Berita9.com - SATU tujuan yang menjadi mimpi setiap orang adalah bersanding di pelaminan dengan pasangan idaman. Apalagi jika jumlah umur sudah semakin banyak, rasanya ada harap-harap cemas terus menggelayut dikepala setiap malam.

Namun tak bisa dipungkiri, bahwa selalu ada beberapa masalah krusial yang seringkali menerpa sebagian orang untuk menyegerakan berlayar dalam bahtera rumah tangga. Salah satunya adalah masalah dompet. Ya! Keuangan.

Masalah keuangan adalah salah satu faktor yang membuat banyak orang merasa takut membina rumah tangga dengan pasangan yang telah mereka agung-agungkan. Membiayai diri sendiri saja sudah jungkir balik apalagi membiayai anak dan istri?

Jangan panik dulu. Perkara rezeki sudah diatur oleh Allah. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui." (QS An-Nur: 32)

Ayat tersebut telah jelas menyatakan bahwa dengan menikah maka Allah akan membantu memberikan rezeki untuk anak dan istri. Percayalah bahwa perkara rezeki adalah hal yang sangat mudah bagi Allah. Menghidupkan orang mati saja Allah bisa, apalagi hanya memunculkan rezeki dari arah yang tak pernah sekalipun kita duga.

Jadi jangan pernah takut tak bisa mencukupi anak dan istri kelak. Istri dan anak mempunyai rezeki masing-masing, dan jika dikumpulkan maka akan menyatu dengan rezeki suami.

Kita hanya perlu berdoa, percaya dan lakukan ikhtiar semampu kita bisa. Ingat, bahwa Allah tak akan pernah merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubahnya. (*)

Berita9.com - Selain tubuh, hati kita juga bisa terjangkit penyakit. Penyakit hati jauh lebih berbahaya. Sebab, efek yang ditimbulkannya tidak saja dirasakan di dunia, tetapi berlanjut hingga di akhirat. Salah satu penyakit yang sangat berbahaya itu adalah hasad. Hasad adalah faktor utama tumbuh suburnya kebencian. Dari kebencian itulah akan muncul beragam tindak kezaliman yang sulit dibendung.

Sejarah telah membuktikan hal itu. Pembunuhan pertama kali terjadi dipicu oleh hasad. Qobil membunuh saudara kandungnya karena hasad. Hal yang sama juga terjadi pada Nabi Yusuf. Ia dijerumuskan saudaranya ke dalam sumur juga karena hasad.

Itulah sebabnya Rasulullah memperingatkan umatnya dari bahaya penyakit ini. Beliau bersabda, "Janganlah kalian saling hasad. Jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah." (HR Muslim).

Apakah sesungguhnya hasad itu? Hasad adalah kebencian pada orang lain disebabkan kebaikan yang ada pada dirinya. Alhasil pikiran orang yang terserang hasad dikuasai oleh keinginan menghilangkan kebaikan yang ada pada orang lain.

Ibnul Qayyim rahimahullah: "Hasad (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya, padahal Allah Azza wa Jallamenginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya." (al-Fawaid, hlm 157).

Meski sangat berbahaya, bukan berarti tidak bisa diatasi. Islam telah menyediakan resep andal dalam menerapi penyakit hasad tersebut. Salah satunya ada pada zikir yang kita ucapkan setelah shalat. "Ya Allah, tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kedudukan orang yang memiliki kedudukan itu tidak akan bisa menyelamatkan dari siksa-Mu)." (Mutafaqunalaih).

Jika kita memandang setiap peristiwa— menyenangkan atau tidak—sebagai ketetapan dan takdir dari Allah, maka penyakit hasad itu dapat diredam. Sebab, takdir Allah tidak tertolak dan selalu tersimpan di baliknya hikmah dan kebaikan.

Alhasil saat orang lain mendapatkan kenikmatan, sifat hasad tak akan menyala. Sebab, dua keyakinan di atas sudah lebih dulu membentenginya. Membiarkan hasad muncul akan menjadi sumber kegelisahan. Sebab, substansi dari sifat hasad itu adalah menolak takdir dan ketentuan Allah, padahal takdir Allah tidak bisa ditolak. Ibnul Qoyyim berkata, "Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha' dan qadar Allah Azza wa Jalla." (al-Fawaid, hlm 157).

Itulah sebabnya Ubadah bin Shomit, salah seorang sahabat Rasulullah, berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu." (HR Abu Daud). Berbahagilah orang yang bisa mengatasi penyakit hasad, semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

Berita9.com - MENJAWAB adzan, ternyata bukan amal yang nilainya ringan. Sekalipun hanya mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, namun islam menghargainya sebagai amal besar. Ada banyak sekali keutamaan amalan sederhana ini, berikut diantaranya,

[1] Menjadi saksi kebaikan

Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendengarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat." (HR. Bukhari 609).

Hadis ini menunjukkan keutamaan orang yang mengumandangkan adzan. Dan sekaligus mereka yang mendengar adzan dijadikan Allah sebagai saksi kebaikannya.

[2] Menjawab adzan karena dorongan keyakinan hati, akan mengantarkan menuju surga.

Dari Umar bin Khatab Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar. Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar. Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah. Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah dst hingga akhir adzan. Siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga." (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya).

[3] Dengan menjawab adzan, Allah akan mengampuni dosa kita

Dari Sad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan, 'Saya juga bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku.' Siapa yang mengucapkan itu maka dosa-dosanya akan diampuni." (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya)

[4] Siapa yang menjawab adzan, lalu membaca shalawat sekali maka Allah akan memberi shalawat baginya 10 kali.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemudian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali." (HR. Muslim 384)

Menurut Abul Aliyah seorang ulama tabiin bahwa makna dari shalawat Allah kepada makhluk-Nya adalah pujian Allah untuk makhluk tersebut di hadapan para malaikatNya. (HR. Bukhari)

[5] Menjawab adzan, lalu memohon wasilah untuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam maka dia berhak mendapat syafaat beliau.

Lanjutan hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setelah menjawab adzan kemudian mintalah wasilah kepada Allah untukku. Wasilah adalah satu kedudukan di surga, yang tidak akan ditempati kecuali oleh salah seorang dari para hamba Allah. Dan saya berharap, saya-lah yang mendudukinya. Siapa yang memohon kepada Allah wasilah untukku maka halal baginya syafaatku." (HR. Muslim 384)

Permohonan wasilah ini kita baca dalam doa seusai menjawab adzan, "Ya Allah! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak doa yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad."

[6] Menjawab adzan, lalu memohon agar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan maqam mahmud, kita berhak mendapat syafaat.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapa mendengarkan adzan, lalu dia membaca doa,"Ya Allah! Saya memohon kepada-Mu dengan perantara hak doa yang sempurna ini serta shalat yang ditegakkan ini, berilah wasilah (derajat di surga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad. Dan tunjuklah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan"

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, siapa yang membaca doa setelah adzan maka "Halal baginya syafaat pada hari kiamat." (HR. Bukhari 614, Ahmad 14817 dan yang lainnya)

Yang dimaksud maqam mahmud adalah syafaat udzma (terbesar) ketika di padang mahsyar. Sehingga ada 3 hal yang kita lakukan ketika adzan,
- Menjawab adzab, dengan mengikuti seperti ucapan muadzin
- Membaca shalawat setelah menjawab adzan
- Membaca doa setelah adzan.

[7] Surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau bercerita, "Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu Bilal mengumandangkan adzan. Ketika beliau sudah selesai, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang mengucapkan seperti yang dilantunkan orang ini Bilal dengan yakin maka dia akan masuk surga." (HR. Ahmad 8624, Nasai 674 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

[8] Doa orang yang menjawab adzab, mustajab

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, beliau bercerita, "Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, 'Ya Rasulullah, para muadzin mengalahkan kami dalam menggapai keutamaan'. Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Ucapkan seperti yang diucapkan muadzin, jika kamu telah selesai, berdoalah maka kamu akan diberi'." (HR. Abu Daud 524, Ibn Hibban 1695 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Sungguh, janji pahala yang luar biasa.. sangat disayangkan jika kita menyia-nyiakannya. Bersabarlah sesaat ketika ada adzan dikumandangkan, dan jawab adzan itu penuh keyakinan, lanjutkan dengan berdoa kepada Allah.. semoga Allah menggolongkan kita sebagi ahli surga., amiin.

Berita9.com - Al-Qur’an sebagai Qalam Allah SWT memiliki bahasa begitu tinggi dan tidak diragukan kebenarannya. Setiap ayat yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW memiliki pesan mendalam dan makna yang bisa diterima oleh akal. Dimana setiap surat-surat-Nya memiliki keagungan, manfaat dan keutamaan tersendiri. Salah satunya adalah surat Al Kahfi yang memiliki banyak manfaat dan keutamaan, terlebih jika surat ini dibaca pada Hari Jumat.
 
Surat Al Kahfi atau juga disebut Ashabul Kahf merupakan surat golongan Makkiyah. Surah ini terdiri atas 110 ayat dan bercerita tentang beberapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain itu terdapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini yang semuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
 
Ada beberapa hadist yang mengungkapkan tentang keutamaan dan manfaat pada surat Al Kahfi, diantaranya:
 
Pertama: Membaca Al-Kahfi pada Hari Jumat akan terhindar dari fitnah Dajjal. Sosok kejam yang akan keluar pada akhir zaman ini nantinya akan membuat kerusakan di bumi dan menebarkan fitnah kepada setiap umat Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa dengan rajin membaca surat ini pada hari jumat maka akan terhindar dari fitnah tersebut.
 
“Barang siapa membaca Surah Al Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya,” (HR-Dailami).
 
“Siapa yang membaca dari Surah Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya dan siapa yang membaca keseluruhannya, maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi,” (HR Ahmad).
 
Kedua: Membaca Al Kahfi pada hari Jumat  adalah mendapat pengampunan dosa diantara dua Jumat. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda, Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah SAW bersabda:
 
“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”
 
Ketiga: Membaca Surah Al Kahfi pada Hari Jumat juga akan mendapat pancaran cahaya diri.
 
"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul 'atiq." (HR Al-Hakim) 
 
Keempat: Diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Abdullah  Bin Mughaffal disebutkan bahwa Rumah yang dibacakan surah al-Khafi dan al Baqarah tidak akan dimasuki setan sepanjang malam itu.
 
Sunnah membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada hari Jum’atnya, dan malam Jum’at diawali sejak terbenamnya matahari pada hari Kamis. Kesempatan ini berakhir sampai terbenamnya matahari pada hari Jum’atnya. 
 
Dan beruntungnya saat ini sahabat www.akhlakmuslim.com untuk membaca surat al kahfi tidak harus repot membawa Al-Quran karena kami menemukan aplikasi android yang bisa digunakan setiap saat cukup buka di handphone anda, yang luar biasa dari aplikasi ini yaitu terdapat tulisan arab dan cara pengucapannya termasuk audio surat al kahfi mp3 yang sangat merdu, jadi bisa sekaligus membaca sambil mendengarkan lantunan mp3 surat al kahfi tersebut.
 
mam Al-Syafi’i rahimahullah dalam Al-Umm menyatakan bahwa membaca surat Al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum’at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya (Al-Umm, Imam al-Syafi’i: 1/237).
 
Demikianlah Manfaat dan Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi. Semoga kita semua diberi kemudahan oleh Allah Swt, untuk mengamalkannya, dan semoga kita semua mendapatkan ridho-Nya. Aamiin
 
Rasulullah SAW bersabda :
 
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Berita9.com - Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola menaruh harapan agar pondok pesantren (Ponpes) dapat menjadi panutan atau teladan bagi sistem pendidikan karakter yang sedang jadi tema sentral pendidikan saat ini.

"Ponpes adalah lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia, bahkan sudah berdiri jauh hari sebelum bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya," kata Gubernur dalam rilisnya, Rabu (11/7). 

Menurut dia, sebagai lembaga keilmuan, pelatihan, pemberdayaan masyarakat dan keagamaan, ponpes juga berperan selaku simpul budaya religius yang terpatri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Ponpes juga sangat diharapkan bisa menghasilkan lulusan santri yang adaptif dengan dinamika zaman, mampu menguasai iptek dan pemahaman agama secara sinkron dengan menjadikan Alquran dan hadist sebagai sumber inspirasi dan rujukan utama.

Meskipun pondok pesantren menggunakan kurikulum nasional, tetapi Gubernur, meminta agar hendaknya nilai-nilai keislaman yang ada di dalamnya, mesti benar-benar ditonjolkan. Ini sebagai pembeda dengan lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya.

Hal senada disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Tengah, Rusman Langke. Dia mengatakan, Ponpes merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang telah eksis berabad-abad. Karena itu, peranan Ponpes harus dipelihara sebaik-baiknya sesuai kondisi masing-masing aderah.

"Sebelum kita merdeka, pendidikan yang paling terdepan adalah Ponpes. Para kiai yang melakukan pembelajaran hanya di surau, mushalah maupun masjid karena saat itu kita dikejar-kejar penjajah. Itu sejarah yang membuktikan bahwa lembaga pendidikan tertua di Indonesia itu adalah Ponpes," kata Rusman Langke.

(**/Ant)

Berita9.com - SETIAP manusia bahkan setiap makhluk melata di muka bumi ini pasti diberi rezeki oleh Allah Subhanahu wa Taala.

"Dan tak ada satupun makhluk melata di bumi kecuali Allah-lah yang memberikan rezekinya" (QS. Hud: 11).

Namun ada kalanya seorang muslim seret rezekinya. Misalnya bertahun-tahun tidak mendapat penghasilan padahal telah berusaha. Mencari pekerjaan nggak dapat-dapat. Buka usaha selalu rugi. Bisa jadi itu ujian, namun jika pernah melakukan salah satu dari 10 dosa ini, menurut Ustadz Yusuf Mansur itu adalah hukuman yang harus bertaubat dulu kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Berikut ini adalah 10 dosa yang menghalangi rezeki:

- Syirik kepada Allah, menyekutukan Allah

- Meninggalkan atau melalaikan shalat

- Berbuat zina

- Durhaka kepada orangtua

- Memakan uang haram

- Berjudi

- Minum khamr atau minuman keras

- Memutuskan silaturahim

- Suka ghibah

- Kikir alias pelit

Jika 10 dosa itu tidak pernah dilakukan tetapi rezekinya terkesan sulit alias seret, insya Allah itu adalah ujian dari Allah sebagaimana anak yang tak pernah melakukan kesalahan ia mengikuti ujian untuk naik kelas. Dari kelas 4 ke kelas 5, dari kelas 5 ke kelas 6, dari kelas 6 lulus SD menuju SMP.

Jika ujian, maka solusinya hanya sabar. Namun jika pernah melakukan salah satu dari 10 dosa penghalang rezeki tersebut, langkah pertama adalah bertaubat. Taubat nasuha. Taubat sungguh-sungguh terlebih dahulu, menyesal dan tidak akan mengulanginya. Setelah itu baru sabar. Insya Allah dengan demikian rezeki kembali lancar. (*)

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menghadiri acara Wisuda Tahfidz Ma’had Al-Askar yang digelar di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6). Dalam sambutannya, Anies berharap sekitar 135 hafidz yang diwisuda tidak hanya mampu menghafal Alquran saja, tapi juga berpikir kritis.

"Jadi saya ingin tumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Hafidz iya, tapi kritis juga iya. Jangan sampai hafidz tapi dogmatik dan tidak berpikir kritis," ujar Anies kepada para penghafal Alquran yang diwisuda.

Para penghafal Alquran ini merupakan wisudawan dari Yayasan Ma'had Al Askar yang dipimpin Ustadz Fahmi Askar. Anies juga berpesan kepada para hafidz tersebut agar jangan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya.

"Saya ingin pesan kepada adik-adik sekalian. Jangan pernah merasa selesai. Yang 10 harus mengejar 20 juz, yang khatam 20 mengejar 30 Juz. Dan yang 30 juz jangan merasa khatam dan selesai," ucapnya.

Karena, lanjut dia, mengahafal Alquran bukanlah titik akhir, tapi awal untuk menjadi sebaik-sebaiknya umat. Untuk menjadi umat terbaik, dia mengatakan, maka para hafidz juga harus memberikan manfaat kepada umat lainnya.

"Anda hidup di abad 21. Di abad ini anda punya modal. Modalnya hafal Alquran. Sekarang hidupkan itu dalam akhlak Anda. Tunjukkan akhlak yang mencerminkan Anda. Jangan sampai hafalannya 30 juz, akhlaknya tidak mencerminkan hafalan," kata Anies.

Selain itu, Anies juga berpesan agar para penghafal Alquran itu tidak hanya berkiprah di sekitar masjid saja, tapi juga bisa berjuang di luar masjid. Karena itu, menurut dia, para hafidz itu harus mengasah kemampuannya untuk lebih kreatif, bisa berkomunikasi dengan baik, dan bekerjasama dengan orang lain.

"Jadi, sebagai hafidz ini modal. Suatu saat nanti kita ingin melihat ada pengusaha yang hafidz dari Rumah Tahfidz Al Askar. Jadi pengusaha besar, jadi birokrasi ataupun wali kota," jelasnya.

Usai memberikan sambutan, Anies sempat berbincang-bincang dengan para tokoh agama, termasuk dengan Ketua Yayasan Al Manarah Al Islamiyah Arab Saudi, Syekh Khalid Al Hamudi. Acara ini juga dihadiri Dewan Pertimbangan MUI, KH Didin Hafidhuddin. (*)

Berita9.com - Allah taala telah menjelaskan kepada manusia akan keagungan diri-Nya dan kefakiran mereka kepada Allah. Allah pun telah menetapkan akan tujuan penciptaan mereka, yaitu peribadahan dan penghambaan. Namun Dia menetapkan bahwa Dia tidak butuh untuk dipersekutukan, dengan sesuatu apapun.

Tidak jin, manusia, atau malaikat sekalipun. Dan memang Dia tidak layak untuk dipersekutukan. Maka setiap amal yang ditujukan kepada-Nya, namun juga berharap dari selain-Nya akan menjadi sia sia. Ibarat jasad tanpa ruh, seperti itulah nilai suatu amalan tanpa keikhlasan. Dia ada, namun mati, membusuk, dan tidak berharga.

Lalu apa pula yang diharapkan dari selain-Nya, sedang segala sesuatu adalah milikNya? Kebodohan macam apa dalam pengharapan kepada manusia, sedang surga milik Sang Pencipta? Apa jua manfaat pujian, kekaguman, dan penghargaan dari mereka yang tidak memiliki apa-apa?

Namun dalam kenyataannya, jarang kita temukan orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Kejahilan terhadap Sang Pencipta, menjadikan kebanyakan orang lebih berharap kepada manusia daripada balasan dari Allah ta'ala. Dan ternyata memang, pada praktiknya pentingnya keikhlasan tidak menjadikan dia mudah untuk diterapkan. Bukan hanya bagi orang awam seperti kita, namun para ulama dahulu pun merasakannya.

Seperti Sufyan At Tsauri rahimahullah yang berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku melebihi masalah niatku, karena ia mudah berbolak-balik". Atau Yusuf bin Husain rahimahullah yang mengatakan, "sesuatu yang paling susah bagiku di dunia ini adalah keikhlasan, berapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya dari hatiku, namun seakan akan dia tumbuh kembali dengan corak yang lain".

Meskipun begitu halnya, bukan berarti ikhlas tidak bisa diusahakan. Bermujahadah, menggerakan semua daya dan upaya untuk mendapatkannya tetap menjadi keharusan. Bukankah pahala itu sesuai dengan kesusahan dalam beramal? Yang karenanya semakin susah pahala semakin besar? Dan begitulah nilai keikhlasan. Ia sungguh menentukan, hingga diterimanya suatu amalan pun tergantung dengan keberadaannya. Bahkan suatu amal kecil bisa menjadi besar dengannya. Dan sebaliknya, amalan besar bisa menjadi kecil dengan ketiadaannya.

Bukankah disebutkan seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan? Sedang siapa di antara kita yang tidak sanggup melakukannya. Namun lihatlah tiga golongan pertama penghuni neraka. Justru mereka adalah orang-orang yang beramal besar; seorang berilmu, pejuang, dan dermawan! Disinilah niat menjadi pembeda.

Maka, hal pertama yang harus dilakukan adalah senantiasa menghadirkan kebesaran Allah taala. Bahwa Dialah satu satunya Zat yang maha kuasa dan maha mengetahui. Tidak ada yang dapat menolak manfaat jika Dia hendak memberi manfaat. Pun tidak ada yang dapat memberi mudharat jika dia berkehendak.

Hal selanjutnya adalah meminta kepada Allah agar diberikan keikhlasan. Karena sesungguhnya semua kebaikan seorang hamba merupakan taufik dari Allah taala. Manusia tidaklah memiliki daya dan upaya untuk beramal kecuali jika disertai dengan taufik dari Allah taala. Yang karenanya mengandalkan kemampuan diri dan hanya bersandar kepada usaha tanpa meminta bantuan dari Sang Pencipta merupakan sebuah keteledoran. Dan sungguh benar apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim rahimahullah, bahwa kehinaan adalah ketika Allah meninggalkan seorang hamba dengan dirinya sendiri.

Keikhlasan juga perlu untuk dipelajari. Tentang makna, hakekat, serta hal-hal yang dapat menodai keikhlasan, untuk kemudian berusaha mempraktikannya. Karena bagaimana seseorang akan bisa ikhlas jika tidak tau makna keikhlasan? Ah, seandainya saja ada sekelompok dari para ulama yang tidak mengajari manusia kecuali keikhlasan.

Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah senantiasa mengingat besarnya pahala keikhlasan. Serta akibat dari amalan yang tidak disertai dengan keikhlasan. Bahwa ikhlas merupakan satu satunya jalan menuju surga. Ikhlas juga merupakan pintu keselamatan dari godaan setan. Sebaliknya, tanpa keikhlasan suatu amal tidak akan diterima, dan tanpanya juga seorang hamba akan terjerumus ke dalam neraka.

Juga selalu mengevaluasi diri dan bersungguh-sungguh. Baik sebelum, ketika, dan setelah beramal. Sebelum memulai, berhentilah sejenak, tanyakan kepada jiwa kita, apa yang kita ingingkan dengan amalan ini? Jika yang diinginkannya adalah ridha Allah, atau pahala dari Allah taala, maka hendaklah seseorang meneruskan amalannya. Namun sebaliknya, jika ternyata yang diinginkan hal lain selain Allah taala, maka hendaknya seseorang tidak melanjutkan amalannya sampai meluruskan niatnya. Ketika sedang beramalpun tetaplah melihat hati kita, jangan sampai berubah niatnya, jika kemudian muncul niat lain selain Allah, maka segera palingkan kepada Allah taala. Begitu juga setelah beramal. Jangan sampai muncul keinginan untuk diketahui oleh manusia, hingga kemudian menceritakan amalannya sambil berharap pujian dari mereka.

Memperbanyak ketaatan juga merupakan salah satu cara menghasilkan ikhlas. Karena setan akan selalu berusaha agar seorang hamba meninggalkan ketaatan atau berusaha merusak amalan yang dilakukan oleh seorang hamba. Jika kemudian setan melihat seorang hamba senantiasa berada dalam ketaatan, dan tidak menghiraukan ajakan setan, bahkan setiap kali setan membisiki seorang hamba namun justru hamba tadi bertambah ketaatan dan keikhlasannya, setan pun akan putus asa dan berhenti dari menggoda hamba tadi, agar tidak menambah pahalanya. Namun jika seorang hamba terkadang taat namun terkadang juga berbuat maksiat dengan menyambut ajaran setan, maka setan akan semakin bersemangat menggoda hamba tadi, begitu kata Hasan Al Bashri.

Kemudian juga seorang hamba hendaklah tidak bangga dengan amalannya. Tidak takjub dengan dirinya sendiri. Karena sesungguhnya ketika seseorang merasa takjub dengan dirinya sendiri, ketika itu dia sedang menyekutukan Allah dengan dirinya sendiri. Seakan akan dia telah berjasa kepada Allah dengan amalannya. Padahal, hakekatnya justru sebaliknya. Seorang bisa beramal merupakan taufik dari Allah taala. Ujub kepada diri sendiri sebagaimana halnya syirik dapat menghapus amalan, sebagaimana yang disampaikan Imam Nawawi Rahimahullah.

Dan hal terakhir hendaknya seorang hamba selalu bergaul dan berkumpul dengan orang orang yang ikhlas. Dengan harapan bisa berqudwah dan mengikuti mereka dalam keikhlasan. Dan bukankah seseorang akan berada dalam agama teman dekatnya? Hingga jika kita ingin melihat agama seseorang cukup dengan melihat agama teman dekatnya, Sebagaimana wasiat sang baginda Shallallahu Alaih Wasallam?. Maka pilihlah kawan yang baik, maka kita pun akan menjadi baik dengan Izin Allah taala.

Mudah-mudahan Allah taala memberikan rahmat dan taufik-Nya kepada kita semua agar senantiasa diberikan keikhlasan dalam beramal. Karena sesungguhnya tidak ada keselamatan kecuali dengan keikhlasan. Aamiin...

NB:

1 Perkataan Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Mukhtasor Minhajul Qosidin.

2 Perkataan Abdullah bin Hamzah rahimahullah.

3 HR. Ahmad (8212)

Berita9.com - Pemimpin itu ibarat hati dalam tubuh. Artinya, kebaikan dan keburukan seorang pemimpin itu akan turut memengaruhi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Jika hati (pemimpin) baik maka baiklah anggota badan (masyarakat) yang lain. Jika hati (pemimpin) rusak maka rusak pula yang lainnya (masyarakatnya).

Ibnul Qoyyim dalam mukadimah kitabnya, Ighotsatul Lahfan min Mas ho'id asy-Syaihton, mengatakan, "Karena hati bagi segenap anggota tubuh laksana raja (pemimpin) yang mengatur bala tentaranya. Semua perbuatan berasal darinya dan atas perintahnya. Dia bebas menggunakannya sesuai keinginannya sehingga semuanya berada di bawah kekuasaan dan perintahnya. Dialah yang menyebabkan keistiqamahan dan kesesatan. Kekuatan keyakinan dan kelemahan tekad akan mengikutinya.

Dari an-Nu'man bin Basyir RA, Nabi SAW bersabda, "Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks kepemimpinan, hadis di atas menegaskan bahwa kebaikan (kesalehan) dan keburukan seorang pemimpin akan memberikan pengaruh dalam kehidupan masyara kat, bahkan berpengaruh pula terha dap makhluk lain selain manusia.

Hasan al-Qashab menyebutkan, kesalehan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang pemimpin telah me mancarkan rahmat tidak hanya ke pada rakyatnya, tetapi juga kepada binatang. Diriwayatkan, selama ke pe mimpinan Umar bin Abdul Aziz, serigala dan domba hidup berdampingan dalam satu padang.

Ketika ditanya bagaimana mungkin serigala itu tidak menyerang domba, sang peng gembala menjawab, "Bila kepala baik maka seluruh badan juga akan baik." Kehancuran dan kegagalan suatu bangsa juga dipengaruhi oleh pemimpin, orang-orang yang memiliki pengaruh, dan orang-orang kaya di ne geri tersebut. Maka dari itu, waspadalah, dan waspadalah!

Alquran menyatakan (QS al-Isra [17]: 16), jika Allah berkehendak menghancurkan suatu negeri akibat dosa-dosa dari penduduknya, Allah perintahkan kepada orang kaya, orang yang memiliki pengaruh, dan para pemimpin di negeri itu untuk taat kepada-Nya. Dan ketika mereka menolak taat, maka rakyat di negeri itu mengikuti mereka dalam bermaksiat sehingga turunlah siksa Allah kepada semuanya. Walhasil, semua penduduk di negeri itu dibinasakan dan dihan curkan dengan sehancur-hancurnya. 

Semoga Allah membimbing para pemimpin di negeri ini agar selalu taat kepada-Nya sehingga mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan untuk masyarakat dan makhluk lain di negeri ini. Aamiin. (*)

CINTA karena Allah itu mempunyai harga sangat mahal yang harus dibayar, dan sedikit sekali yang mau membayarnya. Apa harga mahal yang harus dibayar itu?

Harga mahal yang harus dibayarkan oleh siapa saja yang mengaku cinta karena Allah, yaitu SALING MENASEHATI, sebagaimana firman Allah taala dalam surat 103 Al-Ashr.

Seseorang yang mengaku cinta kepada temannya karena Allah maka harus terus menerus mengawasi temannya tersebut untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.

Hal ini jarang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku saling cinta karena Allah, dengan alasan khawatir temannya tersinggung, atau khawatir temannya marah, atau khawatir temannya meninggalkannya, dan berbagai macam alasan lainnya.

Jadi, harga mahal yang harus dibayarkan oleh orang-orang yang saling mencintai karena Allah adalah saling menasehati dengan melakukan amar makruf nahi munkar, yaitu saling mengingatkan dan memotivasi untuk menjadi lebih baik, lebih taat kepada Allah, lebih istiqomah dalam Islam dan Sunnah.

Karena itu apabila ada dua orang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bertemu, keduanya tidak berpisah melainkan salah seorang dari keduanya membacakan kepada yang lain surat Al-Ashr sampai selesai, kemudian salah seorang dari keduanya memberikan salam kepada yang lain dan berpisah.

Ath-Thabrani Rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaidullah bin Hisn Abu Madinah, ia berkata:

"Bahwasanya apabila ada dua orang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bertemu, keduanya tidak berpisah melainkan salah seorang dari keduanya membacakan kepada yang lain surat Al-Ashr sampai selesai, kemudian salah seorang dari keduanya memberikan salam kepada yang lain."

Al-Imam Asy-Syafii Rahimahullah berkata: "Kalau sekiranya manusia mentadabburi (merenungkan dan menghayati) surat ini (Al-Ashr), pastilah cukup bagi mereka."

[Tafsir Ibnu Katsir: 4/657, Tafsir Al-Qasimiy: 9/538 dan Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, Isyraf: As-Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarak Fuuriy, hal 1529].

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(**/ASH)

Page 1 of 15
Go to top