Berita9.com - Koperasi Syariah 212 Mart menambah gerainya yang ke-68 di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, untuk memenuhi kebutuhan pokok warga sehari-hari.

"Untuk 2018, kami targetkan berdiri setidaknya 120 gerai 212 Mart, yang tersebar di berbagai wilayah," kata Direktur Eksekutif Koperasi Syariah 212 Ahmad Juwaini di sela acara peresmian pembukaan gerai 212 Mart di Cimanggis, Sabtu.

Ia mengatakan dari 68 gerai yang telah berdiri sebanyak 50 gerai berada di Jabodetabek atau 80 persen dan sisanya 18 gerai atau 20 persen berada di berbagai daerah.

Menurut dia, investasi 68 gerai mencapai Rp34 miliar atau satu toko rata-rata Rp500 juta.

Selain itu, partisipasi anggota koperasi mencapai Rp25 miliar.

"Jadi investasi masyarakat sudah hampir Rp60 miliar dan ini akan terus bertambah, sungguh suatu potensi ekonomi yang bagus," jelasnya.

Ia optimistis gerai 212 Mart akan berkembang dengan baik, karena dari gerai yang sudah berjalan tidak ada yang tutup.

"Alhamdulillah semua gerai yang telah dibuka berjalan dengan baik dan hasilnya baik," katanya.

Dikatakannya untuk investasi dari masyarakat yang ingin membuka gerai 212 Mart jumlahnya ada yang 100 orang, 200 orang dan 300 orang menandakan semangat dari masyarakat tinggi.

Mengenai harga barang di 212 Mart, Ahmad mengatakan kompetisi harga normal saja atau ada harga yang mahal dan juga ada yang murah.

"Jadi, harga itu relatif. Kami masih bisa bersaing," katanya.

Namun harus diakui gerai lain mendapat dukungan promosi besar, karena memperoleh diskon barang dari grupnya.

"Tetapi barang-barang promosi tersebut masih kecil secara persentase, sehingga kami bisa mengimbanginya," ujarnya.

Koperasi 212 Mart juga memberikan tempat bagi usaha kecil dan menengah (UKM) minimal 20 persen dan bahkan saat ini telah meningkat menjadi 30 persen.

"Ini untuk memberikan kesempatan UKM bisa terus berkembang," katanya.

Ia menambahkan gerai 212 Mart Cimanggis ini juga menyediakan daging ayam, telur, daging sapi, makanan olahan, dan buah-buahan segar yang dipasok dari Waroeng Seger.

Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang kompetitif.

Misalnya harga daging ayam Rp24.500 per ekor, paket ayam dan telur ayam Rp47.000, dan dada ayam tanpa tulang Rp49.000.

Untuk itu Ahmad mengajak masyarakat jadi anggota koperasi 212 dengan membayar simpaman pokok, wajib termasuk simpanan multiguna dan juga mengajak jadi investor untuk mendirikan 212 Mart.

"Kami ajak masyarakat belanja di 212 Mart, insya Allah selain mendapatkan barang dengan harga kompetitif juga mendapatkan manfaat yang banyak. Jadi barokahnya banyak jika berbelanja di 212 Mart," katanya.

(**/Ant)

Berita9.com - Pernahkah Anda mendengar tentang istilah “traktir”? Mentraktir biasa dilakukan seseorang ketika mendapatkan rezeki yang berlebih.

Mentraktir dan ditraktir umumnya menimbulkan rasa senang pada kedua belah pihak. Tidak hanya itu, karena ternyata masalah mentraktir ini termasuk hal yang positif dan sangat dianjurkan dalam islam.

Memberikan makan dan minum kepada orang lain, yang dalam hal ini dilakukan dengan mentraktir dapat mengundang pahala yang besar.

Nabi sendiri menganjurkan amalan yang satu ini sebagaimana Berdasarkan hadits yang diriwayatkan didalam Ash-Shahihain dan selainnya, dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhu, bahwasannya seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Apakah amalan yang paling baik didalam Islam?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal” (HR. Muslim)

Dan Rasulullah pernah bersabda, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (Shohih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Apakah Anda Tahu dengan mentraktir atau memberi makan orang lain termasuk amal jariyah yang sangat besar, dan apakah Anda juga sadar bahwa orang tua kita sedang Panen pahala Anda karena merekalah kita ada karena merekalah kita bisa melakuakan amal jariyah memberikan makan orang lain.

Dalam mentraktir orang jangan sembarangan sebagaimana sabda Rasulullah:

“... janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (Abu Daud, no. 4832; Tirmidzi, no. 2395)

Artinya kalo orang yang bertakwa yang kita traktir apabila orang tersebut makin kuat atau makin giat ibadahnya maka aliran pahala ibadah orang tersebut akan mengalir ke kita juga. 

Berbeda dengan mentraktir ahli maksiat malah akan berbahaya bagi kita kalo seandainya dia melakukan maksiat, kecuali Anda tidak tahu .

Memberikan makan kepada orang lain. Allah akan memberikan balasan sesuai dengan kadar niat seseorang. 

Allah tidak melihat siapa yang kita traktir, apa dia kaya atau miskin, teman atau bukan teman, keluarga atau bukan keluarga. Kalo Anda ikhlas dan tanpa riya dalam melakukannya maka Allah akan membalas dengan pahala yang sangat besar.

Jadi, rajinlah mentraktir dan memberikan hal yang positif kepada orang lain, karena hal ini termasuk bab Sedekah sebagai mana kata Nabi :

Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (HR Muslim).

Dan yang paling utama,  kebiasaan bersedekah (Suka mentaraktir orang lain) dapat Meredam kemurkaan Allah & mencegah dari kematian yang buruk sebagai mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,. Dari Anas ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Sungguh sedekah dapat meredam murka Allah dan mencegah dari kematian yang buruk” (HR. Tirmidzi)

Sungguh besar manfaat dari mentraktir ini, yuk beri makan orang lain degan mentraktir Selamat menikmati indahnya bersedekah.. insyaAllah hidup Anda barokah dan selamat dunia akhirat. Aamiin!

(**/HA)

 

 

Berita9.com - Masjid al-Haram memiliki banyak keutamaan, sebagaimana dikisahkan dalam Alquran maupun hadis-hadis Nabi SAW.

Salah satunya adalah riwayat dari Abu Dzar RA, bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?” Rasulullah menjawab, “Masjid al-Haram.” “Lalu masjid apa lagi?" tanya Abu Dzar kembali. “Masjid al-Aqsha.” “Berapa lama antara keduanya?” “Empat puluh tahun,” jawab Rasul (HR Muslim).

Sedangkan, dari Jabir RA dikisahkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ialah 1.000 kali lebih utama daripada shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram. Karena shalat di sana lebih utama 100 ribu kali daripada shalat di masjid lain.” (HR Ibnu Majah)

Jika dihitung maka keutamaan shalat di masjid tersebut kira-kira sama dengan shalat di masjid lain selama 55 tahun, 6 bulan, 20 malam. Namun demikian, bukan berarti jika seseorang telah shalat di Masjid al-Haram kemudian tidak perlu shalat lagi jika telah kembali ke kampung halaman karena mengira telah kelebihan pahala dan keutamaan. Pandangan ini keliru besar.

Yang dimaksud oleh Rasulullah SAW ialah keutamaan dan pahala, bukan kewajiban shalatnya. Artinya, jika seseorang telah shalat di Masjid al-Haram dan mendapatkan banyak sekali keutamaan yang berlipat ganda, ia tetap wajib melaksanakan shalat di tempat lain selama masih hidup. Sebab, meninggalkan shalat berarti berbuat dosa besar.

Pada mulanya, dahulu orang shalat bersama imam di belakang Maqam Ibrahim, dekat Ka’bah. Namun, lama-kelamaan dirasa makin sempit karena bertambahnya jumlah jamaah sehingga gubernur Makkah pada waktu itu, Khalid bin Abdullah Al-Qusary (wafat 120 H), menata dan menertibkan shaf orang-orang yang shalat di Masjid al-Haram. Perbuatannya ini didukung ulama besar dari golongan tabi’in dan para as-salafus shaleh. Maka, diteruskanlah upaya baik tersebut.

Imam Atha’ ketika dimintai fatwanya tentang hal ini mengatakan, “Satu shaf di sekeliling Ka’bah dan seterusnya.” Maksudnya adalah bahwa shaf di Masjid al-Haram berbentuk melingkar mengeliling Ka’bah, mulai dari shaf paling depan–paling dekat dengan Ka’bah–dan seterusnya melingkar ke belakang.

Fatwa inilah yang digunakan hingga sekarang ini. Imam Atha’ mendasarkan fatwanya dengan mengutip sebuah ayat Alquran, “Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling ‘Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya…” (QS az-Zumar [39]:75).

Pada zaman Rasulullah SAW maupun Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Masjid al-Haram hanya hamparan halaman. Jika orang berdiri di dekat Ka'bah, ia bisa memandang ke sekeliling tanpa terhalang. Kemudian, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab RA timbul inisiatif untuk memperluas Masjid al-Haram dengan cara membeli tanah di sekitarnya karena jamaah makin membeludak.

Namun, ketika akan transaksi jual beli tanah itu ada beberapa tokoh pemuka Makkah yang mencegah dan menghalang-halanginya. Lalu, Umar bin Khaththab menghardik mereka dengan nada keras, “Kalian semua memang diturunkan di Ka’bah, tetapi Ka’bah tidak diturunkan untuk kalian, melainkan karena keabadiannya.”

Sejarah mencatat bahwa Khalifah Umar bin Khaththab RA ialah orang yang pertama kali memberi dinding dan tembok di sekeliling al-Haram. Umar-lah yang membuat pintu-pintunya dan melapisi lantai tempat tawaf dengan batu-batu kerikil.

Setelah Khalifah Umar bin Khaththab RA, perluasan dilakukan secara berturut-turut oleh khalifah-khalifah selanjutnya: Usman bin Affan RA (26 H), Abdullah bin Zubair RA (65 H), Al-Walid bin Abdul Malik RA (91 H), Abu Ja’far al-Manshur al-Abbasi (137 H), Muhammad al-Mahdi al-Abbasi RA (160 H), dan Al-Mu’tadid al-Abbasi RA (284 H).

Lainnya adalah Al-Muqtadir al-Abbasi RA (306 H), Raja Abdul Aziz as-Saudi (1375 H), Raja Fahd bin Abdul Aziz as-Saudi (1409 H), Raja Abdullah bin Abdul Aziz, yang dikenal membangun megaproyek perluasan Masjid al-Haram dengan dana miliaran dolar. Proyek itu diteruskan Raja Salman bin Abdul Aziz.

Di dalam masjid itu terdapat tempat sa'i. Nabi SAW pernah mengumpulkan orang-orang Quraisy Makkah di Bukit Shafa untuk mendakwahi mereka kepada tauhid. Orang-orang Quraisy pun antusias menghadiri undangan itu, termasuk Abu Lahab.

Bahkan, jika ada yang berhalangan, mereka mengirimkan utusannya. Mereka ingin memastikan apa yang akan dilakukan oleh Muhammad SAW. Setelah Nabi menyampaikan seruan dakwahnya, Abu Lahab marah-marah dan mengumpat, “Celaka kau, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Setelah itu turunlah surah al-Lahab sebanyak lima ayat.

Di dalam Kitab Sirah li Ibni Hisyam disebutkan bahwa di Bukit Shafa itu pula Nabi SAW pernah disakiti dan dipukul kepalanya dengan batu oleh Abu Jahal hingga terluka dan mengeluarkan darah. Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib yang notabene adalah paman Nabi mengetahui hal itu, ia langsung mendatangi Abu Jahal yang ketika itu sedang berkumpul bersama orang-orang Quraisy di dekat Ka’bah.

“Bagaimana engkau mengumpat keponakanku sementara aku berada dalam agamanya?” hardik Hamzah kepada Abu Jahal. Kemudian, sebagai pembalasan, ia memukul Abu Jahal dengan busur panah hingga menyebabkan luka yang cukup parah.

Demikianlah sekelumit peristiwa yang terjadi di tempat sa'i. Namun, sesungguhnya ibadah sa'i antara Bukit Shafa dan Marwa, baik dalam haji maupun umrah, adalah untuk menapaktilasi perjuangan dan pengorbanan Hajar. Kisahnya adalah ketika Ibrahim, Hajar, dan putranya, Ismail, sedang berada di dekat Ka’bah. Ketika Ibrahim AS dipanggil oleh Allah untuk pergi ke suatu tempat, otomatis Hajar dan anaknya ditinggalkannya di situ dengan persediaan air seadanya.

Ketika air itu habis, Hajar memandangi putranya, Ismail, yang menggeliat karena mulai kehausan. Maka, Hajar pun naik ke Bukit Shafa untuk melihat apakah ada orang lain yang bisa menolongnya atau bahan makanan minuman yang bisa diperolehnya. Ternyata tidak ada. Lalu, larilah ia ke Bukit Marwa, tetapi hasilnya pun sama.

Hal itu dilakukannya sebanyak tujuh kali antara Shafa dan Marwa. Pada putaran ketujuh di Marwa, Hajar mendengar suara, lalu ia berkata, “diamlah.” Namun, suara itu terus terdengar. Ternyata itu adalah suara malaikat yang mengepakkan sayapnya di dekat Ka’bah. Maka, memancarlah air zamzam. Itulah usaha dan kesungguhan Hajar yang akhirnya membuahkan hasil.

Hikmah dari sa'i adalah seseorang tidak dibenarkan berputus asa dalam usahanya mencari kehidupan. Sa'i antara Shafa dan Marwa secara filosofis menggambarkan usaha duniawiyah kita. Setiap hari, seseorang akan mondar-mandir dari rumahnya menuju tempat pekerjaannya, dan itu dilakukan selama bertahun-tahun. Bosankah melewati jalan yang sama setiap hari? Tidak, sebab di situlah ia mendapatkan kehidupan duniawinya.

Maka, dalam meniti usaha duniawiyah itulah, kita dituntut sabar, istiqamah, optimistis, dan penuh harap kepada Allah SWT. Sebagaimana yang diteladankan Hajar. Jika demikian, kelak kita akan mendapatkan zamzam kehidupan, layaknya Hajar. Maka, carilah rezeki dunia seperti zamzam: bersih, suci, abadi, dan diberkahi oleh Allah SWT. Itulah makna sa'i. Sa'i itu sendiri artinya adalah usaha.

Gunakan kesempatan selama di Tanah Suci untuk memperbanyak beribadah. Nikmatilah setiap kesempatan untuk bercengkerama dengan Ka’bah, sebagaimana pesan Rasulullah, “Bersenang-senanglah kamu dengan Baitullah ini, karena sesungguhnya ia telah dirobohkan sebanyak dua kali, dan pada kali yang ketiga ia akan diangkat (oleh Allah).” (HR al-Bazzar).

______

**KH Anang Rikza Masyhadi, Penerjemah buku Trilogi Sejarah Makkah, Madinah & Masjid Nabawi

Berita9.com - Ketua MPR Zulkifl Hasan saat berada di Bandung menyambangi Masjid Al Latief.

Zulhas panggilan gaulnya, bertemu dengan dai muda yang juga Imam Masjid Salman ITB Muzammil Hasballah.

Muzammil Hasballah adalah hafiz Alquran dengan irama tilawah semerdu Imam Masjidil Haram Abdurrahman Al Aussy.

Melalui kanal media sosial Youtube, tilawah Alqura Muzamil sudah dilihat jutaan orang.

Politisi PAN ini mengaku sering melihat dan mendengarkan Tilawah Muzammil Hasballah melalui Youtube maupun Instagram.

"Saya sudah lama dengarkan lantunan ayat Alquran Muzammil di Youtube. Alhamdulillah syukur pada Allah hari ini bisa ketemu dan dengarkan langsung tilawahnya," kata Zulhasan. (4/1).

Di sela sela perjalanan atau waktu luangnya, Zulhas rutin mendengarkan ceramah-ceramah para dai muda seperti Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Hanan Attaki dan Muzammil Hasballah.

"Saya dukung Dakwah kekinian Da'i Da'i muda di media sosial. Ilmu mereka tinggi dan materi ceramahnya juga moderat, menarik dan jauh dari kesan radikal," kata dia.

Pendekatan dakwah yang kekinian perlu agar media sosial diisi dengan hal positif dan inspiratif.

"Jangan ada lagi kebencian di media sosial kita. Dengan poster, meme dan video video kreatif dakwah bisa lebih mengena pada generasi millenial," ucapnya.

Dalam kesempatan pertemuan itu, Zulhas sempat mendengarkan langsung tilawah Muzammil Surat Ali Imran.

"Lulusan arsitek ITB tapi menguasai Ilmu Alquran. Suaranya meneduhkan hati, menenangkan jiwa. Terima kasih Muzammil," kata dia.

(**/RE)

Berita9.com - Pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF), Imam Mohamad Bashar Arafat, belum lama ini melakukan kunjungan ke Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak tokoh-tokoh Islam Indonesia aktif mewujudkan perdamaian dunia.

"Melalui dialog ke orang-orang, program pertukaran budaya, pengalaman belajar bahasa, kegiatan antar agama, konferensi, seminar akademis dan publikasi khusus," kata Bashar dalam seminar internasional Global Challenges Facing Muslim Today: Ways to Respond di Universitas Alma Ata (UAA) Yogyakarta, belum lama ini.

Dalam kesempatan itu, ia turut mengungkapkan keprihatinannya atas pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang akan memindahkan Kedutaan Besar AS untuk Israel ke Yerusalem.

Menurut Bashar, rencana itu tidak lain hanya akan menimbulkan kegaduhan.

"Kebijakan ini telah menimbulkan kegaduhan dunia yang dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan," ujar Bashar.

Untuk itu, ia mengundang tokoh-tokoh Islam atau imam-imam yang ada di Indonesia bergabung ke CECF, demi mengembalikan kejayaan Islam yang rahmatan lil alamin.

Ia mengatakan Indonesia ternyata belum mengirimkan tokoh-tokohnya untuk bergabung dalam CECF di AS.

Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar dunia, sehingga aneh rasanya bila tidak diikutsertakan. Padahal tidak sedikit tokoh-tokoh, dosen dan mahasiswa agama lain turut serta dalam program-program CECF baik nasional maupun internasional. 

Bashar menjelaskan, CECF memiliki misi untuk mendorong kerjasama orang-orang dari berbagai agama dan budaya di seluruh dunia. Bashar mengaku telah meminta anggota-anggota CECF melaksanakan program-program di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Ia menekankan, mereka bekerja di bawah naungan Departemen Luar Negeri AS untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

Sebagai organisasi, CECF didirikan pada 2000 lalu sebagai organisasi nirlaba di Negara Bagian Maryland.

Menurut Bashar, tujuan didirikannya CECF tidak lain untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi atas keberagaman melalui budaya dan peradaban.

(**/RO)

Berita9.com - Kadzal faqru an yakuunal kufra (kemiskinan itu mendekatkan pada kekufuran), peringatan ini disampaikan Nabi beberapa abad sebelum Marx menyampaikan gagasannya soal materialisme yang ekonomik deterministik.

Dalam hadits itu jelas-jelas Nabi memperingatkan bagaimana dahsyatnya kekuatan materi menggerogoti iman sesorang hingga bisa membawanya dalam jurang kekafiran.

Bagaimana kemiskinan bisa menyeret sesorang mendekati kekafiran?

 

Mafhum mukholafah (pemahaman baik) dari hadits ini adalah, jika hendak menjauhkan seseorang dari kekafiran maka harus dijauhkannya dari kemiskinan. Dan ini artinya benteng iman yang bisa menjauhkan seseorang dari kekafiran adalah dengan menciptakan kesejahteraan, kemakmuran dan kekayaan dalam kehidupan ummat beriman.

Alih-alih menciptakan kemakmuran dan memberikan solusi alternatif yg bisa melapangkan jalannya rejeki. Pernyataan dan “fatwa” para ustafz dan penceramah agama akhir-akhir ini justru terlihat menutup jalan rejeki dan merampas penghidupan rakyat kecil, pedagang asongan, penjual jagung dan ikan, penjaja terompet dan aksesoris pesta tahun baru lainnya.

Hadits “man tasabba bi qaumin fahuwa minhum” yang disajikan secara tekstual oleh para ustadz dan penceramah agama tanpa memahami konteks sosilogis-kultural dari hadits tersebut telah melahirkan fatwa haram dan kafir terhadap berbagai bentuk kreasi tradisi dan profesi yang menjadi jalan hidup rakyat kecil.

Anehnya pernyataan normatif yang mengabaikan konteks sosial budaya itu ditelan mentah-mentah oleh kaum muslim milenial yang berpikiran simbolik formal. Mereka tidak membayangkan berapa ratus pedagang asongan, penjual terompet dan berbagai mainan tahun baru harus gulung tikar, keluarganya tidak memperoleh rejeki di malam tahun baru gara-gara fatwa tersebut.

Para ustadz dan penceramah serta para pengikutnya itu bisa bilang agar para pedagang kecil itu alih profesi dengan mencari pekerjaan halal lainnya. Mereka juga bisa bilang bahwa masih banyak barang jualan dan prefesi lain yang bisa menjadi jalannya rejeki yang tidak mengandung unsur kafir dan bid’ah.

Padahal selama ini para pedagang kecil dan asongan itu bisa menangguk untung agak lumayan saat perayaan hari-hari besar yang dikafirkan dan dibid’ahkan itu. “Resiko orang beriman ya harus menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan”, demikian kata mereka lantang seolah merekalah yang menentukan larangan dan perintah itu.

Pernyataan ini tidak saja mencerminkan kedangkalan pemahaman agama yang hanyà sebatas teks, tetapi juga mencerminkan egoisme iman yang miskin imaginasi sosial dan kering rasa empati. Mereka enak saja omong halal haram, menjauhi larangan dan sejenisnya karena kehidupan yang sudah berkecukupan, atau paling tidak punya alternatif untuk menghindar dari hal-hal yang mereka anggap syubhat dan bid’ah itu.

Tapi apakah mereka pernah membayangkan orang-orang yang hidupnya serba terbatas, tidak memiliki banyak pilihan profesi, hanya menggantungkan hidup jadi penjual terompet, pedagang asongan, penjaja mainan, jadi penjaga toko, badut mall dan sejenisnya yang hanya bisa memperoleh rejeki lebih saat tahun baru atau perayaan lainnya.

Mereka bisa tetap bersabar dan bertahan menjadi muslim dalam keadaan yang serba kekurangan itu saja sudah cukup membuktikan kekuatan iman mereka. Dan kini mereka harus bertambah beban hidupnya karena fatwa-fatwa yang serba mengharamkan itu.

Jelas di sini terlihat fatwa-fatwa haram yang berangkat dari hadits tasabbuh yang dipahami secara tekstual itu sangat bias elit dan a sosial, hanya memenuhi selera keberagamaan kaum elit dan orang yang sudah mapan (secara ekonomi dan sosial) tetapi tidak peka terhadap kesulitan rakyat kecil yang mengais rejeki hanya dengan jualan asongan dan kerja serabutan.

Jika sikap seperti ini diteruskan, bisa menyebabkan agama terasing dan terceraikan dari kehidupan karena kehilangan relevansinya dengan realitas. Agama hanya akan jadi beban bagi rakyat kecil yang faqir tanpa memberikan solusi apapun yang kongkrit dan terasakan manfaatnya.

Karena rumit dan peliknya kenyataan hidup inilah maka kiai-kiai zaman dahulu tidak mudah memberi hukum haram, sesat, kafir dan sejenisnya pada hal-hal yang khilafiyah, terutama yang terkait dengan nasib hidup masyarakat. Dalam konteks ini berlaku kaidah “al hukmu yadurru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman“(penetapan mengenai ada tidaknya hukum itu tergantung pada alasannya/konteksnya).

Ini dilakukan agar agama bisa benar-benar membawa kemaslahatan, kebaikan bersama dan tidak menambah beban penderitaan ummat. Penerapan suatu teks akan dikaitkan dan dibandingkan dengan teks lain dengan menjadikan kemaslahatan sebagai acuan utama. Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral para ulama, kiai dan habaib yang jadi acuan umat dalam beragama.

Mengharamkan suatu pekerjaan yang manjadi gantungan hidup seseorang tanpa memberikan alternatif yang konkrit dan sepadan sama dengan menutup jalannya rejeki orang tersebut. Memberikan fatwa yang mengabaikan dampak sosial ekonomi sehingga menyebabkan seseorang jatuh dalam kemiskinan atau menambah derajat kemiskinan sama dengan membuka pintu kekufuran.

Dengan mengacu pada hadits Nabi mengenai kemiskinan, jelas terlihat dakwah yang hanya mengkafirkan dan mengharamkan suatu kerjaan atau perbuatan yang statusnya hukumnya belum qath’i (masih khilafiyah) tanpa memberi solusi dan alternatif yang tepat sehingga bisa menyebabkan terjadinya kemiskinan, sama dengan ajakan untuk mendekatkan diri pada kekufuran. Dan inilah dakwah yang membuka jalan menuju kekafiran.

(**/NN)

Berita9.com - Orang yang gemar shalat berjamaah di masjid di akhirat nanti memukau para malaikat. “Subhanallah, inilah tiga wajah ahli surga  yang memukau para malaikat di surga karena mereka hamba Allah yang taat dan gemar shalat berjamaah di masjid. Yakni, seperti bintang, seperti bulan dan seperti matahari,” kata Pimpinan Majelis Az-Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham melalui pesan instan yang dikirimkan dari Makkah, Selasa (26/12) pagi WIB.

Pertama, kata Arifin, seperti bintang. “Orang yang wajahnya bercahaya seperti bintang adalah Muslim yang begitu mendengar adzan segera berwudhu lalu shalat berjamaah di masjid,” ujarnya.

Kedua, seperti bulan. Ini adalah orang yang saat terdengar adzan ia sudah berwudhu, lalu berjamaah di masjid.

Yang paling istimewa, ujar Arifin, yang wajahnya seperti mahatahari. Siapakah dia? “Dialah orang yang saat adzan berkumandanh sudah berada di masjid menanti datangnya waktu shalat,” tuturnya.

Di akhir pesan instannya, Ustaz Arifin Ilham berdoa,  “Allahumma ya Allah,  hidupkanlah kami dalam kenikmatan istiqamah di jalan-Mu dan selalu berjamaah di rumah-Mu. Aamiin.”

(**/Rep)

Berita9.com - Prinsip Jalan Tengah Islam (wasathiyah), menjadikan umat Islam sebagai Umat Tengahan (ummatan wasathan) dalam menekankan prinsip keseimbangan, moderasi, toleransi, dan antiekstrimitas.  

Pancasila adalah Ideologi Jalan Tengah, posisi tengah ini bisa dijelaskan oleh adanya nilai keseimbangan antara orientasi ketuhanan dan kemanusiaan.

Keseimbangan pada orientasi kemanusiaan itu sendiri terdapat diantara individualisme dan kolektifisme, dimana semua itu bermuara pada pentingnya keadilan bagi semua.

Sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Prof Din Syamsuddin menjadi pembicara pada Diskusi Meja Bundar di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggris.

Dalam siaran pers yang diterima Redaksi Kamis (21/12). Din selama di Inggris sudah bertemu dengan Sekjen Persekutuan Gereja-gereja  Anglican, Archbishop Josiah Atkins Idawu Fearon di Keuskupan Cantenbury. 

Sebelumnya, Ia juga mengisi Sarasehan Mahasiswa Indonesia tentang Politik Ekonomi dan Deglobalisasi, serta bersilaturahmi dengan Masyarakat Indonesia di KBRI London.

“Jalan Tengah Pancasila, menjelma pada paradigma politik yang menekankan permusyawatan untuk adanya kesepakatan. Untuk  paradigma ekonomi yang tidak  kapitalistik dan tidak  sosialistik,” ujar Din yang berbicara tentang ‘The Middle Path: Islam and Pancasila for the World Civilization’.

Islam yang merupakan agama berdasarkan wahyu Tuhan sedangkan Pancasila berupa ideologi buatan manusia, dan menurut matan Ketum PP Muhammadiyah ini keduanya ada penekanan akan prinsip Jalan Tengah. “Hal itu terjadi adalah karena Pancasila itu sendiri merupakan kristalisasi nilai-nilai  Islam dlm lingkup kehidupan bernegara,” jelasnya.

Adanya pertemuan Jalan Tengah ini sangat cocok untuk peradaban dunia yang telah rusak dewasa ini lantaran sudah terjebak kedalam ekstrimisme.

Sistem Dunia selama ini dinilainya sudah sangat antroposentristik, yakni menjadikan manusia sebagai pusat kesadaran, dan kurang berwajah teosentristik yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat kesadaran yang sejati sebagai sang maha pencipta.

Akibatnya menurut Din, peradaban manusia sepi dari nilai-nilai etika dan moral, dan pada akhirnya hanya menciptakan berbagai bentuk ketiadaan damai antar manusia dan alam. Seperti terjadinya ketimpangan kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kekerasan diakibatkan karena kurang kesadaran akan nilai mulia yang diridhoi Alloh SWT.

(**/Fsy)

Berita9.com - Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym merupakan salah satu peserta Aksi Bela Palestina. Aksi hari ini, Ahad (17/12), dipandangnya sebagai bentuk adanya kekuatan umat Islam.

"Ya, Allah tolong saudara kami di Palestina. Lepaskan dari penjajahan yang zalim. Terima kasih hadirin sekalian. Siapa orang Islam yang paling benar adalah yang paling bertakwa. Jaga akhlak, jaga akhlak. Mudah-mudahan pertemuan ini makin dicintai Allah. Jaga lisan, jaga ucapan, ujarnya di Jakarta, Ahad (17/12).

Menurutnya, Aksi Bela Palestina ini menunjukkan adanya kekuatan umat Islam dalam membela negara Muslim. "Islam adalah agama yang adil. Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita dapat hikmah dari Mister Donald Trump," ucapnya.

Ia mengajak peserta aksi untuk mendoakan agar Donald Trump diberi hidayah.

Ia menegaskan, bahwa umat Islam merupakan saudara dan memiliki rasa tolerasi yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. "Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara. NU saudara, Muhammadiyah saudara. Semakin banyak bersaudara, hati makin lunak. Kita harus menyikapi perbedaan dengan bijak," ungkapnya.

Aa Gym juga mengajak menyikapi perbedaan dengan damai. "Bagaimana kalau agama yang beda dengan kita. Beda agama hak masing-masing. Tidak perlu marah. Indonesia negara demokrasi," tutup dia.

(**/Rep)

Berita9.com - Kesultanan Utsmaniyah telah menjadi penjaga tiga situs suci umat Islam sejak berabad-abad lalu. Kondisi Makkah, Madinah, dan Yerusalem dulu menjadi bukti bahwa mereka adalah pelayan Islam yang sebenarnya.

Mekah dan Madinah adalah dua kota yang pertama kali mengecap indahnya Islam. Sementara Yerusalem dirangkul penuh selama periode kekhalifahan kedua setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Khalifah Umar bin Khattab menjadi orang yang dipercaya memegang kunci Yerusalem. Di bawah kekuasaannya, penduduk kota suci tersebut hidup dalam perdamaian.

Ini berawal saat pasukan Muslim dibawah komando Abu Ubayda mengepung Yerusalem setelah mengambil alih Damaskus dalam Perang Yarmuk. Saat itu, Yerusalem didominasi oleh umat Kristiani.

Patriark kota Yerusalem saat itu, Sophronius dengan tegas mengatakan, ia hanya ingin bernegosiasi dengan Khalifah Umar. Tidak ada yang boleh masuk Yerusalem siapa pun sebelum ia bertemu Khalifah Umar.

Mengetahui hal ini, Umar pun pergi ke Yerusalem ditemani oleh seorang asisten. Menempuh perjalanan ke Yerusalem, Umar mengendarai satu unta. Secara bergantian, ia dan asistennya naik unta tersebut.

Saat hendak mencapai Yerusalem, Umar berjalan kaki karena saat itu giliran sang asisten naik unta. Sang pelayan khalifah ini pun memaksa Umar saja yang naik unta. Dengan tegas ia menolak.

Saat itu, seluruh penduduk Yerusalem melihat Umar datang dengan unta yang ditunggangi pelayannya. Semua orang takjub. Patriark Sophronius pun terkaget-kaget dengan pemandangan itu.

Ia tidak menyangka pria dengan pakaian sangat sederhana dan membiarkan untanya ditunggangi pelayannya adalah panglima pasukan yang menaklukan kota. Umat Kristiani yang menonton dari dinding-dinding Yerusalem pun terkesima.

Negosiasi antara Umar dan Sophronius pun dilangsungkan dan terkenal dengan sebutan Umariyya Covenant. Hingga kini, kesepakatan itu masih disimpan di Gereja Suci Sepulchre di Yerusalem.

Dalam kesepakatan, umat Kristen meminta Yahudi dilarang masuk Yerusalem dan Umar menyanggupinya. Umar pun menjamin keamanan dan keselamatan seluruh umat di Yerusalem, apa pun kepercayaan mereka.

Semua tempat suci umat Kristen dijaga dan tidak boleh dihancurkan. Setelah kesepakatan, kunci kota Yerusalem resmi diserahkan pada 637 SM. Gerbang Yerusalem pun terbuka dan Khalifah Umar dijamu di Gereja Suci Sepulchre.

Saat di dalam, Patriark menawarkan jika Umar ingin berdoa. Umar menolak dengan alasan ia khawatir umat Islam nanti akan mengikutinya. Alih-alih, ia shalat di area selatan gereja yang kemudian menjadi Masjid Umar di Yerusalem.

Saat itu, Umar sedang menunjukkan arti toleransi dan kemenangan yang sesungguhnya. Kebesaran Islam menerangi jiwa kepemimpinan Umar hingga direfleksikan dari caranya memperlakukan wilayah jajahan.

(**/Liv)

 

 

Page 1 of 10
Go to top