Merosotnya Lifting Minyak Nasional Picu Defisit Terburuk Era Jokowi

 Peneliti Indef - Bhima Arya Yudhistira Peneliti Indef - Bhima Arya Yudhistira IST

Jakarta - Semakin dalamnya defisit neraca perdagangan Indonesia dan terburuk sepanjang sejarah, karena impor minyak dan gas bumi (migas) semakin tak terkendali. Tapi, ekspor kian melemah saja.

"Ekspor migas yang menurun 42% yoy ini karena rendahnya harga minyak mentah," kata Peneliti Indef, Bhima Arya Yudhistira, Jakarta, (19/5).

Banyaknya impor migas, kata dia, karena pemerintah menyiapkan stok BBM untuk perayaan Lebaran 2019. Ini dikarenakan pemerintah tidak bisa menjaga penurunan lifting minyak dalam negeri. Nah, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maka melakukan impor.

"Lifting minyak dalam negeri terus merosot dari tahun ke tahun. Untuk penuhi kebutuhan dalam negeri saja impor bbm terus banjir," kata dia.

Adapun Realisasi lifting minyak dan gas bumi sampai April 2019 tercatat oleh pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatah Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) baru mencapai 1,8 juta barel setara minyak /hari (BOPD).

Nah, angka realisasi ini tentunya belum mencapai target dalam APBN. Atau baru 89% dari yang ditargetkan dalam APBN sebesar 2 juta BPOD.

Lifting minyak per hari sekitar 755.000 barel per hari. Angka ini tentu tidak mencapai target pada APBN. Target APBN 775.000 saat ini.

Demikian untuk lifting gas sebesar 5.909 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Nah, dengan demikian capaian lifting migas di kuartal satu 2019 juga tidak tercapai.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia April 2019 mencapai US$12,60 miliar. Sedangkan impornya melejit hingga US$15,1 miliar.

Dengan begitu, neraca dagang Indonesia pada April 2019 mengalami tekor alias defisit US$2,5 miliar. Ini adalah defisit paling jeblok sepanjang sejarah. Naiknya nilai impor di bulan April, salah satu biang keroknya adalah impor migas naik 46,99%. Sedangkan impor non migas naik 7,82%. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top