Berita9.com - Gojek telah mengukuhkan identitasnya sebagai perusahaan karya anak bangsa asli Indonesia.

Dalam momen peringatan Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia, Gojek bersama ribuan mitranya menyelenggarakan Festival Merah Putih Mitra Gojek serempak di 256 Kota dan Kabupaten se-Indonesia.

Founder dan Global CEO Gojek, Nadiem Makarim, mengatakan, kemerdekaan Indonesia punya makna tersendiri bagi Gojek sebagai perusahaan karya anak bangsa.

"Semangat kemerdekaan untuk terus maju dan membuat Indonesia bangga tidak hanya diadopsi oleh kami, tetapi juga jutaan mitra yang selalu berusaha memberikan pelayanan prima. Karenanya, Gojek hari ini turut berpartisipasi dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-74 Republik Indonesia dengan mengadakan Festival Merah Putih Mitra Gojek," kata Nadiem dalam siaran persnya.

Nadiem melanjutkan, jutaan mitra yang memberikan pelayanan terbaik dan memanfaatkan teknologi untuk hidup lebih baik merupakan elemen penting penggerak perkembangan ekonomi digital. 

Menurutnya, keberanian mitra-mitra Gojek untuk memanfaatkan teknologi patut diacungi jempol. Dari yang tidak bisa menggunakan smartphone, kini bisa melayani jutaan pengguna Gojek. Dari yang tidak punya rekening bank, sekarang bisa punya perencanaan keuangan bahkan mencicil rumah lewat KPR. 

"Mitra kami telah berevolusi menjadi SDM unggul yang siap bersaing dan membawa Indonesia menjadi pemain utama ekonomi digital di Asia Tenggara," lanjut Nadiem.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, perayaan Hari Kemerdekaan tahun ini dirayakan dengan cara spesial melibatkan ribuan mitra driver dari Sabang sampai Merauke. Pada Festival bertajuk Merah Putih Mitra Gojek, para mitra memperingati hari kemerdekaan dengan upacara dan mengenakan atribut baru yang memiliki merah putih tersemat di dada. 

Upacara dilaksanakan di Lapangan Buperta Cibubur, diikuti oleh belasan ribu peserta, (17/8).

Chief Operations Officer Gojek, Hans Patuwo, yang pada upacara ini bertindak sebagai inspektur, dalam amanatnya menyampaikan bahwa Gojek dan mitra Gojek menjadi teladan sekaligus pelopor layanan berbasis digital di Indonesia yang telah membantu jutaan masyarakat Indonesia menyelesaikan permasalahan sehari-hari. 

"Gojek akan terus berinovasi untuk mendorong dan menginspirasi mitra driver naik kelas. Harapan kami, semakin banyak mitra Gojek yang membawa dampak positif bagi keluarga dan lingkungannya masing-masing," ucap Hans.

Dalam semangat untuk terus mendorong mitra driver naik kelas, dalam Festival Merah Putih Mitra, Gojek turut menghadirkan bazaar Gojek Swadaya. Lewat bazaar tersebut, mitra memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh ragam program yang dihadirkan Gojek untuk mendukung kesejahteraan mitra dan keluarga. 

Gojek Swadaya sendiri merupakan program unggulan Gojek yang bekerja sama dengan ragam institusi yang memiliki kesamaan visi untuk memberikan mitra driver akses khusus terhadap ragam layanan finansial, keringanan biaya operasional, dan produk asuransi terjangkau.

Festival Merah Putih Mitra ini juga merupakan acara puncak dari Kirab Nasional Merajut Nusantara sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-74 Republik Indonesia. Kegiatan yang melibatkan ribuan mitra driver ini telah diselenggarakan sejak awal Agustus lalu dengan atribut baru untuk menandai dimulainya babak baru sejarah Gojek.

Selama kurang dari satu bulan sejak pertama kali diperkenalkan, sebanyak lebih dari 100.000 atribut baru Gojek telah didistribusikan dan dikenakan mitra Gojek se-Nusantara. 

Semangat baru dan semangat merah putih turut dikobarkan melalui rangkaian ekspedisi penyelaman dan pendakian di lokasi-lokasi yang menjadi aset berharga milik bangsa Indonesia. 

Ekspedisi penyelaman dilakukan di Gili Trawangan, Pahawang Lampung, Derawan Kalimantan, Bunaken Manado, Kepulauan Seribu, Sabang Aceh, Raja Ampat. 

Sedangkan untuk pendakian, mitra driver Gojek melakukan ekspedisi di Gunung Sindoro, Jawa Tengah; Gunung Mahameru, Jawa Timur; Gunung Kerinci, Jambi, dan Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan. (*)

Berita9.com - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fahri Hamzah menyatakan responsnya untuk masalah terkait taruna Akademi Militer (Akmil) keturunan Prancis, Enzo Zenz Allie.

Dia berharap, Enzo diberi kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya untuk masuk TNI. Komentar tersebut ia sertakan dalam caption panjang di Instagram untuk foto yang ia unggah.

Fahri Hamzah mengaku, selama perjalanan pulang ke Indonesia dari Jeddah, Arab Saudi, dirinya teringat akan Enzo.

Meski tak mengenal Enzo, Fahri Hamzah mengutarakan pendapat berdasarkan pengalamannya saat tergabung dalam panitia kerja (Panja) UU Imigrasi, yang ia sebut, "senapas dengan UU Kewarganegaraan."

Politikus 47 tahun itu membandingkan Enzo dengan seorang WNI berdarah Prancis yang ia kenal kala itu.

"Saya tidak kenal Enzo Zenz Allie, tapi saya kenal Clovis. Mereka sama-sama berdarah campuran Indonesia (Ibu) dan Prancis (Bapak). Saya mengenal baik ibu dan bapak Clovis, Pak Rene dan Ibu Julie, yang saya kenal saat saya sebagai ketua Panja UU Imigrasi UU No.6/2011," tulis Fahri Hamzah.

Menurut keterangan Fahri Hamzah, karena Indonesia tidak menerapkan kebijakan kewarganegaraan ganda, maka penduduk berusia 18 tahun yang salah satu orang tuanya WNA diberi pilihan antara menjadi WNI atau WNA, sesuai dengan UU yang telah disahkan.

"Enzo Zenz Allie dan Clovis telah memilih menjadi WNI. Sesuatu yang hebat," ungkap Fahri Hamzah.

Pasalnya, kata Fahri Hamzah, menjadi warga negara Prancis lebih menggiurkan dengan banyaknya kemudahan dan jaminan.

"Satu yang pasti, passport Anda akan menjadi passport yang mendapat kemudahan visa ke seluruh dunia. Juga mendapat "baik sangka" sebagai warga dunia kelas satu," jelasnya.

Namun, Enza, sama seperti Clovis, justru menentukan pilihan pada WNI.

"Taqdir mengantarkan mereka menjadi anak dari pernikahan campuran warga negara. Bahkan juga berbeda agama, Clovis beragama Katolik dan Enzo Zenz Allie nampaknya beragama Islam. Enzo berpendidikan dasar di Prancis dan Clovis berpendidikan lanjutan di sana. Keduanya WNA," lanjutnya.

Meski begitu, berbeda nasib dari Clovis, yang dipersiapkan sebagai penerus usaha keluarga, pemilik pabrik di Jogja, Enzo menjadi anak yatim setelah sang ayah, Francois Allie, meninggal.

Ia lantas hanya tinggal bersama ibunya, Siti Hajar, asal Sumatra Utara, dan dititipkan ke pesantren.

"Jadilah Enzo Zenz Allie anak pesantren alias santri yang belajar agama Islam. Dan suatu hari, mungkin ia pergi dengan para sahabatnya membawa bendera bertulis kalimat Tauhid, padahal ia bercita-cita menjadi tentara #INDONESIA," tutup Fahri hamzah.

Enzo diisukan terpapar radikalisme setelah beredar fotonya membawa bendera tauhid, yang identik dengan organisasi terlarang di Indonesia, Hizbut Thahrir Indonesia (HTI).

Namun, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi dengan tegas membantah isu yang mencatut taruna Akmil keturunan Prancis itu.

Musababnya, setiap taruna Akmil yang hendak mendaftar harus melaui serangkaian seleksi. Salah satunya seleksi mental ideologi.

"Tidak. Kami kan ada sistem seleksi yang berbeda dengan seleksi orang mau kerja shift siang shift malam. Ini untuk megang senjata dia. Jadi sudah selektif," ujar Sisriadi, (7/8).

TNI AD menyatakan tetap mempertahankan Enzo sebagai taruna Akmil, setelah yang bersangkutan menjalani tes lanjutan dan memperoleh hasil indeks moderasi bernegara sebesar 84 persen. (*)

 

Berita9.com - Hari ini (Sabtu, 17/8/2019), seluruh warga negara Indonesia memperingati 74 tahun Republik Indonesia. Namun ada ironi, lantaran banyak warga mengeluh mahalnya harga cabai. Bahkan lebih mahal ketimbang daging ayam.

Ibu Sumartini, 60 tahun adal Tegal, Jawa Tengah, mengaku heran dengan kenaikan harga cabai hingga di atas Rp100 ribu saat menjelang Hari Raya Idul Adha hingga kini. Pemilik Warung Tegal 'Barokah" di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan ini, terpaksa harus bawel kepada pelanggan yang ingin minta sambal. "Cabe mahal mas, sambelnya sedikit saja ya," papar Budhe Sumar, sapaan akrabnya di Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Tanpa ditanya, dia bicara panjang lebar soal semakin mahalnya harga bahan pangan. Menjelang Lebaran Haji, harga cabai rawit pedas, menjulang hingga Rp120 ribu per kilogram. Saat ini, turun hingga 90 kilogram. "Mahalnya ngalahin daging ayam yang cuman Rp60 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram. Terus terang berat bagi saya dan pelanggan di sini," tuturnya.

Keluhan Sumartini tentang mahalnya harga cabai, ternyata dialami emak-emak di daerah lain. Harga cabai di Pasar Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, terus merangkak naik hingga Rp130 ribu per kilogram.

"Iya mas, kurang lebih sepekan ini harga cabai sangat mahal, saya terpaksa menjual dengan harga Rp130 ribu perkilo karena harga dari distributor juga sudah tinggi. Saat harga normal, saya menjual kisaran Rp35 hinga Rp40 ribu perkilo," ungkap Ani, salah satu pedagang cabai di pasar Nanga Bulik.

Pedagang cabai lainnya, Sari mengaku dirinya sempat kesulitan mendapatkan pasokan dari distributor. "Pasokan cabai tidak lancar seperti biasanya sejak semingguan ini, ada barangnya tapi sangat mahal, terpaksa saya juga menjual dengan harga tinggi," cetusnya.

Dirinya mengaku tidak mengetahui penyebab kenaikan harga cabai ini. "Saya sebagai pedagang merasa nggak enak sama pembeli, tapi gimana lagi karena dari sananya (distributor) sudah mahal," tukasnya.

Sedangkan warga Bondowoso, Jawa Timur yang dikenal sebagai sentra cabai, sedikit mujur. Lantaran harga bahan pangan berasa pedas ini, tidaklah semahal daerah lain. Namun, tetap saja menyedot kantong alias bikin berat konsumen.

Di pasar Kabupaten Bondowoso, harga cabai mencapai Rp70 ribu per kilogram. Sebelumnya, harganya sempat menclok di level Rp100 ribu-Rp110 ribu per kilogram. Dari berbagai informasi tersebut, naga-naganya, warga Indonesia masih belum merdeka untuk membeli cabai. (*)

Go to top