Rizal Ramli Kecewa Demokrasi Indonesia Alami Kemunduran

Rumah Perjuangan Rakyat di Jalan Proklamasi No 36 Menteng, Jakarta Pusat Rumah Perjuangan Rakyat di Jalan Proklamasi No 36 Menteng, Jakarta Pusat IST
Jakarta - Ekonom senior Dr. Rizal Ramli bercerita saat dirinya masih menjadi aktivis memperjuangkan kebebasan berpendapat. Saat itu (tahun 1978) banyak pejuang demokrasi dimasukan ke dalam penjara termasuk dirinya.
 
"Waktu saya masih mahasiswa di ITB ingin Indonesia sebagai negara demokrasi. Saya berjuang, saya dipenjara 1,5 tahun di Sukamiskin," ujar RR sapaan akrabnya di Jakarta, Jumat malam (10/5).
 
Keluar dari penjara Sukamiskin di Bandung, tidak membuat RR jera. Sikap tegasnya terhadap kebijakan pemerintah yang menyimpang dari cita-cita kemerdekaan membuatnya diakui sebagai tokoh oposisi terkemuka di era 1990-an.
 
Menjadi oposisi dan kritikus kebijakan pembangunan bukan persoalan yang mudah, karena dituntut untuk tetap objektif dan menyandarkan analisa pada fakta. Sikap kritis itu harus, tetapi tidak boleh asal apalagi emosional.
 
Lantas, sambung Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur ini, melihat situasi dan fakta sekarang terjadi kemunduran dalam berdemokrasi.
 
Dia memberi contoh, Pemilu serentak 2019 penuh dengan dugaan kecurangan. Ditambah, kebebasan berkumpul dan berpendapat juga terancam saat ini.
 
"Kok bisa lagi hari ini, kok bisa kembali ke nol, pemilunya curang, tokoh-tokoh ngomong sedikit langsung ditangkap," ungkapnya menyayangkan.
 
Pemilu saat ini, lanjut RR, adalah pemilu yang paling buruk sepanjang digelar.
 
"Ini adalah pemilu terjelek. Tahun 55 pemilu adil, jujur dan sederhana karena KPU-nya sederhana, dan rakyatnya sederhana," pungkasnya. (*)
Rate this item
(0 votes)
Go to top