Pendamping Desa Diketahui Ambil Untung e-Warung Bantuan Pangan

Miyati menunjukan stok beras yang ada di rumahnya yangakan digunakan untuk BPNT di Desa tamanrejo Miyati menunjukan stok beras yang ada di rumahnya yangakan digunakan untuk BPNT di Desa tamanrejo IST

Berita9.com - Warung milik Miyati warga Dusun Tambakrejo RT 02 RW 05 Desa Tamanrejo Kecamatan Sukorejo belum memiliki mesin EDC meskipun sudah ditunjuk sebagai warung yang menyediakan keperluan untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Ada ratusan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang melalui warung miliknya. Kendala tidak memiliki mesin EDC membuat Miyati harus memncairkan atau menggesek kartu milik KPM ke toko yang ada di Kecamatan Sukorejo.

Di toko Ragil bukan hanya warung milik Miyati, namun ada banyak e warung yang belum memiliki mesin EDC melakukan transaksi disana. Miyati saat dikonfirmasi prosedurnya bagaimana agar dana bisa cair dan dibelikan kebutuhan KPM mengatakan jika sekali gesek per kartunya dimintai uang Rp. 1.000.

Setelah digesek kemudian struknya diserahkan ke Bank yang ditunjuka dalam hal ini Bank BNI untuk pencairan dana. Setelah dana cair dengan menukarkan struk pembelian kemudian dibelikan bahan pokok kebutuhan KPM seperti beras, telur, kacang hijau dan buah salak.

"Setiap sekali gesek per kartu kami dimintai bayar sebesar Rp. 1000, untuk yang saya bawa ada 200 KPM, teman-teman lain dari desa lain juga sama, jumlahnya ada 6 desa jadi banyak sekali yang melakukan transaksi di toko Ragil ini,"ujar Muyati, (26/1).

Setiap KPM menurut Miyati mendapatkan bantuan pangan nono tunai sebesar Rp. 150.000, akan mendapat 10 KG beras, 1 Kg telur 1kG salak dan 1/4 KG kacang hijau.

Saat ditanyakan adakah pendamping yang bermain dan mengambil keuntungan di program BPNT ini, dirinya mengatakan ada, bahkan Miyati malah hanya menerima sedikit laba dan semua yang melaksanakan program adalah pendamping.

"Saya hanya mendapatkan laba sedikit dari program ini semua yang mengerjakan pendamping PKH desa," lanjut Miyati.

Dirinya enggan menyebut nama pendamping desa yang dimaksud. Sementara itu Aktifis Muda Kendal Kuswanto menyayangkan jika ada pungutan per KPM hanya karena warung atau toko yang ditunjuk belum memiliki mesin EDC.

Wilayah Kecamatan Sukorejo memang banyak yang ada di bawah lereng pegunungan selain tidak ada sinyal juga banyak yang belum memiliki mesin EDCsehingga jika akan mencairkan baik PKH maupun BPNT harus ke Kecamatan.

"Praktik pungli hendaknya dihentikan pendampng PKH sudah mendapatkan gaji yang cukup sementara bagi toko yang sudah memiliki mesin EDC hendaknya jangan memungut dari toko yang belum memiliki mesin EDC, kasihan para penerima manfaat,"ujar Kuswanto. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top