Indonesia Swedia Kerjasama Kembangkan Energi Terbarukan

Energi Terbarukan Menjadi Program Kementerian ESDM Energi Terbarukan Menjadi Program Kementerian ESDM Ist

Jakarta, Berita9.com - Pemerintah Indonesia meningkatkan kerja sama dengan Swedia untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Kerja sama bilateral itu ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumer Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Koordinator Kebijakan dan Energi Swedia Ibrahim Baylan di Kementerian ESDM hari ini

Di sela pendatanganan Jonan mengatakan bahwa Swedia merupakan salah satu negara Eropa yang telah berhasil mengembangkan energi terbarukan sebagai sumber daya energi yang efisien dan ramah lingkungan. Bahkan saat ini 52% dari total produksi nasional di Swedia berasal dari energi terbarukan di antaranya berbasis hydropower, solar power dan bioenergi. 

Swedia ditempatkan sebagai salah satu negara yang sustainable di bidang energi baru dan terbarukan. “Jadi kerja sama ini bertujuan untuk mengembangkan energi baru terbarukan dengan inovasi teknologi yang baru, sehingga tarif listrik  akan lebih murah dan terjangkau," ujar Jonan di Jakarta, kemarin (17/2/2017).

Menurutnya kerja sama ini akan diwujudkan dengan investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Indonesia. Sayangnya dia belum membeberkan berapa investasi dan dimana lokasi pembangunan pembangkit tersebut. Saat ini pihak ESDM baru memperkenalkan kondisi geografis dimana potensi itu dapat dikembangkan.

“Pembangunan EBT akan dilihat dulu lokasi yang memungkinkan. Kita dorong semua kawasan, tapi tetap harus efektif dan efisien,” ujarnya.

Dia menambahkan tidak menutup kemungkinan pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT akan dilakukan di Indonesia bagian timur. Pasalnya sesuai kebutuhan dan potensi melimpah berada di sana.

Lebih lanjut Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menerangkan, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keunikan geografi memiliki sumber daya energi baru terbarukan yang melimpah. Namun guna mewujudkannya butuh teknologi baru untuk mengaplikasikan pada masing-masing daerah.

“Sebab itu perlu kerja sama dengan tujuan mencapai target bauran energi pada 20205 harus 23% dari EBT. Kita sudah membuat rencana bertahap untuk mencapainya, kerja sama ini upaya untuk mewujudkannya,” tutur Arcandra.

Sementara itu, Ibrahim Baylan menyatakan komitmennya membantu Pemerintah Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan mencapai target energi baru terbarukan dalam bauran energi. Terdapat tiga poin yang penting dalam kerja sama ini yaitu, kerja sama Indonesia–Swedia menjadi solusi energi untuk negara kepulauan.

Selain itu transformasi energi harus dilaksanakan dengan pengembangan teknologi disertai komitmen kreativitas serta berkemauan keras membuat dunia lebih baik untuk kehidupan di masa depan. Kerjasama ini juga bertujuan memastikan pasokan listrik untuk industri dan rumah tangga tersedia dengan harga kompetitif, dengan dampak yang paling kecil terhadap lingkungan.

“Dengan begitu Indonesia dapat belajar bagaimana mengurangi penggunaan energi fosil dan menggantinya dengan energi bersih dan ramah lingkungan,” pungkas dia.

Sebagaimana diketahui Indonesia dan Swedia sebelumnya sudah membentuk Indonesian–Swedish Initiatives for Sustainable Energy Solutions (INSIST) sebagai bentuk kerja sama yang bertujuan  meningkatkan kerja sama inovasi teknologi di bidang energi baru terbarukan. INSIST mendorong keterlibatan kalangan industri swasta meningkatkan penggunaan EBT sebagai sumber energi  di tanah air.  (**/akr)

Rate this item
(0 votes)
Go to top