Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa dua saksi penting terkait dengan kasus suap Proyek PLTU Riau-1 yakni Menteri Sosial Idrus Marham dan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir.

Adapun, pemeriksaan ini dilakukan setelah tim penyidik KPK menggeledah delapan lokasi.

"Setelah melakukan penggeledahan di delapan lokasi sejak Minggu dan Senin, besok Kamis dan Jumat direncanakan pemeriksaan saksi Idrus Marham dan Sofyan Basir," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta pada  Rabu (18/7/2018).

Saksi Idrus Marham akan diperiksa pada Kamis (19/7/2018) dan Sofyan Basir pada Jumat (20/7/2018).

"KPK telah menyampaikan surat panggilan secara patut. Kami percaya para saksi akan memenuhi panggilan KPK," lanjut Febri.

Mengenai materi pemeriksaan, KPK mengatakan membutuhkan pengetahuan para saksi terkait dengan perkara.

"Para saksi ini diperlukan keterangannya tentang apa yang mereka ketahui terkait dengan perkara yang sedang kami proses ini," ujar Febri.

(**/IST)

Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI Slamet menyoroti tingginya harga telur ayam yang kian tak terkendali. Menurutnya, hal ini sebagai akibat tata niaga yang tidak beres.

Dia pun meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) segera menangani masalah tersebut secara serius.

"Harga telur secara khusus dan harga komoditi unggas lainya hari ini tinggi sekali," kata Slamet di Jakarta, Rabu (18/7/2018).

Politisi PKS ini menegaskan, kondisi tidak stabilnya harga di komoditas unggas beberapa bulan terakhir seringkali terjadi, khususnya telur dan daging ayam.

Kondisi ini, kata Slamet, terjadi juga karena sistem kartelisasi dari hulu ke hilir yang terjadi di bisnis ini. 

"Ketika perusahaan-perusahaan besar main dari hulu dan hilir, maka harga bisa dimainkan oleh mereka," ungkapnya. 

Diketahui, dalam sepekan terakhir, harga telur mengalami lonjakan lumayan tinggi di pasaran. Hal ini kemudian membuat pedagang, konsumen, dan bahkan pemerintah ikut-ikutan meradang. 

Terhitung sejak Jumat pekan lalu, harga telur ayam di pasar sudah mengalami kenaikan. Di Pasar Palmerah, misalnya, harga telur ayam tembus hingga Rp 29.000 per kilogram.

Bahkan, ada yang menjual hingga harga Rp 32.000 per kg di tingkat eceran.

Salah seorang pedagang di Pasar Palmerah Eko Prasetyo menyebutkan bahwa kenaikan harga hingga Rp 29.000 tersebut terjadi sekitar 5 hari yang lalu.

"Pas puasa kemarin sekitar Rp 22.000 sampai Rp 24.000 (per kilogram), terus pas habis Lebaran baru mulai naik dari Rp 25.000 sampai sekarang Rp 29.000," ujar Eko kemarin.

Hal sama pun diamini Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri.

Dia menyatakan bahwa melonjaknya harga telur di pasaran bukan terjadi dalam waktu dekat ini. Namun, dalam beberapa hari terakhir ini kenaikan harganya sangat tinggi.

"Persoalan telur ini sebenarnya bukan satu dua hari saja, melainkan sudah cukup lama. Cuma memang dalam minggu ini kenaikannya lebih agresif dibandingkan sebelumnya yang kenaikannya bisa 300 sampai 500 perak," tutur Abdullah (16/7).

Abdullah pun mengakui, kenaikan harga telur ayam tersebut tak hanya merisaukan konsumen, melainkan juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang.

Pasalnya, selain semakin sulit menjualnya para pedagang juga mengalami kesulitan dalam memperoleh telur ayam tersebut. Kesulitan itu semakin diperparah dengan tak mampunya para pedagang menambah modal jualannya.

"Semakin mahal harga semakin sedikit jumlah produksi yang kami dapat. Modal kami katakanlah sehari sejuta ya, ya sehari terus sejuta. Kami enggak bisa tambah modal lagi. Produksinya kan semakin berkurang," ujar Abdullah.

Lebih lanjut dia mengatakan, para pedagang membeli telur ayam dari produsen dengan harga mencapai Rp 26.000 per kilogram. Oleh sebab itu, mereka menjualnya kembali ke konsumen pada kisaran Rp 28.000 hingga Rp 29.000 per kilogram.

"Selepas Lebaran sampai sekarang ritmenya naik terus, enggak ada penurunan. Otomatis ya kami naikkan harga karena kami terima itu harganya sudah tinggi, enggak mungkin dong kami jual rugi," imbuh Abdullah. (*)

Jakarta - Partai Amanat Nasional (PAN) telah mendaftarkan 575 bakal calon legislatif (caleg) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI. PAN mengaku ingin mencapai minimal 80 kursi dari 575 kursi di DPR. 

"Alhamdulillah sudah menyerahkan seluruh persyaratan Pileg 2019 di 80 dapil terpenuhi semuanya total 575 caleg DPR RI. (Kami) siap untuk meraih minimal target 80 kursi," kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Hanafi Rais di Gedung KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, 17 Juli 2018.

Sementara mengenai syarat keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen, Hanafi menyebut PAN memenuhi syarat. Ia mengaku, memiliki 40 persen partisipasi perempuan pada pileg 2019 ini.

"(Kita) telah memenuhi kuota minimal 30 persen perempuan di tiap Dapil," ungkapnya.

Selain itu, Hanafi menyebut caleg-caleg yang maju dari PAN bervariasi. Calon yang diusung, kata dia, ada yang dari partai maupun bukan partai.

"Banyak sekali tokoh-tokoh maupun kader dari dalam maupun dari luar partai yang sudah menyatakan bergabung dengan PAN, baik itu kalangan artis yang pernah menjadi kepala daerah, tokoh-tokoh muda dan tentu juga anggota DPR RI yang sekarang ini menjabat untuk kemudian akan maju lagi dari PAN," terangnya.

Artis-artis itu,kata Hasan, terdiri dari Eko Patrio dan Desi Ratnasari yang bakal maju lagi di Dapil DKI 1 Jakarta Timur (Jaktim), Primus Yustisio di Dapil Jawa Barat (Jabar), Denada Tambunan di Dapil Jawa Timur (Jatim), Emilia Contessa dan Dedi Gumelar (Miing) maju dari Dapil Banten.

"Kita berimbang ya. Kemudian dari selain artis juga beberapa kepala daerah putra-putri terbaik bangsa secara umum juga maju dari PAN. Komposisinya variatif lebih merata, berimbang rata seluruh provinsi," pungkasnya. (*)

Go to top