Narasi Perang Total Vs Perang Badar di Pemilu 2019

Berita9.com - Perang total dan perang badar menjadi dua frasa yang belakangan ramai diperbincangkan. Narasi kegentingan tampak mewakili dua frasa tersebut. Keduanya saling bekontestasi mencari alat pembenar. Padahal, pemilu selalu disiarkan sebagai kontestasi program dan ide. Nyatanya, itu hanya jadi pepesan kosong.

Istilah perang total muncul dari Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Moeldoko, pensiunan tentara berpangkat jenderal yang kini berada di lingkar dalam Presiden Jokowi.

Sedangkan narasi perang badar, muncul dari Neno Warisman, salah satu pengurus Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. Neno dalam beberapa waktu terakhir ini dikenal sebagai pegiat gerakan #2019GantiPresiden. Di masanya, Neno dikenal sebagai biduan kondang tanah air.

Dua narasi yang saling berhadap-hadapan itu pada akhirnya menimbulkan polemik di tengah publik. Perang total yang dikumandangkan TKN Jokowi-Ma'ruf itu menandakan strategi yang dipilih tim ini. Setidaknya di lapangan, sejumlah hal tampak mengkonfirmasi atas seruan tersebut.

Mulai narasi yang disampaikan capres petahana Jokowi yang sejak beberapa bulan terakhir membuat narasi menyerang ke pihak rival. Serangan yang terbaru soal gugatan Jokowi terkait kepemilikan lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang dimiliki pesaingnya Prabowo Subianto di Aceh Tengah dan Kalimantan.

Di akar rumput, gerakan masif melalui pengiriman paket Pembawa Pesan yang berisi promosi pasangan Jokowi-Ma'ruf di masyarakat menimbulkan kasak-kusuk di publik. Di sejumlah video yang beredar di media sosial, ada kesan pemaksaaan pengirim paket kepada warga negara untuk menerima paket tersebut.

Di sisi lain, keterlibatan sejumlah pejabat pemerintahan secara terang-terangan di kubu Jokowi-Maruf tak luput memperkuat jargon Perang Total. Di Jawa Tengah, 31 kepala daerah mendeklarasikan secara demonstratif atas pilihannya kepada kandidat petahana dengan sokongan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bawaslu Jateng menyebut, tindakan Ganjar Pranowo dkk itu melanggar UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Sayangnya, Kementerian Dalam Negeri tak menindaklanjuti putusan Bawaslu itu.

Selain di Jawa Tengah, aksi dukungan demonstratif oleh mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo bersama sejumlah camat di Kota Makassar juga memancing reaksi publik. Dari video yang menjadi viral di media sosial, meski para camat tak menyerukan dukungan, namun pernyataan Syahrul bersama para camat tampak secara terang memberikan dukungan kepada kandidat petahana. Padahal, camat bukanlah politisi melainkan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), 24 jam mereka harus netral.

Efek perang total di bawah tampak terasa. Pergerakan di akar rumput tampak masif. Ini bisa dimaklumi, lantaran hari H pemilu tak sampai dua bulan akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Situasi serupa juga terjadi di kubu 02.

Setidaknya, doa atau puisi yang disampaikan pegiat gerakan #2019GantiPresiden Neno Warisman yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi saat kegiatan "Munajat 212" di Monas, Kamis (21/2/2019) pekan lalu berujung polemik. Nukilan doa yang menyitir hadits nabi saat menghadapi perang badar menimbulkan polemik.

Neno terpojok dan dijadikan obyek perundungan publik. Mantan biduan kelahiran Banyuwangi Jawa Timur itu dituding menantang Tuhan. Plesetan #GantiTuhan pun sempat menghiasi lini masa sebagai bentuk sarkasme kepada Neno.

Penggalan doa Neno yang mendapat sorotan publik yakni, "kami mohon jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak, cucu kami dan jangan, jangan kau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu".

Narasi Neno itu entah berkaitan atau tidak, di akar rumput tiga emak-emak di Karawang, Jawa Barat melakukan kampanye negatif (black campaign) terhadap pasangan Jokowi-Maruf. Ketiga ibu-ibu kini telah berstatus tersangka pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Seolah bersahutan, perang total pada akhirnya dibalas dengan doa perang badar ala Neno. Situasi ini menepis komitmen yang sejak awal disampaikan oleh dua pasangan calon yang berkeinginan menghadirkan kompetisi yang sehat dan demokrasi yang menggembirakan. Namun, setidaknya komitmen itu mentah dengan narasi-narasi ketegangan yang muncul dari kedua kubu.

(**/IST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top