Aturan Tiket Batas Bawah 35% Menyulitkan Bisnis Pariwisata

KPPU menyayangkan sulitnya maskapai melakukan promosi pada harga tiket pesawat untuk menarik minat penumpang KPPU menyayangkan sulitnya maskapai melakukan promosi pada harga tiket pesawat untuk menarik minat penumpang IST

Jakarta - Kementerian Perhubungan telah menetapkan kenaikan tarif batas bawah (TBB) tiket pesawat untuk kelas ekonomi jadi sebesar 35 persen. Angka itu naik 5 persen dari aturan lama sebesar 30 persen.

Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Chandra Setiawan, menilai dengan dinaikkannya TBB tersebut, membuat maskapai sulit melakukan promosi pada harga tiket pesawat untuk menarik minat penumpang.
 
Sebab, kata dia, maskapai jadi terpaku pada aturan tarif terbawah minimal 35 persen dari harga di tarif batas atas. Dengan kata lain, penumpang jadi susah mendapatkan tiket murah.
 
"Kalau sudah diatur ini, tujuannya kan pemerintah berharap harganya wajar sehingga mereka (maskapai) enggak ada rugi. Padahal orang boleh dong berpromosi, memberi bagian tersendiri. Misalnya okupansi si maskapai ini sudah 70 persen, sudah untung kan? Dia boleh doang kasih promosi enggak? Boleh kan. Sekarang promosi itu bisa, tapi kan terbatas," kata Chandra, Selasa (2/4).
 
Promosi yang dimaksud berbeda dengan banting atau perang harga seperti yang dilakukan maskapai beberapa tahun belakangan.
 
Menurut Chandra, promosi yang dimaksud tetap bermain di harga yang wajar agar tetap mendapatkan margin. Hanya saja, sekarang ruang gerak maskapai jadi terbatas karena TBB diatur 35 persen.
 
Padahal, promosi harga tiket bisa membuat penumpang terbang ke tempat-tempat pariwisata. Dengan begitu, efek ganda di daerah yang dikunjungi pun anak terlihat karena pariwisatanya hidup.
 
Karena itu, sejak awal, Chandra tak setuju jika TBB diatur pemerintah. Kata dia, cukuplah Tarif Batas Atas (TBA) yang diatur agar maskapai tak seenaknya menjual harga tiket pesawat.
 
"Promosi itu punya impact ke pariwisata. Itu yang tidak dipikirkan oleh pemerintah. Berikan kesempatan warganya mobile, salah satunya mengunjungi daerah tertentu di pariwisata ini sehingga ada pendapatan retribusi, multiplier effect. Kalau TBB ini orang enggak mampu kan (beli pesawat) dan sektor lain terganggu," tandasnya. (*)
Rate this item
(0 votes)
Go to top