Warga Dusun Mulai Makan Nasi Oyek

Berita9.com - Ratusan warga Dusun Wanarata, Desa Kalitapen, Purwojati, Banyumas, hampir tiga bulan terpaksa makan nasi oyek. Mereka makan nasi oyek yang terbuat dari singgkong, setelah lahan pertanianya tidak ditanami padi gogo akibat musim kemarau. Sehingga tidak memiliki stok beras untuk dimakan. Sebagai peganti beras mereka makan nasi oyek. 

Kepal Dusun (Kadus) Wanarata, Desa Kalitapen, Karto, menjelaskan wilayahnya terdapat 450 Kepala Keluarga, atau 2000 jiwa. "Sejak musim kemarau  ini 50 persen warganya, terpaksa memakan nasi oyek," kata Karto. 

Menurutnya kondisi itu terjadi  akibat warganya yang sebagian besar petani, dan buruh serabutan tidak bisa bercocok tanam padi gogo di lahan tadah hujan, akibat musim kemarau. Selain itu, mata pencaharian warga Wanarata, bekerja sebagai buruh serabutan sehingga tidak mampu untuk membeli beras.

Karto, menambahkan kebiasaan makan nasi oyek dilakukan oleh separo warganya  setiap musim kemarau tiba. "Biasanya makan nasi oyek sekali dalam sehari. Ada juga yang orang tuanya makan oyek, tapi untuk anak- anak mereka diusahakan tetap makan nasi. Biar irit-irit, karena harga beras disini antara Rp 8 ribu - Rp 10 ribu perkilogram,” ungkap Karto. (31/7).

Untuk  mempersiapkan makan nasi oyek, saat musim kemarau tiba, warga Wanarata sudah menanam singkong atau menyimpan singkong kering. Kemudian saat akan dimakan nasi oyek sudah siap. Penanaman singkong  dilakukan pada lahan milik warga dan ada menanam di tanah milik Perhutan dengan cara tumpang sari.  

Warsem (60) warga RT 3 RW 7 Dusun Wanarata Desa Kalitapen, mengungkapkan untuk menyiapkan makan nasi oyek, ia setiap hari menjemur singkong untuk dijadikan oyek. Warga menjemur singkong atau ketela dengan menggunakan nampan bambu bulat diatap rumah, dan sebagian di halaman rumahnya.

Warsem, mengaku sudah tiga bulan sejak musim kemarau ia bersama keluarganya harus makan nasik oyek sebagai bahan makanan, penyeling nasi guna memenuhi kebutuhan makan keluarganya.Mereka makan nasi oyek, terpaksa dilakukan, akibat menipisnya persedian beras dan tidak memiliki cukup uang untuk membeli beras.

Ibu beranak tiga yang menempati rumah berlantai tanah dan dinding dari anyaman bambu ini,bersama suami dan orang tuanya dalam satu hari paling tidak dibutuhkan 1,5 kilogram beras untuk dimasak. 

Akibat musim kemarau, Warsem yang selama ini mengandalkan padi gogo tidak bisa tanam, sehingga harus menanam singkong yang dijadikan nasi oyek.  Sementara penghasilan, Misdar suaminya yang berprofesi sebagai penderes nira berkisar Rp 20 ribu perhari,sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari. Kondisi itu diperparah dengan produksi nira kelapa menurun dampak musim kemarau.

Untuk memenuhi makan sehari hari maka warga makan nasi oyek  biasanya di makan pada siang hari. Untuk sarapan dan makan malam, keluarganya berusaha untuk menanak nasi. Sebenarnya ada setiap warga miskin mendapatkan jatah 10 kilogram beras sejahtra setiap bulan, namun karena tetangganya yang berada di Dusun Wanarata hampir semuanya kurang mampu, akhirnya penerima sepakat beras tersebut di bagi rata. Sehingga ada warga yang menerima 6 kilogram beras.

(**/iST)

Rate this item
(0 votes)
Go to top