Memahami Isra Miraj dan Mengenali Sholat 5 Waktu

Berita9.com - Secara bahasa, isra berarti berjalan pada malam hari atau membawa berjalan pada malam hari. Dalam kajian sejarah Islam, isra berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW pada malam hari dalam waktu singkat dari Masjid Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Sedangkan mikraj secara bahasa berarti tangga alat untuk naik ke atas. Dalam istilah Islam, mikraj berarti perjalanan pribadi Nabi Muhammad SAW naik dari alam bawah (bumi) ke alam atas (langit), sampai ke langit ketujuh dan sidratulmuntaha.

Dalam istilah lain, mikraj berarti kenaikan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa di Yerusalem ke alam atas melalui beberapa tingkatan terus menuju Baitulmakmur, sidratulmuntaha, arasy (tahta Tuhna) dan kursi (singgasana Tuhan) hingga menerima wahyu di hadirat Allah SWT.

Dalam perjalanan ini, Rasulullah SAW mendapat perintah mendirikan shalat lima waktu sehari dan semalam. Karena peristiwa isra bersamaan dengan mikraj, maka kedua kata itu senantiasa digabungkan pemakaiannya menjadi isra mikraj.

Peristiwa yang sangat penting dan bersejarah itu terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Peristiwa mahadahsyat itu diterangkan Allah SWT dalam surah Al-Isra (Bani Israil) ayat 1.

‘’Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi maha mengetahui.’’ (QS Al-Isra:1).

Peristiwa isra mikraj juga disebutkan dalam surah An-Najm ayat 1-18. ‘’Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-quraan) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).’’

‘’Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).  Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?  Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.’’

‘’Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.’’ disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta.

Shalat Dalam Ajaran Para Nabi Terdahulu

Dalam sejarah agama Samawi atau langit, shalat juga pernah dikerjakan oleh para nabi-nabi mereka. Sebagaimana dijelaskan oleh Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-Rusul, agama Samawi itu adalah Islam, Yahudi, Nasrani, Hanif, dan Shabiyah Mandaiyah. 

Agama Islam, nabinya adalah Muhammad SAW, Yahudi (Musa), Nasrani (Isa), Hanif (Ibrahim), dan Shabiyah Mandaiyah (Yahya).Dan, para nabi  tersebut juga diperintahkan oleh Allah SWT untuk mendirikan shalat sebagai suatu kewajiban atas diri mereka dan umatnya.

Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishak juga diperintahkan shalat. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Ibrahim [14]: 37). Lihat juga dalam ayat ke-40.

Nabi Musa dan Harun pun demikian. Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.’ (Yunus [10]: 87).

Nabi Daud juga mendirikan shalat, sebagaimana tertera dalam Mazmur 119 ayat 62. Di tengah malam aku bangun untuk memuji-Mu .Nabi Zakaria juga mendirikan shalat, sebagaimana terdapat dalam s urah Ali Imran [3]: 39. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.

Nabi Isa juga shalat.

Berkata Isa: ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (QS Maryam [19]: 30-33).

Bahkan, Luqman juga memerintahkan shalat kepada anak atau keturunannya. (QS Luqman [31]: 17). Dan kaum bani Israil, Yahudi dan Nasrani, juga diperintahkan untuk shalat. Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah [98]: 5).

Mengenal Sholat di Lima Waktu 

Sebagaimana diketahui, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk mendirikan shalat lima waktu dimulai saat beliau melaksanakan Isra dan Mi’raj pada 27 Rajab tahun 11 kenabian atau dua tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Shalat lima waktu itu adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Waktu untuk melaksanakan masing-masing shalat itu telah ditentukan oleh Allah SWT dalam surah Al-Isra [17]: 78. Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Ayat tersebut di atas menerangkan waktu-waktu shalat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu shalat Zuhur dan Ashar, gelap malam untuk waktu Maghrib dan Isya. Sedangkan Subuh langsung dijelaskan dalam ayat tersebut. Tujuan dari shalat itu adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (QS Al-Ankabut [29]: 45).

Dalam shalat lima waktu yang dikerjakan oleh umat Islam saat ini, sebenarnya berasal dari shalat para nabi-nabi terdahulu.

Subuh; Manusia pertama yang mengerjakan shalat subuh ialah Nabi Adam AS, yaitu saat Adam diturunkan dari surga ke bumi untuk menjadi khalifah (pengelola) di bumi. Konon, Adam mengerjakan shalat dua rakaat, menjelang terbit fajar. Rakaat pertama; sebagai tanda syukur karena terlepas dari kegelapan malam. Sedangkan rakaat kedua, bersukur atas datangnya siang.

Zuhur; Manusia pertama yang mengerjakan shalat Zuhur ialah Nabi Ibrahim AS, saat Allah SWT memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail AS dan Allah menggantinya dengan seekor domba. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat.

Rakaat pertama sebagai tanda bersyukur bagi penebusan; kedua, tanda syukur atas dihilangkannya kedukaan dari dirinya dan anaknya; ketiga tanda syukur atas keridaan Allah, dan keempat tanda syukur karena Allah mengganti tebusannya.

Ashar: Manusia pertama yang mengerjakan shalat Asar ialah Nabi Yunus AS saat keluar dari perut ikan paus (nun). Ikan nun mengeluarkan Nabi Yunus dari dalam perutnya ke tepi pantai, sedangkan ketika itu telah masuk waktu Ashar. Maka, bersyukurlah Nabi Yunus dengan mendirikan shalat empat rakaat karena terhindar dari empat kegelapan.

Rakaat pertama, kegelapan akibat kesalahan meninggalkan kaumnya; kedua, kegelapan dalam lautan; ketiga, kegelapan malam karena berhari-hari lamanya di dalam perut ikan nun; dan keempat, adalah kegelapan dalam perut ikan nun.

Maghrib: Manusia pertama yang mengerjakan shalat Maghrib ialah Nabi Isa AS, yakni Allah mengeluarkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenam matahari. Maka, Nabi Isa bersyukur dengan bersujud sebanyak tiga kali.

Rakaat pertama untuk menafikan bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa; kedua menafikan tuduhan berzina atas ibunya; dan ketiga untuk menyakinkan kaumnya bahwa tuhan itu hanya satu dan bukan dua atau tiga.

Sedangkan shalat Isya; konon manusia pertama yang mengerjakannya adalah Nabi Musa AS. Ketika itu, Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu malam. Lalu, shalatlah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

Rakaat pertama sebagai tanda dukacita terhadap istrinya; kedua sebagai tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun; ketiga tanda dukacita terhadap Firaun; dan keempat tanda dukacita terhadap anak Firaun. Wallahu A’lam.

(**/RO)

Rate this item
(0 votes)
Go to top