Usaha Keripik Tempe Raih Omzet 70 Juta Sebulan

Aktivitas pekerja dengan hasil produksi minimal 250 bungkus keripik tempe berukuran 250 gram per hari itu dilarang keras melanggar standard operating procedure (SOP) Aktivitas pekerja dengan hasil produksi minimal 250 bungkus keripik tempe berukuran 250 gram per hari itu dilarang keras melanggar standard operating procedure (SOP) Ist

Berita9.com - Dusun Sadang, Desa Karang Tengah Prandon, Ngawi, Jawa Timur, selama ini dikenal sebagai sentra pembuatan keripik tempe.

Para pelaku usaha itu masih bertahan kendati pernah diterpa badai harga kedelai yang naik gila-gilaan beberapa tahun lalu.

Salah satunya Endang Iswati, yang usahanya kini semakin berkembang dan diikuti pelaku usaha baru.

Suasana di dalam rumah Endang Iswati cukup sibuk siang itu. Khususnya di ruang tengah, beberapa perempuan paro baya tampak serius mengemas keripik tempe berbentuk oval dan persegi panjang ke dalam kemasan plastik bening.

Sesekali, para perempuan itu berganti posisi satu sama lain dengan kedua tangan tetap beraktivitas. Berikutnya, dua sisi plastik yang sudah terisi penuh distaples dan ditempel label produksi berwarna dominan coklat tua.

‘’Hampir setiap hari seperti ini aktivitas di rumah saya,’’ kata Endang Iswati, pemilik usaha keripik tempe. (5/7).

Endang menuturkan, keripik tempenya di proses di bagian belakang rumahnya. Dia sengaja mempekerjakan beberapa pria untuk mengiris tempe menggunakan alat khusus agar lebih tipis.

Selanjutnya tempe yang sudah diiris digoreng menggunakan wajan besar.

‘’Proses penggorengan tidak boleh asal-asalan, karena bisa mempengaruhi kualitas keripik tempe yang dihasilkan,’’ jelas Endang.

Bisnis yang dikelola perempuan 34 tahun itu merupakan satu dari ratusan rumah produksi keripik tempe di Dusun Sadang.

Usaha yang berkembang pesat sejak 2005 itu sekilas tidak ada perbedaan mencolok dari yang lainnya.

Yang jadi pembeda, keripik produksinya punya varian keripik bayam yang tidak diproduksi pelaku usaha lain. ‘’Di sini (Sadang, Red) satu-satunya yang produksi keripik bayam,’’ terang istri Jumadi ini.

Tidak ada teknik khusus yang diterapkan ibu satu anak ini dalam mengembangkan usaha keripik tempe peninggalan ayahnya Triadi tersebut.

Bos yang punya omzet usaha berkisar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per bulan ini hanya menjaga kepercayaan konsumen, khususnya pelanggan.

Menurutnya, semakin banyak pesaing usaha, mutu dan kualitas keripik tempe harus tetap konsisten dijaga.

‘’Sejak usaha ini dipegang ayah saya, kepercayaan konsumen itu nomor satu,’’ ungkapnya.

Aktivitas pekerja dengan hasil produksi minimal 250 bungkus keripik tempe berukuran 250 gram per hari itu dilarang keras melanggar standard operating procedure (SOP) yang dibuatnya.

Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengirisan, penggorengan hingga pengemasan harus mengedepankan kepuasan pembeli. ‘’Yang paling penting menjaga kualitas dan cita rasa,’’ paparnya.

Meski sudah banyak memetik hasil cukup dari bisnis keripik, Endang mengaku masih belum puas. Perempuan berambut panjang ini ingin membuka kios khusus oleh-oleh khas Ngawi.

‘’Saya ingin ada wadah bagi pelaku usaha kecil. Karena kalau tidak diwadahi, hasil produksi sulit berkembang,’’ ungkap Endang yang punya pasar keripik tempe di Solo, Jogjakarta, dan Jakarta itu.

(**/JPG)

Rate this item
(0 votes)

More in this category:

Go to top