Indonesia dan Amerika Sepakati Kerja Sama Energi

Kerja sama baru ini melanjutkan perjanjian bilateral di bidang ekonomi dengan Indonesia dengan nilai mencapai US$10 miliar dalam setahun terakhir. Kerja sama baru ini melanjutkan perjanjian bilateral di bidang ekonomi dengan Indonesia dengan nilai mencapai US$10 miliar dalam setahun terakhir. Ist

Berita9.com - Dua perusahaan energi pelat merah Indonesia, yaitu PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), masing-masing menjajaki kesepakatan baru dengan dua perusahaan asal Amerika Serikat. Dua kesepakatan tersebut ditandatangani di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil Presiden AS Michael Richard Pence.

Untuk Pertamina, kerja sama dilakukan dengan ExxonMobil Corporation dalam pembelian gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dengan volume sebesar 1 juta ton yang dimulai tahun 2025 mendatang. Rencananya, kontrak pembelian LNG ini akan berlangsung selama 20 tahun setelah pengiriman pertama dimulai.

Sementara itu, PLN menandatangani kerja sama dengan Pacific Infra Capital LLC dalam pemasangan teknologi swakelola tenaga listrik (smart metering). Nilai kerja sama itu tercatat US$2 miliar dengan pemasangan smart metering sepanjang 4,5 juta meter di sepanjang jaringan listrik Jawa-Bali.

Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati mengatakan, dengan teknologi smart metering, pelanggan listrik bisa mengendalikan penggunaan listrik per Kilowatt-hour (KWh) hingga mengatur barang elektronik apa saja yang bisa dinyalakan dalam jarak jauh. Menurutnya, teknologi ini penting untuk konservasi energi dan menambah rasio penetrasi energi baru dan terbarukan ke jaringan listrik PLN.

"Dengan advanced metering infrastructure, nanti konsumen bisa mengendalikan dan memonitor langsung kebutuhan listrik melalui gadget kebutuhan ini. Dari mulai KWh meter di setiap rumah nanti dihubungkan dengan gardu induk. Setelah itu, sistemnya dihubungkan ke jaringan hingga pembangkit kami, ini di-connect dalam satu sistem yang bisa kita kendalikan dan manage dengan baik," terang Nicke, Jumat (21/4).

Menanggapi dua kerja sama ini, Mike Pence mengatakan bahwa Indonesia selalu menjadi tujuan menarik dalam bekerja sama di bidang ekonomi karena dianggap sebagai jantungnya Asia Tenggara. Kerja sama baru ini melanjutkan perjanjian bilateral di bidang ekonomi dengan Indonesia dengan nilai mencapai US$10 miliar dalam setahun terakhir.

"Ini merupakan kerja sama yang bersejarah bagi kedua negara. Perjanjian bisnis ini mencerminkan bahwa perusahaan asal AS masih gembira menanamkan modalnya di Indonesia. Oleh karenanya, Presiden Donald Trump dan saya sangat bersyukur, dengan kerja sama ini," terang Pence.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menganggap, kerja sama ini bisa meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia.

"Investasi AS memang agak istimewa karena cenderung kualitas tinggi, teknologi tinggi, dan merek yang dahsyat. Tentunya kami gembira karena beberapa deal ini baik untuk efisiensi dan produktivitas ekonomi indonesia," tambah Thomas.
 
(**/CI/GEN) 
 
Rate this item
(0 votes)
Go to top