Koperasi 212 dan Ikatan Pemersatu Kerjasama Ekonomi

Gerakan koperasi 212 bisa jadi counterviling dari sistem kapitalisme yang eksploitatif, dehumanis, dan penuh persaingan Gerakan koperasi 212 bisa jadi counterviling dari sistem kapitalisme yang eksploitatif, dehumanis, dan penuh persaingan Ist

Berita9.com - Secara mikro-organisasi, berdirinya koperasi dasarnya adalah kesadaran dan kemauan anggotanya secara pragmatis untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, menjawab kebutuhan sosial ekonomi keseharian. Secara makro-ideologi adalah untuk tujuan merombak struktur sosial yang timpang agar menjadi lebih adil dan berkemanusiaan.

Koperasi 212 secara pragmatis sudah punya dasar ini dengan membentuk layanan kebutuhan anggotanya seperti membangun konsentrasi awal membentuk minimarket dan sebagai bussines provider bagi usaha-usaha anggota.

Saya melihat spirit 212 itu bisa saja digunakan sebagai ikatan "common bond", ikatan pemersatu untuk memulai gerakan koperasi. Ikatan pemersatu ini bisa saja berupa persamaan ideologi berupa persamaan keyakinan beragama, persamaan nasib, dan lain sebagainya, atau dimulai dengan ikatan persamaan tempat tinggal atau tempat kerja.

Apapun alasanya yang penting dapat memungkinkan munculnya trust. Aksiomanya, jika kepercayaan itu hadir maka kerjasama itu akan terjadi secara spontan.

Spontanitas semangat 212 itu bisa jadi modal yang baik untuk perkembangan koperasi ini. Memilih koperasi itu juga sudah kemajuan dalam pengorganisasian gerakan, sebab selain koperasi itu berbasiskan orang, juga memiliki kemampuan untuk memobilisasi modal finansial.

Gerakan ini bisa jadi counterviling dari sistem kapitalisme yang eksploitatif, dehumanis, dan penuh persaingan. Sebab koperasi membawa misi kerjasama ( perdamaian), anti eksploitasi dan menaruh visi kemanusiaan di atas nilai manfaat bisnis semata-mata.

Tantangan bagi pengembangan selanjutnya bagi koperasi 212 dan juga koperasi yang punya latar belakang "common bond" yang biasanya cenderung homogen dalam pergaulanya adalah justru pada keterjebakan pada kebanggaan keesklusifitasnya. Dimana kemudian berkembang menjadi "ideological barrier".

Masalah ini biasanya dikarenakan proses transformasi "common spirit " perkoperasian, spirit untuk membangun solidaritas inklusif, spirit kerjasama, spirit kebangsaanya tidak diimplant, ditanam dari sejak awal berdiri.

Koperasi yang das Sollen-nya diikat oleh nilai universal yang bersifat tremendaus, agung, sebagai jalan damai, rahmatan lil alamin, rahmat bagi semua, rahmat bagi kemanusiaan yang bersifat universal justru bisa saja berangsur menjadi ikatan yang bersifat sektarian, primodial, ekslusif dan ini berpotensi mudah terpecah belah oleh kepentingan yang sempit dan berpotensi justru menjadi fragamentatif terhadap kehidupan bersama.

Semoga saja spirit aksi damai 212 dapat bertranformasi menjadi spirit kebersamaan, spirit anti penindasan dan spirit kerjasama bagi semua. Semoga koperasi ini, walaupun dibangun umat muslim,, sebagaimana dapat jaminan konstitusi dan undang2 tetap terbuka bagi mereka yang katholik, hindu, budha, konguchu, Protestan, laki-laki, perempuan, tua dan muda, miskin dan kaya, Jawa, Sunda, China, Minang, Muyu, Marin, dsb.

Keberhasilan koperasi dalam merombak secara radikal tatanan sosial ekonomi kita yang kapitalistik dan dehumanis saat ini sangat tergantung pada tiga hal: ideologi kemanusiaanya, tata kelola yang baik dan juga aksinya yang terstruktur dan terencana.

Koperasi di berbagai belahan bumi ini keberadaanya tak lepas dari dorongan para politisi, kaum agamawan, tokoh-tokoh masyarakat dan lain sebagainya, namun satu hal yang menjadi ciri khas koperasi adalah bahwa koperasi itu tak dapat diklaim sebagai sebuah gerakan sektarian, primordial atau juga gerakan tidak religius atau atheisme sekalipun, karena klaim sempit demikian telah meruntuhkan dirinya sendiri untuk dapat layak disebut sebagai koperasi sejati.

Semoga saja Koperasi 212 ini dapat mengarah kesana, sebagai organisasi berbasis orang tetap menempatkan modal sosial yang berupa partisipasi, resiprositas (keimbal-balikan), trust, norma-norma sosial, nilai-nilai, dan tindakkan proaktif sebagai kekuatanya.

Ini memang tantangan "ketergaulan" bangsa ini. Kita sekarang ini memang sedang berjalan dalam ombak kapitalisme dan menari diatas genderanh orang sehingga modal sosiak yang penting yang bisa kita pertinggi melalui jalan koperasi lenyap.

Sebabnya apa? by design memang arah politik global yang dipaksa untuk menerima secara monolitik " globalisasi" itu adalah untuk ciptakan fragmentasi, sentimen-sentimen yang semakin sempit agar jalan kerjasama dan jalan perdamaian itu tidak terjadi.

Agar kapitalisme tetap dapat melihat yang kecil-kecil itu fragil, fragemented, penuh persaingan dan mudah dikendalikan dan dipenetrasi.

Tujuanya untuk apa? untuk kelanggengan perselingkuhan haram segelintir mereka yang di atas, kaum plotokrat dan oligark. Kapitalisme itu langgeng apabila ideologi persaingan dalam berbagai motif dianut oleh banyak orang. Saya, dikau dan siapapun juga.

Kenapa Bung Hatta sebut koperasi itu counterviling kapitalisme secara fundamentil itu karena hal ini. Dia hadir untuk mempertinggi jalan kerjasama, jalan perdamaian dengan sendirinya.

Kita bisa melawan ini dengan biasakan diri memberbaiki ketergaulan kita, jangan justru berperilaku menjauh, sentimentil dalam setiap fragmentasi. Inilah ke-Pancasilaan yang mustinya kita kerjakan. Perbanyak organisasi2 dan aktifitas yang memungkinkan terjadinya persilangan pertemanan. Bahasa gaulnya permutualan pertemanan.

Mengenai struktur organisasi Koperasi 212 yang tidak menunjuk manajemen sebagai pengelola saya pikir karena tidak ditampilkan saja, tapi kalau benar memang tidak dihadirkan dalam struktur dengan pengelolaan dana yang besar sekali itu bisa juga menjadikan koperasi ini kehilangan profesionalitas pelayanan lambat laun.

Purwokerto, 6 Juli 2017

Suroto

Rate this item
(0 votes)
Go to top