Kadisbudpar Marah Besar 2 Anak Tewas Saat Bagi Sembako

Sejumlah warga berdesakan untuk mengambil sembako gratis saat acara Untukmu Indonesia di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (28/4). Sejumlah warga berdesakan untuk mengambil sembako gratis saat acara Untukmu Indonesia di kawasan Monas, Jakarta, Sabtu (28/4). IST

Jakarta - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) DKI Jakarta, Tinia Budiarti, mengungkapkan sangat marah besar atas acara bagi-bagi sembako di gelaran Untukmu Indonesia, yang diselenggarakan di Monas, Sabtu (28/4) lalu. Dalam acara tersebut, dua anak harus tewas karena berdesak-desakan. 

"Saya marah besar dengan kejadian itu, karena saya sudah peringatkan jangan ada bagi-bagi sembako. Pokoknya, panitia harus bertanggungjawab dan besok harus memberikan statement-nya kepada masyarakat di depan wartawan," jelas Tinia, Selasa (1/5).

Dari paparan selama rapat terkait perizinan antara panitia acara Untukmu Indonesia dengan Pemprov DKI Jakarta, Tinia menyebutkan panitia acara tidak jujur dalam mengungkapkan ide mereka. Terutama adalah bagi-bagi sembako yang panitia sebut hanya sediakan 100 ribu paket sembako, ternyata lebih.

"Mereka bilang siapkan 100 ribu paket sembako, lalu saya tanya berapa perkiraan orang yang akan datang, mereka tidak bisa jawab. Saya bilang, kalau yang datang jutaan gimana? Bagi sembako ada aturannya dan harus jujur dari awal. Dia (panitia) tidak jujur," papar mantan Kadis Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta itu.

Tinia juga sudah memberikan sedikit kelonggaran terkait kupon yang sudah terlanjut dibagi-bagikan oleh panitia acara. Ia meminta kepada panitia, agar pengumuman dan pemberitaan dihentikan. Apalagi dalam pengumuman disebutkan bahwa bagi-bagi sembako tidak harus memperlihatkan KTP.

"Mereka bilang tapi kita sudah bagi kupon. Saya bilang, oke kalau sudah terlanjur dibagi, silakan. Tapi stop jangan dibagi lagi dan tidak ada pemberitaan di sosmed 'Sembako gratis tanpa perlu perlihatkan KTP'. Ini yang sangat rawan. Kan kebanyakan orang datang dari daerah, itu kan enggak fair. Apa ini maksudnya?" papar Kadisbudpar.

Tinia menginginkan agar panitia segera memberikan pernyataan terkait pertanggungjawaban terhadap korban tewas. Begitu juga melakukan berkoordinasi dengan pihak Monas karena telah merusak beberapa titik area di Monas.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebutkan kedua bocah berinisial MJ (12) dan MR (10) meninggal dunia karena ikut dalam antrian bagi-bagi sembako yang digelar oleh Forum Untukmu Indonesia pada Sabtu (28/4) lalu.

Sandiaga merasa prihatin atas hilangnya nyawa dua anak warga Pademangan, Jakarta Utara itu. Pihak Pemprov DKI Jakarta juga akan menginvestigasi penyebab sesungguhnya atas kematian dua anak yang disebut-sebut dehidrasi dalam antrian sembako di acara Untukmu Indonesia.

Dalam keterangannya Lembaga Musyawaroh Kelurahan (LMK) Pademangan bidang Kesra, Robi Andriana, menjelaskan bahwa MJ pergi ke Monas bersama teman-temannya dan sejumlah warga, sedangkan AR bersama ibunya. Keduanya sempat dibawa ke RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, sebelum meninggal. 

Dia menerangkan kronologi kematian MJ dan AR. Dia menuturkan MJ ikut bersama dua temannya pergi bersama warga lain menuju Monas untuk mendapatkan sembako. 

Menurut dia, MJ ikut bersama rombongan tanpa sepengetahuan orang tuanya. “Dia ikut-ikutan, dia jalan bertiga ikut rombongan ke Monas, orang tuanya enggak tahu,” kata Robi kepada awak media melalui sambungan telepon, (1/5). 

Dia menerangkan MJ bersama dua temannya ikut antre, bahkan sempat ikut makan. Namun saat hendak pulang, MJ terpisah dari dua temannya saat berdesak-desakan. “Jam dua sudah dibubarkan, itu desak-desakan dan dia terpisah dengan dua temannya itu,” kata dia.

Ketika banyak warga mulai kembali ke rumahnya, MJ belum pulang. Orang tua MJ pun mulai mencari anaknya. Ayah MJ, Junaedi, mengendarai sepeda motor menyusuri Monas. 

“Dia keliling Monas, bahkan sampai motornya ditinggal dan motornya hilang juga, kasihan, sudah jatuh ketiban tangga juga,” kata Robi.

Kemudian, Junaedi mendapatkan informasi adanya anak yang dibawa ke Rumah Sakit Tarakan. Berdasarkan informasi, petugas Satpol PP menemukan MJ tergeletak. “Dia tahu-tahu sudah tergeletak dan ditolong oleh Satpol PP. Dibawa ke rumah sakit Tarakan,” kata Robi.

Kemudian, Junaedi menuju RSUD Tarakan. Namun sesampainya di rumah sakit, nyawa anaknya sudah tidak bisa lagi ditolong. “Sampai sana sudah tidak ada (meninggal),” terangnya.

(**/RO)

Rate this item
(0 votes)
Go to top