Difa Bike 'Ojek' Khusus Difabel

Berita9.com - Pemerintah telah mengeluarkan Undang Undang No.8 Tahun 2016 yang mengatur tentang pemenuhan hak penyandang disabilitas atau difabel baik hak ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Akan tetapi, justru semakin tingginya diskriminasilah yang dirasakan oleh seorang pria difabel asal Yogyakarta.

Adalah Triyono, pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tersebut kini berdomisili di Yogyakarta. Sebagai seorang difabel sendiri, ia telah kehilangan kemampuan berjalannya akibat polio yang menyerangnya saat masih berusia 2 tahun.

Ia menyebutkan, diskriminasi pada para difabel masih sangat tinggi di Indonesia. Baginya orang 'normal' melihat difabel masih merepotkan dan membuat masalah.

Triyono merasa Indonesia masih sangat jauh dari ramah difabel. Ia menceritakan pengalamannya pergi ke luar negeri bahkan membuatnya sempat lupa bahwa ia adalah seorang difabel karena di sana dia dilayani, dibantu, dan dipermudah.

Namun begitu ia kembali ke Indonesia, ia kembali merasa 'cacat', karena merasa segalanya dipersulit.

"Begitu masuk sini, walah, malah dipersulit. Maskapai aja kan tidak sembarangan kita harus bisa memilih. Jangan kata ngelayani difabel, ngelayani yang normal-normal aja nggak karu-karuan," ungkap Triyono dalam launching GrabGerak dari Grab dan Rexona, di Jakarta baru-baru ini.

Sejak menjalani operasi pelurusan kaki saat kelas 4 SD, Triyono mesti memakai kruk untuk ke mana-mana. Pernah ketika kuliah di Semarang, ia bercerita kesulitan mendapatkan bus untuk pulang ke Surakarta.

"Dulu kalau saya dari Semarang ya mau pulang ke Solo, nggak ada lho bus yang mudah menerima saya kalau berangkat pulang sekolah itu. Begitu tahu saya pake tongkat, yaa dadah. Penuh, gitu alasannya," kata pria berusia 37 tahun ini.

Tak berhenti di situ diskriminasi yang dirasakan oleh Triyono. Sebagai seorang pria dewasa, ia merasakan betapa sulitnya mencari pasangan hidup jika bukan dari kalangan difabel juga.

"Difabel mau nikah sama yang normal, di keluarganya yang normal itu keras. 'Nggak ada laki-laki lain apa, selain wong cacat?' gitu. Saya hampir 7 kali lho ngelamar anak orang, dan selalu seperti itu, dan akhirnya saya menyerah, yo wis lah. Yang penting saya berusaha," ceritanya sedih.

Suka Duka Triyono, Penggagas Transportasi Khusus Difabel Asal YogyakartaFoto: Instagram


Berangkat dari pengalamannya tersebut, pada 2015 lalu Triyono menggagas Difa Bike dan Difa City Tour. Sebuah moda transportasi yang didedikasikan khusus dari difabel, untuk difabel dan oleh difabel.

Dikatakan oleh Triyono, syarat bagi mereka yang ingin menjadi pengemudi Difa Bike adalah difabel tuna daksa (fisik) menengah ke ringan, diutamakan ber-KTP Yogya dan berpendidikan terakhir SD, dan mempunyai sim D.

"Sudah difabel, pendidikannya rendah, mau jadi apa? Belum tentu kalau wirausaha, itu justru malah orang-orang yang berpendidikan tinggi baru wirausaha. Kalau pendidikan rendah disuruh apa?" tegas Triyono.

Banyak difabel yang masih berpendidikan rendah, karena jika bukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) kebanyakan sekolah umum akan menolak difabel. Bahkan kadang mereka terpaksa harus menghentikan pendidikannya.

"Nah kita memprioritaskan itu supaya mereka punya harapan, mencari nafkah. Sekaligus hatinya seneng bisa ke mana-mana tapi tidak sembarangan ke mana-mana karena menghasilkan ekonominya," lanjutnya lagi.

Difa Bike menggunakan motor khusus yang dimodifikasi untuk lebih mudah digunakan para pengemudinya yang difabel. Sasaran penumpang mereka juga yang difabel, walau tak jarang ada penumpang non difabel yang juga pernah memesannya.

Dulu hanya berbentuk seperti motor sidecar dengan kursi di samping motor. Kini dibentuk lebih nyaman, disesuaikan juga untuk mereka yang menggunakan kursi roda misalnya tanpa perlu repot melipatnya.

"Desain motor kita itu kan sebenarnya untuk representasi geraknya dia, supaya tidak ada diskriminasi. Yang desain juga dari anak anak yang lulusan SD itu, biar nggak nakal, nggak depresi," jelas Triyono seraya tersenyum.

Suka Duka Triyono, Penggagas Transportasi Khusus Difabel Asal YogyakartaFoto: Instagram

Motor-motor tersebut dimodifikasi di bengkel rekanan grup Difa. Tapi perjalanannya kembali tak mulus, Difa Bike sering bermasalah dengan Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta karena belum ada aturan yang jelas mengenai motor yang dimodifikasi.

Oleh karena itu, berdasarkan UU disabilitas dan fakta bahwa pemerintah juga tidak bisa menjamin kemudahan transportasi untuk difabel, ke depannya Triyono berharap setelah adanya UU mengenai disabilitas akan ada UU lagi mengenai kendaraan khusus difabel.

Difa Bike bisa dipesan melalui aplikasi DifaBike, namun Triyono mengaku bahwa lebih banyak yang memilih memesan melalui telepon atau media sosial Instagram atau Facebook.

Program Difa Bike selain menjadi 'ojek online' juga melayani wisata dan kargo. Bahkan Difa Bike malah lebih digandrungi oleh para wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Yogyakarta.

Dengan maraknya ojek online saat ini, Triyono tidak merasa tersaingi karena ia mengklaim fasilitas dan harga layanan Difa Bike tergolong murah, hanya 20 ribu rupiah tiap 5 km untuk 3 orang.

Sejak awal inisiasi hingga tahun ini, Difa Bike telah melayani sekitar 1.500 difabel dan non difabel dengan jumlah order per bulan rata-rata trafiknya 450 order. Sedangkan armada yang beroperasi ada 18 motor dengan pengemudi rata-rata berusia 20-34 tahun.

Suka Duka Triyono, Penggagas Transportasi Khusus Difabel Asal YogyakartaFoto: Instagram


"Kalau yang normal itu mungkin karena saudaranya difabel, anaknya difabel, kalau orang biasa nggak punya sejarah tentang itu nggak mau, susah. Naik motornya aja malu, merasa harga dirinya jatuh," tutur Triyono.

Diceritakan olehnya, tak sedikit pelanggan yang membatalkan pesanannya ketika tahu bahwa pengemudinya adalah seorang difabel.

"Padahal, mereka yang sehat nggak pernah kepikiran bahwa setiap manusia itu berpotensi jadi difabel. Paling tidak bisa bersiap dengan membantu mereka yang kekurangan," kata Triyono.

Triyono menargetkan Difa Bike ke depannya dapat hadir di tiap kota di Indonesia dan jangka pendek ingin hadir di 5 kota besar di Indonesia (Denpasar, Surabaya, Malang, Bandung dan Jabodetabek).

Demi mewujudkan hal tersebut, Grab Indonesia juga bermitra dengan Kitabisa.com untuk menggalang donasi bagi Difa Bike. Pengguna layanan Grab dapat berpartisipasi untuk mewujudkan 10 buah sepeda motor 3 roda Difa Bike.

"Harapan kami semua transportasi publik ramah dan akses difabel sehingga tidak ada diskriminasi mobilitas di Indonesia," tandas Triyono.

Bagi kamu yang berdomisili Yogyakarta atau sedang ingin berkunjung ke Yogyakarta, tidak ada salahnya kamu mencoba naik Difa Bike untuk berkeliling kota Yogya. Lebih aman, lebih friendly, dan lebih murah tentunya!

(**/IST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top