Membangun Entrepreneur Muda Agroteknologi Era Digital

Berita9.com - Indonesia menghadapi  masalahan serius,  menurunnya jumlah tenaga kerja muda di sektor pertanian. Fenomena aging farmer  ini juga terjadi dalam tataran global, di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan data BPS, rata-rata pertumbuhan tenaga kerja di sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 1.49% per tahun antara tahun 2010 sampai tahun 2014. Penurunan pertumbuhan tenaga kerja terbesar justru pada kelompok umur pemuda, yaitu antara usia 15 sampai 29 tahun dengan rata-rata pengurangan 3.41% per tahun (Statistik Ketenagakerjaan Pertanian, Badan PPSDMP, 2013).

"Kondisi ini akan menyulitkan sektor pertanian dalam melaksanakan mandat menjaga ketahanan pangan yang berkelanjutan," kata Dr Ir Momon Rusmono MS, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Hal ini disampaikan Momon pada Seminar Nasional "Membangun Entrepreneur Muda dalam Perkembangan Agroteknologi di Era Digital" yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang di kampus Jl Kusumanegara Yogyakarta, (8/9).

Momon menyebut saat ini angkatan muda hidup dalam dunia digital dan teknologi yang berkembang pesat. "Era digital membutuhan jiwa entrepreneur yang kuat. Para wirausahawaan muda harus didukung karena mereka biasanya kekurangan pendanaan (lack of funding), belum sanggup membuat keputusan bisnis dengan baik (bad business decisions), menghadapi pasar yang belum terbentuk (lack of market demand), atau kombinasi dari ketiganya," jelas Momon.

Upaya meningkatkan minat generasi muda ke sektor pertanian telah dilakukan melalui program Agricultural Training Camp.

Selain itu, secara tidak langsung, program pertanian modern serta program pemberian insentif berupa subsidi suku bunga kredit melalui KUR, merupakan dua program yang juga menyasar petani muda.

Penggunaan  alat mesin pertanian (Alsintan) yang mempermudah pekerjaan, menekan biaya dan memberi nilai pendapatan yang lebih tinggi; terbukti menjadi faktor penarik bagi anak muda menjadi operator traktor pengolah tanah, rice transplanter, serta combine harvester.

BPSDMP memiliki kebijakan melalui dua aksi. Pertama,  Program Gerakan Pemberdayaan Petani Terpadu. Program ini dijalankan melalui penyuluhan, pendidikan dan pelatihan untuk mendukung generasi muda pada upaya peningkatan produksi pangan strategis nasional yakni komoditas padi, jagung, kedelai, aneka cabai, bawang merah, tebu, sapi dan kerbau.

Kedua, Regenerasi Petani. Program ini memilki visi “Terwujudnya Generasi Petani Berkarakter Socioagripreneur”, sementara misinya adalah mewujudkan  generasi muda sebagai inovator/pembaharu di bidang pertanian, menguatkan kelembagaan dan jaringan usaha pertanian  yang berdaya saing, membangun jiwa sosioagripreneur generasi petani berwawasan kebangsaan, dan responsif terhadap perubahan lingkungan strategis.

Program ini dijalankan melalui kemitraan dengan stakeholders meliputi perusahaan pertanian, lembaga pelatihan masyarakat, dan lembaga lainnya yang efektif, serta sinergisme antara pemerintah pusat dan daerah.

Pemberi materi lainnya dalam seminar ini adalah Dr Yossi Wibisono S.TP MP (Politeknik Negeri Jember). Ir Hana Indra Kusuma MP (Dirut PT Natural Nusantaral). Dr Ir Achmad Tjahja MP.Pis.CH.Cht (Wakil Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia).

(**/IST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top