Berita9.com - Menkopolhukam Mahfud MD sempat mengejutkan banyak pihak setelah menyebut virus corona sama dengan istri. Banyak media asing menyorot meme Mahfud MD dan melabeli dirinya sebagai sosok misoginis berpola pikir seksis.

Salah satu surat kabar terkemuka di Malaysia, The Star, mengangkat isu meme Mahfud MD tersebut malalui artikel berjudul: “Coordinating Legal, Political, and Security Affairs Mahfud MD gets flak over ‘sexist’ meme on coronavirus”.

Dalam tulisan itu, Kepala Eksekutif LSM Solidaritas Perempuan, Dinda Nisa Yura mengkritik pedas kalimat Mahfud. Menurut dia, hal itu merupakan bukti hingga kini masih banyak pejabat publik yang belum memahami permasalahan yang dihadapi.

“Pernyataannya itu tidak hanya mencerminkan proses pemikiran pemerintah yang dangkal dalam menyelesaikan masalah yang terkait dengan pandemik Covid-19, tetapi juga mengemukakan pola pikir seksis dan misoginis pejabat publik,” ujarnya, Sabtu (30/5/2020).

Selain The Star, media asal Tiongkok, yakni South China Morning Post (SCMP) juga menyoroti hal yang sama. Pada artikel yang mereka muat kemarin, Kamis 28 Mei 2020, Mahfud dinilai telah ‘bermain-main’ dengan isu seputar wanita.

Di dalam artikelnya, SCMP menukil salah satu kutipan dengan bunyi: lawakan yang merendahkan kaum Hawa hanya akan menormalisasi budaya kekerasan terhadap wanita. Media itu mengutip cuitan warganet yang mengkritisi ujaran Mahfud.

Bukan hanya di Asia, beberapa media di Eropa juga turut memberitakan hal yang sama. Salah satunya, surat kabar asal Turki bernama Sputniknews yang mengutip ucapan Mahfud beserta respons para wanita yang tak terima. Selain itu, Gundem 724 juga memuat berita serupa.

Pemberitaan yang tersiar di banyak negara itu mendapat perhatian dari akademisi Tanah Air yang mengajar di Australia, Ariel Heryanto. Ia mengatakan, berkat peristiwa tersebut akhirnya ada politikus Indonesia yang tenar di manca negara.

“Wah, politikus Tanah Air mendadak tenar di mancanegara nih, gara-gara membandingkan virus corona sama istri sendiri,” tulisnya melalui akun Twitter pribadi.

Sekadar diketahui, sebelumnya, dalam acara halal bihalal yang digelar secara virtual oleh keluarga besar Universitas Sebelas Maret, Mahfud menganalogikan istri dengan virus berbahaya tersebut.

Menurutnya, corona dan istri menyimpan satu persamaan yang tak disadari banyak orang, yakni sama-sama sulit ditaklukkan. Namun akhirnya, kata dia, kita bakal menyadari, menaklukan keduanya harus dilakukan dengan cara berdamai.

“Corona itu seperti istrimu, ketika engkau mau mengawini, kamu pikir kamu bisa menaklukan dia. Tapi sesudah ia menjadi istrimu, kamu ternyata tak bisa menaklukannya. Sesudah itu apa? Then you learn to leave with it. Kemudian kalian berdamai dengannya,” kata dia. (*)

Berita9.com - Kasus positif COVID-19 di Nusa Tenggara Barat bertambah 25 orang, bahkan salah satu diantaranya balita berumur sembilan bulan meninggal dunia berdasakan laporan Tim Gugus Tugas COVID-19 NTB, Rabu (27/5).

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas COVID-19 Provinsi NTB HL Gita Ariadidi Mataram, Rabu mengatakan 25 orang positif baru COVID-19 ini, diperoleh setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 186 sampel di Laboratorium PCR dan TCM RSUD Provinsi NTB serta Laboratorium TCM RSUD Kota Mataram. Hasilnya, 156 sampel negatif, lima sampel positif ulangan, dan 25 sampel kasus baru positif COVID-19.

"Satu di antaranya meninggal dunia, yakni pasien Nomor 554, inisial FH, laki-laki berusia 9 bulan, warga Kelurahan Bertais, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram," ujarnya.

Sekda NTB ini menjelaskan meski dinyatakan positif COVID-19, namun dari hasil penelusuran pasien diketahui tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit COVID-19, bahkan riwayat kontak dengan orang sakit COVID-19 pun juga tidak ada.

"Pasien 554 meninggal Selasa (26/5) malam, akibat pneumonia dan sesuai SOP, setiap bayi dan balita yg memiliki indikasi pneumonia berat/ringan harus di-swab dan kebetulan hasilnya positif," ujar Gita.

Selain satu orang meninggal dunia, penambahan kasus positif COVID-19 di NTB ini didominasi dari Kota Mataram 15 orang, Lombok Barat enam orang, Lombok Tengah dua orang, Lombok Timur satu orang dan Kota Bima juga satu orang sehingga jumlahnya menjadi 25 orang.

"Hari ini terdapat penambahan satu orang yang sembuh dari COVID-19 setelah pemeriksaan laboratorium swab dua kali dan keduanya negatif. Pasien Nomor 450 inisial MRDAH, laki-laki usia 1 bulan, warga Desa Mekarsari, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat," katanya.

Menurut Sekda, dengan adanya tambahan 25 kasus baru terkonfirmasi positif, satu tambahan sembuh baru, dan satu kasus kematian baru, maka jumlah pasien positif COVID-19 di NTB sebanyak 562 orang, dengan perincian 273 orang sudah sembuh, 10 meninggal dunia, serta 279 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

"Untuk mencegah penularan dan deteksi dini penularan COVID-19, petugas kesehatan tetap melakukan contacttracing terhadap semua orang yang pernah kontak dengan yang terkonfirmasi positif," katanya.

Sementara itu, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 1.122 orang dengan perincian 476 orang (42 persen)PDP masih dalam pengawasan, 646 orang (58 persen) PDP selesai pengawasan/sembuh, dan 16 orang PDP meninggal. Untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 5.513 orang, terdiri dari 187 orang (3 persen) masih dalam pemantauan dan 5.326 orang (97 persen) selesai pemantauan.

Jumlah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang kontak dengan pasien positif COVID-19, namun tanpa gejala, sebanyak 5.534 orang, terdiri dari 1.878 orang (34 persen) masih dalam pemantauan dan 3.656 orang (66 persen) selesai pemantauan, sedangkan pelaku perjalanan tanpa gejala (PPTG), yaitu orang yang pernah melakukan perjalanan dari daerah terjangkit COVID-19, sebanyak 59.770 orang, yang masih menjalani karantina sebanyak 3.993 orang (7 persen), dan yang selesai menjalani masa karantina 14 hari sebanyak 55.777 orang (93 persen). (*)

Berita9.com - Pedangdut Via Vallen mengungkap kalau adiknya positif terpapar virus corona atau COVID-19. Dia bilang sang adik memang cukup sering keluar rumah.

Biasanya, adiknya itu pergi ke salah satu mal di Surabaya buat antar jemput kekasihnya yang bekerja di sana. Sedangkan rumah Via Vallen sendiri berada di daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

"Fyi aktifitas adekku hampir setiap hari ke Surabaya anter jemput pacarnya kerja di Mall," terang Via Vallen di Instagram pada Ahad (24/5/2020) malam.

Dia menjelaskan kalau sang adik tampak sehat. Hanya saja ketika check up secara keseluruhan, adiknya itu didiagnosa mengidap pneumonia.

Karena khawatir, Via Vallen pun menyarankan sang adik buat jalani rapid test yang saat itu hasilnya menunjukkan negatif. Masih tidak percaya, pelantun Sayang ini memaksa adiknya buat swab test.

Dari sinilah diketahui bahwa sang adik sudah positif terkena virus corona tanpa disadari. Bahkan Via Vallen bilang kalau rumahnya sampai didatangi satpol PP hingga polisi mengingat adiknya itu masih sering bolak-balik ke rumah baru dan lamanya.

"Karena adekku masih bolak-balik rumah lama ke baruu, akhirnya ada yang lapor ke puskesmas dan akhirnya jadi rame nyamperin ke rumah, ada mobil puskesmas, satpol pp dan mobil polisinya juga. Akhirnya aku keluar buat ngadepin mereka dan memastikan kalau adekku nggak akan keluar-keluar rumah lagi," tutur Via Vallen.

Unggahan Via Vallen ini langsung mengundang reaksi para netizen. Mereka mengkritik aksi adik Via Vallen yang malah keluyuran di tengah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan dimana-mana.

"Aduh kak lagian kenapa waktu pandemi gini mesti antar jemput pacar seh," kata @mbak_heny313 di kolom komentar.

"Kenapa mesti anter jemput pacar? Waktu gini semua orang maklum lagi. Kedua, kenapa kagak mau test swapp untuk kedua kalinya? Lebih bagus buang uang, untuk pastiin. Get well soon. Sabar punya adek kaya begini wkwkwkw," timpal @janssen135. (*)

Berita9.com - Pandemi Covid-19 membuat banyak orang tak bisa pulang ke kampung halaman, sehingga merasakan Lebaran di tanah rantau menjadi pilihan. Terutama anak-anak rantau yang tengah menimba ilmu di Jogja.

Keadaan seperti itulah yang membuat Arie Prasetyowati, 40, tergerak hati untuk turut membantu. Setidaknya, anak-anak rantau tersebut bisa merasakan suasana lebaran seperti masyarakat Jogja lainnya.

"Saya ingin adik-adik mahasiswa yang tertahan di Jogja dan harus berlebaran disini juga merasakan masakan lebaran seperti dirumah mereka masing-masing," kata Arie, Ahad (24/5/2020).

Aksi sosial tersebut juga bertujuan untuk menjalin tali silaturahmi antara para perantau dan warga Jogja. Wanita yang berasal dari Kelurahan Pakuncen, Wirobrajan ini, ingin dimomen Ramadan bisa saling berbagi walau tidak banyak. Untuk pembagiannya sendiri, Arie dibantu dengan kerabat dekatnya seperti anak-anak dan sahabatnya.

"Ini sebagai wujud sharing and caring kepada teman-teman yang enggak bisa mudik," paparnya.

Saat disinggung alasan membagikan opor ayam, Arie mengungkapkan makanan tersebut sangat identik dengan suasana Lebaran. Dimana, banyak masyarakat yang merayakan lebaran dengan opor ayam. Seharian penuh ini, Arie telah mengantarkan opor ayam tidak kurang dari 100 paket lengkap.

"Sasarannya anak-anak yang masih menetap diasrama mahasiswa daerah," ujarnya.

Awal mula aksi berbagi ini ternyata timbul dari kisah sang anak yang memiliki teman di sekolah, akibat pandemi tidak bisa pulang ke kampung halaman. Sehingga, selama puasa ini, sang anak bernama Dinda selalu berbagi dengan temannya itu. "Jadi kenapa tidak saya berbagi seperti anak saya, makanya saya ajak dia buat kegiatan sosial ini," paparnya.

Salah satu mahasiswa asal Sulawesi Tenggara, Sandika, 22, mengapresiasi langkah Arie beserta kerabatnya yang telah berinisiatif membagikan makanan Lebaran ini. Menurut dia, dengan adanya sajian seperti ini, dirinya merasa bahwa masyarakat Jogja memiliki perhatian lebih terhadap anak-anak perantau seperti dirinya dan rekan-rekan lainnya.

"Dengan makanan ini kami juga bisa merasakan makanan lebaran walaupun jauh dari keluarga," pungkasnya.

Sejak pagi usai Salat Id, Arie mulai membagikan makanan khas lebaran di asrama-asrama mahasiswa diantaranya asrama mahasiswa Riau, Sulawesi Tengah, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Tengah putra dan putri. (*)

Berita9.com - Warga Kampung Manggis, Jambi, M. Nuh, menjadi selebritis baru. Saat menghadiri shalat Idul Fitri di kampungnya, dia disambut tetabuhan rebana dan dielu-elukan warga.

Usai shalat Idul Fitri tak sedikit warga yang meminta kesempatan berfoto dengannya. Video dan foto yang memperlihatkan M. Nuh disambut bagaikan selebritis dari ibukota beredar di jejaring media sosial.

M. Nuh sempat diumumkan sebagai pemenang lelang motor Gesits milik Presiden Joko Widodo dalam Konser Amal “Berbagi Kasih Bersama Bimbo”  pekan lalu (Ahad, 17/5).

Tidak tanggung-tanggung, ketika itu M. Nuh disebutkan bersedia membeli motor listrik milik Jokowi itu senilai Rp 2,55 miliar.  

Ia mengalahkan tiga penawar lain, yang ketiganya bukan tokoh ecek-ecek. Pertama, pengusaha Manado, Gabriele Mowengkang, yang mengajukan penawaran Rp 2,5 miliar. Lalu politisi PDIP Maruarar Sirait yang rela merogoh kocek Rp 2,2 miliar untuk motor Jokowi itu.

Terakhir, putra pengusaha Hary Tanoesoedibjo, Warren Tanoesoedibjo yang berhenti di angka Rp 1,550 miliar. Belakangan, M. Nuh mengaku tidak tahu bahwa yang sedang diikutinya itu adalah lelang. Dia kira, tadinya dia ikut kuis dan berhasil memenangkan hadiah sebesar Rp 2,55 miliar. (*)

BERITA9.COM - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menilai operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang menyeret Rektor UNJ (Universitas Negeri Jakarta) Komarudin sangat tidak profesional dan memalukan.

Sebab, Koordinator MAKI Boyamin Saiman mengatakan uang yang dicokok hanya Tunjangan Hari Raya atau THR senilai Rp 43 juta. "Dan lebih parah lagi kemudian penanganannya diserahkan kepada polisi dengan alasan tidak ada penyelenggara negaranya," kata dia melalui keterangan tertulis, 22 Mei 2020.

Boyamin mengatakan, alasan pelimpahan KPK kepada polisi sangat janggal, karena apapun jabatan tinggi di kementerian pendidikan, mestinya KPK tetap lanjut tangani sendiri.

Rektor, kata Boyamin, adalah penyelenggara negara. Ia memiliki kewajiban melaporkan hartanya ke LHKPN. "Kalau KPK menyatakan tidak ada penyelenggara negara maka berarti telah ada teori baru made in KPK," ucap dia.

Boyamin pun mempertanyakan, jika KPK menyebut tak ada unsur penyelenggara negara, maka akan dengan pasal apa polisi mengusut kasus ini.

"Apa dengan pasal pungutan liar? Ini yang akan menyulitkan polisi menerima limpahan dari KPK. Dengan melimpahkan begitu saja ke Polri itu namanya lempar masalah ke aparat penegak hukum lainnya," kata Boyamin.

Lebih lanjut, Boyamin melihat, untuk OTT kali ini tergambar tidak siapnya perencanaan dan pendalaman atas informasi dugaan kasus sebelumnya. Padahal KPK biasanya sangat detail mempelajari segala aduan atau informasi dari masyarakat terkait adanya tindak korupsi atau suap.

Boyamin bahkan menyebut OTT KPK yang juga menyeret pejabat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya sekedar mencari sensasi sekedar untuk dianggap sudah bekerja. "Kami akan segera membuat pengaduan kepada Dewan Pengawas KPK atas amburadulnya OTT ini," kata Boyamin. (*)

Berita9.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengaku tidak ada rasa dendam kepada pelaku penyiraman air keras yang membuat matanya cacat.

Dia justru kasihan kepada sang pelaku karena tidak bisa hidup tenang karena menanggung keburukan baik di dunia maupun akhirat akibat buah kejahatannya.

Pernyataan tersebut disampaikan Novel Baswedan saat Bincang Ramadan virtual dengan KH Abdullah Gymnastiar atau akrab disapa Aa Gym, Jumat (22/5).

"Waktu saya berobat ke Singapura, bertemu seorang anak muda di pintu masjid. Kemudian dia memeluk saya dan bilang, dia tidak kasihan kepada saya. Yang dia kasihan adalah pelakunya karena akan menanggung sesuatu yang besar nantinya. Yang terjadi pada Pak Novel adalah takdir dan itu pasti baik," tutur Novel.

Meski harus kehilangan penglihatan, Novel yakin, segala sesuatu yang terjadi padanya bukan karena orang itu menyerang dia tetapi karena takdir Allah.

Dan, kejahatan yang dilakukan orang tersebut akan “membunuh” dirinya sendiri. Hal tersebut dibenarkan Aa Gym. Kejadian yang menimpa Novel bisa menambah iman penyidik senior itu.

Sedangkan pelakunya pasti tidak akan tenang. Dia akan menderita luar biasa di dunia. Meninggalnya tidak husnulkhatimah. Di akhirat juga mendapat ganjaran setimpal.

"Sesuai firman Allah, jika kamu berbuat baik itu untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat buruk, keburukan itu untuk orang yang melakukannya. Jadi memang tidak pernah tertukar. Orang-orang cuma jadi jalan saja. Justru kita harus kasihan kepada orang-orang yang jadi jalan itu karena dia akan memikul dunia akhirat," tandas Aa Gym.

Novel juga menjawab pertanyaan Aa gym, bagaimana korupsi harus diberantas melalui 3 tahapan yaitu penindakan, pencegahan dan pendidikan. Dan yang terpenting menurutnya adalah faktor pendidikan karena menyangkut karakter mental manusia agar jujur dan berahlak yang baik sebagai modal utama pemberantasan korupsi.

"Orang kalau jujur ahlaknya akan baik, maka proses penegakan hukum berjalan baik, dan proses hukum dijalankan penegak hukum yang baik" ungkap Novel.

Novel tetap optimis adanya proses penegakan hukum akan berjalan lebih baik kedepannya dengan adanya pendidikan ahlak, tentunya dengan adanya syariat hukuman yang berat sehingga menjadi efek jera orang menjadi takut untuk korupsi.

Aa gym merasa ikut malu sebagai ulama belum maksimal menyadarkan bangsa yang mayoritas muslim tapi ahlaknya kalah dalam hal kejujuran, seperti yang dicontohkan Novel pendidikan kejujuran paling diutamakan negara dengan tingkat korupsi rendah di Firlandia.

"Orang tua di Firlandia akan khawatir kalau anaknya tidak bisa jujur dan karakter disiplin tidak tumbuh daripada sekedar mengejar prestasi akademik" papar Novel. (*)

Berita9.com - Politikus senior Amien Rais blak-blakan menceritakan soal proses reformasi pada Mei 1998 silam.

Untuk diketahui, Amien Rais adalah satu dari sejumlah elite yang berbalik arah dari mendukung rezim Orde Baru menjadi lawannya.

Pembalikan arah politiknya itu terjadi setelah gerakan mahasiswa dan rakyat penentang Soeharto semakin membesar dan mendapat simpati banyak pihak.

Amin mengklaim. dirinya dan keluarga sempat mendapat teror dan ancaman selama menyuarakan Reformasi.

Saat-saat menjelang Reformasi itu, Amien Rais mengaku pernah mendapat telepon gelap yang mengancamnya. Mulanya, Amien menantang balik penelepon misterius tersebut.

"Hei, kamu siapa? ke sini saja kalau mau ngomong-ngomong," kata Amien menceritakan di YouTube Refly Harun yang diunggah pada Kamis (21/5/2020).

Namun, nyali Amin Rais goyah ketika penelepon itu mengancam keluarganya.

"Waktu itu saya agak grogi ketika mereka mengatakan 'Hei Amien Rais, saya tahu loh jadwal anak-anakmu sekolah di mana, kapan, nanti kita siram air raksa biar buta dan lain-lain.' Tapi saya berdoa Ya Allah mudah-mudahan enggak," kisah Amien Rais.

Selain itu, Amien melanjutkan, istrinya juga sempat mendapat kabar bohong soal keselamatan Amien Rais.

"Istri saya jam 8 pagi ditelepon bilang 'Pak Amien Rais kecelakaan di Jalan Magelang, meninggal dunia' terus istri saya balas 'Mas, Mas Amien baru saja berangkat ke kampus," kata mantan Ketua MPR ini sambil menertawakan kisah itu.

Rentetan ancaman itu diakui Amien terjadi sekitar setahun sebelum Soeharto lengser dari kursi kepresidenan.

Mengenang ancaman yang sempat menyerang dirinya dan keluarganya, Amien Rais sampai heran dengan dirinya sendiri di masa menjelang Reformasi itu.

"Saya juga kadang-kadang juga mikir mengapa saya kok dulu begitu berani. Saya tidak tahu juga," kata Amien yang kemudian menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang berhadapan dengan birokrasi yang kuat.

"Yang kita hadapi kan sebuah mesin birokrasi, mesin militer, mesin politik yang kokoh. Tidak terbayangkan bisa turun secara konstitusional. Tapi itu meyakinkan saya bahwa rakyat itu memang pemilik kedaulatan sejati," kta Amien Rais.

Berjalannya reformasi membuat dirinya menyayangkan sikap mental pemimpin bangsa yang tidak berdaulat dalam ekonomi dan politik.

Dalam pesan penuntup kepada Refly, Ia mengingatkan bahwa bangsa ini punya keturunan mental macan seperti Dipenogoro, Cuk Nyak Dien, Patimura berani melawan penjajahan.

"saya sayangkan kenapa mental bangsa kita tidak percaya diri terhadap bangsa sendiri dan lebih takjub kepada yang serba asing menjadi mental kelinci" tutupnya. (*)

 

Berita9.com - Deddy Corbuzier mempertanyakan Kemenkum HAM yang tidak memberikan program asimilasi kepada mantan menteri kesehatan Siti Fadilah Supari, yang kini masih mendekam di penjara.

Bapak satu anak ini lantas menyandingkan kasus bebasnya Habib Bahar Smith yang hanya sehari menghirup udara bebas, malah ditangkap kembali, karena dinilai melanggar PSBB.

Deddy menyerukan agar Siti Fadilah segera dibebaskan untuk memberikan masukan terbaik soal penanganan Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia.

“Habib Bahar dibebaskan, ditangkap lagi, ya sudah enggak masalah. Ibu Siti Fadilah Kapan pak diasimilasi,” cuit Deddy di akun Twitter miliknya, Selasa (19/5).

Pembawa acara Hitam Putih ini menyebut Siti Fadilah sudah berumur yang masuk dalam usia rentan terserang Covid-19, sesuai misi asimilasi yang digaungkan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, untuk mencegah penyebaran virus tersebut.

Bahkan, Deddy juga bersedia gotong royong membayar dugaan korupsi senilai Rp6 miliar yang disangkakan kepada Siti Fadilah.

“Sudah tua loh, pahlawan pula. Korupsi 6 M? Gotong royong deh kita balikin uang nya,” sebutnya.

Sebelumnya, Siti Fadilah ditangkap di tengah kritikan pedasnya terhadap WHO soal vaksin flu burung beberpa tahun lalu, seiring kasus korupsi yang kemudian menyeretnya.

Dari balik jeruji besi, Siti Fadillah mengirimkan surat agar pemerintah Indonesia jangan mau tunduk dengan usulan Bill Gates dan WHO soal vaksin Covid-16. (*)

Berita9.com - Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salin menjadi sorotan setelah aksinya mengkritik menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) viral di media sosial.

Sehan Salin kala itu mengeluhkan berbelitnya pencairan bantuan langsung tunai (BLT) bagi warganya yang terdampak Virus Corona. 

Mengaku enggan melihat warganya menangis kelaparan, Sehan Salim akhirnya mengambil keputusan segera menyalurkan bantuan tersebut.

Melalui tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (12/5/2020), Sehan Salim bahkan mengaku tak peduli jika akan diberikan hukuman kerena sikap kritisnya itu.

Yang terpenting bagi Sehan Salim, semua warganya tak menangis kelaparan.

Pada kesempatan itu, mulanya Sehan Salim mengungkap kejadian yang membuatnya melampiaskan kritikan terhadap menteri-menteri Jokowi.

Ia bahkan menyebut menteri Jokowi bodoh karena tak melakukan penyaluran bansos secara tepat.

"Hari kedua Ramadan, hari Sabtu tepatnya, saya kaget di satu desa terjadi keributan, sampai kapolres datang ke sana," kata Sehan Salim.

"Tiga jam untuk penyaluran itu tertahan, saya kasih tahu Ada apa di sana?"

Sehan menambahkan, warganya kala itu mengamuk karena terlalu lama menunggu bansos.

Melihat nasib warganya, Sehan lantas menegur petugas terkait.

"Ternyata yang calon penerima PKH dan BLT itu ribut mencak-mencak enggak mau nunggu, mereka lapar, mereka minta biar cuma 5 kilo dari Pemda sekarang," kata Sehan.

"Itu persoalannya, makanya saya mengamuk itu setelah saya tanya ke dinas terkait, kepada aparat, hanya karena ada edaran."

"Ini mohon maaf Pak Karni, saya perlihatkan ini edarannya," sambungnya sambil memerlihatkan secarik kertas.

Lebih lanjut, surat edaran itu yang disebutnya menghambat penyaluran bansos.

Hal itu pula yang membuatnya tersulut emosi hingga memaki menteri Jokowi.

Meskipun berisiko mendapat sanksi atas sikapnya, Sehan mengaku tak peduli.

"Ini yang membuat terhambat, yang menyumbat saya, maka saya melakukan diskresi, saya mencak," kata Sehan.

"Jangankan saya dihukum di dunia, Allah pun yang akan menghukum saya, hari ini berikan rakyat saya, saya tidak mau tahu."

Ia mengaku tak mau melihat warganya menangis kelaparan, terutama saat menjalani ibadah puasa.

"Saya mau rakyat saya jangan menangis, sudah puasa kedua Ramadan," tutur Sehan.

"Jadi calon penerima BLT dan PKH itu mencak-mencak, makanya saya perintahkan untuk serahkan semua," tandasnya.

Di sisi lain, sebelumnya perseteruan antara Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salim dan Bupati Lumajang, Thoriqul Haq kini tengah menjadi perhatian publik.

Thoriqul Haq mengaku kecewa dengan pernyataan Sehan Salim soal kritikannya pada menteri terkait penyaluran Bantuan sosial (Bansos)

Dilansir dari channel YouTube tvOneNews pada Ahad (10/5/2020), Sehan Salim mengaku marah-marah pada menteri karena ada alasan yang jelas.

"Saya mencak-mencak itu ada dua hal, pertama kayaknya saya tidak boleh memberikan stimulan beras ke rakyat saya yang mendapat BLT (Bantuan Langsung Tunai)."

"Tapi BLTnya belum datang," ujar Sehan.

Lalu, Sehan menyindir Thoriq bahwa dirinya memberi bantuan lebih banyak dari pada Pemerintah Daerah (Pemda) Lumajang berikan.

Ia mengaku memberi 15 kilogram beras jauh lebih banyak dari Pemda Lumajang.

"Perlu diingat Bupati Lumajang Anda cuman kasih 5 kilogram, saya minimal 15 kilogram dan beras premium."

"Saya beras premium Bupati Lumajang, saya tidak potong sama PNS," ungkap Sehan.

Ia menegaskan bahwa untuk memberikan bantuan tersebut, Pemda Boltim tidak perlu sampai memtong gaji PNS.

"Karena PNS itu milik keluarganya, makanya saya tidak potong kalau Anda cuma kasih saja 5 kilogrsm saja sudah rasa gede, kalau saya tidak."

"Bahkan Ibu-ibu yang dikasih beras 5 kilogram sama Supermi kalau saya itu 2 juta," tegasnya.

Selain beras, Sehan mengaku juga membetikan ratusan ton kebutuhan dasar lainnya. "Satunya cuma sedikit 23 ton, saya 900 ton beras premium."

"Saya siapin gula pasir itu 100 ton, minyak 100 ton, 209 ribu ikan kaleng," serunya.

Lalu, Sehan menyindir pernyataan Thoriq yang meminta agar semua Bupati fokus bekerja. Sedangkan, ia menegaskan sudah bekerja sejak April 2020.

"Haaah Anda juga kasih sedikit sudah 'Kerja, kerja, kerja', kerja apa." 

"Saya sudah sejak 4 April sudah mulai, Anda baru mulai sekarang," ungkapnya. (*)

 

 

Page 1 of 43
Go to top