Rupiah Diprediksi Melemah Usai Libur Lebaran

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi nilai tukar rupiah kembali melebah setelah lebaran Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi nilai tukar rupiah kembali melebah setelah lebaran IST

Jakarta - Mata uang rupiah diperkirakan melemah pada perdagangan awal setelah libur Lebaran. Adapun pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh tekanan faktor global yang kembali meningkat usai kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve, ditambah rencana the Fed yang berencana menaikkan suku bunga dua kali lagi tahun ini.

"Nilai tukar rupiah pada pasar spot diperkirakan melemah pada awal perdagangan usai libur Idulfitri mengingat NDF USD/IDR satu bulan cenderung menguat satu persen dalam sepekan terakhir ini," kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, di Jakarta, Selasa, 19 Juni 2018.

Dirinya menambahkan pelemahan rupiah dipengaruhi dolar Amerika Serikat (USD) yang menguat terhadap mata uang negara maju dan negara berkembang. Hal ini sejalan dengan the Fed yang memproyeksikan ekonomi AS tumbuh hingga 2,8 persen dengan inflasi mencapai dua persen serta tingkat pengangguran lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Kenaikan suku bunga acuan AS, lanjutnya, juga diikuti oleh meningkatnya potensi risiko dari perang dagang antara AS dan Tiongkok. AS berencana mengenakan tarif impor terhadap barang dari Tiongkok yang mencapai nilai USD50 miliar setelah negosiasi antara kedua negara sebelumnya tak mencapai kesepakatan.

"Kedua faktor tersebut yang mendorong penguatan USD dalam beberapa hari terakhir ini dan tercermin dari dolar indeks yang menguat sekitar 1,8 persen sejak Fed menaikkan suku bunga acuan pada Kamis lalu," jelas dia.

Namun demikian, Josua menyebut, nilai tukar rupiah diperkirakan cenderung stabil mengingat BI sudah melakukan kebijakan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve. Ini dibuktikan dengan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei lalu yang diharapkan dapat mendukung stabilitas rupiah.

"Selain itu, BI akan tetap berada di pasar dan akan melakukan langkah-langkah dual intervention pada pasar obligasi dan valas apabila terjadi peningkatan volatilitas di pasar keuangan dan rupiah," pungkasnya. (*)

Rate this item
(0 votes)
Go to top