Berkah Taman Jahitan Pertengahan Ramadhan

Berita9.com - Jelang Lebaran, Taman Jahit yang terletak di komplek PJKA Manggarai, Jakarta selatan penuh dipadati ratusan orang yang akan memodifikasi pakaiannya.

Menurut salah satu penjahit, menjelang Lebaran, banyak orang berdatangan bukan hanya warga Manggarai saja, tapi juga hampir dari seluruh Jakarta. 

"Ada langganan saya rumahnya di Pondok Kopi tapi kalau mau vermak ke sini, dia juga biasanya bawa temannya ke sini," ujar Sugiarto salah satu penjahit.

Di taman tersebut terdapat sekira dua puluh orang penjahit yang biasa mangkal di tempat tersebut. Para penjahit itu mayoritas berasal dari daerah Jawa, sekitar Kebumen, dan Purwokerto. Selain itu, banyak sebutan yang digunakan untuk Taman tersebut.

"Ada yang bilang Taman Jahit, ada juga yang bilang DPR (di bawah pohon rindang), ada juga yang bilang Taman PJKA," ujar Sugiarto.

Layaknya pedagang pakaian yang memperoleh peningkatan penjualan selama menjelang Lebaran ini, para penjahit di Taman Jahit juga mengalami hal yang serupa.

"Wah kalau mau Lebaran kaya gini ramai sekali, bisa tiga kali lipat dari biasanya," ujar Muhammad Anwar yang biasa dipanggil Frengky oleh teman-temannya sesama penjahit.

Order vermak yang biasa mereka terima dari anak muda, yang minta dibikinkan celananya menjadi celana pensil. "Kalau kurang pensil, dipensilin lagi. Kalau bapak-bapak biasanya ngecilin," ungkapnya.

Peningkatan transaksi tersebut tidak hanya dialami oleh Anwar saja, tetapi seluruh penjahit yang mencari nafkah di Taman Tersebut.

Anwar menambahkan dalam satu hari biasanya dia hanya mendapat pelanggan yang menggunakan jasanya sebanyak lima sampai sepuluh orang. Namun menjelang Lebaran ini paling sedikit ia mengerjakan pakaian sekira dua puluh potong pakaian.

Terkadang, dari pagi saat baru membuka lapaknya, sampai ia menutup, Anwar hampir tidak mempunyai waktu untuk duduk santai sekadar melepas lelah.

"Biasanya sehari itu saya dapat, paling Rp50 ribu, kadang juga kurang. Tapi kaya sekarang ini pertengahan ramadhan sejuta saya bisa dapat," ungkapnya.

Menurut Anwar saat awal memasuki bulan puasa, kondisinya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Peningkatan pendapatannya baru terasa pertengahan ramadhan sampai H-1 sebelum Lebaran.

"Kalau Lebaran sih sudah sepi, penjahit-penjahit di sini juga biasanya pada pulang bareng-bareng, karena kan banyak juga yang kampungnya dekat, ya satu arah lah," tambahnya.

Dikatakan Anwar, dalam merencanakan mudiknya, para penjahit di DPR tersebut tidak terlalu merasa kesulitan. Karena banyak dari pejabat stasiun Manggarai yang letaknya tidak terlalu jauh, merupakan pelanggan setia mereka, jadi bisa lebih mempermudah dalam mendapatkan tiket kereta.

Tarif yang mereka tetapkan dalam mengerjakan satu potong pakaian relatif lebih murah dibanding penjahit-penjahit di tempat lain. Untuk memvermak total satu potong pakaian, mereka menetapkan ongkos paling besar Rp20-25ribu tergantung bahanya.

"Segitu saja masih banyak yang nawar, padahal kalau di tailor mungkin bisa lebih mahal kan," ujarnya menegaskan.

Sedikit membandingkan, sebenarnya para penjahit tersebut berharap untuk memiliki tempat sendiri, namun dengan banyaknya pelanggan yang telah menjadi langganan mereka, para penjahit tersebut berharap memiliki tempat yang permanen di taman tersebut.

Namun lagi-lagi masalah perizinan dan dana mereka tidak mendukung. Taman tempat mereka mengadu nasib tersebut memang bagus. Namun dengan atap yang seadanya, mereka harus rela berpindah dan betahan terhadap dingin ketika hujan datang.

"Di sini enaknya cepat mas, bisa ditunggu lagi, coba kalau di tailor, bisa dua hari tiga hari mas," katanya dengan sedikit promosi.

(**/IST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top