung usulan Rachmawati Soekarnoputri agar konstitusi kembali ke UUD 1945 yang asli.

“Harus. Kalau saya katakan kaji ulang. Karena keliru yang kemarin itu amandemen, banyak melenceng. Karena melenceng harus kita koreksi,” kata Try di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (12/8/2019).

Try mengatakan, mengembalikan konstitusi ke UUD 45 yang asli bukan melalui amandemen kelima. Tetapi, UUD 45 yang sudah diamandemen sebanyak empat kali itu diteliti lagi dan dikaji ulang, lalu dikembalikan ke yang asli. Kemudian, materi dalam empat kali amandemen itu dijadikan adendum atau lampiran pada UUD 45 yang asli.

Dengan mengembalikan konstitusi ke UUD 45 yang asli, Try berharap Majelis Permusyawaratan Rakyat pun kembali menjadi lembaga tertinggi negara yang salah satu kewenangannya bisa memilih presiden dan wakil presiden.

“Itu sistem kita. Pelajari itu sila keempat demokrasi kita. Jangan niru liberal. Habisin duit saja,” ujarnya.

Menurut Try Sutrisno, lembaga MPR saat ini tidak sesuai dengan sistem asli Indonesia dimana isinya adalah DPR dan DPD. Ia mengatakan, sistem Indonesia yang asli itu adalah DPR, Utusan Daerah, dan Utusan Golongan. Sedangkan DPD itu cocok di negara bagian seperti Amerika Serikat.

“DPD itu apa? Dewan Perwakilan Daerah itu tidak ada di Indonesia, kesatuan itu. Itu negara serikat Amerika ada. Kalau negara serikat ada negara bagian ada Dewan Perwakilan Daerah. Kalau kita enggak ada itu,” katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rachmawati Soekarnoputri sebelumnya menyerukan agar konstitusi kembali ke UUD 1945 yang asli.

“Saya memberikan satu pesan harapan agar Pancasila dapat tegak di republik ini, harus digandeng kembali dengan UUD 45. Artinya saya mengharapkan, Pak Menhan dan Pak Try, kembali. Kita harus kembali ke UUD 45,” kata Rachmawati. (*)

 

Berita9.com - Kurban bukan sebatas menyoal hewan yang disembelih bertambah atau berkurang. Esensi dari kurban adalah meneladani Nabi Ibrahim yang rela berkorban apapun demi mendapatkan ridha Allah SWT.

Begitu pesan Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Aljufrie di lokasi kurban di halaman sekitar MD Building DPP PKS, Jakarta Selatan, Senin (12/8).

"Masalah jumlah tiap tahun bisa berubah. Tapi kurban adalah pengorbanan dengan harta dengan jiwa, seluruh yang kita miliki semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT," ujarnya.
 
Selain itu, kurban juga melatih umat Islam untuk berbagi kebersamaan dalam berbangsa. Sebab tak sedikit rakyat yang makan daging dalam setahun hanya beberapa kali saja.
 
“Dengan acara-acara seperti ini mereka merasakan dan membuat mereka bahagia,” terangnya.
 
“Sebagai partai dakwah, PKS hadir memberikan pelayanan kepada umat. Salah satunya lewat Hari Raya Kurban," tutup Habib Salim.
 
PKS sendiri turut merayakan Idul Adha bersama masyarakat dengan memotong 70 ribu hewan kurban di semua lapisan. (*)
 

Berita9.com - Ustaz Abdul Somad (UAS) berharap jamaah haji Indonesia menunaikan rukun Islam yang kelima dengan sempurna.

Ibadah haji sudah mencapai puncaknya, dimana jutaan kaum Muslimin melaksanakan wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah.

Ada pesan tersirat dari rangkaian ibadah haji tersebut, bila di Tanah Suci jamaah takut bila rambut atau kukunya berguguran, maka sesampainya di Tanah Air rasa takut itu hendaknya tetap terpatri dalam diri mereka, yakni takut melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar yang dilarang Allah SWT.

"Dalam haji, takut rambut gugur, takut kuku patah, takut dan lain-lain. Maka ibadah ini menanamkan di dalam diri jamaah rasa takut kepada Allah. Setelah pulang, kembali ke Tanah Air, mereka takut melakukan pungli (pungutan liar -Red). Takut korupsi. Takut curang," kata Ustaz Abdul Somad, Senin (12/8).

Tambahan pula, Padang Arafah dapat dimaknai sebagai miniatur Padang Mahsyar. Saat Hari Kiamat, semua manusia sejak Nabi Adam AS hingga insan terakhir akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari keadilan-Nya.

Karena itu, lanjut UAS, wukuf sejatinya mengingatkan setiap Muslim agar meninggalkan sifat-sifat sombong, termasuk ketika nanti kembali ke Tanah Air.

"Wuquf di Arafah. Semua atribut dilepas. Inilah miniatur Padang Mahsyar. Maka setelah pulang, jamaah hendaknya tidak sombong. Merasa sama dengan sesama kaum Muslimin. Hendaknya rendah hati, selalu ingat mati, siapkan bekal untuk akhirat. Dunia tempat menanam. Tetaplah berbisnis, tetapi jangan lupa untuk membangun masjid, sekolah gratis, dan lain-lain sebagai bekal menuju kematian," papar UAS.

Satu prosesi yang mesti dilakukan tiap jamaah haji ialah melontar jumrah. Ini mengikuti jejak Nabi Ibrahim AS yang teguh pada pendiriannya, melaksanakan perintah Allah SWT.

Sang Khalilullah itu mengusir setan yang berkali-kali merayunya untuk meninggalkan perintah Ilahi. UAS mengingatkan, melontar jumrah adalah simbol permusuhan dengan setan.

"Putuslah hubungan dengan setan (tidak mengikuti bujuk-rayu setan -Red). Bertaubat. Setelah pulang, mohon jangan disambung kembali dengan mengikuti (rayuan) setan," kata dia.

Usai wukuf di Arafah, jamaah haji akan melakukan tawaf, yakni mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran. Ia menjelaskan, rukun haji ini memiliki makna regenerasi.

Dari Arafah, lautan manusia bergerak menuju pusat kiblat umat Islam itu.

Satu gelombang tawaf usai, maka akan datang gelombang berikutnya sehingga Masjid al-Haram selalu ramai. Demikian tak henti-henti.

Jamaah haji diingatkan tentang pentingnya menumbuhkan generasi yang sehat fisiknya, kuat mentalnya, dan teguh imannya saat kembali ke keluarga dan lingkungan masing-masing.

"Tawaf, keliling tak henti. Maknanya, hidup terus berputar. Kelak ketika kita meninggal, peran kita pun selesai, dilanjutkan generasi yang akan datang," katanya.

"Dari Safa ke Marwa Siti Hajar mencari air. Justru air didapat dari telapak kaki Ismail yang tidak berjalan. Maknanya, jamaah haji ketika nanti setelah pulang ke Tanah Air, giat berusaha. Walau hasil belum tentu dari usaha itu, tetaplah yakin akan pertolongan Allah," ujar alumnus S-1 Universitas al-Azhar (Mesir) itu. 

Usai sa'i, jamaah haji akan melaksanakan tahallul. Dengan tahallul, apa-apa yang sebelumnya tidak boleh saat mereka berihram, menjadi halal (boleh). Tiap jamaah yang bertahallul minimal mencukup tiga helai rambut.

"Tahallul, yakni cukur rambut. Sesudah itu, tumbuh rambut baru. Kembali ke Tanah Air, bawalah semangat baru. Jangan berputus asa dari rahmat Allah," ucapnya.

"Sebab, seorang haji ialah pembuat perubahan, agent of change, di tengah masyarakatnya. Mereka berperan sebagai agen perubahan umat," katanya.

Usai tawaf, jamaah haji akan melakukan sa'i, yakni perjalanan tujuh kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa. Ini sesungguhnya mengikuti teladan Siti Hajar yang berlari-lari mencari air untuk putranya tercinta, Nabi Ismail AS yang saat itu masih bayi.

UAS menuturkan, jamaah hendaknya menghayati perjuangan istri Nabi Ibrahim AS itu yang pantang menyerah, terus berupaya dalam berbuat kebajikan. (*)

Berita9.com - Media sosial dihebohkan oleh prestasi 2 siswi SMAN 2 Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Keduanya meneliti herba tradisional Suku Dayak untuk obati kanker payudara.

Dua putri dari tanah Dayak tersebut berhasil mencetak prestasi yang membanggakan bagi Indonesia di mata dunia. Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri sukses memperkenalkan obat tradisional yang mampu menyembuhkan penyakit tumor ganas, yaitu kanker payudara, di kompetisi internasional.

Dikutip dari Official Account Indonesian Young Scientist Association (IYSA), Aysa dan Anggina sebelumnya telah mengikuti lomba Youth National Science Fair 2019 (YNSF) di Universitas Pendidikan Bandung (UPI).

Setelah lolos menjadi salah satu pemenang di perlombaan YNSF, keduanya dikirim sebagai perwakilan dari Indonesia untuk mengikuti World Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan pada 25-27 Juli 2019 lalu.

Kedua siswi dari SMAN 2 Kota Palangka Raya ini berhasil meraih Gold Medals dalam ajang WICO melalui obat kanker yang dihasilkan dari tanaman alami. Tamanan yang mereka perkenalkan dalam ajang tersebut adalah Akar Bajakah Tunggal yang berasal dari tanah Kalimantan Tengah.

Seperti diketahui kanker payudara terjadi akibat pertumbuhan sel-sel dibagian payudara secara abnormal dan tidak terkendali. Sel tersebut akan membelah dengan waktu yang sangat cepat dan berkumpul untuk membentuk sebuah benjolan. Pada akhirnya, sel tersebut akan menyebar ke bagian organ tubuh lainnya. (*)

Berita9.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan hari raya Idul Adha yang diperingati lewat kurban merupakan momentum untuk menstimulasi kesalehan sosial anak. Ketua KPAI Susanto pun membagikan tips bagi orang tua untuk memberikan pemahaman tentang kurban kepada anak.

"Idul Adha merupakan momentum menstimulasi karakter kasalehan sosial bagi anak. Saat Kurban tiba, anak di berbagai lokasi masjid seringkali merasakan keseruan saat melihat hewan kurban akan disembelih. Meskipun sebagian anak ada tak siap saat melihat hewan kurban disembelih. Namun demikian, keseruan ini penting disisipkan pendidikan karakter kepada anak agar ia mampu menangkap makna yang dalam dari prosesi kurban," kata Susanto, Ahad (11/8/2019).

Ia mengatakan anak-anak sebaiknya diceritakan mengenai sejarah kurban. Hal ini agar anak mampu mengambil nilai-nilai positif dari peristiwa kurban.

"Ceritakan kepada anak tentang sejarah Kurban, agar anak mengetahui akar sejarah berikut nilai positifnya," tuturnya.

"Jelaskan bahwa Kurban selain menjalankan perintah Allah juga mengajarkan untuk berbagi kepada orang yang tidak mampu. Dengan demikian, Kurban mengajarkan kepekaan sosial dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan," lanjut Susanto.

Susanto menyebut peristiwa Kurban juga dapat dimaknai untuk menanamkan nilai-nilai kepatuhan anak kepada orang tua. Menurutnya, anak-anak harus dididik mengenai nilai patuh dan hormat sejak dini.

"Tumbuhkan anak akan pentingnya budaya hormat dan patuh. Saat Ibrahim diperintah oleh Allah SWT utk mengurbankan anaknya, Nabi Ismail pun menunjukkan sikap hormat kepada orang tuanya dan patuh atas perintah Allah. Budaya hormat harus dididikkan kepada anak seiring kompleksitas tantangan perkembangan anak dewasa ini. Apalagi ajaran agama, budaya indonesia dan ketentuan UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa hormat kepada orangtua dan guru merupakan kewajiban," ucapnya.

Selanjutnya, Susanto menyarankan orang tua untuk mengajak anak menunaikan salat Idul Adha. Namun, dia mengatakan agar orang tua tidak memaksa anak.

"Mengajak anak salat Idul Adha, tak hanya mendidik anak agar taat beribadah, namun ia bisa mengenal akan rangkaian Idul Adha," kata Susanto.

"Jangan paksa anak. Jika anak tidak mau ikut salat Idul Adha, jangan paksa mereka. Sepanjang stimulasi terus dilakukan orang tua kepada anak dengan teknik yang baik, pada saatnya ia akan tumbuh kenyamanan untuk menjalankan salat Idul Adha," imbuh dia. (*)

Berita9.com - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, mengajak jemaah salat idul adha di Alun-alun Utara Yogyakarta untuk turut memikirkan masa depan bangsa. Selain itu, ia juga mengajak jemaah merefleksikan momen kemerdekaan RI.

"Jika kita tidak serius memelihara persatuan, ini akan meninggalkan dampak buruk bagi penerus bangsa. Pelajaran untuk berpikir panjang harus kita lakukan mulai saat ini," kata Fathul di hadapan ribuan jemaah salat id, Ahad (11/8/2019).

Dalam kesempatan itu, Fathul bertindak sebagai khatib. Sementara yang menjadi imam adalah Azman Lathif, takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Salat id di Alun-alun Utara Yogyakarta dimulai pukul 07.00 WIB dengan diikuti ribuan jemaah.

Fathul dalam khotbanya menitipkan sejumlah pesan ke jemaah. Tak lupa, ia juga mengajak jemaah untuk meneladani kehidupan Nabi Ibrahim, bapak dari para nabi, yang teguh dalam memurnikan ajaran tauhid.

"Nabi Ibrahim selalu berpikir pada konteks keturunannya. Hari ini, pada kondisi kekinian banyak hal bisa diteladani dari sosok nabi ini," ungkapnya.

Selanjutnya, Fathul mengajak para jemaah untuk merefleksikan kemerdekaan RI yang momennya berdekatan dengan Hari Raya Idul Adha. Ia mengajak para jemaah turut mengisi kemerdekaan warisan para pendahulu bangsa.

"Tanpa kemerdekaan kita akan sulit berkumpul dengan khusyuk menjalani Idul Adha jika dalam masa penjajahan. Mudah-mudahan kemerdekaan ini menjadi rahmat, bukan menjadi azab bagi negara atau bangsa," paparnya. (*)

Berita9.com - Jika umumnya distribusi daging kurban dibagikan dalam bentuk mentah, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indoneisia (MUI) baru-baru ini mengeluarkan fatwa terbaru tentang hukum membagikan daging kurban yang sudah diolah dan didistribusikan ke luar daerah.

Dalam fatwa ini disebutkan bahwasanya boleh membagikan daging kurban dalam bentuk olahan dalam kondisi tertentu.

“Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh melalui keterangan tertulis.

Dalam fatwa No 37 itu juga disebutkan bahwa mendistribusikan daging kurban ke daerah lain juga diperbolehkan. Fatwa itu juga mengatakan bahwa pada prinsipnya, daging hewan kurban disunnahkan untuk didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih. Ini agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi yaitu kebahagian bersama dengan menikmati daging kurban.

"Hewan kurban juga disunnahkan dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah. Daging kurban juga disunnahkan didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat," demikian tulis fatwa tersebut.

Sementara, menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.

"Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat, dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang, atau sejenisnya, dan didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan." terangnya. (*)

Page 1 of 36
Go to top