KPU Tercatat Telah Melakukan 708 Kesalahan Rekapitulasi

 Koalisi Masyarakat Sipil dalam diskusi di Jakarta Pusat Koalisi Masyarakat Sipil dalam diskusi di Jakarta Pusat IST

Jakarta - Koalisi Masyarakat Sipil mencatat, hingga kini KPU sudah melakukan 708 kesalahan dalam proses rekapitulasi suara Pilpres 2019.

Pemantauan itu dilakukan oleh Mata Rakyat Indonesia, KoDe Inisiatif, Kornas JPPR, KIPP Indonesia, dan SPD dengan data yang dikumpulkan dari 262.802 TPS (32,3%) per 25 April 2019 pukul 07.30 WIB dan media lainnya.

Menurut data yang dipublikasikan oleh Koalisi Masyarakat Sipil 708 temuan itu berasal dari 680 temuan dari pemantauan langsung Mata Rakyat Indonesia dan 28 hasil pemantauan media selama proses rekapitulasi berlangsung.

Dari jumlah tersebut, Ketua KoDe Inisiatif, Very Junaidi mengatakan, terdapat ratusan temuan C1 tertukar dan temuan C1 salah input.

"Yang tertukar itu ada 218, ada juga C1 tidak jelas atau buram, terlipat. Terus ada juga tidak ada C1-nya," kata Very Junaidi dalam diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2019).

Kesalahan besar lain menurut data Koalisi Masyarakat Sipil adalah C1 salah input dengan jumlah temuan 196, tidak ada C1 151, dan C1 tidak jelas/buram/terlipat dengan 106 temuan.

Selain itu terdapat sejumlah kesalahan dengan temuan lebih kecil seperti hasil C1 dan C1 Plano berbeda, problem kotak suara, salah tulis, salah hitung, pengubahan C1, dan lain-lan.

Sekretaris Jendral Mata Rakyat Indonesia, Bayu Adi Permana menerangkan, lebih lanjut soal temuan kesalahan yang jumlahnya paling banyak itu.

Dalam kasus C1 tertukar, Bayu mengatakan, C1 yang tertukar itu memiliki banyak kekurangan pada bagian-bagiannya seperti hanya berita acaranya, tanda tangan saksinya atau hanya halaman pertama dari sertifikat berita acara.

"Bahkan yang lebih parah lagi kita menemukan C1 yang masuk ke dalam sistem situngnya KPU untuk C1 pilpres ternyata juga dimasuki oleh C1 pileg," ungkapnya.

Kemudian, ia juga menjelaskan terkait C1 salah input. Kesalahan tersebut, lanjut dia, terletak pada proses inputnya. Bukan pada C1-nya yang salah.

Bayu mengatakan, kesalahan tersebut menyebabkan kerugian pada kedua paslon baik Jokowi-Ma"ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ia memberi contoh yang terjadi pada TPS 9 di Desa Bulugede, Kecamatan Patebon, Kendal, Jawa Tengah.

"Ditulis 01, 133. (Paslon) 02, 54. Tapi yang diinput 01, 133 dan 02, 854 jadi penambahannya kurang lebih sekitar 700 suara," terangnya.

Sementara untuk C1 yang tidak ada menurut Bayu adalah kesalahan dengan terdapat input C1 namun tidak ditemukan secara fisik. Untuk temuan ini contohnya terdapat 117 temuan di Bantul. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top