Berita9.com - Indonesian Petroleum Association (IPA) mengatakan investasi di sektor hulu migas perlu dijaga karena memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, saat ini, investasi pada hulu migas terus mengalami penurunan.

Pada 2016 lalu misalnya, investasi hulu migas mengalami penurunan 27,31 persen dari US$15,34 miliar di tahun 2015 ke angka US$11,15 miliar. Padahal, mengacu studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG), jika produksi migas Indonesia bertahan seperti posisi tahun 2015 selama 10 tahun mendatang, hal tersebut bisa menambah pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 1,2 persen per tahun hingga 2025.

Adapun pada 2015, produksi minyak di tahun 2015 tercatat 785,75 ribu barel per hari dan produksi gas sebesar 8.100 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Direktur IPA Tumbur Parlindungan mengatakan, sesuai data Bank Indonesia (BI) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), setiap investasi hulu migas sebesar US$1 juta bisa berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$700 ribu dan nilai tambah perekonomian sebesar US$1,6 juta. Sehingga, ketika dikalkulasi, investasi hulu migas tahun 2016 sebesar US$11,15 miliar bisa berkontribusi ke PDB sebesar US$23,7 miliar.

"Jadi begitu investor masuk, maka ekonomi bisa membaik. Jangan dilihat dari penerimaan oil and gas saja, tapi ada sektor lain yang terpengaruh yaitu peningkatan permintaan barang serta transaksi perbankan ihwal oil and gas," jelas Tumbur,  (10/5).

Tumbur menyebutkan, berdasarkan data yang dimilikinya, transaksi perbankan dari sektor minyak dan gas cukup besar, yakni mencapai US$9,7 miliar di tahun 2016

Investasi hulu migas, menurut dia, perlu dilakukan demi menahan laju penurunan produksi migas dalam negeri. Jika laju penurunan produksi bisa ditahan, maka itu bisa menyumbang pertumbuhan PDB yang stabil.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong mengatakan, turunnya investasi migas beberapa tahun belakangan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti turunnya harga minyak, periode penemuan hingga masa produksi (first oil)yang terbilang lama, rendahnya tingkat pengembalian investasi, sampai rendahnya rasio keberhasilan eksplorasi.

"Turunnya aktivitas migas juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi daerah juga ikut turun. Ini sudah kondisi krisis, padahal peluang migasnya kami rasa masih besar," jelasnya.

Untuk itu, ia berharap pemerintah dapat proaktif di tengah lesunya investasi migas. Salah satu upaya yang bisa ditempuh menurut dia, adalah perbaikan paket regulasi dan kesepakatan terkait sektor minyak dan gas (fiscal regime) serta permudahan izin-izin migas. Menurutnya, upaya itu setidaknya bisa mempersingkat waktu first oil, sehingga investor masih tertarik menggarap sektor hulu migas di tengah lesunya harga minyak.

"Saat ini masa eksplorasi hingga first oil kita lama sekali, bisa 13 hingga 15 tahun. Padahal di negara lain bisa tiga hingga lima tahun saja. Walau memang seluruh dunia ada masalah penurunan harga, tapi semangat untuk berkompetisinya dong ditingkatkan," pungkas Marjolijn (**/AGI/CI)

Berita9.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno terkejut melihat tiang listrik beton jadi satu dengan pondasi menembus salah satu rumah warga.

"Wah itu bahaya, coba difoto dicek nanti, apakah ada yang keliru pemasangannya, apakah itu milik PLN?" kata Rini sembari menunjuk salah satu rumah di kawasan Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, Sabtu 29 April 2017.

Menteri Rini menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan pagi menelusuri desa-desa di kawasan Mega Mendung, Bogor. Bersama beberapa deputi Kementerian BUMN ia berjalan-jalan menanjak bukit sejauh kira-kira 4 kilometer (km).

Di tengah jalan ia juga menjumpai pom bensin eceran bertuliskan "Pertamini". "Itu benar milik Pertamina? Atau hanya eceran biasa? Tapi kok bisa menjual pertalite?" tanya Rini sambil berjalan.

Pada saat itu, Rini meminta Deputi Bidang Usaha Tambang, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno untuk menanyakan hal tersebut, dan mengimbau kalau memang menjual eceran perlu diberitahu aturannya.

Kemudian ia juga berjalan-jalan lagi melihat kampung mandiri binaan Bank Syariah Mandiri. Kampung tersebut membudidayakan ikan lele dan domba.

Namun, setelah ditinjau, ternyata kampung tersebut sudah terbengkalai dan tidak ada budidaya lele. Rini kemudian menegur Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo untuk memperbaiki kinerja untuk pembinaan kampung-kampung mandiri tersebut.

"Saya sudah menegur tadi, ini disayangkan saja," kata Rini.

Menurutnya cara dia mengajak beberapa direktur BUMN untuk berjalan-jalan bersama dan melihat langsung permasalahan adalah upaya untuk melihat keadaan sebenarnya. Selain itu, hal ini juga membuat lebih sehat dan perbincangan lebih santai namun serius dalam pelaksanaan.

"Sebelum bersinergi perusahaannya ya harus sinergi pribadinya dulu, saling ngobrol dekat, jadi semua lebih enak," ujarnya. (**/Ant)

Berita9.com - Dua perusahaan energi pelat merah Indonesia, yaitu PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), masing-masing menjajaki kesepakatan baru dengan dua perusahaan asal Amerika Serikat. Dua kesepakatan tersebut ditandatangani di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil Presiden AS Michael Richard Pence.

Untuk Pertamina, kerja sama dilakukan dengan ExxonMobil Corporation dalam pembelian gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dengan volume sebesar 1 juta ton yang dimulai tahun 2025 mendatang. Rencananya, kontrak pembelian LNG ini akan berlangsung selama 20 tahun setelah pengiriman pertama dimulai.

Sementara itu, PLN menandatangani kerja sama dengan Pacific Infra Capital LLC dalam pemasangan teknologi swakelola tenaga listrik (smart metering). Nilai kerja sama itu tercatat US$2 miliar dengan pemasangan smart metering sepanjang 4,5 juta meter di sepanjang jaringan listrik Jawa-Bali.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati mengatakan, dengan teknologi smart metering, pelanggan listrik bisa mengendalikan penggunaan listrik per Kilowatt-hour (KWh) hingga mengatur barang elektronik apa saja yang bisa dinyalakan dalam jarak jauh. Menurutnya, teknologi ini penting untuk konservasi energi dan menambah rasio penetrasi energi baru dan terbarukan ke jaringan listrik PLN.

"Dengan advanced metering infrastructure, nanti konsumen bisa mengendalikan dan memonitor langsung kebutuhan listrik melalui gadget kebutuhan ini. Dari mulai KWh meter di setiap rumah nanti dihubungkan dengan gardu induk. Setelah itu, sistemnya dihubungkan ke jaringan hingga pembangkit kami, ini di-connect dalam satu sistem yang bisa kita kendalikan dan manage dengan baik," terang Nicke, Jumat (21/4).

Menanggapi dua kerja sama ini, Mike Pence mengatakan bahwa Indonesia selalu menjadi tujuan menarik dalam bekerja sama di bidang ekonomi karena dianggap sebagai jantungnya Asia Tenggara. Kerja sama baru ini melanjutkan perjanjian bilateral di bidang ekonomi dengan Indonesia dengan nilai mencapai US$10 miliar dalam setahun terakhir.

"Ini merupakan kerja sama yang bersejarah bagi kedua negara. Perjanjian bisnis ini mencerminkan bahwa perusahaan asal AS masih gembira menanamkan modalnya di Indonesia. Oleh karenanya, Presiden Donald Trump dan saya sangat bersyukur, dengan kerja sama ini," terang Pence.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menganggap, kerja sama ini bisa meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia.

"Investasi AS memang agak istimewa karena cenderung kualitas tinggi, teknologi tinggi, dan merek yang dahsyat. Tentunya kami gembira karena beberapa deal ini baik untuk efisiensi dan produktivitas ekonomi indonesia," tambah Thomas.
 
(**/CI/GEN) 
 
Go to top