Bersikap Lemah Lembut Sebuah Perintah ALLOH

"Maka berbicaralah engkau berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah mudahan dia sadar dan takut" QS.Thaha:44). "Maka berbicaralah engkau berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah mudahan dia sadar dan takut" QS.Thaha:44). IST

KASIH sayang merupakan sesuatu yang selalu dirindukan dalam setiap sisi kehidupan manusia. Tanpa kasih sayang, kehidupan akan kacau, penuh dengan permusuahan. Betapapun besarnya kasih sayang sesama manusia, tidak ada yang melebihi kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya.

Di antara kasih sayangNYA, Allah memberikan kehidupan kepada manusia, meninggikan derajat orang beriman, menjamin rezeki seluruh umat manusia, memberi kenikmatan hidup dan mengampuni dosa dosa hamba-Nya. Besarnya kasih sayang Allah seharusnya menjadi pijakan setiap sikap, perilaku dan ucapan manusia beriman.

Kasih sayang yang ada pada hati manusia merupakan indikasi kedekatan hubungan manusia dengan Allah SWT. Sebaliknya, orang yang mempunyai hati yang keras, pertanda jauh dari Allah SWT.

Kasih sayang dan kelembutan Rasulullah SAW dalam berdakwah, mengajak dan mengarahkan manusia dalam kebaikan yang selalu dengan dasar kasih sayang Allah diabadikan dalam Alquran.

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal" QS: Ali Imran 159.

Bersikap lemah lembut merupakan cerminan seorang mukmin yang hatinya penuh kasih sayang. Sebaliknya jika orang berprilaku keras dan berhati kasar,  bukanlah cermin sikap orang yang dalam hatinya penuh kasih sayang. Padahal Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin dan dampaknya akan kontra produktif. Harapannya orang akan mengikuti dakwahnya, tapi akan sebaliknya justru orang akan menjauh darinya.

Nabi SAW selalu mendasarkan dakwahnya dan dalam membimbing masyarakat dengan lemah lembut. Padahal kita tahu Beliau Nabi, sayyidil khalqi (penghulu semua makhluk), orang yang paling mencintai kebenaran, alma'shum (yang dijaga dari kesalahan), orang yang diberi wahyu dan mukjizat.

Sedemikian banyak keistimewaan Rasul. Tapi jika beliau fadzzan (keras) ghalidzal qalbi (berhati kasar), Allah mengingatkannya orang tidak akan simpati, mendekat dan mendukungnya, tapi sebaliknya akan menjauhinya.

Bagaimana dengan kita yang tidak memiliki keistimewaan seperti nabi. Jika kita tidak lemah lembut tentu masyarakat akan lebih menjauh dari kita.

Dalam suatu kisah ada seseorang yang datang kepada salah seorang khalifah dan berkata kepadanya: Saya akan menasehatimu dengan keras, kebetulan khalifah ini juga seorang ulama, dia balik tanya: kenapa engkau harus menasehatiku dengan keras, Allah telah mengutus orang yang lebih baik dari anda, yaitu Musa dan Harun kepada orang yang lebih jelek dariku, yaitu Fir'aun, tapi apa pesan Allah kepad Musa dan Harun :

"Maka berbicaralah engkau berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah mudahan dia sadar dan takut" QS.Thaha:44).

Kelembutan hati Rasulullah SAW tidak hanya diekpresikan dalam persoalan- persoalan yang menyangkut urusan publik, tapi juga dalam kehidupan keluarga Rasulullah SAW. Jika beliau pulang malam dan hendak masuk rumah, dilipatlah bajunya agar tidak ada seorangpun yang di rumah terganggu dengan bunyi bajunya.

Padahal yang namanya baju sekeras apapun suaranya ketika dibawa jalan suaranya tidak akan mengganggu orang lain, sehingga bisa membangunkan orang tidur. Tapi itulah kelembutan dan besarnya kasih sayang dan perhatian rasulullah kepada keluarganya. Pantaslah kemudian Rasulullah mendapat gelar teragung dari Allah; Engkau adalah manusia yang mempunyai akhlak yang agung.


(Dr H Tulus Musthofa Lc MA)

Rate this item
(0 votes)
Go to top