Kuliner

Kuliner (43)

Berita9.com - Yogyakarta kota yang tak pernah habis nikmat kuliner dan indahnya tempat untuk liburan berwisata. Satu di antara kuliner murah yang kini makin digandrungi wisatawan di Yogyakarta adalah Bakso Tumpeng.

Bakso yang awalnya berlokasi di Lesehan Mbanyumili, Singosaren, Wukirsari, Imogiri, Bantul kini hadir lebih dekat dengan pusat kota Yogyakarta tepatnya belakang Gembiraloka Sebelah Butik Lina Zaenal Syar'i di Jalan Kebon Raya No.8 Rejowinangun, Kotagede.

Kuliner bakso memang sudah menjadi kegemaran masyarakat Indonesia, namun apa jadinya jika bakso berbentuk tumpeng tanpa pengawet dengan rasa yang nikmat bercampur urat berisi daging sapi, hati sapi serta ada telur ayam ataupun telur puyuh didalam bakso jagatnya, ditambah lagi bakso tumpeng ditaburi bakso bakarnya yang renyah gurih nikmatnya bikin ketagihan.

Bakso milik Eko Supriyanto ini sudah ramai diburu wisatawan lantaran menawarkan bakso dengan bentuk berbeda dan unik tentunya dengan kualitas rasa yang mantap.

Selain berbentuk tumpeng, bakso ini rupanya juga menambahkan isian khusus pada menu bakso untuk menjadi pembeda.

"Untuk bakso ukuran M itu berisi telur ayam rebus 1 buah kalau yang L itu berisi 2 telur ayam, klo yang bakso jagat isinya urat ati sapi telur puyuh mas" katanya. (12/5).

Harganya pun cukup terjangkau mulai dari Rp 18.000 untuk ukuran S, Rp 23.000 untuk ukuran M dan Rp 29.000 untuk ukuran L.

Bakso yang berjualan dari sore hingga malam ini dapat menjual hingga lebih dari 200 mangkuk bakso tiap harinya dan warungnya yang di Imogiri selalu penuh oleh wisatawan dari berbagai daerah, tapi kini telah hadir cabangnya lebih dekat dari pusat kota Yogyakarta di Kotagede.

Bulan Ramadhan tentunya menjadi pilihan yang menarik bersama keluarga atau orang tersayang untuk menikmatinya berbuka puasa atau makan malam. (*)

Berita9.com - Di Kotagede ada satu jajanan pasar unik yang barangkali masih asing bagi kebanyakan orang, namanya adalah Kipo.

Kipo terbuat dari adonan tepung ketan yang dibentuk bulatan pipih dan diberi isi enten-enten (parutan kelapa yang dimasak dengan gula jawa).

Cara memasak Kipo agak lain dengan umumnya kue tradisional Jawa, yakni dengan cara dipanggang.

Awal mula disebut Kipo adalah kue yang datang dari masa lalu ini ditanyakan oleh banyak orang dengan 'Iki opo'.

Pertanyaan yang kerap muncul tersebut akhirnya menjadikan lebel kue unik ini dan bisa diterima oleh masyarakat Jogja.

Memiliki bentuk lonjong, tekstur kenyal, dan juga warnanya yang kehijauan serta isiannya yang terdiri dari parutan kelapa dan gula jawa cair.

Bahan utama dari kue ini adalah tepung beras yang juga dicampur oleh tepung ketan. Adonannya kemudian dicampur dengan parutan kelapa, daun suji, dan pewarna hijau alami serta daun pandan. Tujuannya untuk menimbulkan aroma harum khas makanan unik ini.

Adonannya kemudian dicetak pada piring tanah liat lalu dipanggang dengan alas daun pisang. Setelah hampir masak, adonan parutan kelapa dimasukan bersama dengan gula jawa dan dilipat menjadi dua lalu dipanggang lagi hingga matang.

Kipo yang terkenal adalah Kipo Bu Djito Kotagede, karena beliaulah yang pertama kali mengenalkan Kipo kepada masyarakat tahun 1946 dan sekarang usaha tersebut diteruskan oleh anaknya. (*)

Berita9.com - FESTIVAL ingkung ayam kampung dan mides di Pantai Parangkusumo Parangtritis, Kretek, Bantul menjadi program paling efektif mendukung sektor wisata di Bantul. Dari kegiatan itu, banyak usaha kuliner menu ingkung dan mides di Bantul makin maju. Sejauh ini, dua menu tersebut menjadi ikon terbaru yang mampu mengangkat daerah masing-masing. 

Kepala Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo didampingi Kepala Bidang Pemasaran, Ni Nyoman Yudiriani mengatakan, festival dua menu unggulan Bantul tersebut sebagai upaya Dinas Peristiwa Bantul mendongkrak agar lebih dikenal khalayak. Harapannya , kedepannya tidak sekedar menjadi menu untuk dikonsumsi. Tetapi bagaimana agar pusat mides di Srihardono Pundong dan Gowosari, Pajangan jadi komoditas wisata.

"Sekarang ini muncul fenomena pusat kuliner menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi masyarakat," ujarnya.    

Kegiatan itu cukup mudah  dalam mempopulerkan menu kuliner khas Bantul.  "Dinas Pariwisata mencoba mensinergikan sektor pariwisata dan pelaku usaha. Bantul memiliki potensi kuliner sangat menjanjikan yang sangat khas sebagai produk Bantul yakni ingkung ayam kampung dan mides," ujar  Kwintarto Heru Prabowo, di sela kegiatan festival ingkung dan mides di Pantai Parangkusumo, (7/4).

Dijelaskan ingkung ayam kampung merupakan menu olahan tradisional khas Kabupaten Bantul yang awalnya dirintis di daerah Desa Gowasari, Kecamatan Pajangan. Sedangkan mides menu Srihardono Pundong Bantul. Ingkung dan mides menjadi satu potensi kuliner yang bakal dipromosikan untuk menjadi daya tarik wisatawan. Memang sudah banyak diproduksi, tetapi induknya, yang ingkung dan mides bisa dibranding sebagai kuliner asli dari Kabupaten Bantul.   

Anggota Komisi B DPRD Bantul, Suradal mengatakan, baik ingkung dan mides layak menjadi menu khas Bantul. Bahkan keduanya bisa dijadikan komoditas wisata khas Bantul. Politisi PKB ini tetap berusaha mendorong pemerintah Bantul  punya komitmen dalam memajukan sektor wisata dan kuliner. (*)

Berita9.com - Tidak sulit menjumpai aneka kuliner khas Bali di kota Yogyakarta. Sebab, sejumlah penduduk Pulau Dewata yang merantau ke Kota Pelajar telah membuka warung-warung asli masakan Bali di sana. Mau sate lilit? Jelas, ada!

Semisal di warung makan Maprada milik Putu Eldwin. Warung makan di kompleks Taman Kuliner R26 Condong Catur, Yogyakarta, itu menjajakan beragam menu original Bali, termasuk sate lilit.

Tempat ini beserta sajiannya, bisa menjadi salah satu alternatif penuntas rindu bagi para penyuka kuliner Pulau Seribu Pura.

“Bagi yang rindu masakan Bali, kami punya menu utama sate lilit,” kata Eldwin yang dihubungi, 11 April 2018.

Sate lilit acap menjadi menu pertama yang diingat para pelancong lepas pulang dari Pulau Dewata.

Sebab, kuliner yang tergolong makanan rakyat itu bisa dijumpai di setiap sudut di Bali.

Sate lilit berbeda dengan sate-sate lain, yang sarat akan potongan dan tusukan daging. Sate lilit lebih mirip daging giling yang dikepal-kepal, dicampur parutan kelapa, lalu ditempelkan di ruas-ruas bambu.

Rasanya pun berlainan. Bila sate lain, seperti sate Ponorogo dan Madura, mengedepankan dominasi rasa manis, sate lilit justru menawarkan citarasa yang gurih dan pedas.

Sate lilit yang diracik oleh Eldwin dimasak dengan resep original. Ia menggunakan bumbu-bumbu dasar Bali yang disebut genep. Racikan itu mengkombinasikan beragam bumbu dapur, seperti bawang merah, bawang putih, cabe, sereh, kemiri, ketumbar, merica, jahe, kencur, kunir laos, dan lain-lain.

Meski mempertahankan bumbu asli, Eldwin menyesuaikan racikannya dengan lidah warga Yogyakarta.

“Saya sempat melakukan eksperimen, meminta beberapa teman di Yogyakarta untuk mencobanya sebelum sate lilit dipasarkan,” ujar Eldwin.

Ternyata, kecenderungan warga setempat yang lebih terbiasa menyantap masakan manis, membuat Eldwin kudu menformulasi ulang resepnya. 

“Saya tambahi gula pasir dan gula merah supaya bisa diterima oleh lidah orang Jogja yang mayoritas suka manis,” ucapnya.

Adapun daging yang dipakai untuk menu sate lilit ialah daging ikan tuna dan ayam. Pengunjung bisa memilih sesuai dengan seleranya.

Supaya lebih sah menyajikan menu original Bali, Eldwin menyandingkan sate lilit dengan menu pelengkap lain, seperti plecing kangkung dan sambel matah.

Sekilas rasanya bila dicoba tiada beda sate lilit yang disajikannya dengan sate yang dijajakan di pasar-pasar tradisional Bali. Hanya, peranti bambu yang ia gunakan untuk menopang daging bentuknya tak pipih seperti di daerah asalnya.

“Karena sulit menemukan bambu seperti itu di Jogja,” katanya.

Rasanya pun beda tipis dengan racikan aslinya. Bahkan, sate lilit racikan Eldwin lebih royal bumbu dengan modifikasi rasa yang cukup kaya. Ini berhubungan dengan cara pembakarannya yang dicampur dengan minyak sereh. 

Setusuk sate lilit olahan Eldwin dijajakan seharga Rp 2.500. Menu lain, seperti nasi campur, dibanderol mulai Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

Selain membuka warung di Pusat Kuliner Condong Catur, ia membuka cabang di Jalan Kaliurang KM 13,5, Besi, Sleman. Warung tersebut buka setiap Senin sampai Sabtu mulai pukul 12.00. “Cocok untuk makan siang,” katanya.

(**/TM)

Berita9.com - Kekayaan kuliner Indonesia dapat dilihat dari keragaman minuman tradisionalnya. Jika tak dilestarikan dan dikonsumsi, keberadaannya bisa terancam. Salah satu yang berpotensi punah lantaran mulai sedikit dikonsumsi generasi muda ialah wedang uwuh.

Wedang atau seduhan air panas telah turun temurun dinikmati sejak zaman kerajaan di pulau Jawa. Selain wedang kopi, wedang jahe, dan wedang teh, ada satu lagi wedang yang menjadi suguhan khas bagi raja-raja Jawa, yakni wedang uwuh.

Wedang uwuh terbuat dari seduhan campuran berbagai macam rempah-rempah, mulai jahe, cengkeh, kapulaga, kayu manis, pala, sereh, dan serat kayu secang. “Wedang ini disebut uwuh karena penampakannya seperti sampah (uwuh, dalam bahasa Jawa),” ujar praktisi kuliner nusantara Bambang Nurianto saat jumpa pers di Surabaya, 26 Maret 2018.

Raja-raja Jawa meracik minuman untuk disuguhkan dan diminum dalam jamuan bersama petinggi kolonial Belanda. Lantaran beragama Islam, mereka tak bisa ikut minum wine. “Tapi agar tidak kehilangan muka, mereka tetap ikut bersulang tapi meminum wedang uwuh yang diberi nama anggur Jawa,” tutur dia.

Untuk menyiasati wujud anggur Jawa agar mirip minuman beralkohol, berbagai rempah-rempah direbus bersama jahe yang sudah dikupas dulu dan batang sereh yang dikeprek. Tujuannya agar aromanya menyeruak dan airnya berwarna merah keunguan seperti red wine sungguhan.

Bambang menuturkan, selain anggur Jawa, raja-raja zaman dahulu juga meminum bir. Sama dengan anggur Jawa, bir Jawa atau yang jamak disebut bir pletok itu sama sekali tak mengandung alkohol.

Jika wine Jawa atau wedang uwuh berwarna merah, bir Jawa berwarna kuning. Warna kuning bisa muncul setelah wine Jawa ditambahkan irisan jeruk nipis. Rasa dan warnanya langsung berubah menjadi kuning persis bir. “Inilah namanya bir pletok yang digunakan menjamu kolonial supaya raja kita tidak perlu malu ikut minum bir,” ujar Bambang tentang kuliner Indoneisa yang hampir punah itu.

(**/TM)

Berita9.com - Semangkuk bakmi Jawa godog hangat dengan isian komplet mudah ditemui di Yogyakarta. Beberapa penjual terbilang legendaris karena konsisten meracik bakmi Jawa selama puluhan tahun.

Mampir ke Yogyakarta rasanya tak lengkap bila tak mencicip bakmi Jawa. Keunikan bakmi ini terletak pada bumbu dan cara memasaknya.

Bumbunya terdiri dari kemiri, bawang merah, bawang putih, garam dan merica. Sementara kaldunya berupa rebusan ayam kampung dan telur bebek yang dikocok.

Sementara jenis mie yang digunakan umumnya mie kuning basah. Namun ada juga yang memakai bihun. Bakmi diberi pelengkap irisan daging ayam, kol, daun bawang, irisan tomat, dan kekian yaitu adonan bakso yang dipotong tipis dan dibuat dari tepung terigu.

Bakmi tradisional dimasak di atas anglo atau tungku tanah liat dengan api arang. Proses peracikan bumbu dan pemasakan umumnya dilakukan satu per satu berdasarkan pesanan.

Bakmi Jawa tersedia goreng, godog dan nyemek. Disajikan bersama acar mentimun, cabai rawit, dan kerupuk kanji.

Nah, kalau kamu sedang berada di Yogyakarta dan ingin mencicip bakmi Jawa legendaris, warung Mbah Mo bisa kamu sambangi.

Bakmi milik Mbah Mo ini dijuluki sebagai bakmi Jawa paling lezat di Yogyakarta. Meski bangunannya sederhana, namun warung ini tak pernah sepi pengunjung.
 
Bahkan, banyak pelanggannya yang datang dari luar kota hanya untuk mencicipi kelezatan bakmi buatan Mbah Mo. Dimasak menggunakan arang dengan proses memasak tradisional, membuat cita rasanya semakin khas.
 
Selain itu, kuah kental dari bakmi yang terbuat dari kombinasi kuah kaldu, berbagai bumbu, serta telur bebek membuatnya terasa asin dan gurih.
 
Meski berada di lokasi yang terpencil, yaitu di Desa Code, Bantul, namun hal ini tidak menyurutkan antusiasme orang-orang untuk merasakan kelezatan masakan di tempat ini.
 
(**/IST)

Berita9.com - Sebagai negara yang memiliki beragam budaya, Indonesia memiliki aneka macam jenis kuliner yang lezat. Mulai dari masakan rendang, sate, nasi kuning dan lainnya.

Tak jarang anak muda di Indonesia mulai melirik bisnis kuliner. Bahkan, kuliner di Indonesia memberikan kontribusi sebesar 41,69 persen dari total kontribusi perekonomian kreatif.

Kontribusi wirausaha kuliner yang memperkenalkan dan mempopulerkan hidangan nusantara.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI (BEKRAF RI) Triawan Munaf mengungkapkan, untuk melestarikan wisata kuliner nusantara maka perlu mengajak wirausaha kuliner nusantara dari seluruh wilayah Indonesia.

"Melalui berbagai program, saat ini BEKRAF RI memiliki misi yang kuat untuk menjaring wirausaha kuliner Nusantara di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini bertujuan agar produk inovasi, model bisnis, dan kreativitas mereka terus meningkat, sehingga memberikan kontribusi maksimal terhadap perekonomian kreatif di Indonesia," ujar Triawan Munaf, di Kuningan Jakarta, Selasa (6/1/2018).

Untuk melestarikan masakan Nusantara, anak muda yang bergerak dibidang kuliner ditantang untuk mengembangkan usaha kulinernya. Terutama untuk menu yang mengangkat masakan Nusantara.

Sepanjang Februari, pengusaha muda ini diberi kesempatan untuk mendaftarkan usaha dan hidangan terbaiknya di website www.pewariskuliner.com. Bagi mereka yang memiliki menu terbaik dan mendapatkan like di Facebook dan Instagram, berhak mengikuti workshop kuliner.

Di dalam sesi workshop, peserta akan mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang akan membantu dalam mengembangkan usaha, seperti pelatihan food safety, food handling,  dan menambah wawasan mengenai strategi bisnis kukiner oleh tim BEKRAF RI.

Managing Director Unilever Foods Solution, Thomas Agus Pamudji mengatakan, perusahaannya selalu konsisten mengedepankan misi sosial untuk melestarikan kekayaan warisan budaya kuliner.

"Bagi kami, salah satu poin terpenting dari terwujudnya misi ini adalah upaya nyata untuk melanjutkan pewarisannya kepada generasi penerus bangsa," ungkap Thomas.

Menurutnya, tanpa regenerasi yang kuat, kuliner Nusantara dapat hilang tergerus waktu dan era globalisasi.  Hal ini menjadi sebuah tantangan namun juga peluang bagi generasi muda, khususnya yang menekuni bidang wirausaha kuliner Nusantara.

(**/Vie)

Berita9.com - Sate merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Makanan berbahan daging yang dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi dan dibakar ini memiliki berbagai varian. Jika Anda ingin merasakan salah satu varian sate datanglah ke Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Nama sate asal Bantul tersebut adalah Sate Klatak. Di sepanjang jalan tepatnya di Jalan Imogiri Timur, Anda akan menjumpai banyak warung-warung di pinggir jalan yang menyajikan menu sate klatak.

Namun, salah satu yang patut Anda coba adalah Sate Klatak Pak Bari. Sate pak Bari yang terletak di Pasar Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul ini sangat legendaris dan dapat dikatakan sebagai cikal bakal sate klatak di Imogiri Bantul.

Subari merupakan generasi ketiga dari neneknya Mbah Ambyah yang sudah berjualan sate sejak sebelum kemerdekaan 1945.

Saat itu, sang nenek berjualan sate dengan berjalan kaki memikul krombong dan berkeliling, tapi terus menetap di bawah pohon Waru yang sekarang jadi Pasar Jejeran.

Sate yang dijual oleh neneknya termasuk unik karena hanya menggunakan daging kambing dengan bumbu garam saja dan terkenal dengan istilah Sate Ndeso.

Daging kambingnya tidak boleh asal pilih, untuk mendapatkan rasa nikmat maka umur kambing 8 bulan sampai 9 bulan jadi pilihan.

Subari tetap mempertahankan resep warisan, ia hanya mengubah namanya menjadi Sate Klatak, tentunya tetap dengan kualitas daging kambing muda gemuk jadi pilihan penyajiaannya.

(**/IST)

Berita9.com - Sudah bosan menyantap sate daging kambing atau ayam terus? Saatnya mencoba sate dengan bahan baku daging lele. Sate unik ini mempunyai rasa nendang dan bisa membikin ketagihan.

Omah Lele Sumber Roso kawasan Jalan Barongan Jetis Bantul menyediakan sate unik ini, bahkan tersedia juga sate lilit ikan tuna di Warung Makan Putra kawasan Jalan Namburan Kidul Yogya.

Kedua tempat kuliner ini bangunan fisiknya nampak sederhana, namun sama-sama mempunyai pelanggan tersendiri. Selain dapat dimakan di tempat, bisa juga dibungkus dan dibawa pulang.

Menurut pemilik Omah Lele Sumber Roso, Basirun, bahan lele untuk dibuat sate dipilih yang ukuran besar.

Ia sudah mempunyai pengepul lele yang bisa menyetor lele-lele ukuran besar. Satu ekor lele minimal satu kilogram, sehingga dapat difilet atau diambil daging-dagingnya.

Setiap satu kilogram lele biasa terambil setengah kilogram daging dan bisa menjadi antara 15 sampai 20 tusuk sate lele. Sebelum ditusuk-tusuk, daging yang sudah dipotong-potong direndam air berbumbu dahulu.

“Setelah ditusuk-tusuk dicelup dahulu dibumbu wujud cair, lalu dibakar. Pencelupan dan pembakaran bisa sampai tiga tahap, jadi bumbu bisa benar-benar bisa meresap ke dalam daging lele,” tandas Basirun, baru-baru ini.

Lain halnya saat datang ke Warung Makan Putra, sate lilit tuna khas Bali sering dipilih para pelanggan.

Beberapa masakan khas Bali lain seperti nasi jinggo, ayam betutu dan plencing kangkung juga menjadi primadona konsumen.

Seperti halnya Dewo dan Ladido yang datang ke warung, sembari santai menikmati nasi jinggo maupun sate lilit tuna.

Meski bukan berasal dari Bali, keduanya merasa cocok dengan masakan khas Bali tersebut.

“Yang jelas terasa enak dan bumbu-bumbunya pas. Satenya lembut, karena daging ikan tunanya dilembutkan dahulu, dililitkan pada tusuk sate dan dibakar. Setiap kami ke sini selalu membeli sate lilit tuna,” tegas Dewo.

Sementara itu adik Sri Sultan HB X, GBPH H Prabukusumo Spsi yang pernah datang ke Warung Makan Putra menuliskan kesaksiannya di kanvas serta ditandatangani langsung.

Gusti Prabu menuliskan sebagai berikut, “Saya sekeluarga sudah menikmati masakan-masakan khas Bali di sini... Pokok’e uenak tenan dan ketagihan!”

(**/YN)

Berita9.com - Selain masakan-masakan Indonesia yang disajikan, sambal pun disukai di Rusia. Rasa pedas tidak dihiraukan dan sepertinya terasa enak dimakan oleh orang-orang Rusia yang mengunjungi Pekan Kuliner Indonesia di Restoran “Buloshnaya”, Moskow yang berlangsung tanggal 6-9 Desember 2017.
 
Deputi Menteri Luar Negeri Federasi Rusia Alexander A. Pankin dan Walikota Star City dari kota kosmonot ​di​ luar kota Moskow Valery I. Tokarev yang datang ke Pekan Kuliner Indonesia ini terlihat menikmati sajian masakan Indonesia, termasuk sambal.

“Mereka mengambil sambal lebih banyak dari saya, padahal sudah saya ingatkan itu pedas. Anehnya Walikota Star City yang belum pernah ke Indonesia dan belum pernah makan masakan Indonesia sepertinya tidak merasakan pedas,” ungkap Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi terheran-heran saat makan bersama mereka. Memang dalam dua kali diselenggarakannya Festival Indonesia di Moskow, sambal merupakan salah satu produk yang cepat habis, imbuhnya.

Pekan Kuliner diselenggarakan oleh KBRI Moskow bekerja sama dengan restoran Rusia papan atas “Buloshnaya”. Dalam acara tersebut disajikan berbagai jenis masakan Indonesia mulai dari lumpia, martabak, gado-gado, asinan, nasi goreng, sate ayam, daging balado, hingga pisang goreng dan kue lapis. Masakan-masakan Indonesia diolah dan disiapkan oleh para juru masak profesional “Indonesia Satu” yang berbasis di Belanda. Mereka adalah Renu Lubis, Titi Waber, Ida Rosadi dan Eduard Rusdi.

Olga Merkulova, warga Rusia yang belum pernah ke Indonesia dan pertama kali merasakan kuliner Indonesia sangat terkesan datang ke Pekan Kuliner Indonesia. Dia makan nasi goreng, sate ayam dan goreng pisang. “Ini sangat menyenangkan. Saya juga menyaksikan penampilan tarian-tarian Indonesia yang bagus sekali. Seorang wisatawan Rusia yang akan ke Indonesia tentunya sudah ada. Saya akan ke Indonesia tahun depan,” kata Olga.
 
Saat membuka acara, Duta Besar Wahid Supriyadi mengatakan Pekan Kuliner ini ditujukan untuk lebih memperkenalkan cita rasa kuliner Indonesia kepada masyarakat Rusia. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan tradisi, termasuk kulinernya yang sangat kaya yang dapat dinikmati wisatawan asing. Dalam daftar 50 makanan paling enak di dunia yang dihimpun CNN, rendang dan nasi goreng dari Indonesia menduduki peringkat teratas.
 
“Kami sengaja menghadirkan Pekan Kuliner ini agar masyarakat Rusia dapat merasakan kelezatan masakan Indonesia, sehingga ketika ke Indonesia tidak hanya untuk menikmati pantai, tetapi sekaligus wisata kuliner,” kata Duta Besar Wahid Supriyadi.
 
 
Masyarakat Rusia menyukai masakan-masakan oriental. Peluang pasar Rusia bagi masakan Indonesia sangat besar. Diperkirakan lebih dari 100 ribu warga Rusia berkunjung ke Indonesia tahun ini. Pada periode Januari-Oktober 2017 sudah tercatat 90 975 wisatawan Rusia datang ke Indonesia, atau naik sekitar 50% dan merupakan kenaikan tertinggi dari seluruh dunia.
 
Duta Besar Wahid mengharapkan setelah Pekan Kuliner Indonesia ini akan muncul restoran Indonesia di Rusia, apalagi beberapa restoran lokal sudah mulai menyajikan beberapa menu Indonesia seperti nasi goreng, mi goreng dan sate. Hingga saat ini belum ada satu pun restoran Indonesia yang representatif di Rusia.
 
Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Alexander A. Pankin yang sudah sering ke Indonesia dalam sambutan pembukaan Pekan Kuliner Indonesia ini menyampaikan dukungan adanya restoran Indonesia di Moskow. Pemilik restoran “Buloshnaya”, Ksenia V. Karaulova berjanji akan membuka restoran Indonesia di Moskow. Untuk sementara pihaknya akan menampilkan beberapa menu Indonesia di restorannya, seperti nasi goreng plus sate, gado-gado dan pisang goreng.
 
Selama penyelengaraan Pekan Kuliner, para pengunjung tidak hanya menikmati kuliner Indonesia, tetapi juga berkesempatan melihat bagaimana cara memasak masakan Indonesia melalui demo masak. Bahkan ada sesi khusus yang diperuntukkan bagi kalangan wartawan kuliner. Selain itu, para pengunjung juga merasakan nuansa Indonesia dengan adanya dekorasi dan iringan musik, serta penampilan sejumlah tarian tradisional Indonesia, meskipun di luar jendela salju turun cukup lebat di tengah musim dingin di Moskow.

(**/Kum)

 

Page 1 of 4
Go to top