Berita9.com - Dalam kitab Tadzkirah al-Auliya, Fariruddin Attar mencatat sebuah kisah menarik tentang kemuliaan hati Imam al-A’dham, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (699-767 M) rahimahu Allah. Diceritakan:
 
أنه كان يصلّي كلّ ليلة ثلاث مئة ركعة وكان في بعض الأيام يمرّ في شغله, قالت امرأة لأخري: هذا الرجل يصلّي كلّ ليلة خمس مئة ركعة, سمع كلاهما ونوي أن يصلّي خمس مئة ركعة ليصحّ ظنّ المرأة في حقّه, وكان يصلّي كذلك حتي اتفق له مرور علي صبيان يلعبون, قال بعضهم لبعض: هذا الرجل يصلّي كلّ ليلة ألف ركعة, سمع وقال: أصلّي إن شاء الله تعالي كلّ ليلة ألف ركعة, لئلا يكون ظن الصبي خطأ في حقّي, مضي علي ذلك زمان ثمّ قال له بعض تلاميذه: يظنّ النّاس أنك لا تنام بالليل, قال: عهدت أن لا أنام وترك النوم كلّا. قال التلميذ" لِمَ يا شيخ؟ قال: لئلا أكون من الذين قال الله تعالي في حقهم: (وَيُحِبُّوْنَ أَنْ يحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا)
 
Imam Abu Hanifah memiliki kebiasaan shalat tiga ratus rakaat setiap malam. Suatu hari ada orang melintas ketika ia sedang melaksanakan shalat. Seorang wanita berkata pada wanita lainnya: “Orang ini (Imam Hanafi) shalat setiap malam lima ratus rakaat.”
 
Imam Abu Hanifah mendengar perkataan itu dan berniat shalat lima ratus rakaat untuk membenarkan persangkaan wanita tersebut. Setelah itu ia shalat lima ratus rakaat setiap malam sampai sekumpulan anak-anak yang tengah bermain melintas dan berkata satu sama lainnya: “Orang ini shalat setiap malam seribu rakaat.”
 
Imam Abu Hanifah mendengarnya dan berkata: “Aku akan shalat, insya Allah, setiap malam seribu rakaat, agar persangkaan anak-anak itu tidak salah.”
 
Imam Abu Hanifah melaksanakan shalat seribu rakaat setiap malam cukup lama, kemudian sebagian dari murid-muridnya berkata kepadanya: “Orang-orang meyangka bahwa guru tidak tidur di malam hari.”
 
Imam Abu Hanifah berkata: “Aku berjanji tidak akan tidur.” Setelah itu, ia meninggalkan tidur malam sama sekali.
 
(Mendengar itu) murid-muridnya bertanya: “Kenapa wahai guru?”
 
Imam Abu Hanifah menjawab: “Agar aku tidak termasuk ke dalam orang-orang yang digambarkan Allah SWT (Q.S. Ali Imran [3]: 188), yaitu,“Orang-orang yang suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan.” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashîliy al-Wasthâni al-Syâfi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009 hlm 260-261)
 
****
 
Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah merupakan tafsir terapan dari firman Allah di atas. Secara lengkap dikatakan (Q.S. Ali Imran [3]: 188):
 
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 
“Jangan sekali-kali kamu menyangka orang-orang yang gembira dengan apa yang mereka telah kerjakan dan orang-orang yang senang dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siska, bagi mereka siksa yang pedih.”
 
Di zaman sekarang ini, menemukan orang seperti Imam Abu Hanifah bisa dibilang hampir mustahil. Ia tidak hanya takut termasuk ke dalam golongan “orang yang suka dipuji atas perbuatan yang belum dikerjakannya”, tapi juga takut persangkaan itu memberi dosa kepada orang-orang yang menyangkanya terlalu shaleh. Untuk menghindari dua hal tersebut, ia selalu melaksanakan apa yang dituduhkan orang-orang kepadanya. Tidak peduli hal itu menyusahkan fisiknya atau tidak.
 
Sisi lainnya, Imam Abu Hanifah takut terjebak pada perasaan riya. Pujian adalah pintu masuk paling lembut di hati manusia, menjadi pupuk untuk berkembang biaknya sifat-sifat tidak terpuji itu. Orang-orang yang shalat pun akan celaka ketika shalatnya ditujukan untuk pamer (riya)—wailul lil-mushallîn, alladzîna hum yura’un. Imam Abu Hanifah berusaha agar terhindar dari pesona jebakan “pujian” itu. 
 
Dari pandangan tersebut, keadaan pamer (riya) manusia bisa diawali dari beberapa hal. Pertama, diawali oleh hasrat ingin dipuji. Orang-orang semacam ini biasanya akan memperbanyak ibadah di saat ramai, dan menyedikitkan ibadah di saat sunyi. Tujuan ibadahnya untuk mendapatkan pujian dari manusia.
 
Kedua, diawali dari niat ibadah yang tulus, kemudian terjebak oleh pujian orang-orang yang melihat kekhusyuan ibadahnya. Perlahan-lahan perasaan bangga dipuji muncul, meskipun pujian itu tidak sesuai dengan ibadah yang dilakukannya, seperti pujian orang-orang kepada Imam Abu Hanifah. Untuk menghindari keterjebakan tersebut, Imam Abu Hanifah berusaha membenarkan sangkaan baik orang-orang kepadanya dengan melaksanakan semua sangkaan itu.
 
Ketiga, diawali karena takut dipuji oleh manusia. Riya semacam ini termasuk riya dengan tingkatan tinggi, dalam arti baik. Tetapi, masih menyisakan ruang masuknya sifat-sifat buruk di hati manusia. Sebab, ibadahnya bukan semata-mata karena Allah, tapi karena takut dipuji manusia. Seseorang yang hatinya telah tenang, menjalankan semua ibadah hanya karena Allah, bukan karena takut dipuji atau dibenci oleh manusia.
 
Namun, kita semua tahu, hati manusia itu berubah-ubah. Iman sendiri dalam hadits Rasul, “yazid wa yanqush—bertambah dan berkurang.” Semua orang pasti mengalami perasaan hati yang bergejolak. Apa yang dilakukan Imam Abu Hanifah dalam kisah di atas, disebabkan pengetahuannya tentang hati yang berubah-ubah. Ada banyak jebakan dalam kehidupan. Tindakannya dalam menjalankan semua tuduhan kebaikan kepadanya, adalah usahanya untuk menjaga hatinya dari jebakan kesenangan dipuji.
 
Dengan kata lain, kesenangan untuk dipuji (riya) seharusnya dijadikan sebagai penjaga yang mengawal kesadaran kita.Karena tidak mungkin riya itu hilang dari hati manusia.Allah telah menginstal di hati kita berbagai sifat buruk. Tetapi, sifat buruk itu sebenarnya sifat baik jika digunakan sebagai sensor kesadaran kita. Contohnya, ketika kita sedang membenci, kita sadar akan kebencian kita, dan berusaha melembutkannya. Ketika kita sedang sombong, kita sadar akan kesombongan kita, dan berusaha menjinakkannya. Tanpa sifat-sifat buruk itu, perjuangan kita sebagai manusia tidak akan berarti.
 
Manusia berbeda dengan malaikat. Malaikat adalah makluk statis yang tidak memiliki sifat-sifat buruk. Karenanya wajar jika malaikat tidak pernah berbuat jahat.Mereka ditakdirkan oleh Allah sebagai makhluk yang tidak memiliki sifat-sifat buruk. Sedangkan manusia, di dalamnya bercampur sifat baik dan sifat buruk, yang membuat manusia memiliki kemampuan menjadi lebih mulia dari malaikat dan lebih hina dari binatang.
 
Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenali teriakan nurani yang mengatakan ini atau itu salah. Jangan abaikan suara-suara itu. Semakin sering diabaikan, suara-suara itu tidak akan terdengar lagi. Seperti orang yang pertama kali melakukan kejahatan, dia gemetar, takut dan resah. Semakin sering dia melakukannya, perasaan itu semakin lama memudar, dan kemudian tidak ada sama sekali.
 
Begitupun dalam hal ibadah, kita harus berhati-hati dalam menjaga kesadaran kita, agar tidak mudah dikuasai oleh kesenangan dipuji. Inilah alasan kenapa ada istilah husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah(akhir yang jelek)dalam kematian. Artinya, hati itu sangat rentan dikuasai oleh sifat buruk yang tidak mengarah pada kesadaran kita. Dengan adanya istilah tersebut dalam kematian, kita menjadi waspada agar terus menjaga hati kita sampai Allah memanggil kita.Sebab, kita tidak tahu akan mati dalam keadaan apa. 
 
Imam Abu Hanifah, dalam kisah di atas, memberikan contoh baik. Semoga kita dapat mengambil hikmah darinya. Sebagai penutup, perkataan Imam Yahya bin Muadz (830-971 M)perlu kita renungkan:
 
ذنب أفتقر به إليه أحب إلي من طاعة أفتخر بها عليه
 
“Dosa yang membuatku butuh ampunanNya lebih kusenangi daripada ketaatan yang membuatku menyombongkan diri dengannya.”(Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Kairo: Darul Hadits, 2000, juz 2, 292).
 
(**/Muhammad Afiq Zahara, Pernah Nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen)

Berita9.com - Pemprov DKI Jakarta menggelar silahturahmi bersama ulama dan para tokoh agama di Balai Agung Balai Kota DKI. Dalam kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengucapkan rasa terima kasihnya bisa bersilaturahmi dengan para ulama dan tokoh agama di Jakarta.

“Saya bersyukur bisa mengadakan acara silaturahmi dengan ulama atau tokoh agama. Kami semua merasa sadar pentingnya membangun silaturahmi untuk bertukar pikiran, gagasan sekaligus juga untuk mengkomunikasikan hal yang mungkin dilakukan bersama,” kata Anies di hadapan para ulama, Selasa (14/11/2017).

Anies menambahkan, bahwa kini dirinya bersama Wagub Sandiaga Uno tengah memasuki masa transisi dari kampanye ke pemerintahan. Sehingga Anies menegaskan bahwa komitmennya tepat untuk membereskan masalah ketimpangan.

“Kita mengirimkan pesan kepada semua, bahwa kami Gubernur dan Wagub adalah untuk seluruh warga Jakarta,” tegasnya.

Mantan Mendikbud itu juga menerangkan bahwa ke depan segala kebijakan pemprov akan berpihak kepada mereka yang di bawah, miskin dan termaginalkan guna mewujudkan keadilan ekonomi, dan sosial di Jakarta

“Salah satu contohnya adalah kami akan memperbolehkan motor melintasi Jalan Thamrin karena motor merupakan alat pengantar produk dari para pengusaha kecil, misalnya pesanan makanan,” katanya.

(**/Oke)

 

Berita9.com - DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia menggelar dialog kebangsaan untuk memperingati Hari Pahlawan pada 10 November.

Ada tiga pembicara yang dihadirkan dalam acara yang digelar hari ini. Pertama, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi  Pancasila Yudi Latif, Tenaga Profesional Bidang Politik Lemhanas Kisnu Haryo Kartiko, Ketua DPP LDII Hidayat Nahwi Rasul, dan Katib Suriah PBNU HM. Mujib Qulyubi.

Dialog yang mengangkat tema "Pahlawan dan Pembangunan Karakter Bangsa" itu, dihelat di Kantor DPP LDII, di Jakarta Selatan.

"Latar belakang acara ini adalah mengangkat peran ormas dalam pembentukan Republik Indonesia, mulai dari era pergerakan nasional hingga revolusi fisik," ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Soenaryo.

Menurutnya, kesadaran nasionalisme Indonesia dibangun oleh ormas-ormas yang bersentuhan langsung permasalahan bumiputera saat itu. Mereka mewakili berbagai golongan untuk mendapatkan persamaan hak dan akses terhadap ekonomi yang dikuasai asing. Lalu muncullah Sarekat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), dan Sarekat Islam (1911).

Organisasi-organisasi inilah yang mendorong tumbuhnya bibit-bibit nasionalisme dan menyemai munculnya partai-partai politik. Pergerakan mereka inilah yang mendorong bangsa Indonesia, menyuarakan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia.

"Perasaan nasionalisme yang menguat ini pada puncaknya, menciptakan kemampuan untuk merebut kemerdekaan dan membentuk sebuah negara. Maka pemerintah tidak bisa mengabaikan jasa ormas di hari pahlawan ini,"iimbuh Prasetyo. Bahkan di saata penyusunan Pancasila, tokoh-tokoh ormas terutama ormas Islam bisa berkompromi dengan baik dengan tokoh-tokoh nasionalis. "Sehingga lahirlah Pancasila seperti yang kita kenal sekarang," ujar Prasetyo.  

Tiga bulan pascaproklamasi kemerdekaan RI, tantangan datang dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Di sinilah ormas Islam kembali berperan besar, ketika Rais Am PBNU KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, menyerukan Resolusi Jihad yang membangkitkan semangat rakyat di berbagai daerah untuk melawan penjajahan.

Melihat jasa ormas, Prasetyo menyarankan pemerintah agar bijak dalam penerapan Perppu No. 2 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi undang-undang (UU). Menurut Prasetyo, peraturan ini memungkinkan pemerintah melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk membubarkan ormas yang dianggap berbahaya dan mengganggu ketertiban serta keamanan. Membubarkan ormas tanpa pengadilan adalah kemunduran berdemokrasi.  

"Untuk mengenang jasa para pendiri bangsa, rakyat Indonesia, dan tentu saja ormas, 10 November menjadi hari libur nasional. Lalu mengartikulasikan dalam bentuk mendorong lahirnya pahlawan-pahlawan pembangunan di bidangnya," imbuh Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, menegaskan Pancasila yang dijabarkan dalam UUD 1945 beserta aturan turunannya, tidak dapat diimplementasikan dengan baik karena karakter jati diri masyarakat Indonesia pudar. Hal ini berakibat pengamalan Pancasila turut bermasalah, terutama dalam hal ketuhanan dan keadilan sosial.

"Peradaban itu berlapis-lapis. Lapisan paling luar itu ilmu dan teknologi, lebih dalam lagi ada estetika, lebih dalam lagi etika dan paling dalam adalah semangat ketuhanan. Jadi kekuatan karakter yang berbasis pada nilai agama itu kuat sekali sebagai benteng pertahanan suatu bangsa,"ujar Yudi Latif.

Karakter jati diri bangsa bisa hidup jika pengamalan nilai-nilai agama berjalan dengan baik. Permasalahan saat ini, Indonesia mendapati dirinya sebagai negara multi agama yang terkadang saling menegasikan satu sama lain. Yudi Latif mengungkapkan jika hal tersebut bisa dicapai dalam persamaan dan menemukan titik temu keagamaan. Dalam hal ini seluruh agama di Indonesia punya cara pandang yang sama terhadap semesta, hal ini seperti kearifan dan harmoni.

"Semua bisa dicapai jika manusia mampu mengembangkan tiga relasi yang penuh welas asih, pertama relasi dengan Tuhan, kedua relasi dengan manusia, dan relasi dengan alam. Tiga relasi ini bisa diperas menjadi satu, yaitu dalam semangat gotong royong sebagaimana dikemukakan Soekarno, kemampuan menjalin kerja sama yang aktif dalam keberagaman,"ujar Yudi Latif.  

Dengan demikian, pahlawan adalah karakter yang mampu menanggalkan sekat-sekat perbedaan. Dengan demikian di hatinya terdapat kerelaan dan keikhlasan untuk berbuat yang terbaik bagi umat manusia. Ilmu dan kemampuan yang ia miliki, didermakan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. 

(**/RM)

Berita9.com - Kisah Anas bin Nadhar ra yang mencium keharuman surga ketika masih hidup di dunia. Ia mencium harum surga ketika perang Uhud sedang berlangsung. Jika keikhlasan sudah mulai ada pada diri seseorang, nikmat surga pun akan dirasakannya ketika masih hidup di dunia.

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a bahwa Anas bin Nadhar ra adalah sahabat Nabi SAW yang tidak menyertai perang Badar. Ia sangat menyesal dan sering memarahi dirinya sendiri karena tidak dapat menyertai peperangan yang pertama dan besar dalam sejarah Islam. Maka, ia sangat berharap dapat menebusnya pada pertempuran selanjutnya. Dan ternyata, kesempatan itu datang pada perang Uhud.

Ia turut serta sebagai pejuang yang gagah berani. Pada mulanya, kaum muslimin telah mendapat kemenangan dalam perang tersebut. Namun karena suatu kekhilafan, kaum Muslimin menderita kekalahan pada akhir perang. Kekhilafahan itu adalah beberapa sahabat yang ditugaskan untuk berjaga di suatu tempat berdasarkan sabda Nabi SAW, “Kalian jangan meninggalkan tempat ini dalam keadaan bagaiman pun, karena musuh dapat menyerang dari sana.”

Pada permulaan perang, kaum Muslimin telah memperoleh kemenangan, dan kaum kafir melarikan diri. Melihat hal ini, orang-orang yang telah ditunjuk oleh Nabi SAW segera meninggalkan tempat mereka. Sebab mereka menyangka bahwa kaum Muslimin telah menang dan perang telah usai, sehingga orang-orang kafir yang melarikan diri segera dikejar dan diambil harta rampasan perangnya.

Sebenarnya, pimpinan pasukan telah melarang dan mengingatkan mereka agar tidak meninggalkan bukit. Ia berkata, “Jangan tinggalkan tempat ini, Rasulullah telah melarangnya.” Tetapi mereka menduga bahwa perintah Nabi SAW itu hanya berlaku saat perang. Mereka pun turun ke medan perang meninggalkan bukit.

Pada saat itulah pasukan kafir yang melarikan diri melihat bahwa tempat yang seharusnya dijaga oleh kaum muslimin telah kosong. Maka mereka segera kembali dan menyerang kaum muslimin dari arah sana. Hal ini sama sekali tidak diduga oleh kaum Muslimin, sehingga mereka kalah dan terjepit dalam kepungan kaum kafir dari dua arah. Keadaan menjadi kacau balau, mereka berhamburan ke sana kemari.

Saat itu ditempat lain Anas ra melihat sahabat Sa’ad bin Mu’adz ra sedang berjalan. Maka Anas ra berkata, “Hai Sa’ad, akan ke manakah engkau? Demi Allah, aku mencium harum surga datang dari arah Uhud.”

Setelah berkata demikian ia segera menuju medan peperangan. Ia mengacungkan pedang di tangannya dan menyerbu ke tengah kaum kafir, sambil bertekad tidak akan berhenti berperang sebelum syahid. Dan ia pun syahid di medan Uhud.

Tubuhnya begitu rusak ketika diperiksa. Kurang lebih terdapat delapan puluh luka akibat tebasan pedang dan panah di tubuhnya. Hanya saudara perempuannya yang dapat mengenalinya melalui ujung jemari tangannya.

(**/Rep)

Berita9.com - Semua tarekat yang mu'tabarah adalah baik karena sanadnya sampai kepada Rasulullah dan yang tidak baik adalah murid yang sudah dibaiat jadi ahli tarekat namun malas mengamalkannya ataupun murid yang merasa paling hebat sehingga berani merendahkan tarekat lain. 
 
Demikian disampaikan KH Nawawi, Rais Jam'iyah Ahli Thariqoh Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Kabupaten Subang dalam kegiatan Halaqoh dan Pengajian Jatman Subang yang digelar di Pesantren Al-Karimiyyah, Kampung Pungangan, Rancabango, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat belum lama ini.
 
Ketua PCNU Subang periode lalu ini mengingatkan bahwa dalam bertarekat tidak boleh merasa lebih unggul dari orang lain atau merasa bahwa tarekat yang dipegang merupakan tarekat yang terbaik dibandingkan dari tarekat lain, karena hal itu akan jatuh pada sikap takabur.
 
"Kalau sampai hal itu terjadi bisa diibaratkan seperti mengucapkan; istri saya lebih cantik dan lebih baik segalanya dibandingkan dengan istri kamu," ujarnya. (5/11).
 
Ia pun menambahkan, ketika seorang penganut atau pun bukan penganut tarekat merendahkan sebuah tarekat mu'tabarah secara tidak langsung ia sedang merendahkan pendiri dan para mursyid tarekat yang tentunya sudah dekat dan wushul dengan Allah.
 
"Berani sekali jika sampai merendahkan Syekh Abdul Qodir Jaelani, Syekh Ahmad Syatori, Syekh Hasan Syadzili, Syekh Ahmad Tijani atau para syekh pendiri tarekat lainnya yang sudah wushul dengan Allah," tegasnya.
 
Sementara itu, dalam kegiatan halaqoh tersebut KH Thola'albadar Karim, Mudir Jatman Subang melaporkan bahwa setelah melakukan road show ke beberapa tempat di Kabupaten Subang, dapat disimpulkan bahwa penganut tarekat di Kabupaten Subang cukup banyak, bahkan ada beberapa yang sudah mendapat gelar mursyid.
 
"Program yang sudah dilaksanakan adalah mengadakan Manakiban Syaikh Abdul Qodir dan Insya Allah akan rutin dilaksanakan di Kantor PCNU setiap malam sabtu akhir bulan," tambah Pengasuh Pesantren Al-Karimiyyah itu.
 
Rencana selanjutnya, tambah dia, Jatman Subang akan segera menyerahkan surat permohonan pengesahan susunan kepengurusan Jatman Subang periode 2017-2022 yang sudah dibentuk pada Musyawarah Cabang yang digelar pertengahan bulan oktober yang lalu.
 
(**/Aiz)

Berita9.com - Film berjudul Da'wah yang menggambarkan kehidupan Islam sebenarnya di Indonesia yang penuh kedamaian dan toleransi diputar dan menjadi bahan diskusi dalam acara makan malam spesial di Rome Film Festival, pada Sabtu (4/11). Rome Film Festival berlangsung mulai tanggal 26 Oktober sampai 8 November. 

Akan ada acara penghargaan khusus yang dihadiri pada pimpinan komite dan komunitas film dengan tamu istimewa tokoh perfilman ternama Bernando Bertolucci, sutradara di balik film sukses seperti The Last Emperor, The Dreamers dan The Last Tango in Paris
 
Film Da'wah adalah produksi rumah produksi Kaia Film Indonesia dengan sutradara asal Italia yang beragama Katholik, Italo Spinelly. Ide Spinellii muncul dari salah satu kunjungannya ke Indonesia yang membuatnya jatuh cinta.
 
Dia menemukan Islam bukanlah apa yang digambarkan dalam stereotipe sejumlah kalangan sebagai agama yang penuh kebencian, kekerasan dan teror. Dia menemukan Islam di Indonesia sebagai gambaran nyata rahmatan lil alamin yang artinya kebaikan bagi alam semesta dari sebuah pesantren di pelosok. Pesantren itu adalah Dalwa, di Bangil, Pasuruan Jawa Timur. 
 
Kemudian didukung dan direstui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdatul Ulama, Halal Lifestyle Center, dan Pemerintah Daerah Jawa Timur, dia membuat film dokumenter berdurasi 60 menit ini dengan produser eksekutif, Sapta Nirwandar dan  H.M. Irsyad Yusuf. Film ini diharapkan dapat menyentuh penonton dengan gambaran Islam yang sebenarnya, dan nilai-nilai Islam yang inspirasional. 
 
Spinelli yang juga direktur, pendiri dan pencipta festival Asiatica Film Medial, dalam menulis dan menyutradarai menangkap gambaran-gambaran alami dari kehidupan para santri yang diwakili empat santri yakni Rafli yang merupakan remaja keturunan Jerman, M. Hasan Masduqi dari Pasuruan, Muhammad Shofi dari Pasuruan dan Ahmad Yazid dari Pasuruan. 
 
Bagaimana dalam kebersahajaannya para santri mendapat didikan dari seorang ustaz tentang dakwah seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Dakwah bermakna mengajak dengan kebaikan, bahkan ketika Rasulullah diserang musuhnya.
 
Islam sebenarnya adalah yang menentang kekerasan, Islam adalah tentang ketenangan hati dan cinta pada sesama. Nilai inilah yang akan dibawa keempat siswa itu seiring cita-cita mereka menjadi ustaz atau guru agama, pemimpin bukan agama dan pengkhotbah. 
 
Spinelli menggambarkan hari-hari sekolah biasa, belajar Alquran dan bahasa Arab dan mata pelajaran lain, bangun pagi, antre untuk shalat Subuh mengikuti ceramah dan senam pagi ala pesantren hingga apa yang mereka lakukan sebelum pulang ke rumah untuk istirahat bulan Ramadhan. Selain keempat remaja yang diangkat Spinelli, Pesantren Dalwa diikuti pula oleh 2.700 anak berusia antara 6-18 tahun. 
 
Perjalanan Film Da'wah sampai ke Rome Film Festival yang sejak kelahirannya pada 2006, menjadi event perfilman penting di dunia. Pada 31 Maret 2017 dalam kunjungan dan gathering di Curzon, London, SOHO, Film Da'wah telah mendapat apresiasi dari warga Inggris. 
 
Setelah  melalui evaluasi dari Committee of Festa Del Cinema Di Roma, Da'wah dinilai sangat baik dalam sisi sinematografi dan penceritaaan yang relewan. Terutama untuk membuka mata komunitas Eropa tentang gambaran Islam sebagai agama yang damai. 
 
Akan ada pertemuan dan dialog antar keyakinan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia Vatikan dan KBRI Roma, dengan mengundang  banyak pemimpin agama dan komunitas untuk berkumpul, berdialog tentang halal lifestyle di dunia dan Indonesia sekaligus menonton bersama Film Da'wah.
 
(**/Kem)

Berita9.com - Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini mengunjungi kota Istimewa Yogyakarta dan menyempatkan diri untuk bersilaturrahim dengan Emha Ainun Nadjib (31/10). Dalam silaturrahim tersebut, sejumlah persoalan kebangsaan dan keagamaan dibicarakan secara serius.

Menanggapi pergerakan NU saat ini, Cak Nun berpesan agar NU lebih bijaksana dan mengayomi umat. Menurut dia, NU harus bisa menjadi perkumpulan yang mengayomi yang keputusan-keputusannya berlandaskan tujuan untuk menegakkan keadilan dan kebijakaanaan.

"Gerakan NU harus sudut pandangnya adalah kebijaksanaan dan mengayomi. Itu yang paling penting," ujar Caknun saat berbincang dengan Helmy.

Sementara, Helmy mengatakan bahwa PBNU sendiri selama ingin membangun masyarakat yang mejemuk dan menjunjung nilai-nilai. Namun, kesadaran akan realitas yang majemuk tersebut disadari masih menjadi PR bersama bagi semua pihak. Maka, kata Helmy, untuk mengatasinya semua pihak harus bersinergi.

"Kami terus ingin membangun peradaban masyarakat yang di satu sisi majemuk namun di sisi lain sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan, kesadaran akan perbedaan, dan keterbukaan," kata Helmy dalam keterangan tertulisnya yag diterima, (2/11).

Dalam kunjungannya ke Yogyakarta, Helmy juga sempat menjadi pembicara dalam seminar dan Bedah Buku Negara Khilafah Versus Negara Kesatuan RI di UIN Sunan Kalijaga. Ia mengungkapkan bahwa bentuk NKRI yang merupakan konsensus kebangsaan sudah final, sehingga tidak diperlu lagi memperdebatkan lagi soal bentuk dan format negara.

"Konsep bernegara kita sudah ideal dalam konteks merangkul kemajemukan masyarakat. Sebagaimana ditegaskan dalam keputusan NU di Situbondo, Pancasila merupakan dasar ideal untuk menjembatani dan mengakomodasi apa yang disebut sebagai kebinekaan," jelas Helmy.

Terkait dengan tantangan dan semangat nasionalisme kaum muda saat ini, menurut Helmy, sangat penting untuk mentransformasikan pesan-pesan nasionalisme dalam bentuk yang kreatif, seperti dengan berkampanye melalui media sosial.

"Jumlah pengguna media sosial di Indonesia sudah cukup banyak. Maka perlu ditekankan dan dipikirkan untuk membuat gerakan dan formulasi kampanye pesan-pesan nasiolisme melalui sarana-sarana yang disebut sebagai media sosial. Ini sangat penting sebagai bentuk respon perkembangan zaman," kata Helmy.

(**/RE)

Berita9.com - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta menggencarkan gaya hidup halal sesuai perkembangan zaman. Meski menantang, segmen anak muda menjadi sasaran utama.

Ketua Bidang 1 MES DKI Kawendra Lukistian mengatakan, MES DKI peduli dengan perkembangan zaman. Bidang yang fokus pada gaya hidup halal ini cukup menantang karena segmen yang disasar adalah anak muda.

"Harus ada perpindahan pandangan sumir soal halal dan syariah menjadi lebih positif dan inklusif, terutama di kalangan anak muda. Karena itu MES DKI menggelar berbagai kegiatan dan forum Creatalk," kata Kawendra, (1/11).

Bidang 1 MES DKI punya lima pokja yakni pokja ekonomi kreatif, pokja hiburan, pokja kuliner, pokja wisata, serta pokja produk dan kesehatan. Tiap pokja punya program seperti coworking space.

Coworking space yang ditawarkan MES DKI ini sama seperti pada umumnya, tapi MES DKI menggunakan sistem syariah. Bila biasanya harus sewa, MES DKI menawarkan bagi hasil.

Program ini muncul karena MES DKI melihat para pebisnis rintisan sudah banyak. Mereka sering bingung mencari tempat kumpul. Maka MES DKI ingin menawarkan coworking space ini. Ada tiga tempat yang sudah dijajaki yakni di Pasar Raya Manggarai, Koja Trade Mall, dan Pasar Pondok Indah.

Program lainnya adalah wisata religi malam yang konsepnya bazar malam dengan diisi konten hiburan bernuansa Islam. MES DKI juga akan bekerja sama dengan museum di Jakarta agar generasi muda lebih sering ke museum seperti arahan Presiden Joko Widodo.

Pada 2018, rencananya MES DKI juga akan menggelar Festival Kopi, Cokelat, dan Snack Halal Internasional. MES DKI melihat kuliner halal beririsan kuat sekali dengan ekomi kreatif.

''Sumbangan eknomi kreatif terhadap PDB itu 7,38 persen dan 41 persennya dari kuliner,'' ucap Kawendra.

Tiap bulan MES DKI juga menggelar Creatalk. Pola Creatalk sendiri beragam baik bekerja sama dengan kampus atau komunitas. ''Kami benar-benar membidik anak muda,'' ungkap Kawendra.

(**/RE)

Berita9.com - Sebanyak 30 unit stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Ambon meramaikan Maluku Halal Food Festival (MHFF) di pelataran lapangan Merdeka Ambon, Ahad (29/10/2017).

Pimpinan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Bambang Pramasudi saat memberikan sambutan sebelum membuka dengan resmi kegiatan tersebut mengatakan di Provinsi Maluku perkembangan ekonomi syariah masih perlu terus didorong. Demikian juga potensi pariwisatanya yang sangat besar.

Berdasarkan kajian BI, pariwisata adalah sektor pendorong pertumbuhan ekonomi baru, selain sektor-sektor seperti perikanan, pertanian, dan perdagangan.

"BI Perwakilan Provinsi Maluku menyelenggarakan kegiatan ini dengan beberapa tujuan, antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong perilaku serta gaya hidup syariah," ujarnya.

Khusus dalam berkonsumsi, juga bergaya hidup syariah dengan tiga pilar, yaitu Food, Fashion dan Finance (3F).

"Hari ini kita selenggarakan Maluku Halal Food Festival dalam rangka untuk mendorong salah satu dari tiga pilar tersebut, yaitu Food," ujarnya.

Tujuan kedua adalah untuk mempromosikan makanan, minuman halal di Ambon dan Maluku yang merupakan produksi UMKM di daerah ini.

"Yang terakhir, tentunya diharapkan dapat meningkatkan industri pariwisata sebab kami berharap semakin banyak unggulan produk makanan semakin banyak pintu masuk wisatawan ke Maluku," kata Bambang.

Dia juga mengatakan selain kegiatan MHFF yang merupakan kegiatan terakhir pelaksanaan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2017 yang dilaksanakan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon yang akan berlangsung dari tanggal 24-29 Oktober 2017 di Kota Ambon juga akan diisi dengan beberapa kegiatan lainnya.

"Kegiatan itu diantaranya sosialisasi Sertifikasi Halal oleh LPPOM MUI Provinsi Maluku, sosialisasi Pegadaian Syariah, disamping sosialisasi Keuangan Syariah," ujarnya.

(**/Ant)

Berita9.com - Ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Anwar Abbas mengatakan, sekolah-sekolah Islam termasuk pesantren tidak begitu konsen menggarap masalah ekonomi dan bisnis. Karena umumnya sekolah Islam termasuk pesantren dikelola oleh orang-orang yang tidak berpengalaman serta berkecimpung di dunia ekonomi dan bisnis.

"Sehingga masalah ekonomi dan bisnis di sekolah-sekolah Islam termasuk di pesantren tidak tergarap dengan baik," kata Dr. Anwar, (26/10).

Ia menerangkan, sekarang sudah mulai ada kesadaran di kalangan pesantren dan sekolah-sekolah Islam akan pentingnya ekonomi dan bisnis. Sebab, pada sektor ekonomi dan bisnislah titik lemah umat. Sekarang virus-virus berwirausaha sudah mulai ditularkan dan mendapat perhatian.

Dr. Anwar yang juga Sekretaris Jendral MUI menjelaskan, sebenarnya keterlibatan pesantren dan santri dalam kegiatan ekonomi dan bisnis belum sesuai yang diharapkan. Begitu pula di pesantren-pesantren Muhammadiyah. Tapi, sekolah-sekolah Islam termasuk pesantren, sekarang sudah menyadari bahwasannya ekonomi dan bisnis sangat penting.

"Karena yang akan menjadi penentu di suatu negara adalah yang menguasai ekonomi dan bisnis. Sekarang umat Islam akan bergerak ke arah situ, tugas kita bagaimana menyebarkan virus-virus wirausaha di kalangan santri," ujarnya.

Akan tetapi, lanjut dia, dilemanya guru-guru dan kiai tidak berpengalaman dalam ekonomi dan bisnis. Mereka bisa mengajarkan bisnis tapi tidak bisa maksimal layaknya para praktisi bisnis yang sukses. Maka, solusinya harus mengundang para pelaku bisnis ke sekolah-sekolah Islam termasuk pondok pesantren.

Praktisi-praktisi bisnis yang sukses datang ke para santri untuk memberi semangat. Praktisi bisnis yang dihadirkan dari berbagai bidang bisnis. "Ada yang bidangnya kuliner, konveksi, pertambangan, perikanan dan lain sebagainya, itu dibawa mestinya ke pesantren," jelasnya.

Menurutnya, para santri bisa berhadapan, berkomunikasi dan berdialog dengan para praktisi bisnis. Sehingga dari hasil dialog mereka dengan para praktisi bisnis yang sukses, virus wirausaha bisa menular ke para santri.

(**/RO)

Page 1 of 8
Go to top