Petani Muhammadiyah Deklarasikan Jihad Kedaulatan Pangan

Pembacaan deklarasi Jatam di Dusun Gempol Karanganom Klaten "Jadikan Pertanian Tuan Rumah di Negeri Sendiri" Pembacaan deklarasi Jatam di Dusun Gempol Karanganom Klaten "Jadikan Pertanian Tuan Rumah di Negeri Sendiri" IST

Berita9.com - Jamaah Tani Muhammadiyah yang merupakan kelompok tani dampingan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Ahad (18/3/2108) diresmikan peserta Rakornas dan Rembug Tani Berkemajuan di kawasan Desa Gempol Kecamatan Karanganom Klaten.

Dalam peresmian ditandai dengan pembacaan deklarasi yang dipimpin Ketua Panitia Pengarah Rakornas Bachtiar Dwi Kurniawan MPA peserta menegaskan bahwa Bangsa Indonesia sebagai bangsa agraris ingin menjadikan petani dan pertanian Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Karena itu, Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) berkomitmen menggelorakan jihad kedaulatan pangan secara berjamaah dan mendorong gerakan kembali bertani untuk petani masa depan yang lebih baik.

Hal ini dilakukan karena nasib petani dan pertanian Indonesia masih jauh dari harapan. Untuk itu Jatam yang ada di seluruh wilayah Indonesia akan melakukan usaha penyediaan pangan secara komprehensif dari hulu sampai hilir, responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang pertanian sebagai ciri petani berkemajuan.

Selain juga meminta kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang pro petani dan pertanian Indonesia untuk kemakmuran dan keberdayaan petani.

Kunjungan belajar peserta rakornas ke Pusdiklat Gempol menurut ketua panitia  Budi Nugroho dilaksanakan, karena desa tersebut menjadi pelaksanaan Gerakan Tani Bangkit.

Kegiatan yang dikelola Majelis Ekonomi Kewirausahaan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MEK PDM) Klaten, dan Lazis Muhammadiyah. Sementara kegiatan rakornas yang berlangsung sejak Jumat (16/3/2018) diselenggarakan di Kampus UMS Surakarta

Disebutkan Budi, menurut rencana dalam Gerakan Tani Bangkit, Muhammadiyah melalui MPM  akan membantu dan mendampingi Gapoktan Dewi Sri Makmur Klaten. Terutama untuk memperluas lahan pertanian organik yang saat ini seluas 12 hektare dengan periode pemberdayaan selama tiga tahun yakni Januari 2018 hingga Desember 2020.

Penambahan lahan minimal 16 hektare menurut  Ketua MEK PDM Klaten, Wahyudi Nasution akan dilaksanakan dengan melibatkan 80 orang petani. Yang berbeda di sini, ujarnya, petani yang diberdayakan akan dipinjami modal kerja dengan skema Qardhul Hasan.

“Dalam konsep ini,  petani tidak akan dikenai bagi hasil dan angsuran. Namun petani diedukasi untuk membayar zakat pertanian setiap panen sebesar 5 persen,” jelas Wahyudi.

Menurutnya, zakat tersebut akan dipergunakan lagi untuk mengadakan pelatihan dan perluasan lahan pertanian organik di DesaGempol serta di desa dan kecamatan lainnya jika memungkinkan. 

(**/KR)

Rate this item
(0 votes)
Go to top