Ketum Muhammadiyah Minta Suhu Politik Diturunkan Saat Masa Tenang

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menghadiri pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menghadiri pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto IST

Berita9.com - Memasuki masa tenang, Ahad (14/4/2019) besok, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta Capres dan Cawapres serta pendukungnya untuk menurunkan suhu politik yang selama masa kampanye Pilpres memanas. Para pendukung dan simpatisan diminta menciptakan suasana damai.

"Kami berharap kepada kontestan, baik capres, pendukung dan tim sukses untuk memanfaatkan waktu yang terakhir jelang pemilihan itu benar-benar menciptakan suasana yang damai, bersatu dan bisa menurunkan tensi politik," kata Haedar Nashir. 

Hal ini disampaikan Haedar Nashir kepada wartawan usai menghadiri pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Anjar Nugroho, di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (13/4/2019).

Dia mengatakan, selama masa kampanye pasti terjadi gesekan bahkan saling menghujat. Namun demikian, situasi yang kondusif sangat diperlukan agar masyarakat bisa menyambut pesta demokrasi ini dengan ceria dan tidak ada perasaan saling bermusuhan.

"Maklum selama kampanye gesekan terjadi, adu argumentasi yang keras terjadi, bahkan mungkin saling hujat juga terjadi. Maka di waktu masa tenang, semua betul-betul tenang, tidak ada pergerakan yang membuat suasana tidak kondusif," jelasnya.

Dia juga meminta kepada penyelenggara pemilu agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kedua lembaga negara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) punya tanggungjawab dalam proses demokrasi.

"Penyelenggara pemilu betul-betul seksama menjalankan tugasnya sesuai dengan konstitusi. Bawaslu juga menjalankan fungsi kontrol, berdiri tegak di atas semua golongan dan kontestan. Baik KPU maupun Bawaslu harus bersikap adil," ucapnya.

Dia juga meminta kepada seluruh warga agar menggunakan hak pilihnya sesuai dengan pilihan masing-masing. Meski demikian, perbedaan pilihan politik dapat disikapi dengan dewasa dan tidak saling merendahkan, karena pilihan politik merupakan hak setiap orang.

Selain itu, dia juga berpesan kepada capres yang nantinya menang untuk tetap rendah hati. Demikian pula dengan capres yang kalah dapat menerimanya dengan jiwa besar. Apabila ada yang tidak puas, dapat diselesaikan melalui prosedur yang diatur dalam konstitusi.

"Saya yakin bangsa kita sudah terdidik secara matang dalam berbagai periode Pemilu. Sehingga dalam Pemilu sekarang harus lebih matang, dewasa, cerdas dan damai," ujarnya. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top