Berita9.com - Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan "Pedang Allah yang Terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.

Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi Khalid, adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Namun justru setelah perang itulah Khalid masuk Islam.

Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia orang yang kaya raya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, merekalah yang mengurus gudang senjata dan tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan atas segala upaya jihadnya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam sebanyak 46.000, menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Dia sama sekali tidak gentar menghadapinya, dia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Dalam Perang Yarmuk jumlah pasukan Islam tidak seimbang dengan pihak musuh yang berlipat-lipat. Ditambah lagi, pasukan Islam yang dipimpin Khalid tanpa persenjataan yang lengkap, tidak terlatih dan rendah mutunya. Ini berbeda dengan angkatan perang Romawi yang bersenjata lengkap dan baik, terlatih dan jumlahnya lebih banyak.

Bukan Khalid namanya jika tidak mempunyai strategi perang, dia membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 pasukan Islam untuk memberi kesan seolah-olah pasukan Islam terkesan lebih besar dari musuh.

Strategi Khalid ternyata sangat ampuh. Saat itu, taktik yang digunakan oleh Romawi terutama di Arab utara dan selatan ialah dengan membagi tentaranya menjadi lima bagian; depan, belakang, kanan, kiri dan tengah. Heraklius telah mengikat tentaranya dengan besi antara satu sama lain. Ini dilakukan agar mereka jangan sampai lari dari peperangan.

Kegigihan Khalid bin Walid dalam memimpin pasukannya membuahkan hasil yang membuat hampir semua orang tercengang. Pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit itu berhasil memukul mundur tentara Romawi dan menaklukkan wilayah itu.

Perang yang dipimpin Khalid lainnya adalah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad). Perang Riddah ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah, dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat.

Oleb sebab itu, mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan. Maka Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menjadi jenderal pasukan perang Islam untuk melawan kaum murtad tersebut, hasilnya kemenangan ada di pihak Khalid.

Masih pada pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hirah pada 634 M. kemudian Khalid bin Walid diperintahkan oleh Abu Bakar meninggalkan Irak untuk membantu pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Diganti Untuk Kemaslahatan Tauhid

Ada kisah yang menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sempurna di bidangnya, ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinan Khalid bin Walid tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Salah satu pendapat yang masyhur mengenai alasan Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid adalah untuk kemaslahatan tauhid yaitu menunaikan hak Allah di muka bumi yang merupakan tujuan utama manusia dan jin diciptakan.

Bayangkan saja, Khalib bin Walid adalah panglima perang yang luar biasa, tidak pernah kalah dalam peperangan, baik sebelum masuk Islam, maupun sesudah masuk Islam. Setelah diangkat menjadi penglima perang sejak zaman khalifah Abu Bakar, Klalid bin Walid selalu menang, sehingga saat itu muncul dalam benak dan keyakinan sebagian kaum muslimin. 

Bahkan sebagian kaum muslimin mengira bahwa Khalid bin Walid (ﺻﺎﻧﻊ ﺍﻟﻨﺼﺮ) “pembuat kemenangan”, sebagian kaum muslimin menyandarkan sepenuhnya hati pada Khalid dan mulai lalai berdoa dan berharap serta meminta kepada Allah Ta’ala.

Melihat fenomena ini, Umar bin Khattab mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Umar paham benar bahwa Tauhid lebih penting dari segalanya. Bukan berarti Umar ingin kaum muslimin kalah, akan tetapi TAUHID paling penting dan kemenangan kaum muslimin masih bisa didapatkan dengan kepemimpinan Abu Ubaidah yang diberi gelar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan “Amiinul ummah” (Orang kepercayaan umat).

Perhatikan perkataan Umar bin Khattab,

ﺇﻧﻲ ﻟﻢ ﺃﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻋﻦ ﺳﺨﻄﺔ ﻭﻻ ﺧﻴﺎﻧﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓُﺘﻨﻮﺍ ﺑﻪ ﻓﺄﺣﺒﺒﺖ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺼﺎﻧﻊ

“Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid bin Walid karena marah ataupun dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah-lah yang membuat kemenangan.” [Al-Bidayah Wan Nihayah 7/81]

Ibnu ‘Aun meriwayatkan tatkala Umar menjadi Khalifah, ia berkata,

ﻷﻧﺰﻋﻦَّ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺣﺘﻰ ﻳُﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻨﺼﺮ ﺩﻳﻨﻪ . ﻳﻌﻨﻲ ﺑﻐﻴﺮ ﺧﺎﻟﺪ

“Sungguh aku akan mencopot Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.” [Siyaru A’lam An-Nubala 1/378]

Sebagaimana dijelaskan bahwa sebab anggapan dan prasangka manusia ini karena Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam peperangan, dalam fatwa Syabakah Islamiyyah dijelaskan,

ﻭﺳﺒﺐ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻟﻢ ﻳﻬﺰﻡ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻣﻌﺮﻛﺔ ﺧﺎﺿﻬﺎ ﻻ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ ﻭﻻ ﻓﻲ ﺇﺳﻼﻡ

“Sebab hal tersebut bahwa Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu tidak pernah kalah dalam peperangan apapun yang ia pimpin baik itu di masa jahiliyah (sebelum ia masuk Islam) maupun di masa Islam.” [Fatawa no. 9089]

Perhatikan bagaimana pentingnya TAUHID yang menjadi perhatian para sahabat, didikan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena memang tujuan utama kita diciptakan adalah menegakkan dan mendakwahkan tauhid di muka bumi.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ada beberapa pendapat lain mengenai alasan penggatian Khalid bin Walid yaitu karena sifat Khalid bin Walid yang sama-sama tegas dengan Umar bin Khattab, sifat dasar Umar yang tegas perlu dikombinasikan dengan sifat lembut dan sifat hati-hati yang dimiliki oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan sifat Abu Bakar yang lembut dan hati-hati perlu dikombinasikan dengan sifat Khalid bin Walid yang tegas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hal ini dan berkata,

ﻭﻛﺎﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ﻳﺆﺛﺮ ﻋﺰﻝ ﺧﺎﻟﺪ ﻭﺍﺳﺘﻨﺎﺑﺔ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ – ؛ ﻷﻥ ﺧﺎﻟﺪﺍً ﻛﺎﻥ ﺷﺪﻳﺪﺍً ﻛﻌﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ، ﻭﺃﺑﺎ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﻛﺄﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻷﺻﻠﺢ ﻟﻜﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﻟﻰ ﻣﻦ ﻭﻻﻩ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﻣﺮﻩ ﻣﻌﺘﺪﻻً

“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih penggantian Khalid dengan Abu Ubaidah radhiyallahu ‘anhu karena Khalid bersifat tegas seperti Umar bin Khattab. Abu Ubaidah bersifat lembut seperti Abu Bakar. Yang paling baik adalah setiap keduanya (kombinasi tersebut) menjabat agar perkara menjadi seimbang.” [Majmu’ Fatawa 28/258]

Demikian juga penjelasan dari Syaikh Bin Baz, beliau berkata,

ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺃﻥ ﻋﺰﻟﻪ ﻣﻦ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ ﻷﻣﺮ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺭﺁﻩ  ، ﻭﺭﺃﻯ ﺇﺑﺪﺍﻟﻪ ﺑـﺄﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﺮﺍﺡ ، ﻷﻣﺮ ﺭﺁﻩ ﻛﻔﻴﻼً ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﺤﺔ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ .
ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ : ﺇﻥ ﺍﻟﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ : ﺇﻥ ﻋﻤﺮ ﻛﺎﻥ  ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﻛﻞ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻭﻛﺎﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﻛﺬﻟﻚ ﻗﻮﻳﺎً ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﻣﻮﺭ، ﻓﻨﺎﺳﺐ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪﺓ ﻫﻮ ﺃﻣﻴﺮ ﻋﻤﺮ؛ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻨﺎً ﺭﻓﻴﻘﺎً، ﻟﻴﺲ ﻣﺜﻞ ﺧﺎﻟﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺪﺓ، ﺣﺘﻰ ﻳﻌﺘﺪﻝ ﺍﻷﻣﺮ

“Pendapat yang terkenal bahwa pencopotan Khalid oleh Umar karena untuk siasat perang. Umar beranggap penggantian ini untuk kemashlahatan kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebabnya adalah Umar bersifat tegas pada semua urusan dan Khalid juga demikian, maka yang cocok bagi Umar adalah Abu Ubaidah sebagai panglima perang karena lembut dan penyayang, tidak seperti Khalid yang tegas. Hal ini membuat urusan jadi seimbang.” [Fatwa Nuur Alad Darb no. 8790]

 

Berita9.com - Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Sya’ban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab yang menjadi sorotan, karena termasuk salahsatu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini.

Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?”

Beliau menjawab,

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Sya’ban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa.

Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah ‘azza wa jalla terjadi tiga kali:

1. Harian

2. Pekanan

3. Tahunan

Pertama, pelaporan amal harian.

Yaitu terjadi dua kali dalam sehari : pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar.

Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, “Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِى صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِى فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون

“Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit).

Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?”

Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya).

Kedua, pelaporan amal pekanan.

Terjadi setiap hari Senin dan Kamis.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu mengabarkan, “Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

إن أعمال بني آدم تعرض كل خميس ليلة الجمعة ، فلا يقبل عمل قاطع رحم

Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah serial hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ ؛ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa.

Ketiga, pelaporan tahunan.

Terjadi di bulan Sya’ban.

Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa-i no. 2329)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

عمل العام يرفع في شعبان ؛ كما أخبر به الصادق المصدوق ويعرض عمل الأسبوع يوم الاثنين والخميس ، وعمل اليوم يرفع في آخره قبل الليل ، وعمل الليل في آخره قبل النهار . فهذا الرفع في اليوم والليلة أخص من الرفع في العام ، وإذا انقضى الأجل رفع عمل العمر كله وطويت صحيفة العمل

Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal.

Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang.

Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan.

Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung.”

(Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim ‘alas Sunan Abi Dawud, 12/313)

Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allah’azza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Sya’ban,

فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa…”

Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahu’alaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis.

Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Ma’arif menyebutkan kisah sebagian Tabi’in, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, “Hari ini… amalan kita dilaporkan kepada Allah.” (Lihat : Latho-iful Ma’arif hal. 191)

Sekian.

Wallahua’lam bis showab.

***

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

 

Berita9.com - Bila kita perhatikan ayat-ayat dalam al-Quran niscaya, kita dapati saat membahas masalah hak untuk memberikan kepemimpinan, kekuasaan dan kerajaan, Allâh Azza wa Jalla menyandarkan hal itu hanya kepada-Nya.

Karena memang hanya dengan kehendak-Nya, seorang hamba diangkat menjadi pemimpin. Dia Azza wa Jalla menetapkan dan mencabut kekuasaan dari seseorang. Dan sesungguhnya para penguasa, ada waktu dan masanya.

Seandainya seluruh manusia di muka bumi sepakat untuk mengkudeta pemimpinnya, mereka tidak akan bisa melakukan itu hingga Allâh Azza wa Jalla sendiri yang menghendaki masa jabatannya habis, karena Allâh Azza wa Jalla menetapkan dan mencabut kekuasaan seseorang berdasarkan sifat hikmah-Nya yang agung. [1]

Dzulqarnain, diantara orang yang telah Allâh Azza wa Jalla beri kekuasaan. Allâh Azza wa Jalla  berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا ۞ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا 

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.

Ahlul kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah Dzulqarnain. Lalu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatakan, ‘Aku akan bacakan kepada kalian cerita tentangnya sebagai pelajaran.’

Artinya, di dalamnya terdapat berita yang bermanfaat dan pembicaraan yang menakjubkan yaitu saya akan bacakan untuk kalian tentang keadaannya yang bisa mengingatkan kalian serta sebagai pelajaran. Adapun yang tidak ada pelajaran darinya maka tidak dikabarkan kepada kalian.[2]

Al-Qur’an dalam memaparkan kisah yaitu tidak menjelaskan secara rinci semua  perkara yang tidak mengandung pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik dan cukup dengan isyarat atas kandungan pelajaran dan nasehat di dalamnya.[3]

Dalam kisah Dzulqarnain ini terdapat ‘ibrah yang bisa kita ambil, terutama untuk para pemimpin. Ibrah dalam masalah keimanan, keadilan, kebijaksanaan dan perhatian terhadap rakyatnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman [Yusuf/12:111]

DZULQARNAIN RAJA SHALIH YANG BERIMAN
Dia adalah  seorang hamba yang shalih yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala anugerahi kekuasaan di bumi dan Allâh juga memberikannya ilmu dan hikmah serta Allâh Azza wa Jalla pakaikan kewibawaan padanya, walaupun kita tidak tahu siapakah dia.

Ibnu Katsir rahimahulah  mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar dan segala sesuatu yang ada untuk seorang raja, berupa kekuasaan, tentara, peralatan perang dan sarana prasarana yang memadai. Dengannya, dia bisa mengusai dunia, bagian timur maupun baratnya, dan dia menaklukkan berbagai negeri serta menundukkan para penguasa lainnya. Sehingga semua orang berkhidmat untuk kerajaannya. Oleh karena itu, sebagian Ulama berpendapat mengapa dia digelari Dzulqarnain karena kekuasaannya meliputi tempat terbit dan tempat terbenam yaitu timur dan barat bumi.” [4]

Dalam al-Qur’an, dikisahkan tentang tiga perjalanan yang dilakukan Dzulqarnain. Pada setiap perjalanannya ada ibrah atau pelajaran. Berikut kisah perjalanan Dzulqarnain.

PERJALANAN PERTAMA : DZULQARNAIN TIBA DI ARAH TERBENAMNYA MATAHARI YAITU ARAH BARA

1. Dzulqarnain mempunyai kemampuan dan kemauan
Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kekuasaan dan memantapkan pengaruhnya di segenap penjuru bumi.

فَأَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٥﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا

Maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. [Al-Kahfi/18:85-86]

Allâh Azza wa Jalla memudahkan jalan baginya untuk menaklukkan banyak daerah dan kampung serta menaklukkan negeri-negeri dan tempat-tempat yang lainnya, serta mampu mengalahkan para musuh dan menaklukkan para raja penguasa, serta merendahkan ahlu syirik. Sungguh dia telah diberi segala sesuatu sebagai jalan yang memudahkannya untuk melakukan semua itu.Wallahu a’lam. [5]

Dzulqarnain menggunakan sebab-sebab yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan itu, sesuai dengan fungsinya dan dia mempunyai kemampuan dan kemauan. Karena tidak setiap orang yang mempunyai suatu sebab (jalan kemudahan), lalu punya kemauan untuk menjalaninya, serta tidak setiap orang mampu untuk menjalani sebab itu. Sehingga, ketika kemampuan untuk menjalani sebab yang hakiki dan kemauan untuk menjalaninya berpadu, maka tujuan akan tercapai. Apabila keduanya tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka tujuan tidak akan tercapai.

Sebab-sebab atau faktor-faktor yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada Dzulqarnain tidak diberitakan oleh Allâh Azza wa Jalla maupun Rasul-Nya kepada kita, juga tidak ada nukilan para ahli sejarah tentang itu. Maka, seyogyanya kita juga diam, tidak membicarakannya. Namun secara umum kita tahu bahwa faktor-faktor tersebut kuat dan banyak, baik faktor dari dalam maupun dari luar. Dia punya pasukan yang besar dan perlengkapannya, serta diatur dengan baik. Dengan pasukannya, dia mampu mengalahkan para musuh, hingga sampai ke belahan timur, barat maupun segenap penjuru bumi. [6]

2. Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allâh yang adil lagi berilmu. Dia mendapatkan ridha Allâh Azza wa Jalla dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا ﴿٨٦﴾ قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا ﴿٨٧﴾ وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Kami berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.’ Dzulqarnain mengatakan, ‘Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’.” [Al-Kahfi/18:86-88]

Allâh Azza wa Jalla telah memberi kekuasaan kepadanya dan menyerahkan keputusan hukuman terhadap mereka. Dia bisa menahan, membunuh atau berbuat baik dan melepaskan mereka. Karena Allâh Azza wa Jalla mengetahui keadilannya dan keimanannya.

Ini tampak dari keputusan yang diambilnya yaitu orang yang zhalim dan terus berada dalam kezhaliman, kekufuran dan kesyirikan akan disiksa, kemudian jika dia kembali kepada Rabbnya maka akan diadzab dengan adzab yang pedih. Adapun orang yang beriman, dia akan mendapatkan surga serta kedudukan yang baik di sisi Allâh  pada hari kiamat. [7]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata tentang firman Allâh Azza wa Jalla, yang artinya,“Kami berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka’.” yakni, engkau bisa menghukum mereka dengan membunuh, memukul, atau menawan mereka dan semacamnya, atau engkau bisa berbuat baik kepada mereka.

Dzulqarnain diberi dua pilihan, karena yang nampak kaum itu adalah orang kafir atau fasik, atau memiliki sebagian sifat-sifat tersebut, karena bila mereka kaum yang beriman, tentu Allâh Azza wa Jalla  tidak mengizinkan Dzulqarnain menyiksa mereka.

Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain memiliki as-siyâsah asy-syar’iyyah yang menjadikannya berhak mendapatkan pujian dan sanjungan, karena taufiq yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya. lalu dia menjadikan mereka dua bagian:

  • Adapun orang yang aniaya.” yakni Kafir.  “maka kami kelak akan mengadzabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu dia mengadzabnya dengan adzab yang tidak ada taranya.” Yaitu; orang yang aniaya akan mendapatkan dua hukuman, hukuman di dunia dan di akhirat.
  • Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala terbaik sebagai balasan.” yakni sebagai balasannya, dia akan mendapatkan surga serta kedudukan yang baik di sisi Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat.

“dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.” yaitu, kami akan berbuat baik kepadanya, berlemah lembut dalam tutur kata, dan kami permudah muamalah baginya.

Ini menunjukkan bahwa Dzulqarnain termasuk raja yang shalih, wali Allâh yang adil lagi berilmu, di mana dia menepati keridhaan Allâh Azza wa Jalla dengan memperlakukan setiap orang sesuai dengan kedudukannya. [8]

PERJALANAN KEDUA : SAMPAINYA DIA KE BUMI BAGIAN TIMUR

3. Dzulqarnain Pemimpin yang menyeru kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala

Kemudian dia menempuh kembali perjalanannya dari arah terbenamnya matahari ke arah terbitnya matahari, dan setiap dia melewati suatu kaum maka dia akan menaklukkan dan mengalahkan mereka serta menyeru mereka kepada Allâh Azza wa Jalla. Apabila mereka menerima ajakannya, mereka akan dimuliakan dan jika tidak diterima seruannya, mereka akan dihinakan. [9]

Dia mengatakan, “Terimalah seruan kami! Hendaklah kalian beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, maka kalian akan mendapatkan balasan yang baik di akhirat di sisi Allâh Azza wa Jalla “ [10]

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٨٩﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا ﴿٩٠﴾ كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا

Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. [Al-Kahfi/18:89-91]

Dia mendapati matahari menyinari segolongan umat yang Allâh Azza wa Jalla tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang mereka diami dan tidak ada pepohonan untuk berteduh. Said bin Zubair mengatakan, “(Kehidupan) mereka sangat terbelakang (liar), terpencil dan tempat tinggal mereka berpindah-pindah, kebanyakan penghidupan mereka dari mencari ikan.” [11]

Disana tidak ada pepohonan atau gunung atau bangunan yang bisa melindungi mereka dari sinar terik matahari, dan dikatakan mereka tidak memakai pakaian (telanjang). [12]

4. Dia melaksanakan perkara yang mendatangkan maslahat bagi rakyatnya, dan berusaha untuk menebarkan kebaikan di penjuru bumi.

Sesungguhnya dia seorang raja yang menguasai timur dan barat. Dia membantu orang yang beriman dan menyiksa para penyembah berhala, dan dia melaksanakan perkara yang mendatangkan maslahat bagi rakyatnya, dan berusaha untuk menebarkan kebaikan di penjuru bumi.

Ini diisyaratkan dalam ayat secara umum sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla, “Dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami’” dan dijelaskan secara langsung diakhir kisah, tentang Dzulqarnain yang membuat benteng pembatas. Juga sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya, “Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.” maka seakan ada isyarat bahwa dia Dzulqarnain membantu orang-orang itu dengan mendirikan bangunan yang dapat melindungi badan mereka dari sinar terik matahari, atau memberikan pakaian dan penutup kepada mereka. Ini terpahami dari konteks ayat. [13]

Penafsiran yang lain, orang-orang ini diperlakukan sama seperti orang-orang yang ada di bagian barat yaitu yang kafir (tidak mau beriman) diantara mereka akan mendapatkan siksa sedangkan yang mau beriman akan diperlakukan baik. [14]

5. Pujian Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada Dzulqarnain, karena kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Demikianlah. Sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.” (Al-Kahfi/18:91). Maksudnya, Kami mengetahui kebaikan dan sebab-sebab agung yang ada padanya, dan ilmu Kami selalu bersamanya, kemanapun ia berjalan.

Allâh Azza wa Jalla maha mengetahui semua keadaannya dan keadaan bala tentaranya, tidak ada yang tersembunyi sedikitpun bagi Allâh Azza wa Jalla walaupun berbeda-beda umat, terpencar dan terpisah-pisah di seantero bumi. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Sesungguhnya bagi Allâh tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. [Ali Imran/3:5]

PERJALANAN KETIGA : DZULQARNAIN KE DAERAH YA’JUJ DAN MA’JUJ DAB PEMBUATAN DINDING PEMBATAS

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا ﴿٩٢﴾ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا ﴿٩٣﴾ قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Dzulqarnain! Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” [Al-Kahfi/18:92-94]

6. Allâh memberikan Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah sehingga dia bisa faham bahasa asing kaumnya

Para ahli tafsir mengatakan bahwa Dzulqarnain pergi dari arah timur menuju ke arah utara, hingga akhirnya beliau sampai di antara dua dinding penghalang. Kedua dinding penghalang itu adalah rantai pegunungan yang dikenal pada masa itu, yang menjadi penghalang antara Ya`juj dan Ma`juj dengan manusia. Di hadapan kedua gunung itu, dia menemukan suatu kaum yang hampir-hampir tidak bisa memahami pembicaraan, karena bahasa mereka sangat asing serta akal dan hati mereka tidak bagus.

Namun, Allâh Azza wa Jalla memberikan Dzulqarnain sebab-sebab ilmiah sehingga dia bisa memaahami bahasa kaum itu dan dia bisa memahamkan mereka. Dia bisa berbicara kepada mereka dan mereka bisa berbicara kepadanya. Mereka kemudian mengeluhkan kejahatan Ya`juj dan Ma`juj kepada Dzulqarnain dan meminta agar Dzulqarnain membuatkan mereka dinding penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj agar mereka terhindar dari kerusakan yang dibuat Ya’juj dan Ma’juj. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun dinding penghalang, dan mereka mengetahui kemampuan Dzulqarnain untuk membangunnya. [15]

7. Dzulqarnain bukan orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan usaha perbaikan keadaan rakyat.

Saat meminta tolong kepada Dzulqarnain, mereka berjanji akan memberinya upah. Dzulqarnain bukan orang yang tamak, dia tidak memiliki keinginan terhadap harta dunia. Namun dia juga tidak meninggalkan usaha perbaikan keadaan rakyat, hahkan tujuannya adalah perbaikan. Sehingga dia memenuhi permintaan mereka karena kemaslahatan yang terkandung di dalamnya. Dia tidak mengambil upah dari mereka. [16]

Ibnu Jarir dari Atha dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, “(Mereka berjanji akan memberikan) upah yang besar (ajran azhiman) yaitu dengan cara (masing-masing) mereka mengumpulkan harta benda yang mereka miliki untuk kemudian (mereka satukan) lalu diberikan kepada Dzulqarnain sebagai upah, sehingga dia bisa membuatkan benteng penghalang. [17]

8. Dzulqarnain mengajak partisipasi rakyatnya dalam membangun dinding pemisah, untuk kemaslahatan mereka.

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

Dzulqarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, [Al-Kahfi/18:95]

Kemudian Dzulqarnain dalam rangka menjaga diri dan agamanya serta mewujudkan kebaikan, ia mengatakan, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah memberikan kepadaku kekuasaan dan kedudukan yang itu lebih baik untukku daripada harta yang kalian kumpulkan untuk kalian berikan kepadaku. Namun, bantulah aku dengan kekuatan tenaga dan perbuatan kalian dan penyediaan alat-alat untuk membangunnya. [18] “Agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” sebagai penghalang agar mereka tidak melintasi kalian.

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ﴿٩٦﴾ فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

Berilah aku potongan-potongan besi”. hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, “Tiuplah (api itu)”. hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata, “Berilah Aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. [Al Kahfi/18:96-97]

Mereka memberikan potongan-potongan besi kepada Dzulqarnain. Hingga ketika besi itu telah rata dengan dua gunung yang antara keduanya dibangun penghalang. “Dzulqarnain berkata, “Nyalakanlah api yang besar. Gunakanlah alat tiup agar nyalanya membesar, sehingga tembaga itu meleleh. Tatkala tembaga yang hendak dia tuangkan di antara potongan-potongan besi itu telah meleleh, dia berkata berilah aku tembaga yang telah mendidih lalu tuang tembaga yang meleleh ke atas besi panas itu. Maka dinding penghalang itu menjadi luar biasa kokoh. Umat manusia yang berada di belakang menjadi aman dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj. Sehingga Ya`juj dan Ma`juj tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mendakinya karena tingginya penghalang itu. Tidak pula mereka bisa melubanginya karena kekokohan dan kekuatannya.

9. Dzulqarnain menyandarkan hasil kerjanya sebagai rahmat dari rabbnya, dan bersyukur kepada Rabbnya atas kekokohan dan kemampuannya.

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dzulqarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar”. [Al Kahfi/18 :98]

Setelah melakukan perbuatan baik dan pengaruh yang mulia, Dzulqarnain menyandarkan nikmat itu kepada Pemiliknya. Dia berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku.” (Al-Kahfi/18: 98) Maksudnya, merupakan karunia dan kebaikan-Nya terhadapku. Inilah keadaan para pemimpin yang shalih. Bila Allâh Azza wa Jalla memberikan kenikmatan yang mulia kepada mereka, bertambahlah syukur, penetapan, dan pengakuan mereka akan nikmat Allâh Azza wa Jalla .

Dzulqarnain berkata, “Maka apabila sudah datang janji Rabbku akan keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, Dia menjadikan dinding penghalang yang kuat dan kokoh itu (hancur luluh), dan runtuh. Ratalah dinding itu dengan tanah. “Dan janji Rabbku itu adalah benar.” [Al-Kahfi/18:98]

Sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” [Al-Anbiya/21: 96][19]

FAEDAH DARI KISAH [20]

  1. Allâh mengangkat derajat sebagian manusia atas sebagian yang lain dan memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki berupa kekuasaan dan harta, karena Dia yang maha kuasa dan yang mengetahui semua hikmah yang tersembunyi.
  2. Isyarat untuk melakukan sebab, sebagaimana sunatullah dalam kauniyah-Nya dengan bersungguh-sungguh berusaha dan bekerja maka akan tercapai tujuan. Kadar keberhasilan seseorang berbanding lurus dengan kadar kesungguh-sungguhannya.
  3. Semangat dalam melakukan perkara yang penting serta berusaha menghilangkan rintangan , tetap semangat dan tidak putus asa dalam mencapai tujuan.
  4. Siapa yang berkuasa maka tidak seharusnya dia mabuk kepayang dengan kekuasaannya, serta tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menyiksa dan menghukum orang yang dia mau. Dia harus memperlakukan orang yang baik dengan cara baik dan bersikap tegas terhadap orang yang jahat. Dengannya, dia bisa memberikan rasa keadilan kepada rakyatnya.
  5. Seorang penguasa hendaknya menjaga diri dari harta rakyatnya dan tidak menerima imbalan dari pekerjaan yang dia lakukan selama dia telah dicukupkan oleh Allâh Azza wa Jalla , karena dengan sikap itu dia menjaga kehormatannya dan akan menambah kecintaan rakyat kepadanya.
  6. Mengungkapkan kenikmatan yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Dan menunjukkan kelemahan seorang hamba karena dia tidak akan mampu kecuali atas pertolongan-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman: “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” [An-Naml/27:40]
  7. Terbukanya atau hancurnya dinding pembatas yang dibuat oleh Dzulqarnain serta keluarnya Ya’juj dan Ma’juj salah satu diantara tanda kiamat besar.
  8. Mengingat negeri akhirat dan fananya dunia akan menjadikan seseorang bersungguh-sungguh menyiapkan bekal untuk alam yang kekal abadi dan kenikmatan yang langgeng selamanya.
  9. Pelajaran akan abadinya amalan yang baik dan atsar perbuatan yang mulia. Sebagaimana yang  dikisahkan dalam ayat yang mulia ini, maka kebaikan Dzulqarnain berupa kebaikan akhlaknya, keberanian, keluhuran cita-citanya, menjaga kehormatan diri, keadilan dan usahanya mengokohkan keamanan dan memberi kebaikan kepada orang baik serta memberi hukuman orang zhalim, perbuatannya itu tetap dipuji dan diabadikan walaupun orangnya telah tiada.
  10. Hendaknya seorang pemimpin mengupayakan keamanan bagi rakyatnya, menjaga mereka,  mencegah dari kejelekan, menutup kekurangan dan memperbaiki mereka, menjaga harta mereka, mengarahkan kepada  yang bermanfaat untuk mereka, dan menjaga hak-hak rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan dan pengawasannya.
  11. Untuk mencapai kemaslahatan, kebaikan dan keamanan bersama maka seorang pemimpin membutuhkan partisipasi dari rakyatnya
  12. Hendaklah nikmat-nikmat yang besar tidak menjadikan seseorang congkak dan sombong. Sebagaimana kesombongan Qarun ketika dia berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” [Al-Qashash/28:78]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11-12/Tahun XXI/1439H/2018M]
_______
Footnote
[1] Lihat pembahasannya dalam Kamâ Takûnû Yuwallâ ‘alaikum, hlm. 106-113, Syaikh Abdulmalik Ramadhani hafizhahullah.
[2]Taisîr Karîmir Rahman, Tafsir surat al-Kahfi, ayat ke-83, hlm. 653, Syaikh as-sa’di, Jum’iyah Ihyâ at Turâts al-Islâmî.
[3] Taisîrul Manân Fî Qishashil Qur’an, hlm. 416, Ahmad Farîd, Dâr Ibnil Jauzi.
[4] Lihat Taisîrul Manân Fî Qishashil Qur’an, hlm. 418-419
[5] Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 103, Darul Kutub al-Ilmiyah
[6] Lihat Taisîr Karîmir Rahman, Surat al-Kahfi ayat ke-84 s/d 85, hlm. 654, Syaikh as-sa’di, Jumiyah Ihya at-Turats al-Islami.
[7] Lihat Tafsîr Ibnu katsir, hlm. 105, Darul Kutub al-Ilmiyah.
[8] Lihat Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 654
[9] Tafsir Ibnu katsir, hlm. 105
[10] Lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an, hlm. 419
[11] Lihat Tafsîr Ibnu Katsir, hlm. 105, Surat al-Kahfi ayat ke-90
[12] lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an,  hlm. 421
[13] Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an,  hlm. 418
[14] Lihat Taisîrul Manân fî Qishashil Qur’an, hlm. 421
[15]Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655
[16]Taisîr Karîmir Rahman, hlm. 655
[17] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hlm :106; Darul Kutub al-Ilmiyah
[18] Tafsir Ibnu Katsir; hal 106; Darul Kutub al-Ilmiyah
[19] diringkas dari Taisir al-Karimirrahman; Tafsir Surat al-Kahfi:96-98; Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di.
[20] Diringkas dengan perubahan dari Taisirul Manân Fii Qishashil Qur’an; hlm;427-429; Ahmad Farîd; Dâr Ibnil Jauzi.

 

Berita9.com - Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Saat ini kita berada di permulaan bulan Sya’ban. Satu bulan sebelum tibanya bulan suci Ramadhan. Kesempatan untuk bersiap-siap, agar Ramadhan ini lebih bermakna.

Abu Bakar al Balkhi rahimahullah mengatakan,

شهر رجب شهر الزرع، وشهر شعبان شهر سقي الزرع، وشهر رمضان شهر حصاد الزرع

“Bulan Rajab adalah bulan Menanam, Bulan Sya’ban adalah bulan untuk mengairi tananam, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan Memanen (pahala).”

Kita tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya seseorang saat besok sudah mulai Ujian Akhir Sekolah atau Ujian Akhir Semester (UAS) namun diri sama sekali belum siap. Bayangan-banyangan menakutkan menghantui, wajah pucat, tak bisa tidur, gelisah dll. Khawatir tidak lulus, khawatir mendapat nilai raport merah. Raport merah di bulan Ramadhan, lebih menakutkan dan lebih layak dikhawatirkan. Nabi ﷺ pernah mengingatkan,

رغم أنف رجل دخل عليه رمضان ثم انسلخ قبل أن يغفر له ” ورغم أنف رجل أدرك عنده أبواه فلم يدخلاه الجنة

“Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan hingga berlalu tanpa diampuni dosanya. Dan celaka pula seseorang yang mendapati kedua orang tuanya (masih dalam keadaan hidup) tetapi tidak menjadikannya masuk ke dalam surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan diri matang-matang sebelum berjumpa ramadhan.

Perbanyak Ibadah di Bulan Sya’ban

Ramadhan bukan lagi saatnya pemanasan merenggangkan otot.Tapi waktunya bertarung mencapai kemenangan. Sya’banlah kesempatan menyiapkan bekal untuk bertempur. Agar kita sukses di ramadhan ini. Siap-siap ilmu, siap-siap membiasakan diri untuk giat ibadah. Begitu berjumpa ramadhan, ilmu siap, ibadahpun sudah terbiasa giat.

Nabi mengingatkan kita untuk mengisi Sya’ban dengan banyak ibadah.

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?”

Beliau bersabda,

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

Sya’ban menjadi bulan yang dilalaikan, karena diapit dua bulan yang mulia, Rojab yang termasuk empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan.Ternyata, kondisi ini justeru menjadikan bulan Sya’ban bulan yang istimewa. Dimana beribadah di bulan ini, bernilai sangat istimewa. Karena untuk bisa tetap semangat di waktu-waktu yang terabaikan, butuh perjuangan besar. Sehingga pahalanya pun besar.

Imam Ibnu Rojab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan,

وفيه: دليل على استحباب عمارة أوقات غفلة الناس بالطاعة، وأن ذلك محبوب لله عز وجل، كما كان طائفة من السلف يستحبون إحياء ما نين العشائين بالصلاة، ويقولون : هي ساعة غفلة

Hadis ini dalil anjuran mengisi waktu yang sering diabaikan dengan amalan ibadah. Dan mengisi waktu yang diabaikan dengan aktivitas ibadah adalah dicintai oleh Allah ‘azza wajalla. Sebagaimana dilakukan oleh para ulama salaf dahulu, mereka mengisi antara Maghrib dan Isya dengan sholat sunah. Ketika ditanya alasan mereka menjawab, “Ini adalah waktu yang sering diabaikan manusia.” (Latho-iful Ma’arif hal. 251)

Dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan ibadah di waktu yang dilalaikan, adalah hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, diantaranya adalah,

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah…(HR. Bukhori)

Masa muda adalah masa yang panjang, sehingga seringkali dilalaikan untuk ibadah. Oleh karenanya Allah memberikan pahala istimewa untuk mereka yang berhasil berjuang mengisi masa mudanya untuk beribadah.

Maka Sya’ban, adalah bulan ibadah, yang ibadah di bulan ini juga berfungsi melatih diri untuk giat beribadah sebelum bertemu ramadhan.

Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban

Seperti yang diceritakan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid di atas, Nabi ﷺ banyak mengisi hari-hari di bulan Sya’ban dengan puasa. Yang tujuannya adalah, karena pada bulan ini amalan tahunan diangkat untuk dilaporkan kepada Allah Ta’ala.

Alasan lain adalah, untuk membiasakan diri puasa, sehingga begitu berjumpa Ramadhan, seorang dapat melakukan puasa secara sempurna sejak hari pertama. Karena dia sudah terlatih sejak jauh hari.

Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan,

قيل في صوم شعبان أن صيامه كالتمرين على صيام رمضان لئلا يدخل في صوم رمضان على مشقة وكلفة، بل يكون قد تمرن على الصيام واعتاده ووجد بصيام شعبان قبله حلاوة الصيام ولذته فيدخل في صيام رمضان بقوة ونشاط.

Ada ulama yang berpandangan, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban, bertujuan untuk latihan sebelum menjalani puasa ramadhan. Supaya berjumpa ramadhan tidak dengan rasa berat. Dia telah berlatih puasa dan dia telah merasakan kelezatan dan manisnya puasa Sya’ban di hatinya. Sehingga memasuki Ramadhan dengan penuh kekuatan dan semangat. (Dikutip dari: Nida’ ar Royyan 1/479)

Puasa hanyalah salahsatu dari berbagai kegiatan ibadah yang mewarnai bulan suci Ramadhan. Ada ibadah-ibadah lain yang diperintahkan untuk giat dikerjakan di bulan yang berkah itu, juga patut kita persiapkan. Seperti sedekah, qiyamul lail, tadarus Al Qur’an dll. Sehingga begitu berjumpa ramadhan, kita sudah ringan sedekah, ringan qiyamullail, ringan baca Qur’an. Karena sudah terbiasa.

Benar kata Allah ‘azza wa jalla,

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰۖ

Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (QS. Al-Baqarah : 197).

Sampai-sampai para Salafussholih dahulu mengatakan,

شهر شعبان شهر القراء

Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al Qur’an.

Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, jika memasuki bulan Sya’ban beliau berkata

هذا شهر القرّاء

Ini adalah bulan membaca Al Qur’an.

Imam Amr bin Qais rahimahullah bila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup toko beliau (cuti dagang), kemudian beliau banyak mengisi hari-hari beliau dengan membaca Al-Qur’an.

Demikian, semoga nasehat ini bermanfaat untuk penulis dan pembaca sekalian.

Wallahua’lam bis showab.

***

Ditulis oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Berita9.com - Sungguh di zaman ini manusia benar-benar disibukkan dengan gadget. Apapun keadaanya manusia benar-benar tidak lepas dari gadget dan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan buang-buang waktu.

Di jalan lihat gadget, sedang antre lihat gadget, sedang berbicara pun curi-curi pandang lihat gadget. Memang gadget ibarat pedang bermata dua, jika digunakan dengan bijak, gadget sangat bermanfaat, akan tetapi kebanyakan kita lalai dan kurang bijak menggunakan gadget.

Salah satu kelalaian kita adalah gadget memalingkan kita dari Al-Quran. Sungguh sangat tersentuh membaca perkataan Khalid bin Walid yang begitu sedih karena tidak bisa fokus belajar Al-Quran karena sibuk dengan jihad, sedangkan kita sekarang meninggalkan Al-Quran karena gadget.

Perhatikan perkataan Khalid bin Walid berikut:

شغلنا الجهاد عن تعليم القرآن

“Sungguh jihad telah menyibukkan kami dari belajar Al-Quran.” [HR. Ibnu Abi Syaibah 6/151]

Di riwayat yang lain, jihad telah menyibukkan mereka dari membaca Al-Quran.

لقد منعني كثيراً من القراءة الجهاد في سبيل الله

“Sungguh jihad di jalan Allah telah menyibukkan (mencegah) kami dari membaca Al-Quran.” [Musnad Abu Ya’la 6/361]

Sungguh benar akan datang zaman di mana manusia benar-benar meninggalkan Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang TIDAK DIACUHKAN/DITINGGALKAN”. (QS. Al Furqan: 30)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa bentuk meninggalkan Al-Quran dalam segala bentuk, mulai dari membaca, mentadabbur, mempelajari tafsirnya dan mengamalkannya. Beliau berkata,

قد أعرضوا عنه وهجروه وتركوه مع أن الواجب عليهم الانقياد لحكمه والإقبال على أحكامه، والمشي خلفه

“Mereka telah berpaling dan meninggalkan Al-Quran, padahal mereka wajib untuk patuh dan menerima terhadap hukum di dalamnya serta berjalan dengan petunjuk Al-Quran.” [Tafsir As-Sa’diy]

Hendaknya seorang muslim berusaha membaca Al-Quran setiap hari. Berusahalah membacanya walaupun hanya beberapa ayat dalam sehari, karena kita terlalu banyak melakukan maksiat setiap hari. Maksiat membuat hati keras dan Al-Quran lah obatnya. Membaca Al-Quran membuat hati menjadi lembuh dan mudah menerimah hidayah serta mudah melakukan ibadah dan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia. Al-Quran adalah obat bagi penyakit hati kita.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Israa’: 82).

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan penyakit hati. Beliau berkata,

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

“Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yang shahih dan masyhur.” (Tafsir Adhwaul Bayan).

Gunung yang keras saja akan hancur apabila Al-Quran turun padanya, apalagi hati yang keras. Tentu hati yang keras akan menjadi lembut dengan Al-Quran.

Allah Ta’ala berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّه

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (QS. Al Hasyr: 21)

Demikian semoga bermanfaat...

Penyusun: Raehanul Bahraen

 

Berita9.com - Istiqâmah di atas sunnah adalah keinginan setiap orang yang benar-benar beriman yang berharap bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan kebahagiaan akhirat serta takut terhadap murka Allâh Azza wa Jalla.

Konsisten di atas ketaatan sampai tutup usia adalah kenikmatan tiada tara bagi orang yang beriman. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah manusia terbaik itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

"orang yang panjang umurnya dan amal perbuatannya bagus"

Lalu diitanya lagi, “Siapakah manusia yang terjelek itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

"orang yang panjang usianya namun amal perbuatannya buruk"

Oleh karena itu istiqâmah di atas petunjuk, senantiasa berada dalam ketaatan serta terus menjauhi larangan merupakan sifat kaum Mukminin sejati. Itu merupakan jalan satu-satunya untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Rabb kami ialah Allâh” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh Azza kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta [Fusshilat/41:30-31]

Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kepada Nabi-Nya juga para hamba-Nya agar istiqâmah menjalankan perintah-perintah-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hud/11:112]

Orang yang sering menjalankan perintah dan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada jaminan bahwa dia akan meninggal dalam keadaan seperti itu, karena hati manusia sangat mudah berubah-rubah. Oleh karena itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk bergaul dengan orang-orang yang buruk karena dikhawatirkan akan terpengaruh.

Terkadang ada orang yang zhahirnya taat dan istiqâmah, tapi kemudian dia menyimpang dengan berbagai sebab. Na’udzu billah. Atau sebaliknya, dia kafir atau ahli bid’ah, kemudian berubah menjadi Mukmin yang taat.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bergegaslah untuk melakukan amal-amal shaleh sebelum fitnah-fitnah (berdatangan) seperti malam yang gelap gulita. Ada orang yang pada pagi harinya dia Mukmin kemudian pada sore harinya dia menjadi kafir dan ada juga orang yang pada pagi harinya dia kafir kemudian pada sore harinya dia menjadi Mukmin, dia menjual agamanya dengan pernak-pernik dunia. [HR. Muslim]

Karena fitnah yang begitu dahsyat, maka orang akan sangat cepat berubah, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Dari sini, kita juga mengetahui betapa istiqâmah di atas al-haq, al-Qur’an dan sunnah itu begitu penting bagi seseorang yang menginginkan kesalamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Akhirnya, hanya kepada Allâh Azza wa Jalla kita memohon agar kita diberikan keistiqâmahan di al-haq yang berdasarkan al-Qur’an, sunnah dan ijma’ Ulama.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M]

Berita9.com - Ketika Ada Pertanyaan Saat Pinjam Motor, Lalu Bensin Diminta Isi Penuh Apakah Riba?

Contoh ilustrasinya Sebagai berikut:

Adapun riba yang ‘kadang’ tidak kita sadari:

“Om, pinjem motor vespanya ya…” tanya Orick

“Ya, itu ambil aja sendiri di garasi, kuncinya ini, tapi nanti bensinnya diisi penuh ya.” Jawab Om Bagas.

Ribanya adalah tambahan pengembalian pinjaman berupa bensin.

Apa ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba” (HR. al-Baihaqi dengan sanadnya dalam al-Kubro)

Termasuk diantarannya tambahan yang dipersyaratkan ketika pelunasan utang.

Sahabat Abdullah bin Sallam radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Burdah, yang ketika itu baru tiba di Iraq. Dan di sana ada tradisi, siapa yang berutang maka ketika melunasi, dia harus membawa sekeranjang hadiah.

إِنَّكَ فِى أَرْضٍ الرِّبَا فِيهَا فَاشٍ وَإِنَّ مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا أَنَّ أَحَدَكُمْ يَقْرِضُ الْقَرْضَ إِلَى أَجْلٍ فَإِذَا بَلَغَ أَتَاهُ بِهِ وَبِسَلَّةٍ فِيهَا هَدِيَّةٌ فَاتَّقِ تِلْكَ السَّلَّةَ وَمَا فِيهَا

“Saat ini kamu berada di daerah yang riba di sana tersebar luas. Diantara pintu riba adalah jika kita memberikan utang kepada orang lain sampai waktu tertentu, jika jatuh tempo tiba, orang yang berhutang membayarkan cicilan dan membawa sekeranjang berisi buah-buahan sebagai hadiah. Hati-hatilah dengan keranjang tersebut dan isinya.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro).

Namun larangan hadiah ketika pelunasan ini berlaku apabila transaksinya utang-piutang. Dan diantara konsekuensi dalam transaksi utang piutang (al-Qardh) adalah terjadinya perpindahan hak milik terhadap objek utang, dari pemberi utang ke penerima utang.

Berbeda dengan akad pinjam-meminjam (al-Ariyah), objek yang dipinjamkan tidak mengalami perpindahan hak milik. Sehingga peminjam tidak memiliki hak apapun terhadap barang itu, selain hak guna sementara, selama masa izin yang diberikan pihak yang meminjamkan.

Jika anda utang motor, maka anda berhak memiliki motor itu. Selanjutnya bisa anda jual, anda sewakan atau digadaikan untuk utang.

Lain halnya jika anda pinjam motor, lalu anda jual, anda atau sewakan atau digadaikan untuk utang, anda akan disebut orang yang tidak amanah. Karena motor ini bukan motor anda, tapi motor kawan anda. Anda hanya punya hak guna pakai selama masih diizinkan.

Karena itulah, benda habis pakai, hanya mungkin dilakukan akad utang. Meskipun ketika akad menyebutnya pinjam, namun hukumnya utang. Misalnya, makanan, uang, atau benda habis pakai lainnya.

As-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqaha’ mengatakan,

كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه، فهو قرض حقيقة، ولكن يسمى عارية مجازا، لانه لما رضي بالانتفاع به باستهلاكه ببدل، كان تمليكا له ببدل

Semua benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskannya, maka hakekatnya hanya bisa diutangkan. Namun bisa disebut pinjam sebagai penggunaan majaz. Karena ketika pemilik merelakan untuk menggunakan barang itu melalui cara dihabiskan dengan mengganti, berarti terjadi perpindahan hak milik dengan mengganti. (Tuhfatul Fuqaha’, 3/178)

Al-Kasani menjelasakan dengan menyebutkan beberapa contoh,

وعلى هذا تخرج إعارة الدراهم والدنانير أنها تكون قرضا لا إعارة ; لأن الإعارة لما كانت تمليك المنفعة أو إباحة المنفعة على اختلاف الأصلين , ولا يمكن الانتفاع إلا باستهلاكها , ولا سبيل إلى ذلك إلا بالتصرف في العين لا في المنفعة

Berdasarkan penjelasan ini dipahami bahwa meminjamkan dinar atau dirham, statusnya adalah utang dan bukan pinjam meminjam. Karena pinjam-meminjam hanya untuk benda yang bisa diberikan dalam bentuk perpindahan manfaat (hak pakai). Sementara dinar dirham tidak mungkin dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan. Tidak ada cara lain untuk itu, selain meghabiskan bendanya bukan mengambil hak gunanya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan,

لو استعار حليا ليتجمل به صح ; لأنه يمكن الانتفاع به من غير استهلاك بالتجمل… وكذا إعارة كل ما لا يمكن الانتفاع به إلا باستهلاكه كالمكيلات والموزونات , يكون قرضا لا إعارة لما ذكرنا أن محل حكم الإعارة المنفعة لا بالعين

Jika ada yang meminjam perhiasan untuk dandan, statusnya sah sebagai pinjaman. Karena perhiasan mungkin dimanfaatkan tanpa harus dihabiskan ketika dandan… sementara meminjamkan benda yang tidak mungkin bisa dimanfaatkan kecuali dengan dihabiskan, seperti bahan makanan yang ditakar atau ditimbang, statusnya utang bukan pinjam meminjam, sesuai apa yang kami sebutkan sebelumnya bahwa posisi pinjam meminjam hanya hak guna, bukan menghabiskan bendanya. (Bada’i as-Shana’i, 8/374)

Kita melihat akad bukan dari nama, namun dari hakekat dan konsekuensinya.

Pinjam itu tidak memindahkan hak milik, namun hanya memindahkan hak guna pakai. Berbeda dengan akad utang (qardh), akad ini memindahkan hak milik. Sehingga dari kasus yang ditanyakan, bukan termasuk akad utang. Namun sebatas memindahkan hak guna pakai.

Bagaimana jika hak guna pakai itu harus diganti dengan mengisi  bensin sampai penuh?

Mengisi bensin sampai penuh dalam hal ini menjadi iwadh (alat pembayaran) untuk objek yang dimanfaatkan. Sehingga akad yang terjadi adalah ijarah (sewa-menyewa). Menyewa motor dengan pembayaran berupa bensin sepenuh tanki motor. Dan ijarah semacam ini insyaaAllah tidak masalah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

DOA MEMOHON PETUNJUK DAN ISTIQOMAH

اللهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

Ya Allâh, berilah aku petunjuk, dan luruskanlah aku.

Ini adalah doa yang diajarkan Rasul  Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu. Terkandung di dalamnya dua permintaan agung, yaitu memohon petunjuk (al-hudâ) dan memohon kelurusan (as-sadâd). Dan dua hal ini tidak akan diraih hamba kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya.

Maksud dari al-hudâ adalah mengetahui kebenaran secara rinci dan global, serta diberi taufiq untuk mengikutinya secara zahir dan batin.

Sedangkan as-sadâd adalah agar sejalan dengan kebenaran, mendapatkan petunjuk dan sunnah ; yaitu dengan konsekuen memegang apa yang diajarkan Rasul  Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dalam doa ini terkandung makna firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah aku jalan yang lurus [Al-Fâtihah/ 1: 6]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Mahamelihat apa yang kamukerjakan.[Hûd/ 11: 112].

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi wejangan kepada Ali Radhiyallahu anhu, yaitu kala mengucap doa ini, agar menghayati gambaran yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; yaitu menggambarkan petunjuk seperti halnya seseorang yang ditunjuki jalan yang benar kala tersesat ; dan menggambarkan keadaan lurus (istiqamah) seperti halnya orang yang membidikkan anak panah, di mana ia berusaha untuk meluruskan bidikan panahnya ; sehingga iapun tidak menggeser arah anak panahnya ; agar bidikannya tepat dan tidak meleset. Ini ditunjukkan sabda Nabi setelahnya : dan mengenai petunjuk, ingat-ingatlahbagaimana engkau ditunjuki jalan yang benar (kala tersesat) ; dan mengenai keadaan lurus, ingat-ingatlah bagaimana (engkau) meluruskan (bidikkan) anak panah.[HR. Muslim]

Maka “musafir” yang meniti jalan akhirat lebih sangat membutuhkan petunjuk-Nya, daripada butuhnya musafir dunia kepada orang yang menunjukkan jalan yang ia tuju. Demikian pula orang yang lurus istiqamah di jalan kebenaran, ia sepertihalnya orang yang tepat sasaran mengenai bidikan panahnya.

Diadaptasikan dari SyarhThâ’ifah Min al-Ad’iyah Syaikh Abdur Razzaq al-Abbad hafizhahullâh.

 

Berita9.com - Ketika Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili hafizhahullah pernah ditanya: Apa nasihat Anda untuk mereka yang kecanduan media sosial; sampai-sampai hal tersebut membuatnya lalai dalam memberikan perhatian kepada anak-anaknya, juga melalaikannya dari kewajiban-kewajibannya?

Jawaban Syaikh:
Perlu kita camkan kaidah berikut ini:

“Setiap hal yang melalaikan dari suatu kewajiban, maka itu adalah haram. Dan setiap hal yang melalaikan dari perkara yang utama (fadha’il), maka itu adalah makruh.”

Maka bila seseorang tersibukkan oleh media sosial hingga melalaikannya dari berbagai amalan yang wajib, misalnya menyebabkannya lalai untuk mendidik anak-anaknya, atau tidak menunaikan hak-hak yang wajib ia tunaikan (maka ini tidak diperbolehkan). Sampai-sampai dewasa ini, para pegawai di perkantoran pun juga sibuk berinteraksi dengan media sosial di saat jam kerja mereka. Terkadang datang penilik/pengawas (manager misalnya) menghampirinya. Ia berdiri di samping meja sang pegawai yang tengah asik sibuk dengan handphone. Mungkin saja si penilik berdiri di tempatnya sekitar lima atau sepuluh menit, namun si pegawai tetap tidak sadar dengan keadaannya.

Pernah seseorang menceritakan: “Pernah aku mendatangi seorang pegawai yang tengah asyik dengan handphone. Setelah 2 atau 3 menit; aku berkata kepadanya: “Saudaraku! Aku ada perlu denganmu!” Si pegawai menjawab: “Apa engkau tidak lihat, aku sedang sibuk!” Padahal ia meninggalkan kewajibannya, dan justru sibuk dengan berbagai media sosial yang ada di handphonenya. Mungkin ia sibuk mengirim pesan, menerimanya, atau membaca sesuatu, dan semacamnya. Bila seseorang sibuk dengan media tersebut hingga menyebabkannya lalai dari kewajibannya, maka hal ini adalah haram.

Sedangkan bila hal itu membuatnya lalai dari suatu amalan yang utama (maka ini makruh), misalkan saja ketika seseorang ditanya: berapa banyak engkau telah membaca al-Quran pada hari ini? Ia mungkin menjawab: “Hari ini aku tidak membaca al-Quran sama sekali.” Atau ketika ditanya: “Kapan terakhir kali engkau membaca al-Quran? Mungkin ia menjawab: “Hari Jumat aku ada membaca sedikit dari al-Quran.” ketika ditanya lagi: Mengapa engkau tidak membaca al-Quran? Ia menjawab: Aku tidak punya waktu.” Sekiranya kita hitung berapa waktu yang mereka habiskan untuk bersibuk ria dengan medsos; aku katakan: Sekiranya mereka meninggalkan separuh dari waktu yang mereka buang tersebut, pastilah mereka bisa menyelesaikan lima juz al-Quran setiap harinya.

Bila hal seperti itu menyebabkan hal yang haram, maka itu adalah kezaliman yang besar. Misalnya saja ia melihat-lihat hal yang diharamkan, seperti gambar-gambar yang haram, ucapan yang buruk, atau menjalin hubungan dengan wanita yang bukan mahramnya, maka hal ini tidak diragukan lagi adalah perbuatan zalim yang besar kepada diri sendiri.

Karena itu bisa kita katakan, bahwa berbagai media sosial ini memang banyak memiliki kebaikan. Ia bisa mendekatkan yang jauh, dengannya seseorang pun bisa membaca buku dan juga berita; dan bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang. Akan tetapi kita harus mengarahkan dan meluruskan penggunaannya. Kita berhati-hati agar tidak jatuh dalam hal yang diharamkan di dalamnya. Sungguh Allâh melihat kita. Dan jangan sampai itu membuat kita meninggalkan hal yang wajib atas kita. Juga agar tidak berlebihan dalam menggunakannya.

Bahkan seperti yang pernah aku dengar, satu keluarga yang menghuni satu rumah, justru mereka tidak pernah berkumpul satu sama lain. Anak-anak sibuk bermain media sosial. Bahkan anak-anak tersebut yang sebenarnya tinggal di satu rumah, ketika berkomunikasi satu sama lain, justru menggunakan whatsapp dan sejenisnya untuk komunikasi mereka. Satu anak di kamar, yang lainnya di kamar yang lain. Padahal mereka ada di satu rumah, namun mereka tidak bertemu atau tidak berkumpul satu sama lain. Bila ia punya suatu keperluan dengan saudaranya, ia hanya sekedar menulis pesan di handphone. Bahkan suami istri, padahal mereka berada di satu tempat; di satu ruangan, suami mungkin berkata: Ini waktu untuk di rumah. Aku tidak keluar rumah. Namun justru ia sepanjang waktu sibuk dengan handphone. Istrinyapun juga demikian; sibuk dengan handphone. Hati mereka menjadi saling berjauhan; dikarenakan berlebih-lebihan dalam menggunakan media sosial.

Kami katakan, bahwa hal itu tidaklah dilarang. Itu bisa digunakan, dan ada kebaikan di dalamnya, namun kita harus menggunakannya dengan bijak dan benar.

Aku takjub dan kagum dengan seorang wanita tua, ia memiliki beberapa anak. Suatu ketika anak-anaknya mengunjunginya. Ketika wanita ini melihat bahwa anak-anak tersebut justru sibuk dengan handphone masing-masing, membuka pesan yang masuk atau mengetik pesan, maka wanita ini meletakkan keranjang di samping pintu. Ia berkata kepada anak-anaknya: “Siapa yang mau masuk rumah, silahkan taruh handphone di keranjang ini. Lalu kita bisa berbincang-bincang, duduk bersama sambil bercengkerama denganku dan juga saudara-saudara lainnya. Bila mau keluar, silahkan ambil kembali handphonenya.”

Masalah yang ditanyakan penanya ini semoga Allâh membalasnya dengan balasan yang lebih baik karena telah mengingatkan kita sebenarnya adalah perkara yang harus kita perhatikan dan waspada terhadapnya.

***
_______
Footnote
[1] Diambil dari https://www.youtube.com/watch?v=wrjfnmwutDE dengan penyesuaian

 

Berita9.com - Allah Ta’ala memiliki sifat Al ‘Uluw yaitu Maha Tinggi, dan dengan ke-Maha Tinggi-an-Nya Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy. Istiwa artinya ‘alaa was taqarra, tinggi dan menetap. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy artinya Allah Maha Tinggi menetap di atas ‘Arsy. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5).

Dan peristiwa Isra Mi’raj adalah salah satu dalil bahwa Allah Ta’ala Maha Tinggi berada di atas langit. Mengapa demikian? Simak penjelasannya.

Dalil-dalil Sifat Al ‘Uluw bagi Allah

Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha Tinggi dan Ia ber-istiwa di atas Arsy sangatlah banyak, baik dari Al Qur’an, Al Hadits dan ijma salaf.

Dalil-dalil dari Al Qur’an mengenai hal ini bisa dibagi menjadi lima jenis:

Pertama: Dalil-dalil yang menyebutkan bahwa Allah menamai diri-Nya dengan Al Aliy (العلي) dan Al A’la (الأعلى) dan diantara kaidah ahlussunnah dalam al asma was shifat Allah adalah:

أسماء الله أعلام وأوصاف

“nama-nama Allah Ta’ala itu mengandung nama sekaligus sifat Allah”

Kedua: Dalil-dalil yang menyebutkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya ber-istiwa di atas Arsy. Sedikitnya ada 7 tempat dalam Al Qur’an yang menyebutkan hal ini. Diantaranya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (Allah) ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5).

Ketiga:  Dalil-dalil yang menyebutkan sifat fauqiyah, yaitu bahwa Allah ada di atas. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman tentang Malaikat:

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ

“Para Malaikat itu takut kepada Rabb mereka yang ada di atas mereka” (QS. An Nahl: 50).

Keempat: Allah Ta’ala menegaskan bahwa kalimat thayyibah akan naik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” (QS. Fathir: 10).

Kelima:  Dalil-dalil yang menyebutkan tentang adanya hal-hal yang diangkat kepada Allah. Diantaranya firman Allah Ta’ala tentang Isa ‘alaihissalam:

بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya” (QS. An Nisa: 158).

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku”” (QS. Ali Imran: 55).

Adapun dalil-dalil dari hadits sangatlah banyak sekali hingga tak terhitung.

Ibnul Qayyim mengatakan:

إن الآيات والأخبار الدالة على علو الرب على خلقه ,واستوائه على عرشه تقارب الألوف

“Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, dan bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, itu semua mencapai ribuan” (Mukhtashar Ash Shawaiqul Mursalah, 1/386).

Para ulama ijma bahwa Allah Maha Tinggi ber-istiwa di atas Arsy

Penetapan bahwa Allah Ta’ala Maha Tinggi, berada di atas langit dan ber-istiwa di atas Arsy adalah ijma (konsensus) salaf serta ijma para ulama yang mengikuti jejak mereka. Bahkan nukilan ijma mengenai hal ini sangatlah banyak, jelas dan valid. Dalam kitab Al ‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, Imam Adz Dzahabi menukil perkataan Ishaq bin Rahuwaih:

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Ar Rahman ber-istiwa di atas Arsy’, ini adalah ijma para ulama yaitu bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, dan Allah mengetahui segala sesuatu hingga di bawah bumi yang ke tujuh” (Al ‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, 179).

Imam Ibnu Bathah mengatakan:

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين، وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه، فوق سماواته بائن من خلقه، وعلمه محيط بجميع خلقه، لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية

“Kaum Muslimin dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in serta para ulama kaum Mu’minin bersepakat bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy, di atas langit-langit dan terbedakan dengan makhluknya. Adapun ilmu Allah meliputi seluruh makhluk. Tidak ada yang menolak dan mengingkari keyakinan ini kecuali orang-orang yang terpengaruh madzhab hululiyyah” (Al Ibanah Al Kubra, 7/136).

Mulianya Sifat Maha Tinggi dan Istiwa Allah di Atas Arsy

Tentunya sifat Maha Tinggi dan istiwa Allah di atas Arsy ini sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak sebagaimana sifat tinggi dan sifat istiwa pada makhluk. Sebagaimana Allah juga punya sifat mendengar dan melihat, sedangkan manusia juga mendengar dan melihat. Namun  sifat mendengar dan melihat pada Allah tidak sama seperti sifat mendengar dan melihat pada manusia. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syura: 11).

Isra Mi’raj adalah salah satu dalil sifat Al ‘Uluw bagi Allah

Diantara dalil yang menunjukkan bahwasanya Allah Ta’ala Maha Tinggi, Ia berada di langit ber-istiwa di atas Arsy, adalah peristiwa Isra Mi’raj. Lebih tepatnya pada peristiwa Mi’raj, ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam diperjalankan ke langit dan bertemu dengan Allah Ta’ala menerima perintah shalat lima waktu.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu beliau berkata:

لمَّا أُسْريَ برسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ انتُهيَ بِهِ إلى سدرةِ المنتَهَى ، وَهيَ في السَّماءِ السَّادسةِ ، إليها ينتَهي ما يعرجُ بِهِ منَ الأرضِ ، فيقبِضُ منها ، وإليها ينتَهي ما يُهْبِطُ بِهِ مِن فوقِها فيقبِضُ منها ، قالَ : إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى [ 53 / النجم / الآية – 16 ] قالَ : فِراشٌ من ذَهَبٍ ، قالَ : فأُعْطيَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ ثلاثًا : أُعْطيَ الصَّلواتِ الخمسَ ، وأُعْطيَ خواتيمَ سورةِ البقرةِ ، وغُفِرَ لمن لم يشرِكْ باللَّهِ من أمَّتِهِ شيئًا ، المُقْحِماتُ

“Ketika Rasullullah Shallallahu’alaihi Wasallam diperjalankan hingga ke Sidaratul Muntaha, yaitu di langit ke enam. Di sanalah terhenti segala sesuatu yang naik dari bumi, lalu diputuskan di sana. Dan di sana pula terhenti segala sesuatu yang turun dari atasnya, lalu diputuskan di sana. “Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya” (QS. An Najm: 16). Ibnu Mas’ud mengatakan: “yaitu tempat tidur yang terbuat dari emas”. Beliau lalu mengatakan: Lalu Rasulullah diberikan tiga hal di sana: diberikan perintah shalat lima waktu, diberikan ayat-ayat terakhir surat Al Baqarah, dan diampuni orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun dari umatnya walaupun ia berbuat dosa besar” (HR. Muslim no. 173).

Imam Ibnu Mandah dalam Kitabut Tauhid membuat bab:

ذكر الايات المتلوة و الاخبار المأثورة بنقل الرواة المقبولة التي تدل على أن الله تعالى فوق سمواته و عرشه و خلقه قاهرا سميعا عليما

“Penyebutan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits dengan periwayatan yang diterima yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala ada di atas langit dan di atas Arsy-nya serta di atas para makhluk-Nya, dalam keadaan Ia Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (Kitabut Tauhid libni Mandah, hal. 761, cetakan Dar Hadyun Nabawi Mesir).

Dan diantara hadits-hadits yang beliau bawakan dalam bab tersebut adalah hadits Ibnu Mas’ud riwayat Muslim di atas. Mengisyaratkan bahwa beliau berdalil dengan hadits mengenai Isra Mi’raj, yaitu diperjalankannya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diperjalankan ke langit, untuk menunjukkan bahwa Allah Ta’ala Maha Tinggi berada di atas langit, di atas Arsy dan di atas para makhluk-Nya.

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al ‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar juga membawakan hadits panjang dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim mengenai kisah Isra dan Mi’raj (Al ‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, no. 17). Dan kitab tersebut seluruhnya berisi dalil-dalil mengenai sifat Al ‘Uluw sebagaimana judulnya.

Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi juga menyatakan:

وَفِي حَدِيثِ الْمِعْرَاجِ دَلِيلٌ عَلَى ثُبُوتِ صِفَةِ الْعُلُوِّ لِلَّهِ تَعَالَى مِنْ وُجُوهٍ، لِمَنْ تَدَبَّرَهُ

“Dan dalam hadits mengenai Mi’raj terdapat dalil ditetapkannya sifat Al ‘Uluw bagi Allah Ta’ala dari banyak sisi pandang, bagi orang yang mentadabburinya”(Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyyah, 1/226).

Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi menjelaskan:

أما الفوائد الأخرى العامة المستنبطة من حديث الإسراء والمعراج ففيه أولا إثبات العلو لله عز وجل من وجوه: حيث إن الرسول -عليه الصلاة والسلام- عرج به إلى ربه عز وجل ثم جاوز السبع الطباق ثم لما كان يتردد بين ربه وبين موسى في كل مرة يعلو به جبرائيل إلى الجبار -تبارك وتعالى- فيه الرد على من أنكر العلو من الجهمية والمعتزلة والأشاعرة وغيرهم

“Faidah umum lainnya yang bisa kita petik dari hadits isra mi’raj adalah: pertama, penetapan sifat Al ‘Uluw bagi Allah ‘Azza wa Jalla dari berbagai sisinya. Karena Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam diangkat naik menghadap Allah ‘Azza wa Jalla hingga langit yang ke-7. Kemudian beliau bolak-balik antara menghadap Allah dan bicara dengan Nabi Musa. Setiap kali setelah bicara dengan Musa, Jibril membawanya naik kembali menghadap Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hadits ini adalah bantahan bagi orang yang mengingkari sifat Al ‘Uluw, seperti kaum Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah dan selainnya” (Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyyah, 1/152).

Aneh jika merayakan Isra Mi’raj, namun mengingkari sifat Al ‘Uluw

Sebagian orang mereka mengadakan acara peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam namun di sisi lain mereka mengingkari bahwa Allah Maha Tinggi ber-istiwa di atas Arsy. Mereka malah mengatakan Allah ada dimana-mana, ada di hati kita, atau perkataan bahwa “Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di dalam dunia dan tidak di luar dunia”, atau perkataan “Allah ada tanpa tempat”, atau sikap tawaqquf seperti mengatakan “hanya Allah yang tahu Ia dimana”, “kita serahkan maknanya kepada Allah” dan perkataan-perkataan semisalnya yang pada hakikatnya ingin mengingkari bahwa Allah Ta’ala Maha Tinggi ber-istiwa di atas Arsy sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil.

Ini menjadi aneh karena mereka justru membuat perayaan Isra Mi’raj (yang tidak ada tuntunan untuk merayakannya) namun mereka tidak menerima muqtadha (konsekuensi) dari peristiwa Isra Mi’raj tersebut yaitu penetapan sifat Al ‘Uluw bagi Allah. Syaikh Salim bin Sa’ad Ath Thawil mengatakan:

إن مناهج وعقائد أهل البدع متناقضة غاية التناقض!! وذلك لأنها من عند غير الله تعالى. فتجدهم يثبتون المعراج لرسول الله صلى الله عليه وسلم ويحتفلون بذكراه مع أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يحتفل فيه ولم يرشد إلى ذلك، كما أنهم يثبتون معراج النبي صلى الله عليه وسلم إلى السماوات العلا وينكرون أو يشكون أو يتوقفون في علو الله تبارك وتعالى

“Diantara manhaj ahlul bid’ah adalah berlaku kontradiktif hingga tingkatan kontradiksi yang paling puncak. Itu karena keyakinan mereka itu bukan berasal dari Allah Ta’ala. Anda bisa melihat mereka membenarkan peristiwa Mi’raj-nya Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam, dan bahkan membuat perayaan untuk mengenangnya, padahal Nabi Shallallahu’alahi Wasallam tidak pernah merayakannya dan tidak pernah menuntunkannya. Mereka juga membenarkan bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam diangkat ke langit. Namun mereka mengingkari atau meragukan atau bersikap tawaqquf tentang sifat Al ‘Uluw bagi Allah Tabaraka wa Ta’ala”

Beliau juga mengatakan:

إذا لم نقل بأن الله تعالى فوق السماء فإلى من عرج النبي صلى الله عليه وسلم؟ ومن فرض عليه الصلاة في السماوات العلا

“Jika kita tidak mengatakan bahwa Allah Ta’ala berada di atas langit, maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika Mi’raj ke langit itu menghadap siapa? Dan siapa yang memberi perintah wajibnya shalat lima waktu di sana?” (Ayyuhal Muhtafilun bil Isra wal Mi’raj Afala Ta’qilun, http://www.saltaweel.com/articles/41).

Sikap Kita Terhadap Peristiwa Isra Mi’raj

Dengan demikian, sudah sepatutnya jika kita membenarkan dan beriman kepada peristiwa Mi’raj-nya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ke langit, kita juga membenarkan dan beriman bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat Al ‘Uluw, Ia Maha Tinggi di atas para makhluk-Nya, berada di atas langit, ber-istiwa di atas Arsy sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil dan ijma salaf serta para ulama.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

------------------------------------------

Penyusun: Yulian Purnama

 

Page 1 of 25
Go to top