Aksi Tolak Impor Sampah Selundupan dari Amerika Serikat

Berita9.com - Para demonstran melakukan aksi penolakan terkait penyelundupan sampah plastik di Depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, (19/7). 

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap sampah plastik yang diduga diselundupkan oleh Amerika Serikat ke daerah Jawa Timur pada beberapa waktu lalu.

Penyelundupan limbah plastik belakangan menjadi sorotan di masyarakat. Sebelumnya, Indonesia telah mengembalikan lima kontainer limbah ke Amerika Serikat dan menolak menjadi tempat pembuangan. Indonesia menjadi negara Asia Tenggara terbaru yang mengembalikan limbah impor.

Seperti diketahui Juni lalu ada 65 kontainer berisi sampah impor tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau dari Amerika dan Eropa.

Sampah sampah tersebut ditahan Direktorat Bea dan Cukai karena diduga tercemar limbah B3. Kecurigaan muncul karena didapati bahan plastik, botol, hingga popok bayi bekas pakai dalam kontainer.   

Di Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, petugas Bea Cukai menemukan hal serupa di dalam delapan kontainer. Dalam laporan dokumennya, tertulis kertas bekas. Tetapi sampah seperti kaleng bekas, botol plastik, hingga popok bayi bekas pakai menyelip di antara tumpukan kertas.  

Impor sampah di Indonesia di akhir tahun 2017 sebesar 10 ribu ton per bulan. Jumlahnya meningkat di tahun 2018 sebesar 35 ribu ton per bulan.  

Ada tiga negara pengekspor sampah terbesar ke Indonesia, dalam kurun Januari hingga November 2018, yakni Inggris sebanyak 67,8 ribu 7 ton, Jerman terbanyak kedua sebesar 59, 6 ribu 68 ton, dan Australia sebanyak 42,1 ribu ton sampah.

Amerika Serikat, Belanda, Jepang, Belgia, Perancis, Spanyol dan Hong Kong juga turut menjadi penyumbang sampah. 

Terkait sampah impor, Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan akan mengekspor kembali tumpukan sampah itu ke negara pengirimnya.  

Impor sampah tidak sepenuhnya salah. Selain industri kertas, para perajin tahu di Sidoarjo, ternyata juga menggunakannya sebagai bahan bakar dalam produksinya. Namun, ekses penggunaannya yang berupa polutan, membahayakan masyarakat dan lingkungan.

(**/IST)

 

Rate this item
(0 votes)
Go to top