Prabowo Tak Ingin Lulusan Kuliah Bekerja Tidak Layak

Jakarta - Calon Presiden Prabowo Subianto menjadi pembicara dalam acara Forum Ekonomi Indonesia. Selama satu jam lebih memberikan presentasi dengan judul The Path Ahead for Indonesia, Prabowo menyinggung banyak lulusan perguruan tinggi tidak mendapat pekerjaan layak.

“Lulus SD ke SMP, setelah itu SMA, kuliah. Lulus kuliah jadi tukang ojek,” katanya di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Sebagai calon presiden (capres), Prabowo menyayangkan hal ini. Dia tidak mau warga Indonesia jadi pegawai. Dengan sumber daya alam melimpah, publik harus jadi pengusaha. 

Capres nomor urut 02 ini menjelaskan bahwa cara yang dilakukan adalah dengan mengembangkan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM).

Langkah konkretnya menambal kebocoran pengeluaran negara. “Kalau ada kebocoran bisa dikurangi sehingga bisa dibuat untuk pemberdayaan UMKM,” ucapnya.

Ia kemudian berbicara soal sistem ekonomi negara dalam bahasa inggris yang lancar. Prabowo memberikan analogi sistem ekonomi seperti tubuh manusia.

"Talk about country especialy about economy (berbicara soal negara khususnya ekonomi), we can use the analogy human body (kita bisa menggunakan analogi tubuh manusia. Its a system (Ini sistemnya), many system (banyak sistem). And if we take care of the body (dan jika kita merawat tubuh), we maintance the body (kita mengurus tubuh, we manage the body (kita mengatur tubuh), we have a good lifestyle (kita memiliki gaya hidup yang baik)," sebutnya.

Prabowo juga mengkritisi pemerintah yang melakukan revisi daftar negatif investasi (DNI). Perubahan tersebut telah membuat Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia semakin luas pada beberapa bidang usaha baru.

Ia mengaku sedih jika asing bisa 100 persen masuk ke sektor usaha di Indonesia.

"Saya sedih kalau asing masuk kepada setiap sektor. Apa yang tersisa buat Indonesia?," katanya.

Kendati demikian, ia enggan mengomentari lebih jauh mengenai akan dicoretnya 54 sektor usaha dari DNI. Dia mengaku masih akan mempelajari mengenai penghapusan hal tersebut.

"Saya bingung, hari ini begini, besok begitu. Versi ini bilang 54 sektor, lalu versi lain bilang 28 sektor, saya bingung, saya mau mempelajari itu lebih lanjut," tutupnya.

(**/IST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top