Pengidap AIDS Makin Terancam Kelangkaan Obat

 43 ribu orang pengidap HIV/AIDS (ODHA) terancam krisis obat. 43 ribu orang pengidap HIV/AIDS (ODHA) terancam krisis obat. IST

Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengkhawatirkan kegagalan pengadaan obat antiretroviral (ARV) fixed doze combination (FDC) tenofovir, lamivudine, dan efavirenz (TLE). Sebanyak 43 ribu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) terancam krisis obat.

“Kemenkes (Kementerian Ksehetan) melakukan emergency procurement (pengadaan darurat) dengan menggunakan dana Global Funds dengan membeli langsung dari India. Sebanyak 220 ribu botol sudah sampai di Jakarta dan hanya cukup sampai Maret 2019,” kata Aditya di Jakarta , (10/1).

Aditya mempertanyakan apakah jika di tahun ini pengadaan obat dengan menggunakan APBN masih gagal, pemerintah akan terus mengandalkan pengadaan darurat. Sementara itu, pengadaan darurat belum tentu menyelesaikan masalah. 

Menurut dia, Januari hingga Maret 2019 menjadi fase krusial dalam pemanfaatan APBN untuk memberi obat ARV. Hal ini penting mengingat ARV FDC TLE adalah energi baru bagi ODHA karena memberikan efek penyelamat hidup dan efek pencegahan sehingga bisa mengeliminasi stigma negatif di masyarakat.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Penyediaan Alat Kesehatan Kemenkes Engko Magdalene menegaskan stok obat ARV tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, stok selama 10 bulan ke depan masih aman.

“Kami sudah berhitung fixed dose combination empat bulan masih cukup dengan jumlah pasien yang ada dan kami sudah hitung kalau ada estimasi peningkatan pasien yang treament yang setiap bulannya naik 2 sampai 3 persen kira kira empat bulan masih bisa bertahan dengan FDC. Enam bulan bertahan dengan lepasan,” kata Engko di Kemenkes. 

Dia menjelaskan agar ketersediaan tetap ada, data ARV akan dimasukan ke dalam e-kalatog. “Sementara tiga bulan pertama ini kami akan usahakan agar pengadaan 2019 sudah selesai” jelas dia. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top